Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Ujian belum berakhir


__ADS_3

" Zain ngobrol apa sama om Yanes? " tanya Darren penasaran.


"Rahasia ini pa, kalau sampai Zain ngomong nanti Om Yanes gak hanya keringet yang bakalan keluar " Zain terkekeh, baru kali ini Darren melihat Zain tertawa lepas seperti sekarang.


"Om, siapa yang urus perusahaan papa nanti? om Darren? " tanya Zain dengan polosnya.


"Bukan Zain. Gak mungkin om Darren. Kita sama - sama belum tahu. Mungkin papa Rafli sudah punya orang kepercayaan " jawab Darren.


"Oooo.... Sebelum menikah dengan mama. Apa om Darren mengenal papa Rafli ? "tanya Zain lagi.


"Sekilas saja kenalnya karena saingan bisnis. Papa Rafli pebisnis yang hebat. Ternyata untuk jadi sehebat papa Rafli kita hanya perlu satu hal " jawab Darren tanpa melihat ke arah Zain, tangannya sibuk menggoreskan pena di atas kertas.


"Apa itu ? "


"Harus punya pendamping hidup seperti mama Nja " sahut Darren cepat.


"Om Darren sayang sama mama ? " tentu saja.


"Sama Zain ? "


"Tentu saja sayang . Bukan karena Zain anak mama Nja. Tapi karena Zain anak yang bisa menyenangkan hati om Darren "


"Kalau Zain meminta om tinggal terus di rumah sekarang om mau tidak ? "


Darren terdiam sejenak. Mencari - cari sebuah jawaban yang tidak akan menyinggung Zain.


"Sebenarnya om bisa tinggal di mana saja asal ada mama Nya dan Zain. Tapi om juga ingin tinggal di rumah hasil jerih payah om sendiri. Membangun kenangan baru bersama mama Nja, Zain, baby De dan adik - adik Zain yang lain. Kita sesekali boleh menginap di rumah papa Rafli. Tapi tidak selamanya kita tinggal di sana " jelas Darren. Dia memang berfikir untuk membeli rumah disekitar rumah opanya, agar bisa merasakan kehidupan rumah tangga sendiri.


Tidak ada sahutan dan tanggapan dari Zain, rupanya Zain ketiduran di sofa. Darren pelan - pelan memindahkan Zain ke kamar istirahatnya.


Pekerjaan Darren menjadi tertunda begitu matanya menangkap sosok Chun Cha, baby De dan Aleandro di layar monitor 11inch. Senja terlihat memangku baby De, Chun mencium pipi Senja disusul Aleandro mencium pipi kiri kanan istrinya di tambah pelukan sekilas.


Darren memanyunkan bibirnya, cemburu ringan sedang melanda.

__ADS_1


Dengan satu tangan, Senja membuka pesan masuk dari suaminya. Tangan satunya masih menimang baby De yang sangat dia rindukan.


...Mama Nja, berhenti menebar pesona. Ciuman itu hanya boleh buat daddy. Sekalipun cuman di pipi, daddy nggak suka. ...


Senja membaca pesan itu dalam hati dan tersenyum.


"Kak Al, baby De biar di sini ya. Zain pasti seneng ada temennya " pinta Senja.


"Tapi kan kamu masih harus bedrest Nja "ucap Aleandro.


"Gpp kak, kan ada mbak wis juga. Senja kangen sama anaknya bunda ini " sahut Senja sambil mencium pipi gembul baby De dengan gemas.


"Kak, eomma dan appa akan datang besok. Apa kakak akan tinggal di sini terus ? di sini penuh kenangan Rafli sama kakak, apa kakak yakin kakak ipar baik - baik saja ? "ucap Chun Cha.


"Tentu tidak Chun, aku akan bicarakan dengan Zain pelan - pelan "jawab Senja pelan, baby De mulai terlelap di pelukannya.


Setelah bercengkrama kurang lebih satu jam, Chun Cha dan Aleandro berpamitan, meninggalkan baby De dan susternya.


"Mama...." teriak Zain dari pintu. Senja meletakkan jari telunjuk dibibirnya.


"Iya kakak Zain ini baby De. Mana om Darren kak ? " tanya Senja.


"Masih di bawah ma, ada telpon " jawab Zain.


