Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Happy Birthday Senja


__ADS_3

Sampai menjelang jam sebelas malam. Senja masih belum mendapatkan kabar dari suaminya. Antara khawatir dan kesal bercampur jadi satu.


Senja sudah menghabiskan beberapa buah, roti, empat piring nasi, dua porsi mie ayam dan lima gelas susu hari ini. Senja tidak main - main mempersiapkan tenaganya untuk memarahi Darren habis - habisan karena berani membawa Zain pergi darinya tanpa pamit.


"Opa sudah ada kabar belum dari teman opa ? Kak Al gimana ? relasi papa gimana ? Chun kata Appa bagaimana ? masak sih gak ada satupun yang bisa melacak seorang Darren Mahendra, penculik anak di bawah umur, penyalahgunaan wewenang dan pengkhianatan pada istri " ucap Senja begitu putus asa.


Mahendra, Sarita, Hutama, Aleandro dan Chun Cha sebenarnya merasa tidak tega. Tapi melihat sisi lain Senja sepertinya akan sangat langka.


"Sepertinya papa ada informasi. Tapi teman papa menyuruh kita ke rumahnya. Tidak jauh dari sini. Tapi menunggu sebentar lagi. Teman papa ini seorang anggota interpol. Pastilah informasinya akurat " ucap Mahendra tiba - tiba.


Aleandro melirik jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu lima puluh menit lagi.


"Ya sudah kita ke sana sekarang pa. Senja takut Zain lupa obatnya. Awas saja, kalau pulang Darren Mahendra gak ada ampun " ancam Senja lagi dan lagi. Yang lain semakin ngilu membayangkan nasib Darren.


"Kamu ikut di mobil Aleandro bersama Chun, Papa bersama mama dan opa " ucap Mahendra.


"Kenapa rame - rame pa, kita bukan sedang menghadiri jamuan keluarga. Terus baby De cuman sama baby sister saja gitu ? " tanya Senja heran.


"Kita khawatir kamu emosi Nja. Sepertinya apa yang akan kamu lihat tidak pernah kamu bayangkan seumur hidup "sahut Aleandro cepat.


"Kami akan selalu ada buat kakak. Chun siap membantu kakak mematahkan kaki kakak ipar " ucap Chun Cha memberi dukungannya.


"Tidak, Jangan ada yang menyentuh abang selain Senja. Biar Senja satu lawan satu melawan abang. Kalian lihat saja apa yang terjadi nanti "ucap Senja lagi - lagi membuat yang lain menyusun rencana menyelamatkan diri dari amukan Senja nanti.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Senja sampai di depan rumah yang cukup megah. Rumah yang di dalam hati Senja adalah rumah impiannya. Di sepanjang jalan menuju pintu utama terdapat tanaman hijau yang rindang, di sisi kanan samping rumah tampak play ground dengan berbagai jenis mainan anak - anak. Jelas pemilik rumah adalah pecinta anak - anak.


"Kamu saja yang buka pintunya Nja, Papa takut " ucap Mahendra, tidak masuk akal.

__ADS_1


Dengan tidak sabar dan energi ekstra, Senja membuka pintu lebar - lebar.


"Happy Birhday mama Nja " terdengar dua suara yang tidak asing tapi kondisi rumah yang masih gelap membuat Senja merasa sedang berhalusinasi.


Satu sisi tembok menyala terang, menampilkan wajah - wajah kesayangan Senja. Hutama, Mahendra, Sarita, Bae, Arham, Ming, Hyeon, Eunji, Chun Cha, Aleandro, Zain dan yang terakhir orang yang paling menyebalkan beberapa hari ini bagi Senja. Siapa lagi kalau bukan Darren Mahendra.


Lampu menyala terang benderang. Memperlihatkan dengan jelas sebuah tulisan dari balon polkadot warna hitam berukuran sedang.


...Welcome to your home, mama Nja...


Di tengah ketidakpahaman Senja, Zain muncul dari balik sofa dengan senyum santai tanpa dosa.


"Zain sini " ucap Senja antara kangen, kesal dan khawatir bercampur jadi satu. Zain yang merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Senja segera bersembunyi di balik tubuh bongsor opa buyutnya.


"Zain sini, mama janji nggak akan marah sama Zain kalau Zain bantu jelasin ke mama kenapa Zain pergi tanpa pamit, dan tega membuat mama khawatir " ucap Senja sedikit lembut.


