Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Darren junior on progres #again


__ADS_3

Senja buru - buru mengambil test pack di laci nakas. Saat kehamilan Dasen, Darren membelikan satu box penuh test pack. Senja segera masuk ke kamar mandi.


Selesai merawat Dasen, Wati meninggalkan kamar Senja. Bersamaan dengan itu, Darren masuk dengan wajah berseri - seri.


Senja keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah sedikit tegang. Senja tidak berani melihat test packnya.


" Kenapa Ask ? " tanya Darren heran.


" Senja telat Ask " jawab Senja masih tetap menepuk - nepukkan dua batang test pack di satu punggung tangannya.


" Telat kemana ? " tanya Darren, tidak paham.


" Bukan itu Ask. Senja telat dapet bulanan " jawab Senja kesal.


" Tidak mungkin Ask, kan aku sendiri yang selalu kirim uang bulanan buat kamu. Kurang ya ? kamu pindahkan sendiri deh maunya berapa. Tuh key nya " ucap Darren sambil menunjuk key token sebuah bank swasta di samping clutch miliknya.


" Bukan itu juga Ask " jawab Senja kesal, menghempaskan bokongnya di tepian ranjang. Matanya terpejam, mulutnya komat kamit seperti membaca mantra. Padahal dia sedang berdoa semoga saja ini hanya telat biasa. Bukan hanya reaksi orang yang dia bayangkan, tapi kasihan Dasen yang masih kecil harus mempunyai adik.


Darren mengambil test pack di tangan istrinya begitu paham arah pembicaraan istrinya. Senyumnya seketika mengembang, dua alisnya naik turun, kedua tangannya merentang bersiap memeluk Senja.


" Tidak !!!! Senja tidak hamil kan " ucap Senja seraya menahan dada suaminya agar tidak mendekat.


" Sebaliknya. Darren junior on progres Ask. Kecebong Darren memang luar biasa, melesat dan selalu tepat sasaran " ucap Darren dengan bangganya. Senja mengambil bantal lalu menimpukkannya pada Darren.


" Kamu enak Ask, ini luka operasi saja entah sudah pulih benar atau belum dalamnya. Kamu sih mepet terus " kata Senja, kesal jelas terlihat dari wajah dan nada bicaranya.


" Sebentar - sebentar, siapa yang mepet ? lagian enaknya sama - sama Ask. Sudahlah, kita syukuri saja. Tuhan percaya kita mampu. Banyak anak banyak rejeki. Makin banyak anak, tubuhmu makin seksi " ucap Darren, benar - benar asal.


" Terus bagaimana ini, Senja mau ke dokter hari ini. Senja tidak mau Dasen diberikan susu formula. Kita harus konsultasi sama dokter, terus kalau sampai mama dan eomma tahu bagaiman. Aduh nggak sanggup membayangkan " Senja terlihat semakin bingung.


" Ini rumah tangga kita Ask, mereka boleh memberi saran ataupun mengkritik, yang menjalani tetap kita. Selama kita tidak merepotkan mereka, kita tidak terlalu salah. Bisa apa kita semua sekarang ? sudah terlanjur. Kita sudah rasain enaknya, sedikit pahit mendengar omelan mereka tidak masalah. Tidak mungkin mereka sampai mencekik kita " jawab Darren, santai tapi cukup menenangkan.

__ADS_1


" Ask, semoga kehamilan ini nggak rewel. Paling tidak sampai acara pernikahan Chun. Jangan sampai eomma dan mama tahu dulu. Senja takut eomma membawa Zain dan Dasen seperti ancamannya waktu itu. Kalau aku hamil sebelum Dasen satu tahun, eomma akan membawa keduanya ke negara S. Senja tidak mau. Kita sembunyikan saja selama yang kita bisa " kata Senja.


" Nanti kalau ketahuan malah panjang gimana ? " tanya Darren.


" Kita pikirkan nanti. Yang penting sekarang Senja belum siap memberitahu siapapun. Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua. Bisa kan ? " tanya Senja, menatap tajam suaminya.


" Bisa Ask...Apa sih yang nggak bisa buat kamu "jawab Darren. Kebahagiaan terpancar nyata di wajahnya.


" Pokoknya jangan sampai eomma membawa Dasen. Senja nggak mau jauh - jauh dari Dasen " tegas Senja.


