
Kondisi Rafli yang terlihat kelelahan setelah kurang lebih dua jam berkeliling pulau, membuat Darren memutuskan makan malam di dalam cottage. Kali ini Darren meminta pihak hotel menyulap teras sampai ruang tamu cottage layaknya resto live music yang hangat dan romantis. Darren betul - betul menyewa sebuah piano lengkap dengan pianisnya.
Darren dan Zain sedang berada di kamar Rafli saat ini. Menemani Rafli yang sejak sore tidak mau ditinggal sendirian.
"Darr, boleh aku meminta sesuatu ? Aku tidak peduli kamu menganggapku tidak tahu diri, aku tetap ingin memintanya darimu " ucap Rafli tiba - tiba.
"Apa itu Raf ? " tanya Darren sambil merapaikan lengan kemeja putih yang dia kenakan.
"Aku ingin memeluk Senja Darr. Tolong izinkan aku memeluk Senja sebentar. Aku janji hanya sebentar "pinta Rafli penuh harap.
Darren tersenyum, lalu memegang pundak Rafli. " Zain sudah memintakan hal itu untukmu. Kamu mempunyai anak yang luar biasa " ucap Darren.
"Zain ? " ulang Rafli.
"Tersenyumlah. Zain ingin melihat tersenyum lepas tanpa beban " ucap Darren.
"Apa Senja mau ? "tanya Rafli.
"Kita lihat saja nanti "ucap Darren.
"Kita keluar sekarang " ajak Darren.
Keluar dari kamar, Rafli langsung disuaqaaqagihi dinner set bernuansa merah yang hangat. Kontras dengan baju yang mereka kenakan. Malam ini mereka memakai baju bernuansa putih, Sesuai dengan keinginan Rafli.
"Papa "panggil Zain.Membuat Rafli menoleh seketika.
"Mama mana ? "tanya Rafli.
Belum sempat Zain menjawab, pintu kamar terbuka, muncullah Senja dari sana. Memakai dres bordir panjang terusan warna putih. Rambutnya dibiarkan tergerai melambai tertiup hembusn angin.
"Cantik " gumam Rafli dan Darren kompak. Mereka berdua saling pandang .
"Sorry " ucap Rafli, tidak enak.
"Tidak masalah. Senja memang cantik "bisik Darren pelan agar tidak terdengar Zain.
Zain duduk tepat di sebelah Senja, sementara Rafli dan Darren bersebelahan disebrangnya.
__ADS_1
Di iringi alunan musik dari pianis tanpa vokal mereka berempat makan malam dengan nendengar begitu banyak celotehan Zain.
"Zain,ingin lihat papa Zain tersenyum seperti om Darren kan ? " tanya Darren mencoba mengulang permintaan Zain.
"Iya " jawab Zain lirih. Zain dihadapan Senja bisa menjadi anak yang manja sekaligus sedikit takhluk. Senja memperlakukan Zain tidak seistimewa Rafli. Bukan karena Senja tidak sayang, tapi Senja ingi Zain tidak hanya hidup dengan kemudahan - kemudahan. Zain suatu saat akan kembali ke lingkungan sosial yang keras, di mana pernah menderita kanker tidak bisa dijadikan alasan Zain untuk mendapatkan privilege atau keistimewaan.
Darren menganggukkan kepalanya pada Senja, tersenyum tulus dengan hati yang dia sendiripun tak bisa menamainya.
"Raf, apa lagu yang paling kalian sukai saat berdua ? "tanya Darren.
"Tidak Ask. Mainkan lagu apapun sesuka hatimu "sahut Senja. Menurutnya, Darren tidak perlu melakukan semua sejauh ini. Darren pun harus menjaga kewarasan hatinya.
Darren mengambil alih piano, menganggukkan kepala pada Senja. Ini hadiah untuk Zain dari Darren, bukan untuk Rafli. Menjatuhkan egonya sebentar, demi menghapus sebuah penyesalan.
"Zain terusin makannya ya. Lihat apa yang akan mama tunjukkan pada Zain. Setelah ini Zain harus bangga, karena Zain adalah anak hebatnya mama, papa dan apapun Zain akan memanggil om Darren " bisik Senja lirih agar tidak terdengar oleh Rafli.
Rafli banyak tersenyum malam ini tapi wajahnya pucat.Senja menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Darren kembali tersenyum padanya, menunggu Senja siap melakukannya. Melakukan hal yang menurut orang lain bodoh dan tidak masuk akal. Tapi mereka yang menjalani hidup mereka sendiri. Membebaskan Zain dari rasa bersalahnya tidak cukup hanya dengan dianggap baik.
