
Mata Darren melotot sempurna. Sebelumnya dia berfikir nyidamnya cukuplah berhenti dengan sikapnya yang berubah posesif dan pencemburu. Keduanya jauh lebih bisa diterima oleh Darren, ketimbang melihat Senja mengelus jambang Amar ataupun laki - laki lain.
Darren pun menggeleng kuat.
"Ask...Sebentar saja, lima menit. Please...." Senja terus merengek seraya bergelayut di lengan Darren.
Wajah Amar memucat melihat tatapan mata Darren padanya. Ali mengelus punggung Amar, mengirimkan pesan untuk bersabar dan iklas dengan berkah sekaligus musibah di depan mata.
"Enggak!" ucap Darren tegas, melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, di ikuti Senja yang berjalan menghentak - hentakkan kakinya seperti seorang anak yang tidak diijinkan membeli boneka.
Darren meletakkan clutchnya di atas meja, lalu melihat wajahnya di cermin. Wajahnya memang sangat bersih. Tapi kalau memang diinginkan, mungkin dibiarkan dua minggu saja jambangnya juga bisa tumbuh sempurna.
"Ask, ayolah. Nanti kalau anakmu ileran bagaimana?" Senja masih setia dengan rengekannya.
"Sekali enggak tetap enggak!" tegas Darren.
"Ask...Ayolah. Kamu kan daddy dan suami terbaik di dunia. Apapun diberikan pada anak dan istri. Daddy Darr tebaik memang, tampan, mempesona dan kaya raya." Senja terus merayu, tangannya mengelus pipi mulus suaminya, semakin membuat Darren begidik ngeri membayangkan Senja mengelus jambang Amar dengan cara yang sama.
"Ask, aku harus menyiapkan file untuk meeting nanti." Darren menurunkan tangan Senja dari pipinya, lalu berjalan ke belakang meja kerjanya. Menyalakan laptopnya dan dusuk di kursi kebesarannya.
Senja mendengus kesal, otaknya sedang berfikir keras agar Darren menyetujui permintaannya.
Sementara itu di kedua cungpret sudah beralih ke ruangan satu cungpret yang lain. Siapa lagi kalau bukan Yanes. Gibaf offline pun dimulai.
"Kamu beruntung Mar, sebentar lagi kamu akan merasakan sentuhan tangan bu boss." ledek Yanes, tidak bisa menahan tawanya.
"Bonus tamparan pak bos setelahnya." tambah Ali dengan tawa yang tak kalah lepas.
Amar menelan ludahnya kasar, dia pernah membayangkan Senja membelainya. Senja yang terlihat tenang tapi tangan dan mulutnya sungguh cekatan membuat bosnya melenguh dan mendesah di dalam ruangannya. Amar pernah meracuni matanya sendiri bersama Ali. Dengan sengaja mereka mengintip dua bosnya sedang berciuman.
__ADS_1
Sudah bukan rahasia tiga cungpret, mendengar decapan dan suara aneh - aneh dalam ruangan ketika tidak sengaja mereka masuk untuk mengambil atau memberikan file. Tentu saja hal itu setiap bu bos mereka datang seorang diri.
Gaji ketiganya ditambah dari uang pribadi Darren mungkin untuk menutup mulut, telinga dan mata. Beruntung dan bersyukurnya, Darren hanya melakukan dengan istrinya. Karena itu halal, membuat mereka tidak mempunyai tanggung jawab moral untuk mengadukan perbuatan Darren pada siapapun.
Amar melihat layar ponselnya. Bukannya membuka, Amar malah menyodorkan ponsel itu pada Ali.
Ali dan Yanes membuka pesan dari Darren Mahendra. Seketika tawa mereka meledak.
"Kamu disuruh cukur jambang sekarang Mar, bos ternyata tidak ikhlas berbagi belaian sesaat denganmu." kata Yanes, tawa kembali tidak bisa di tahan.
"Tidak! memangnya pak Darren mau tanggung jawab kalau aku diputusin pacarku. Ini aset Prettttt.....Pacarku sangat menyukai jambangku. Dia bisa meminta lagi kalau sudah jambang ini bersembunyi ditengah - tengah dua melon." ucap Amar, jujur dari dalam hati.
"Pacar?? Sudah....????" tanya Ali sambil menyatukan dua jari telunjuknya.