Senja keluar dari kamarnya melihat kesiapan Zain berangkat ke sekolah. Baby De sudah beberapa hari menginap bersama Chun Cha di rumah Hutama.


" Wat, sini biar Dasen sama saya. Kamu sarapan dulu. Mulai nanti malam kamu tidur di kamar Dasen di atas ya, Saya juga akan kembali ke kamar atas, nanti minta bi imah dan bi lastri memindahkan semua kembali ke kamar atas ya. Mulai nanti malam kita coba Dasen tidur sama kamu. Sore ini saya tinggal sebentar ya, karena ada keperluan sama bapak. Kamu gpp kan sama Dasen sendirian tanpa saya ? " tanya Senja.


" Ya gpp bu Senja. Den Dasen aman bersama Wati " ucapnya semangat sekali.


Zain dan Darren sudah bersiap berangkat, Senja mengantar mereka sampai ke depan pintu utama.


" Kalau sudah dekat lobby telpon saja, tidak usah naik ke atas. Aku sedang tidak ingin berbagi " ucap Darren. Yang dimaksud berbagi adalah Ali dan Amar diam -diam mengagumi Senja. Selalu mencuri - curi pandang dan Senja selalu menyapa ramah keduanya tanpa beban. Darren jauh lebih keren, tapi Ali dan Amar jauh lebih muda darinya.


Sampai kantor aura Darren jelas berbeda, kebahagiaan yang ditampilkan berlipat - lipat. Sepanjang jalan turun dari mobil sampai di depan ruangannya, Darren tidak henti menebar senyum mempesonanya.


" Pagi pak " sapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan.


" Pagi..." jawab Darren tidak lupa dengan senyumannya.


" Bonusan nih kita " bisik salah satu karyawan.


" Semoga " timpal yang lain.


Darren menghentikan langkahnya tepat di depan meja Amar dan Ali.

__ADS_1


" Kalian ke ruanganku sekarang, jangan lupa panggil Yanes sekalian " perintah Darren, lalu langsung mendorong pintu ruangannya tanpa menutupnya kembali.


Tidak sampai menunggu lama, ketiga karyawan loyal Darren sudah berada di depannya.


" Ali, katakan pada seluruh karyawan kalau siang ini sampai tiga hari ke depan dapat makan siang dari aku, kamu dan Amar cari resto atau catering yang sanggup mengirim ke kantor kitabsiang ini. Nes....Berikan masing - masing 500 ribu untuk level ob, karyawan outsourcing dan anak magang " ucap Darren sambil memberikan salah satu kartu atm nya pada Yanes. " Karyawan tetap sudah sejahtera, tidak perlu tambahan lagi. Gaji kalian sudah sangat besar " imbuh Darren mengerti tatapan penuh tanya Ali.


" Lagi seneng nih kayaknya, jatah dobel kayaknya " goda Yanes sambil memainkan atm prioritas di sela - sela jemarinya.


" Kalau aku berbagi karena itu, bisa bangkrut juga aku lama - lama. Terlalu sering, hampir setiap hari malah " jawab Darren dengan sombongnya.


" Edan " sahut Yanes sambil meninggalkan bosnya yang sedang mesam mesem tidak jelas.


" Owh ya pak, sore ini ada tanda tangan kerjasama dengan pak Mario. Beliau akan datang ke kantor kita " ingat Amar.


" Jam berapa ? " tanya Darren.


" Jam empat pak " jawab Amar.


" Aduhhhh, mati aku...Nggak bisa dimajuin ya ? "


" Tidak bisa pak, katanya sebentar saja kok " jawab Amar.


"Ya sudah kalau begitu "ucap Darren, memberi isyarat pada Amar dan Ali untuk mulai melakukan tugasnya.


Sore hari setelah memastikan Dasen sudah aman bersama Wati, Senja bersiap berangkat ke kantor suaminya. Bersama Rudi, Senja pun menuju gedung Mahendra Corps.


Mobil Senja berhenti tepat di belakang mobil Tesla warna putih. Seorang laki - laki tampan turun dari sana sambil merapikan jasnya. Tidak sengaja laki - laki itu juga melempar pandangannya pada Senja yang juga baru menuruni mobil. Laki - laki itu mendekatkan langkah kakinya pada Senja yang sedang berjalan ke lobby.


" Pak Mario ? "


" Senja ? "

__ADS_1


Sapa dan tanya keduanya bersamaan.


__ADS_2