Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Omelan pagi


__ADS_3

" Eomma ngagetin saja " ucap Darren kesal. Seketika bibir yang baru saja menempel ditarik dengan enggan dari pasangannya.


" Kalian ini memang ya. Sama - sama doyan daging. Yang khawatir sama Kamu itu bukan cuman suamimu La. Malah enak - enakan. Kamu pikir yang di dalam bisa bener - bener tidur " cerocos Bae, mengundang Arham, Mahendra dan Sarita keluar dari kamar.


" Senja !!! Alhamdulillah, sayangg...kamu sudah sadar " pekik Sarita langsung berlari kecil menghampiri Senja.


" Alhamdulillah ma, Karena doa mama, papa, eomma dan appa. Maaf merepotkan dan membuat kalian khawatir " ucap Senja.


" Sudah tau gitu nggak langsung ngasih tau kita. Kan bisa tuh jalan pelan - pelan ke kamar, atau kalau berat tinggal telpon. Maunya berduaan terus " Bae masih belum terima rupanya.


" Maaf Eomma. Terlalu bahagia. Yang lain hanya figuran " sahut Darren asal.


" Sekarang saja bisa ngomong begitu. Tadi siapa yang nangis - nangis ? " tanya Bae melirik Darren tajam.


Mahendra dan Arham kompak menggeleng - gelengkan kepalanya. Bae tidak salah. Mereka sedang harap - harap cemas di dalam, ternyata yang dicemaskan malah mendekati kesenangannya.


" Darr, kembali ke brankarmu. Istirahat. Kalau tidak mau, biar sekalian mama pindahkan kamar saja. Sepertinya kalau bersama malah membuat kalian tidak akan istirahat " ucap Sarita kini tertular ketusnya Bae.


Arham dan Mahendra berniat membantu Darren kembali ke brankar.


" Nggak usah dibantu, tadi dia turun sendiri saja bisa kok " ucap Bae, menghentikan niat kedua lelaki berumur enam puluhan tahun itu.


Darren selalu kalah telak kalau melawan mertua perempuannya. Dengan enggan, Darren kembali ke brankarnya. Semua mata yang ada di sana sedang memperhatikannya, membuat Darren meringis. Kalau boleh memilih lebih baik menghadapi ribuan karyawan demo menuntut kenaikan gaji, daripada menghadapi tiga perempuan yang ada di ruangannya saat ini.

__ADS_1


" Eomma, Kemala ingin melihat Dasen " ucap Kemala, memecahkan keheningan sesaat.


" Sudah banyak orang saja baru inget anak " ucap Bae.


" Bukan begitu Eomma, tadi takut mengganggu tidur kalian. Kalau tau tidak tidur pulas, pasti Kemala minta tolong abang buat manggil semua. Iya kan Ask ? " tanya Senja pada suaminya.


" Enggak... Tadi enggak gitu, katanya kangen pengen berduaan dulu " Darren tidak ingin menjadi tersangka sendirian malam ini.


" Dasen tidur, besok saja. Sekarangbkalian berdua istirahat. Kalau sampai kita tahu kalian tidak tidur, besok kalian akan pisah ruangan " ucap Bae tegas.


Senja mencoba kembali mengubah posisinya lagi, nikmatnya sungguh luar biasa. Dua kali melahirkan normal, sakitnya sebelum bayi lahir. Berbeda dengan Caesar, justru merasakan nikmatnya setelah bayi lahir. Mau caesar atau normal, keduanya sama - sama penuh perjuangan. Senja baru merasakan itu.


Semua kembali ke kamar istirahat masing - masing. Senja dan Darren kembali berdua di ruangan.


" Tidak, rasanya bekas operasi ini seperti terbakar. Ada dua Ask. Hampir seperti tanda plus. Sekarang perutku tidak mulus lagi, akan ada bekas luka di sana " ucap Senja.


" Luka itu karena melahirkan anakku. Aku akan mengingatnya selalu. Luka itu akan mengikatku, semakin sering aku melihatnya semakin bagus. Aku akan semakin ingat, perjuanganmu untuk anak kita sangat luar biasa. Kita berbuat berdua, tapi ternyata kamu yang lebih banyak menanggung akibatnya " ucap Darren, konyol.


" Ask, bagaimana keadaanmu. Apa ada yang sakit ? " tanya Senja, baru sempat menanyakan keadaan suaminya.


