Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
let's see


__ADS_3

Darren tidak sekedar memberi ancaman pada Senja. Kali ini Darren benar - benar pergi. Awalnya dia memang ingin memberi pelajaran untuk pergi menjauh sebentar secara baik - baik, tapi melihat Senja yang susah diajak bicara dan diberi pendapat. Sepertinya membiarkan Senja sendiri menjadi pilihan terbaik.


Tidak benar - benar meninggalkan, hanya menjauh sebentar. Membuat jarak, agar rindu mampu menghangatkan hati Senja yang beku. Memberi ruang pada Senja untuk berfikir sejenak, bahwa pelampiasan kekecewaan yang dia lakukan salah.


Senja boleh kecewa, boleh merasa bersalah, tapi disekitar Senja masih ada orang lain yang juga punya perasaan dan butuh perhatian Senja. Pelampiasan rasa kecewa dan rasa bersalah Senja kurang tepat, seolah ingin lari dari kenyataan. Mengurung dan membatasi dunianya hanya tentang dirinya dan Dasen, padahal masih banyak disekitarnya yang perlu diurus. Senja membangun tembok penghalang sendiri untuk berinteraksi normal dengan siapapun, bahkan dengan suaminya sendiri.


Sampai di rumah Mahendra, Darren kembali merebahkan badannya di atas sofa ruang keluarganya. Pandangannya ke atas, menatap langit - langit rumah yang tinggi sampai menembus lantai empat. Sarita menghampiri dan duduk tepat di atas kepala Darren.


Seperti sedang ingin kembali dimanjakan mamanya. Darren menggeser tubuhnya ke atas, menempatkan kepalanya tepat di pangkuan mamanya. Sarita membelai lembut rambut Darren. Sudah lama rasanya Darren tidak membutuhkan belaiannya seperti ini. Selama ini, Senja sangat memanjakan Darren. Mendapati istrinya berubah dratis, tentu membuatnya sedih.


"Sabar ya Darr, Tuhan memberimu berkah yang luar biasa dengan menitipkan dua anak sekaligus di rahim istrimu. Jika kita bersenang - senang dengan berkah yang melimpah, maka kita juga harus bersiap menerima cobaan. Di setiap cobaan selalu ada kebaikan yang menyertainya. Begitu pula dalam keberkahan, pasti terselip cobaan." Sarita kini mengusap lembut pipi mulus Darren.


"Darren kasihan ma sebenarnya sama Senja. Hamil saja sudah tidak mudah, apalagi hamil dalam kondisi begini. Tapi lebih kasihan lagi kalau kita ngikutin semua kemauannya terus. Kita seperti meracuninya pelan - pelan. Senja tidak akan sadar kesalahannya, lalu sengsara sendiri karena polah tingkahnya." ucap Darren, dadanya sesak mengingat istrinya menjadi pribadi yang berbeda seminggu ini.


"Darr, tapi mama kok nggak tega kalau Senja sendirian gitu. Nanti kalau dia depresi berat gimana? Terus malah makin nekat? Kayaknya kamu terlalu keras deh." naluri Sarita sebagai ibu tetap ingin melindungi Senja.


"Enggak ma, kita harus tega kali ini. Mama lihat sendiri kan? jangankan menerima pendapat kita, di ajak bicara biasa saja susah. Darren mungkin bisa sabar ma, tapi kalau diterus - terusin, Senja bisa hancur sendiri. Darren juga sebenarnya tidak mau ma." Darren mengusap wajahnya, lelah jiwa dan pikiran.


"Kalau mama sebagai seorang ibu, mama mengerti kenapa Senja sampai bersikap seperti itu. Senja merasa dalam kondisi fit dan mampu untuk memberikan yang terbaik, tiba - tiba dokter mengharuskan dia untuk berhenti. Senja merasa harus memberikan kompensasi pada Dasen. Meski caranya salah, tapi mama memahami rasa bersalah seorang ibu. Kamu ingat omongan mama, meski dia akan kembali normal, sampai kapanpun sikapnya pasti akan selalu berbeda sama Dasen. Bisa dikatakan perlakuannya akan sedikit berlebihan, kamu harus bersiap menjadi penyeimbang." ucap Sarita, sedikit memberi saran pada Darren.

__ADS_1


"Maksud mama, dengan kata lain Dasen akan menjadi anak kesayangan mamanya?" Darren meyakinkan apa yang dapat dia simpulkan dari ucapan Sarita.


