Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Misteri doa Senja


__ADS_3

Sampai waktu keberangkatan opa, doa yang dibisikkan Senja pada Hutama masih misterius. Mulai semalam Darren mencoba memancing jawaban, tapi tidak berhasil juga.


Sarita, Mahendra,Darren, Senja yang selalu menggendong Dasen, mengantar Hutama ke bandara. Sedangkan Chun Cha dan Aleandro tidak bisa ikut karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan.


Tiba saatnya Hutama berpamitan, karena tiga puluh menit lagi pesawat yang ditumpanginya akan segera lepas landas.


" Jaga keluargamu baik - baik Darr, luangkan waktumu sebanyak mungkin untuk mereka. Uangmu tidak bisa kamu gunakan untuk membeli kesempatan " ucap Hutama, masih dalam pelukan Darren.


" Iya opa. Darren akan menjaga Senja dan anak - anak dengan baik " jawab Darren.


" Maafkan opa, kalau opa ada salah ya. Mungkin opa terlalu cerewet sama kamu. Maafkan opa " ucap Hutama, melepas pelukannya lalu menepuk lengan Darren berkali - kali.


" Opa selalu baik dan tegas sama Darren. Sedikit cerewet tapi demi kebaikan Darren. Opa jaga kesehatannya ya di sana " balas Darren.


Hutama menggeser posisinya, kini dia sudah berhadapan dengan Senja. Hutama meraih tangan Senja. Karena tidak mungkin memeluk dengan adanya Dasen di gendongan. Hutama menatap lembut pada cucu menantunya ini. " Terimakasih sudah datang dihidup kami, terimakasih membuat Darren terlihat sempurna, Opa titip cucu opa ya, jangan buat dia menangis lagi " kata Hutama.


" Terimakasih sudah menerima dan menyayangi Senja. Cucu opa akan aman di tangan Senja " ucap Senja.


" Ingat pesan opa kemarin. Jangan terlalu sempurna, sedikit tidak penurut " ucap Hutama.


" Akan Senja coba opa " Senja menjawab dengan mata melirik pada suaminya yang terlihat kesal. Ajaran opa bisa jadi akan menyesatkan Senja dan mematahkan dominasi Darren.


" Maafkan opa ya Nja, kalau ada ucapa atau perbuatan opa yang kurang berkenan di hati Senja " ucap Hutama.


" Tidak ada opa, bagi Senja opa yang terbaik " ucap Senja, melingkarkan tangannya di pinggang Hutama dan dibalas dengan usapan lembut di kepala Senja.


" Jaga anak - anakmu. Jangan lupa bekali dengan ilmu agamanya, jangan sampai seperti daddynya. Ngajinya pinter, dugem pun jalan " sindir Hutama, melirik pada Darren, lalu mencium kening Dasen berulang - ulang dan membisikkan sesuatu ke telinga cucu buyut pertamanya itu.


Hutama bergeser bergantian memeluk Sarita dan Mahendra, mengucapkan permintaan maaf yang pada anak dan menantunya itu.


Mereka berempat ditambah Dasen pun kembali ke mobil masing - masing setelah tidak lagi melihat punggung Hutama.


" Sekalian kita jemput Zain di tempat praktek dokternya ya Ask " ucap Senja.

__ADS_1


" Aku saja Ask, aku anterin kamu pulang dulu saja " kilah Darren.


" Astaga Ask, demen banget sih bolak balik, kan tinggal jalan saja rumah sakitnya di mana. Kurang tiga puluh menit lagi Zain juga sudah selesai kan ? " tanya Senja, heran.


" Iya sih " Darren sedikit bingung untuk mencari alasan apa lagi.


" Nah....Makanya kita langsung saja.lebih enak, hemat waktu dan tenaga " ucap Senja.


Darren diam tidak menjawab, dia mengemudi dengan wajah sedikit kesal, berkali - kali dia melirik ke arah Senja yang kali ini memilih pura - pura tidak peka dengan perubahan ekspresi wajah istrinya.


Senja bukannya tidak mengerti kalau Darren sedang dalam kondisi tidak nyaman, tapi Senja mengira suaminya hanya sedang sedih hati karena kepergian opanya.


Mobil yang dikendarai Darren semakin mendekati rumah sakit tempat Vano praktek.


" Owh...Zain prakteknya di tempat baby De dirawat kemarin " ucap Senja. Darren hanya mengangguk.


Mereka sampai sepuluh menit lebih awal, dari waktu yang disepakati selesainya hukuman ala - ala Zain. Pelan - pelan Senja menarik kendi kehidupan dari bibir mungil Daden yang mulai melemah mengenyutnya.Setelah merapikan kembali bajunya, Senja menyerahkan Dasen pada Darren.