"Sekarang ceritakan pada mama " pinta Senja lembut mengusap rambut Zain.


Senja memandang sekeliling. Belum terlihat Darren di sana. Padahal tadi Senja mendengar jelas ucapan ulang tahun pertama bersumber dari Zain dan suaminya.


Zain juga melihat sekeliling, meminta sedikit perlindungan. Nyatanya semua hanya menggerakkan sedikit bahunya ke atas, yang dekat artinya dengan kata TERSERAH.


"Ma, om Darren dan Zain yang merencanakan ini, Akhir - akhir ini mama Nja kalem sekali kata om Darren. Padahal dulu katanya mama itu galak, om Darren kangen diomelin mama " jelas Zain dengan polosnya.


"Terus ? "


"Zain taunya itu, pokoknya Zain diajak om Darren bikin mama kesel, tapi bukan hanya Zain kok. Semua juga ikut. Opa buyut, opa, oma, om Al, aunty Chun, semua ikut meeting. Mama jangan marah ya, karena om Darren susah payah membelikan rumah ini sebagai kado buat mama " Jelas Zain lagi, membuat yang lain mencoba sok sibuk. Chun dan Al dengan ponselnya. Hutama dan Mahendra mencoba mengagumi isi rumah, sedangkan Sarita sibuk mengelus sofa.

__ADS_1


"Oh...Jadi semua ikut " Senja memanggut - manggutkan kepalanya.


"Kami hanya membantu sedikit " opa membela diri. Senja melirik Sofa tempat di mana Zain keluar, pasti suaminya pun berada di sana.


"Baiklah kali ini Senja memaafkan kalian semua, tapi harus ada yang bertanggung jawab pada apa yang Senja alami akhir - akhir ini terutama hari ini. Senja tunggu, siapa peran utama sekaligus sutradara dan penulis skenario dari drama kali ini ? " ucap Senja masih melirik ke arah Sofa besar tadi.


Semua masih diam.


"Zain ini sudah malam, kamu harus istirahat. Mari kita pulang, Senja sungguh bukan kami penanggung jawabnya, dia pasti akan muncul sebentar lagi. Kita pulang, Zain biarlah malam ini sama mama "ucap Sarita buru - buru menyelamatkan diri menggandeng Zain.


"Tolong jaga Zain baik - baik ma, sepertinya kontaminasi justru berasal dari orang terdekat. Ini yang pertama dan terakhir Zain ninggalin Senja tanpa pesan " ucap Senja dengan tatapan menyelidik.


"Opa sudah tua Nja, opa juga harus istirahat. Ayo antar papa pulang sekalian Hen " ucap Hutama pada Mahendra, mengikuti jejak Sarita.


"Silahkan opa, kak Al dan Chun kalau mau pulang juga tidak mengapa. Terimakasih buat semuanya sudah repot - repot memberi surprise pada Senja. Panjang umur, sehat, bahagia dan sejahtera bagi kita semua " ucap Senja tulus.


"Amin "jawab semuanya kompak dan buru - buru keluar dari dalam rumah.


Senja menutup pintu rumah ,rumah yang belum jelas kepemilikannya bagi Senja. Tapi sudah jelas bagi semua orang. Senja baru sadar kalau di sana terdapat foto pernikahan dirinya dan Darren. Senja masih merangkai puzzle, tapi lebih penting membuat Darren keluar dari persembunyiannya saat ini juga.


"Mau keluar sendiri apa dikeluarin nih ? " tanya Senja yang masih yakin kalau Darren ada di balik sofa.


Lampu kembali di matikan. Ruangan yang gelap gulita dan berada di sana sendirian membuat Senja sedikit gelagapan.


Senja tidak membawa ponsel, sehingga dia hanya mengandalkan indra perabanya saat ini. Entah kenapa saklar tidak dia temukan, sepertinya memang menggunakan remot untuk menyalakan dan mematikan lampunya. Karena dari tadi tidak terdengar suara atau tanda apapun saat lampu mau menyala ataupun mati.


Keberanian Senja hampir saja habis kalau saja tidak meraba postur tubuh yang sangat dia hafal tanpa perlu melihat.

__ADS_1


"Happy Birthday Ask "


__ADS_2