"Bisa dibilang begitu. Disadari atau tidak. Tugasmu yang menyeimbangkan. Asal tidak terlalu timpang biarkan. Senja itu baik Darr, sangat baik. Dia hanya terbelenggu dengan rasa bersalahnya sendiri. Senja tidak punya teman selain kamu, karena kamu terlalu membatasi ruang geraknya selama ini. Seharusnya kamu membiarkan dia bersosialisasi. Bertemu dengan banyak orang membuat pikirannya tidak terkungkung dengan kejenuhan. Berikan Senja waktu untuk memanjakan dirinya. Sekedar ke salon atau jalan dengan temannya." Sarita semakin merembet kemana - mana.


"Akan Darren pertimbangkan." sahut Darren. Matanya terpejam, tangan mamanya yang membelai rambutnya tapi bayangan Senja yang terlintas dikepalanya.


Sejujurnya Darren sangat merindukan Senja. Semua yang ada pada diri Senja baginya begitu sempurna kecuali sifat keras kepala Senja tentunya.


"Terus kamu mau kemana sama Zain?"


"Ke puncak ma, adem pasti di villa opa."


"Terus?? Sampai kapan?" tanya Sarita. Sebagai orangtua tentu Sarita merasa khawatir pada apa yang dihadapi anaknya saat ini.


Ketika Darren tertidur di pangkuan mamanya, Senja masih berkutat mengurus Dasen yang memang tidak seanteng biasanya. Senja masih tidak tahu kalau asisten di rumahnya hanya tersisa dua orang, Ijah dan Siti. Keduanya adalah asisten rumah tangga yang tidak pernah secara langsung mengurus Senja atau penghuni rumah yang lain. Keduanya biasa bertugas mengurus taman.


Senja keluar kamar menggendong Dasen, mencari - cari sosok Wati di lantai satu. Perut Senja sedang tidak enak, sudah sedari tadi dia menahan hajatnya.


"Wat...wati!!!" teriak Senja sambil mondar mandir.

__ADS_1


Ijah setengah berlari menghampiri Senja.


"Watinya pulang kampung bu, tapi dapat ijin dari pak Darren. Hampir semua diperbolehkan mengambil cuti. Di sini hanya ada saya sama Siti. ada yang bisa saya bantu bu?" ijah bertanya dengan hati - hati. Sebelumnya Ijah tidak pernah takut dengan Senja, tapi kasak kusuk di rumah khusus untuk para asisten rumah tangga beberapa hari terakhir membuat Ijah sedikit gentar.


Senja langsung mengerti semua pasti ulah suaminya. Senja merasa Darren sedang ingin membuatnya kewalahan. Senja tersenyum kecut, dalam hati dia meniatkan diri untuk bertahan dan tidak mengeluh sedikitpun. Sungguh ego Senja sedang sangat tinggi - tingginya saat ini. Tidak sedikitpun sisi positif yang dia ambil dari tindakan orang lain.


Dengan langkah terburu - buru Senja kembali ke kamarnya. mengunci rapat pintunya. Dengan hati - hati Senja mendudukkan Dasen di atas stroler, mengunci rodanya lalu menaruh stroler tepat di ambang pintu masuk kamar mandinya. Senja buru - buru memposisikan diri untuk segera membuang sesuatu yang sudah dia tahan sedari tadi.


Masih di tengah jalan, belum tuntas sepenuhnya. Dasen sudah menangis.


"Sebentar ya nak...sebentar lagi...sebentar saja... Dasen...Anak hebat..." celoteh Senja, mencoba menenangkan Dasen dengan berbagai cara sampai hajatnya tuntas.


Baru bernafas lega karena saat selesai, Dasen pun sudah terdiam. Tapi saat menekan flush toilet, tidak ada air yang keluar dari sana. Senja menyalakan shower, kran wastafel, dan kran bathup, tidak ada satu pun yang mengeluarkan air. Senja terpaksa menggunakan tisu basah.


Setelah memastikan tangannya bersih dan steril Senja kembali menggendong Dasen. Menghubungi pos satpam dan seperti yang dia duga, Darren pun memberi cuti pada satpamnya. hanya ada satu satpam yang berjaga itupun masih baru, tentu tidak tahu menahu saluran air di rumahnya dengan detail.


Senja kembali ke atas, ingin rasanya ke hotel atau ke rumah Hutama. Tapi kalau keluar rumah tandanya Senja kalah.


Sudah Darren perhitungkan sebelumnya, Senja pasti akan menelepon Yanes untuk membereskan kerusakan air di rumahnya. Seluruh urusan rumah, selain Darren, Yanes lah yang tau harus menghubungi siapa jika ada masalah.

__ADS_1


Setelah menutup telepon dari Yanes yang memberitahu bahwa Senja barusan sudah menghubunginya. Darren pun tersenyum licik.


"Let's see ask..." gumamnya.


__ADS_2