" Aku sehat. Sekarang lebih sehat karena bisa melihatmu kembali. Tadi kamu membuatku takut Ask. Zain juga sangat mengkhawatirkanmu. Aku berharap aku yang mati duluan, aku tidak sanggup jika kamu yang meninggalkanku. Seharian ini rasanya berat. Kamu pernah ditinggalkan Rafli, tidak terlalu sulit jika kehilangan aku " ucap Darren.


" Tidak ada kehilangan yang mudah Ask. Yang ada adalah rela yang terpaksa. Ikhlas bagiku adalah terbiasa dengan keadaan, suka atau tidak suka. Entah dengan air mata atau tidak. Waktu tidak berhenti berjalan meski kita terdiam " ucap Senja.

__ADS_1


" Aku tidak bisa setegar kamu Ask. Tapi aku minta satu hal. Jika aku meninggal duluan, kamu jangan menikah lagi ya Ask. Aku nggak rela. Aku meninggalkanmu bukan untuk bersama laki - laki lain. Hidup bersama anak - anak saja. Itu cukup " pinta Darren.


Keduanya saling pandang, Senja tersenyum. Lalu berusaha memejamkan matanya, Darren pun melakukan hal yang sama.


Keesokan paginya, Senja terbangun begitu mendengar suara tangisan bayi. Bae menggendong baby Dansen mendekati Senja. Perlahan untuk pertama kalinya Senja mencoba posisi duduk. Rasanya luar biasa, tapi rasa ingin memberikan Asi pertama pada baby Dansen mengalahkan rasa sakitnya. Sementara Darren masih tertidur pulas seperti tidak mendengar apa - apa.


Sedikit meringis Senja menaruh bantal dipangkuannya, lalu meminta Bae memberikan baby Dansen padanya.


" Halo sayang.. Ini mama Nja. Maafin mama Nja ya. Baru bisa gendong adek Das. Adek Das mau minum Asi ? mau ya ? eh... sebentar mama bersihkan dulu " ucap Senja. Bae memberikankan kapas beserta air hangat untuk Senja. Dengan gerakan memutar, Senja membersihkan Pu**ngnya. lalu memakai apron menyusui agar lebih nyaman mengAsihi Dasen.


Darren baru terbangun setelah mendengar suara repetan Bae yang terus mengingatkan Senja untuk melakukan program pemerintah sementara. Meskipun hanya memiliki satu indung telur, Bae yakin Senja sangat subur. Bukan tanpa alasan, karena keturunan Arham biasanya mempunyai anak yang banyak. Bae tidak mau Dasen putus Asi ditengah jalan seperti baby De. Lagipula karena operasi, Senja harus benar - benar menjaga jarak kehamilannya dengan benar.


" Kebetulan kamu sudah bangun Darr, Jangan main masuk - masuk saja sekarang. Di atur, kalau sampai belum setahun Dasen sudah punya adek, Eomma akan membawa Dasen pulang ke negara S. Biar Zain diurus nyonya Sarita. Tidak ada baby sister untuk Dasen, kalian harus merawatnya sendiri. Kalian harus ada yang mengganggu tiap malam supaya tidak berlebihan " cerocos Bae, benar - benar sambutan pagi yang pedas bagi Darren.


" Eomma sudah, mereka sudah dewasa. Terserah mereka " ucap Arham, memberi sedikit pembelaan untuk Darren.


" Eomma sudahlah, Kemala tidak mungkin dengan mudah hamil lagi. Dengan satu indung telur, kesempatan menjadi lebih kecil eomma. Jadi eomma tidak perlu sekhawatir itu " ucap Senja.


" Terus saja tidak percaya mulut eomma. Ingat kalau sampai belum sampai satu tahun Dasen punya adek, Dasen eomma bawa sementara " ancam Bae, lagi dan lagi.


" Sakitnya saja masih terasa eomma, kenapa eomma bahas masalah beginian sepagi ini. Apa eomma tidak bisa sedikit memanjakan Kemala. Nyeri ini eomma " Senja merajuk manja.


" Kalau Dasen sudah kenyang. Kita taruh saja di box. Eomma akan mengelap badanmu " ucap Bae, dengan nada ketusnya yang khas.

__ADS_1


Darren menekan tombol nurse call. Dia sedang membutuhkan bantuan perawat sekarang.


__ADS_2