
" Kamu kenapa Nja, ada apa ? siapa yang meninggal ? " tanya Rianti, wajahnya ikut menegang.
" Ri, tolong panggilkan abang Ri, panggilkan abang " pinta Senja, tubuhnya gemetaran. Rianti segera mencari keberadaan Darren. Senja kembali memungut ponselnya, menghubungi Arham tapi tidak bisa, Bae pun sama - sama tidak terhubung. Eunji dan Hyeon pun entah kemana.
" Ada apa Ask ? " tanya Darren khawatir.
" Ask, tolong cek di rumah sakit pusat bener nggak ada korban kecelakaaan bernama Ming Kyeun Ki. Buruan Ask, kalau sudah pasti kabari aku. Kak Ming nggak ada kabar mau ke sini, tapi barusan ada telepon dari kepolisian. Katanya mobil yang menjemput kak Ming mengalami kecelakaan beruntun di tol " aucap Senja tanpa jeda.
" Kak Ming ke sini ? " tanya Darren.
" Nggak tahu Ask, nggak ngasih kabar. Eomma, Appa, Hyeon sama Eunji tidak bisa dihubungi "
" Ya sudah. Kamu tenang Ask, aku yang urus " ucap Darren, mengelus punggung istrinya lalu segera menghubungi Ali untuk mencari tahu tentang kebenaran berita kecelakaan Ming.
Tidak sampai satu jam Ali kembali menghubungi Darren. Membenarkan berita yang dikabarkan pihak kepolosian pada Senja, lengkap dengan foto Ming. Darren menghela nafas dalam, bukan memikirkan Senja. Tapi lebih kepada Zain yang sangat dekat dengan Ming. Setelah itu Darren menghubungi Arham. Ternyata mereka sekeluarga memang ingin memberikan surprise pada Zain yang baru saja sembuh dari sakitnya sekalian menjenguk Hutama. Tapi Ming, tidak satu pesawat dengan mereka, Ming berangkat lebih dahulu dari semalam karena akan bertemu dengan temannya. Arham, Bae, Hyeon dan Eunji sudah menuju rumah sakit di mana jenazah Ming berada.
Darren mengganti celana dan bajunya, lalu kembali menemui istrinya yang kini terlihat mondar mandir cemas ditemani mama dan papanya. Rianti masih mengurus Hutama di lantai atas. Darren memeluk istrinya dengan erat.
" Sabar Ask, Ikhlas. Doa kan kak Ming. Ini sudah takdirnya kak Ming " bisik Darren.
" Jadi itu benar kak Ming ? " tanya Senja masih belum bertanya.
" Iya, itu kak Ming. Appa, eomma dan bocah kembar sudah di Jakarta. Mereka ke sini untuk bertemu kita. Aku urus semua dulu, Eomma bilang jenazah Ming dimakamkan di sini saja " Darren mencium kening istrinya, tidak tega meninggalkan Senja dalam posisi sedih seperti itu, tapi dia harus mengurus langsung semuanya. Darren akhirnya berangkat ke rumah sakit bersama Mahendra.
" Nja, sini biar Dasen sama mama saja " ucap Sarita. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Senja memberikan Dasen pada mama mertuanya.
" Senja menemui Zain sebentar ya ma " ucap Senja. Melangkahkan kaki dengan pelan dan gontai menuju kamar Zain.
__ADS_1
Zain sedang bermain di atas ranjangnya bersama baby De dan susternya. Zain menyambut Senja dengan senyuman yang sangat mirip dengan Rafli.
" Mbak sus, tolong bawa baby De ke kamarnya ya. Saya mau ngobrol sama Zain sebentar " ucap Senja, lirih.
" Zain, sini duduk di samping mama " ucap Senja seraya menepuk kasur di samping dia duduk. Zain pun menurut.
Baby De dan baby sisternya sudah menghilang dari pandangannya. Senja menggeser duduknya agar bisa berhadapan dengan anak pertamanya itu.
" Zain, maaf mama harus menyampaikan ini. Tapi Zain harus tahu. Uncle Ming meninggal Zain. Uncle Ming sudah bertemu papa Rafli sekarang " ucap Senja, hati - hati.
" Mama bohong, kemarin uncle bilang mau dateng. Uncle mau bawain Zain pesawat series terbaru. Uncle tidak boleh meninggal " ucap Zain, sorot matanya begitu tajam, membuat Senja sedikit kelimpungan. Cara memandang Zain sangat mengintimidasi, persis seperti papa dan Daddynya.