" Ask... Nitip Dasen sebentar, Senja kebelet pipis " ucap Senja. Darren menerima Dasen dengan hati - hati.


Senja berjalan cepat, setengah berlari menuju toilet di lantai satu gedung rumah sakit. Setelah selesai, Senja terburu - buru menuju kembali ke parkiran.


" Mama !!!? " suara teriakan Zain yang terdengar menghentikan langkah Senja, membuatnya menoleh tanpa berbalik badan.


" Loh dokter Vano, kok sama dokter Vano ? " tanya Senja heran begitu tangan kanan Zain menggenggam tangan kiri Vano. Mereka berjalan bergandengan rupanya.


" Vano tanpa dokter Nja " sahut Vano.


" Ah ya , terserah. Zain sudah selesai ? " tanya Senja.


" Sudah, tadinya om dokter mau mengantar, ternyata mama sudah menjemput " ucap Zain.


" Mama sama Daddy sayang, ya sudah Zain pamit dulu sama om dokternya " ucap Senja.

__ADS_1


" Nanti saja pamitnya, aku anter sampai mobil " ucap Vano.


" Jadi anak yang didorong anakmu ya Van ? " tanya Senja, meyakinkan diri.


" Iya, Alex anakku " jawab Vano.


" Astaga. Maaf ya Van, Zain tidak pernah begitu sebelumnya. Sampaikan maafku pada istrimu dan juga Alex " ucap Senja.


" Sudahlah. Lagian yang memulai juga Alex " kata Vano.


Ketiganya melangkah bersama, berjalan beriringan sambil sesekali becanda. Mobil Darren yang sedari tadi di depan lobby tunggu dapat melihat dengan jelas interaksi ketiganya. Entah kenapa Darren tidak bisa santai jika melihat istrinya berbincang hangat dengan laki - laki lain.


Darren bukannya tidak sadar rasa cemburunya berlebihan, posesifnya juga kelewatan. Darren juga sudah pernah belajar menepis, tapi tidak bisa. Rupanya Tuhan menitipkan kedua itu lebih banyak pada Darren. Ingin rasanya Darren bisa sedikit lebih tenang jika melihat Senja berbicara dengan laki - laki lain. Tapi tidak bisa. Rasa ini juga menyiksanya, makanya tidak ada cara lain selain menjauhkan Senja dari kehidupan sosial di luar.


" Om dokter, Zain pulang dulu ya. Lain kali Zain akan menjahili Alex dengan sengaja, agar om menghukum Zain seperti ini lagi "ucap Zain dengan polosnya.


" Zain tidak seperti itu dong. Mama akan menyuruhmu sekolah di rumah lagi, kalau kamu mengulang kesalahan yang sama " ancam Senja.


Darren menurunkan kaca mobil sisi penumpang depan. Memperlihatkan wajah kesalnya yang tampan.Bibirnya kemerahan maju beberapa senti, dengan tatapan kesal, mempesona dalam segala suasana.


" Ask...Aku harus balik ke kantor cepat sedikit " ucap Darren.


Senja membukakan pintu mobil untuk Zain, lalu menutupnya kembali setelah Zain di dalam.


" Duluan ya Van, thanks sudah memberikan pengalaman berharga pada Zain. bye Van " ucap Senja dengan senyum ramahnya, senyum yang selalu diperlihatkan pada semua orang. Tapi terkesan lain di mata Darren, Vano membungkukkan badannya.


" Hai Darr " sapa Vano, hanya dijawab anggukan dan senyuman nanggung.


Setelah Dasen kembali kepangkuan Senja. Darren pun mengemudikan mobilnya segera, meninggalkan Vano yang melambai pada mereka tanpa balas.


" Dadd, terimakasih mengizinkan Zain menerima hukuman di sini. Daddy memang yang terbaik. Zain tidak akan melupakan pengalaman hari ini " ucap Zain tulus, membuat Darren tersenyum lebar. Kata - kata Zain bagaikan oase di tengah kecemburuannya.


" Daddy Dar memang yang terbaik Zain, mama juga ingin mengucapkan terimakasih sama Daddy, karena sudah jadi Daddy yang luar biasa buat anak - anak " ucap Senja, tangannya mengelus lengan Darren yang sedang fokus mengemudi. " I love you Ask " tambahnya.

__ADS_1


Darren tersenyum." Ask, aku nggak ngantor lagi deh, mau menyelesaikan urusan kita saja " ucap Darren melembut dengan kerlingan nakal, lalu membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri.


__ADS_2