
Senja bersimpuh di samping gundukan tanah yang tertutup dengan hamparan bunga mawar putih. Satu tangannya menggengam sebagian bunga mawar putih itu. Seorang perawat masih dengan setia memegangi cairan infusnya.
Aleandro melakukan hal yang sama dengan Senja. Sesekali pria itu menoleh ke arah Senja yang sepertinya belum ingin beranjak dari makam Deandra.
Pemakaman yang tadinya ramai dengan beberapa relasi juga kerabat Hutama dan Zanetti kini kembali sunyi. Hanya ada Darren, Sarita, Aleando, Senja dan seorang perawat yang menjaga Senja.
Hutama pulang terlebih dahulu bersama Mahendra karena kondisi kesehatannya sedikit menurun saat ini. Sedangkan keluarga Zanetti sebagian sudah langsung pulang ke negaranya. Hanya orangtua Aleandro yang masih tinggal di negara S. Mereka pun sudah pulang menunggu anaknya itu di Mansion Hutama.
Tidak ada air mata atau tangisan meronta di sana. Semua hening dalam kesedihan. Cukup duka itu tergambar dari raut wajah dan tatapan mata yang sendu dan hampir kosong.
"Senja ... kita pulang yuk! Dokter sudah menunggu untuk memastikan kondisimu. Jika semua sudah normal, mereka akan melepas selang infus di tanganmu," ajak Sarita .
Senja mengangguk pelan dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Senja pulang ya Kak. Kakak bahagia di sana. Senja akan menjaga buah hati kak Andra dengan baik. Nama kak Andra akan selalu Senja sebut di setiap doa Senja. Terimakasih sudah menemani Senja sejauh ini. Sekarang Senja harus benar-benar belajar hidup sendiri." pamit Senja begitu pelan.
"Aku pulang bee ... Aku dan Senja akan menjadi orangtua yang baik untuk anak kita. Lihatlah kami dengan senyumanmu yang pasti akan aku rindukan," ucap Aleandro dengan kesedihan yang begitu mendalam.
Aleandro berdiri terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Senja berdiri. Aleandro berniat untuk membawakan cairan infus yang di bawa perawat, tapi ditolak oleh Senja. Karena perempuan itu akan membawa sendiri agar lebih memudahkannya saat berjalan.
Darren mengambil posisi di belakang kemudi. Sementara Sarita dan Senja di bangku tengah. Perawat memasang kembali cairan infus ditiangnya, sementara Aleandro duduk d jok depan persis di samping Darren.
Setelah memastikan semua sudah masuk ke dalam, Darren perlahan menjalankan mobilnya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Senja yang menatap kosong ke luar jendela kaca mobil.
Aleandro menyodorkan sebotol kecil air mineral pada Senja.
"Minumlah!" kata Aleandro.
"Terimakasih." Senja menerima botol dari Aleandro, membuka dan meneguknya hingga habis.
Darren menghentikan laju kendaraannya persis di depan pintu utama mansion Hutama. Jarak pemakaman dengan Mansion memang tidak terlalu jauh, hanya 10 sampai 15 menit perjalanan.
__ADS_1
Aleandro dengan sigap membantu Senja turun dari mobil, Satu tangan memegang infus Senja sementara satu tangan lagi memegang tangan perempuan itu.
Darren memperhatikan gerak Aleandro, sepertinya perhatian Aleandro pada Senja menjadi berlipat-lipat begitu Deandra meninggal dunia.
"Ganti pakaianmu dulu Senja, setelah itu Dokter Hans akan memeriksa kondisimu" ucap Sarita.
"Baik bu." Senja bersama perawat langsung menuju kamar yang disiapkan untuknya .
********
Senja merasa canggung karena Aleandro ikut masuk ke dalam kamar saat Dokter Hans memeriksa kondisinya. Meskipun di rumah, mereka membawa alat usg lengkap. Uang memang bisa membuat yang tidak mungkin jadi mungkin. Semua menjadi uang jika nominal sesuai dengan permintaan.
"Bagaimana Dok?" tanya Aleandro begitu khawatir.
"Senja dan janinnya sudah baik-baik saja Al. Jangan sampai Senja mengalami stres akibat over thinking. Kondisi kemarin masih wajar dan tidak terlalu berbahaya jika ditangani dengan tepat. Tapi akan lebih baik kalau kita lebih hati - hati dan menjaganya." jelas Dokter Hans.
"Baik Dok ... apa Senja masih boleh bekerja?"tanya Senja pelan.
"Baik Dok ... Terimakasih." ucap Senja.
Perawat kemudian melepas selang infus Senja .Setelah itu Senja dan Aleandro mengantar dua orang perawat yang mendorong alat usg dan Dokter Hans keluar pintu utama .