"Ah kayak kamu enggak saja. Intinya aku tidak mau. Sesekali aku juga harus tegas." ucap Amar, sok berani.
^^^Tidak jadi, Jangan dicukur. Istriku memberikan kesepakatan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan . Aku tidak mau rugi. tunggu pekerjaanku selesai. Kamu cuci mukamu dulu, pastikan bersih dan wangi. Aku tidak mau tangan istriku terkontaminasi debu yang menempel diwajahmu.^^^
"Wah, selamat Mar...Jangan lupa ceritakan pada kami bagaimana rasanya." ucap Ali sambil menepuk pundak Amar.
Amar segera mencuci wajahnya seperti arahan Darren, menggunakan sabun muka Yanes. Mengulangnya hingga dua kali, agar mantap bersihnya.
"Ciey, yang mau ngerasa'in belaian bu bos." Ali terus menggoda Amar.
"Sesekali...Biar tahu rasanya, masa cuman liat sama denger terus." Amar semakin melambung tinggi.
Amar dan Ali segera kembali ke mejanya. Menyelesaikan pekerjaan secepat kilant. Pasti pak bos akan keluar sekalian jalan meeting bersama Yanes, entah Senja akan diajak atau tidak. Sepertinya bukan sengaja diajak, tapi Senja yang memaksa ikut. Senja akan menunggu di resto hotel, sementara Yanes dan Darren akan berada di meeting room bersama klien. Begitu kurang lebih rencananya.
Dugaan Ali sangat tepat, Senja dan Darren keluar ruangan bergandengan tangan dengan wajah yang sumringah, sementara dari wajah Darren keluar ekspresi datar mendekati kekesalan.
__ADS_1
Senja memperhatikan Amar dengan gemas sambil mengelus - elus perutnya. Akan seperti apa anak dikandungnya kali ini. Kemauannya selalu di luar nalar daddynya. Terlalu aneh dan nyleneh.
"Ask, kayaknya lebih lucu kalau kamu aja deh yang ngelus - ngelus. Pasti gemes banget." pinta Senja tiba - tiba.
Darren, Amar dan Ali saling melempar pandang. Di tambah Yanes yang baru saja keluar ruangan susah payah menahan tawa mendengar permintaan Senja.
"Ini mah bukan sentuhan bisa - bisa." batin Amar dalam hati.
Ali kembali menyalurkan pesan kesabarpan dengan menepuk pundak belakang Amar.
Darren mengusap wajahnya kasar, beli kesabaran di mana lagi. Apa dia harus membuka sendiri pabriknya. Senja benar - benar menguji di kehamilan kali ini. Darren akan berfikir ulang untuk mewujudkan cita - cita banyak anak. Jika proses kehamilan meresahkan seperti ini, mungkin dia akan berhenti di sini saja.
"Ayo Ask!" rajuk Senja.
Darren ragu - ragu mengulurkan tangannya mendekati wajah Amar.Tidak menyia - nyiakan kesempatan. Yanes mengambil ponselnya, mengaktifkan fitur perekam gambar dan mengarahkan pada kejadian fenomenal dunia Darren dan Senja.
Amar dan Darren saling berhadapan. Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi Darren Mahendra saat ini. Antara kesal, geli dan jijik, begitu juga dengan Amar. Ekspektasinya sudah setinggi Himalaya, kenyataannya sungguh mengenaskan.
"Kalian manis sekali." ucap Senja terlihat sangat bahagia sambil mengusap pipi suaminya. Jadilah seperti usap mengusap, elus mengelus estafet.
Darren segera masuk kembali ke ruangannya, mencuci tangannya berkali - kali, berulang - ulang memberikan sabun, membilas dan mengeringkan lalu disemprot hand sanitizer. Darren kembali ke depan, mengajak Senja dan Yanes berangkat ke hotel tempatnya meeting.
"Gemess..." ucap Senja mencubit pipi suaminya.
"Awas kamu Ask! ingat kesepakatan kita!" ancam Darren.
"Kesepakatan yang mana Dadd, kan yang ngusap jambangnya daddy Darr. Bukan ma Nja," ucap Senja, licik.
"Nes...Pesankan room saja buat bu Senja. Biar dia menunggu kita sambil rebahan." perintah Darren sedikit modus.
__ADS_1