Tak lama Darren muncul, wajahnya terlihat tidak bersemangat.


"Kenapa Ask ? " tanya Senja.


"Zain mandi dulu " pamit Zain, mengerti Senja dan Darren sedang butuh waktu berbicara.


"Aku harus ke Jepang Ask, mungkin bisa sampai sebulan. Kita menang tender di sana. Aku harus ke sana untuk mengawasi pengerjaan awal " ucap Darren hati - hati.


"Harus ? "tanya Senja.

__ADS_1


"Iya Ask "jawab Darren lirih.


"Jika kamu tidak pergi, apakah kita akan rugi banyak. Apa akan membuat kita kelaparan ? " tanya Senja sinis.


"Tentu tidak Ask. Tapi komitmen itu utama Ask. Komitmen mempengaruhi reputasi kita. Reputasi baik mengantar kita sukses sampai sekarang " Darren mencoba memberi pengertian.


"Apa sebelumnya kamu tidak berfikir saat mengikuti tender ? Jika Senja mengatakan jangan pergi apa pengaruhnya ? bukankah kamu sudah memutuskan. Lakukan saja sesukamu Ask " ucap Senja dingin.


Darren terdiam. Dia mengikuti tender beberapa bulan yang lalu, mencoba - coba melebarkan sayap. Bahkan Darren tidak menyangka akan memenangkannya, tapi bukannya senang tapi malah sedih. Darren lupa kalau istrinya sedang hamil ditambah lagi setelah kematian Rafli seperti sekarang.


Senja turun dari ranjangnya perlahan membuka brankas yang ada di sudut lemari bajunya. Senja mengabaikan Darren yang masih duduk tertegun.


Brankas itu isinya masih sama, semua perhiasan Senja masih utuh di sana. Hanya amplop putih tambahan isinya. Senja mengambil amplop putih itu, lalu membukanya.


Senja membaca perlahan, benar kata Sonya semua harta Rafli menjadi hak penuh Zain dan selama Zain belum 20 tahun, seluruh harta menjadi tanggung jawab Senja. Selain itu ada beberapa nama yang harus dikirimi uang secara rutin setiap bulannya. Ada satu nama yang Senja sangat asing. Tapi Senja tidak mau terlalu memikirkan dulu.


Senja melirik Darren yang sedang menatapnya sendu, Menyerahkan kertas - kertas yang baru saja dibacanya.


Darren membaca dengan teliti sampai dua kali lalu mengusap kasar wajahnya.


"Terserah kamu Ask, aku sedang tidak fokus "ucap Darren meletakkan kertas di atas nakas.


"Senja akan lepas ke orang lain, tanpa mengubah kepemilikannya. Senja yakin tuan Rajata lebih akan sembuh ketika kembali mempunyai bisnis "


ucap Senja datar.


"Kalau dia mencurangi Zain ? "


"Ini kesempatan terakhir dia menjadi manusia baik, kalau dia masih tega dengan cucunya'''..... sendiri itu urusan dia. Tanggung jawab dia. Kita tidak dirugikan apapun, kita bisa menghidupi Zain tanpa uang itu bukan ? Senja juga ada penghasilan. Kamu pun pasti sebentar lagi semakin kaya karena bisnismu sudah merambah ke jepang. Soal uang apa lagi yang perlu kita khawatirkan ? " sindir Senja.


"Ask .... Katakan aku harus bagaimana ? " tanya Darren.


"Semua terserah kamu Ask. Kamu sendiri yang melangkah. Jika itu impianmu, aku tidak ingin menghalangi. Aku tidak mau menjadi penghambat mimpimu. Kamu bisa berhitung sendiri apa yang kamu dapat sepadan dengan yang kamu tinggalkan apa tidak. Aku tidak terlalu menyukai hubungan jarak jauh. Zain baru saja kehilangan papanya dan sedang berusaha dekat denganmu " ucap Senja lirih dan kembali ke atas ranjangnya mengangkat baby De yang terbangun.

__ADS_1


"Ask...Bantu aku memutuskan agar aku tidak salah " pinta Darren.


"Pikirkan saja sendiri Ask, sepadan atau tidak dan ingat Senja tidak menyukai hubungan jarak jauh " ucap Senja sedikit kesal.


__ADS_2