Darren memperhatikan mereka dari lantai dua. Ada perasaan tidak suka melihat Senja begitu dekat dengan Aleandro. Dia berpikir, perempuan itu pasti senang dengan kematian Deandra. Karena akan bebas mendekati Aleandro Kebencian dan kemarahan kembali muncul di hati Darren pada Senja.
"Kita ke ruang keluarga, Mereka sudah menunggu kita ." ajak Al sambil menarik tangan Senja dengan lembut. Darren yang masih melihat mereka, merasa sangat kesal.
Di ruang keluarga sudah ada Hutama yang duduk di kursi utama, ada papa dan mama Aleandro dan pastinya ada Mahendra juga Sarita.
Semua menjatuhkan pandangannya pada Senja yang berdiri di samping Aleandro. Membuat Senja merasa risih dan salah tingkah. Seolah semua sedang menjadikan dirinya sebagai terdakwa.
"Kamu yang bernama Senja. Maaf saya baru bisa menyapamu sekarang?" tanya Hutama memecah keheningan.
__ADS_1
"Saya Tuan." jawab Senja pelan sambil terus menunduk.
"Jangan tegang begitu Senja, kami hanya ingin mengenalmu . Lebih Mengenal perempuan yang sedang mengandung cucu kami," tambah Hutama dengan suara yang lebih ramah.
Senja memberanikan diri mengangkat kepalanya dan dengan sedikit keberanian Senja melemparkan sebuah senyuman pada mereka.
"Duduklah di sini, Nak ." mama dari Aleandro menepuk sofa empuk di sampingnya.
Senja berjalan pelan menuju sofa itu dan duduk dengan sopan dinsana. Aleandro mengambil posisi di sebrang Senja. Sejajar dengan Mahendra dan Sarita .
"Kami sangat berterimakasih padamu, Nak. karena ternyata janin itu berada di rahimmu bukan karena anakanak kami membayarmu dengan mahal. Terimakasih kamu sudah menemani dan membantu Andra selama ini." ucap Hutama dengan tulus.
"Tidak Tuan ... Yang saya lakukan belum seberapa. Kak Andra lebih dari sekedar atasan bagi saya ... Saya bisa berdiri tegar saat ini juga karena kak Andra. Saya sangat beruntung dipertemukan dengan kak Andra. Saya akan menjaga kehamilan saya dengan baik. Karena ini adalah impian terbesar kak Andra." ucap Senja dengan suara bergetar antara takut salah bicara dan sedih.
"Karena kamu sedang hamil cucuku, Saya ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Selama belum kembali pulang ke Indonesia .Kamu tinggallah di sini. Pelayan di sini akan melayanimu dengan baik." ucap Hutama.
"Tidak ... Senja hamil cucu pertama dari satu - satunya keturunan Zanetti. Kami akan membawa Senja ke negara kami ... Kami akan merawatnya dengan sangat baik. Bahkan nyamuk saja akan sangat menyesal kalau sampai berani menggigit kulit Senja," ujar Zanetti--papa Aleandro.
Senja mulai mengerti alasan mereka berkumpul di ruangan ini dan hal itu semakin membuat Senja tidak nyaman. Dia mau menerima sebagai Surrogate mother Deandra, karena Deandra menerima syarat dari Senja untuk membiarkan dirinya menjalani hidup normal. Tidak diperhatikan berlebihan. Kalau Senja hidup bersama salah satu dari mereka, besar kemungkinan Senja akan kehilangan kesempatan untuk hidup bebas sebagai dirinya sendiri.
"Tidak ... Senja akan menjalani hidup seperti biasa. Selama di sini Senja akan tinggal di apartemen Al. Kami bertiga sudah saling berjanji. Siapapun tidak boleh mencampuri dan menghalangi janji kami satu sama lain," tegas Aleandro.
"Tidak Al ... Kita harus membawa Senja. Papa tidak ingin penolakan. Papa ingin cucu pertamaku lahir di negara kita." Zanetti tetap memaksa.
"Tidak Pa, jangan ikut mencampuri urusan Al. Kalian tidak berada di sini saat kami memulai program kehamilan ini. Biarkan kami menjalani semua sesuai komitmen dari awal hingga akhir. Semua sudah kami rencanakan dengan baik. Kepergian Deandra tidak akan merubah apapun rencana kami." Aleandro sedikit emosi.
"Al benar ... Kita ikuti saja rencana mereka. Selama Senja bisa menjaga kandungannya dengan baik, bebaskan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Mau di manapun itu tidak masalah," ucap Mahendra turut memberikan suaranya .
"Terserah kalian saja. Saat ini kita tidak seharusnya berdebat seperti ini. Andra akan sedih," ucap Hutama tegas tapi bijak.
"Kali ini papa turuti kemauanmu Al ... tapi kalau ada apa-apa dengan cucu papa, