Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Harus senang atau kesal


__ADS_3

Darren membuat gerakan mengunci mulut dengan tangannya.


" Nja...." kini giliran Senja yang ditodong jawaban oleh Sarita.


" Mama ke kamar Senja kalau mama sudah selesai di sini. Senja permisi ke kamar dulu sekarang " jawab Senja, buru - buru melarikan diri dari situasi yang tidak terduga sebelumnya.


Darren memang berencana jujur dan memberitahu semua tentang kehamilan Senja. Tapi rencananya masih besok, sebelum Bae dan Arham ke negara S. Tentu saja itu juga salah satu strategi Darren, agar omelan Bae tidak berlangsung lama. Bahkan Darren berniat memberi tahu satu jam sebelum penerbangan.


Tidak mau berlama - lama, Sarita segera menyusul Senja ke kamarnya. Rasa penasaran sudah tidak bisa dibendungnya. Melihat mamanya memasuki hotel, Darren meminta Zain bersama Mahendra dulu dan dia pun segera menyusul mamanya. Jangan sampai Senja dicecar Sarita sendirian. Karena mereka membuatnya berdua.


Senja membuka pintu kamarnya setelah mendengar suara ketukan dari luar. Sarita langsung terlihat disusul wajah suaminya. Keduanya langsung menyerobot masuk.


" Jadi bagaimana ? " selidik Sarita tanpa basa basi lagi.


" Senja hamil anak Darren lagi ma " jawab Darren cepat, sebelum Senja yang menjawab lebih dulu.


" Ya jelas hamil anakmu, mana sempet Senja hamil anak yang lain. Orang kamu kekep aja setiap saat. Kamu itu lho kok nggak mikir. Senja itu lahiran kemarin operasi, gimana lukanya. Kamunya enak. Tinggal ngucur aja. Bayangin jadi Senja, baru tiga bulan itu perut lega. Sudah ada lagi isi perutnya. Sembilan bulan itu nggak sebentar Darr, bawa kehidupan lain di badan itu nggak gampang. Kudu hati - hati, belum kalau mual, muntah, susah nafas, susah gerak. Kamu ngerti apa ? ngerti enaknya saja " omel Sarita.

__ADS_1


" Sebentar...Sebentar... Kok rasanya di sini posisi Senja seolah - olah adalah korban ya. Pelakunya kan Senja sama Darren ma, bukan Darren aja. Lagian kami melakukan suka sama suka, nggak ada paksaan dan halal. Hamil lagi berarti anugerah. Tuhan perrcaya, sangat percaya pada Darren dan Senja " timpal Daren.


" Bukan masalah percaya tidak percaya Darr. Dasen masih terlalu kecil. Masih butuh Asi, butuh perhatian mamanya dan saat adeknya lahir nanti, dia belum ngerti apa - apa. Bisa adil nggak kalian ? bisa nggak mengatasi kecemburuannya Dasen. Apalagi kalau Dasen benar plek ketiplek kamu, cemburunya pasti gede " cecar Sarita.


" Soal Asi, Senja sudah konsultasi sama dokter ma. Senja masih boleh ngasih Asi, sejauh ini lancar, tidak ada kendala apapun " Senja memberanikan diri ikut berbicara, tapi senyuman Darren saat mendengar jawabannya langsung membuat perutnya diaduk.


" Balik badan " perintah Senja pada Darren, Sarita melihat kebingungan.


" Mama tinggal sama Darren satu malam saja, mama akan tahu siapa korban yang sebenarnya " ucap Darren, tetap menghadap tembok berdiri dengan gayanya yang khas, kedua tangan masuk ke kantong celana dan satu kaki tidak bisa diam. Kalau ada benda di depannya pasti sudah ditendang - tendangnya meski pelan.


" Mama nggak tahu lagi deh. Mama pusing. Seneng tapi kok ya kalian ini nggak mikir jarak sama sekali. Kalian kayak hidup dijaman dulu saja. Masak iya nggak ngerti caranya berbuat tanpa harus mlendung. Mau sedih kok ya jahat, dikasih cucu lagi masak ya di tolak. Kamu kok ya diem - diem saja to Nja, tau hamil itu g gampang, badan juga masih melar belum juga kembali singset sudah dimelarin lagi. Jangan ngenakin Darren, mau anak sepuluh juga nggak ngaruh. Lha kamu ? kalau badanmu melar nggak keurus. Apa iya pabrik kecebong ini tetep setia sama kamu ? " Sarita memprovokasi pikiran menantunya.


" Awas saja kalau abang berani macem - macem. Senja tidak akan banyak bicara. Tidak akan membuang tenaga percuma untuk marah - marah. Senja tebas langsung naga abang " ucap Senja penuh penekanan dan ancaman. Darren reflek membekap naganya dengan kedua tangan yang ditarik segera dari kantong celananya.


" Astaga Ask, jangan dengar omongan mama. Bagaimana bisa aku ninggalin kamu. Kalaupun badanmu gemuk apa pengaruhnya ? kamu gemuk juga karena melahirkan anakku. Diluaran banyak yang bodynya bagus karena banyak waktu untuk mengurus dirinya. Kalau kamu kan sudah sibuk sama anak - anak dan aku. Lagian mau gemuk mau kurus, kamu selalu cantik dimataku. Mau kamu secantik apapun, kalau dipikiranku bukan kamu pasti aku akan menganggapmu kurang. Jadi intinya adalah konsistennya hati dan mataku memegang komitmen dan kesetiaanku. Jika kamu masih meragukanku, aku pastikan akan membawamu kemanapun aku pergi " tegas Darren.


" Nggak perlu, yang penting itu di hati dan di pikirannya siapa. Biarpun ditenteng, digandeng, dicelup sampai ditumpuk tiap hari kalau niatnya berpaling ya berpaling saja. ucap Senja sewot.

__ADS_1


" Sudah - sudah kalian ini kelihatannya saja berantem. Kalau berduaan nggak taunya bikin anak terus. Sekarang mama harus bagaimana ? mama harus bantu apa ? siapa yang kalian ijinkan ikut mama ? Zain atau Dasen ? " tanya Sarita.


" Tidak satupun. Dua - duanya sama kita. Mau punya anak sepuluh kita juga mampu jaga sendiri. Kalau mama mau bantu, cukup doain Senja sehat, nggak banyak mau, kembali normal dan jangan salahkan kami atas kehamilan Senja ini. Kita harus buat Senja nyaman, bukan nambah pikiran. Tugas mama sesederhana itu, kalau mama protes terus jangan salahkan Darren kalau saat lahir nanti, siapapun yang memarahi kami, apalagi memarahi Senja tidak akan Darren ijinkan melihat atau menyentuh anak kami " tegas Darren lagi.


" Jadi kamu pikir Senja sekarang ini nggak normal ? kok kamu tega sih ngatain Senja nggak normal. Ma... Mama denger sendiri kan abang ngatain Senja tidak normal ? " Senja mencoba mengadu.


" Mama keluar saja. Mama mau kembali ke acara Chun. Di sini lama - lama membuat mama pusing " tukas Sarita, kakinya melangkah cepat meninggalkan anak dan menantunya.


" Kamu juga keluar, Senja tidak mau melihat kamu hari ini. Kamu sewa kamar sendiri saja " ucap Senja mendorong Darren keluar kamar lalu mengunci pintu rapat - rapat dari dalam.


Darren melangkah gontai kembali menuju tempat akad nikah yang mungkin akan segera usai. Sarita menghampiri Darren, setelah mengomel puas tetap saja sebagai seorang ibu, Sarita tidak tega melihat kondisi anaknya.


" Hamil kali ini Senja rewel ya ? " Sarita menepuk pundak Darren dengan lembut.


" Banget ma, Darren serba salah. Senyum salah, seneng salah. Bolehnya malah kesel, uring - uringan sama marah. Lihat Darren angkuh juga semakin seneng. Kan aneh ma. Darren ini bukannya mau enaknya doang. Tapi kalau diluar nalar keterlaluan, Darren juga capek. Darren stress akhir - akhir ini. Tapi Darren tidak mungkin melampiaskan pada Senja. Sampai semalam Darren minum, Darren sengaja berharap Senja mengeluarkan emosinya seperti biasa. Nyatanya setelah menangis, Senja hanya ngomel sedikit " curhat Darren.


Sarita ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Sarita teralihkan melihat suaminya tergopoh - gopoh menggendong Zain.

__ADS_1


" Zain..." teriak Sarita, panik


__ADS_2