" Mama tidak berbohong. Kita memang tidak pernah tahu umur seseorang Zain. Semua terserah Tuhan mau memanggil siapa duluan. Kita boleh bersedih, kita boleh menangis tapi kita tidak boleh mengingkari takdir " ucap Senja dengan lembut.
" Kenapa Tuhan selalu mengambil orang - orang yang menyayangi Zain ? papa, uncle Ming semua diambil " keluh Zain.
Di rumah sakit, Darren terlihat sangat tegas berbicara dengan pihak kepolisian. Pasalnya proses otopsi Ming diminta ulang, hal ini dikarenakan teman perempuan Ming yang mengemudikan mobil yang ditumpangi Ming dinyatakan positif zat psikotropika jenis sabu - sabu. Ditambah lagi di tas perempuan itu ditemukan juga barang bukti sebesar 250 gram.
" Ming tidak mungkin memakai barang haram itu Darr. Tidak mungkin " ucap Bae di tengah isak tangisnya.
" Eomma tenang dulu eomma. Apa eomma kenal dengan perempuan yang bersama Ming ? " tanya Darren.
" Tidak Darr, bahkan eomma tidak tahu kalau Ming bertemu dengan perempuan. Eomma kira temannya Ming laki - laki. Sudahlah, semua sudah terjadi. Eomma hanya ingin proses pemakaman berjalan dengan cepat. Kasihan Ming " ucap Bae, sendu. Suaranya lebih pelan, tidak ketus seperti biasanya.
" Sebentar lagi Eomma, maksimal satu jam lagi. Darr akan telpon Senja untuk mempersiapkan semuanya di rumah. Lebih baik eomma dan appa pulang dulu saja. Biar Darren dan Hyeon atau eunji di sini " ucap Darren.
Arham hanya diam, matanya begitu menyiratkan kepedihan yang sangat mendalam.
__ADS_1
" Apa perempuan itu selamat ? " tanya Bae.
" Selamat eomma, lukanya tidak parah. Tapi proses hukumnya berjalan dan sangat panjang pastinya. Darren akan cari tau dan memastikan perempuan itu tidak menyeret nama Ming lebih jauh " ucap Darren.
" Semoga Darr, Eomma percayakan semua urusan sama kamu. Suruh drivermu anter kami dulu ya " pinta Bae.
" Iya eomma "
Satu jam lebih berlalu, akhirnya hasil test Ming keluar juga. Darren bernafas lega begitu tahu hasil test narkoba Ming dinyatkan negatif.
" Nes, urus semua sisaanya aku tidak mau tau. Semua harus clear. Pastikan perempuan itu tidak membawa - bawa nama Ming " ucap Darren pada Yanes, sesaat sebelum membawa jenazah Ming ke rumahnya untuk di semayamkan.
Suasana rumah Darren dan Senja menjadi penuh haru, Chun Cha menangis dipelukan Bae, Senja menggendong Dasen berdiri mengelus kepala Zain yang sedang digendong Eunji. Arham tampak tegar di samping Mahendra. Hanya ada keluarga inti di sana. Kematian Ming sengaja disembunyikan oleh Arham dan Bae mengingat cara kematian dan peristiwa tragis yang menyertainya.
Jenazah yang di tunggu pun datang. Tangisan Zain dan Chun Cha bersahutan, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tersayat hatinya. Darren tutun dari ambulance di ikuti Hyeon. Arham, Mahendra, Aleandro dan beberapa pegawai laki - laki beringsut maju untuk mengangkat peti jenazah Ming.
" Uncle Ming jangan tinggalkan Zain. Mana janji uncle Ming. Kenapa uncle bohong " Zain terus berteriak dan meronta dari gendongan Eunji. Padahal saat berbicara dengan mamanya tadi, Zain sudah bisa tenang. Tapi melihat peti mati Ming, membuatnya kembali mengingat saat ditinggalkan papanya dulu.
Darren mengambil Zain dari gendongan Eunji.
" Zain, dengar daddy. Semua yang ada di sini sekarang suatu saat akan berada di posisi uncle Ming. Zain boleh nangis, boleh sedih sepuas Zain sekarang. Luapkan, tapi janji setelah itu Zain akan melepas kepergian uncle Ming dengan doa " bisik Darren, dengan sabar.
Di tengah suara isak tangis yang makin membuat hati terenyuh, ponsel Darren berdering. Darren menerima panggilan itu dengan dengan satu tangan tetap menggendong Zain.
" Iya Nes " ucap Darren.
" ..........................................."
__ADS_1
" Biar Senja saja yang mengurus, sepertinya perempuan ini sengaja bermain - main dengan keluarga kami "