"Maukah mas berdansa denganku ? " tanya Senja lembut mengulurkan tangannya pada Rafli.
Rafli salah tingkah dengan tawaran Senja, Rafli menatap Darren yang juga sedang tersenyum menatapnya dan mengangguk pelan.
Darren mulai memainkan pianonya, Senja menggigit bibirnya perlahan. Takdir sedang mempermainkan mereka bertiga. Senja yang baru pertama kali mendengar Darren bernyanyi dan memainkan piano ingin sekali memutar tubuhnya dan memeluk suaminya itu.
Lagu cinta itu kamu dari Rayen pono ,seperti mewakili perasaan Darren. Bukan hal mudah baginya, tapi sakit dan ketidaknyamanan selama tiga menit ini akan menebus rasa bersalah seorang anak yang tercipta dari imajinasi anak itu sendiri. Semua akan menjadi setimpal.
...tahukah kamu sedalam apa rasa cintaku...
...tahukah kamu mencintaimu keutuhanku...
...tawamu bahagiaku, tangismu kepedihanku...
...semua tentang dirimu, kuterima apa adanya...
...ku percaya hati kecil tak salah memilih...
...kau adalah jawaban doa penantianku...
__ADS_1
...waktu yang menuntun hatiku...
...tuk menunggu cinta yang sempurna cinta itu kamu...
...taukah kamu kelemahanmu men-batkanku...
...taukah kamu mendampingimu jalan hidupku...
...tawamu bahagiaku, tangismu kepedihanku...
...semua tentang dirimu kuterima apa adanya...
Suara Darren menghanyutkan suasana, pundak Senja kini terasa berat karena Rafli bersandar di sana. Darren menahan nyeri di dadanya .Tapi mencoba tetap fokus, Seorang anak sedang berdiri tersenyum sangat bahagia melihat Senja dan Rafli bergantian. Nyeri di dadanya ,terbayar kontsn .
"Terimakasih Ay, terimakasih meminjamkan bahumu sebentar untuk bersandar "ucap Rafly suaranya pelan tapi masih terdengar, gerakannya semakin pelan.
"Mas titip Zain ya Ay, Jaga Zain baik - baik. Perhatikan makanan yang masuk ke tubuhnya. Dokter bilang seseorang yang pernah terkena kanker, kemungkinan tumbuh lagi kanker itu masih ada jika tidak menjaga pola hidup "tambah Rafli lagi matanya begitu berat untuk dibuka tapi bibirnya tak berhenti tersenyum .
"Jika Tuhan memanggil mas sekarang, mas sepenuhnya ikhlas. Kamu sudah bersama laki - laki yang tepat Ay .Sampaikan terimakasihku pada suamimu "suara Rafli semakin terdengar lirih, badannya tak lagi bergerak.
Senja merapatkan pelukannya, begitu menyadari bahunya basah terkena air mata Rafli. Pegangan Rafli mengendur.
"Pegang Senja lebih erat mas, pegang Senja " bisik Senja, air mata menggenang di pelupuk matanya. Satu pegangan tangan Rafli lepas. Senja semakin mempererat pelukannya.
"Mas ngantuk Ay, mas ingin tidur .Biarkan aku tidur di bahumu. Aku merasa nyaman Ay. Sebentar saja " bisik Rafli.
"Tidak mas ! Jangan tidur. Kita belum selesai. Mas .... Mas Rafli .Jangan tidur mas. "isak Senja .
Setelah sebentar memalingkan wajahnya, Darren kembali melihat Senja dan Rafli. Tangan Rafli terkulai lemas, kepalanya masih menempel penuh di pundak Senja.
"Mas...ini tidak lucu sama sekali mas...mas Rafli "panggil Senja
Darren berlari mendekati tubuh Senja yang mulai terhuyung. Dengan sigap Rafli menangkap tubuh Rafli. Zainpun langsung berlari melihat papanya.
"Mas Rafli ... bangun mas " bisik Senja
"Papa harus bangun pa ... papa bilang tidak akan meninggalkan Zain diam - diam. Bangun pa, papa bangun. Kalau papa tidak bangun, Zain akan marah "teriak Zain, sangat emosional.
__ADS_1
Senja memeluk tubuh Zain erat. Mencium kening Zain bertubi - tubi.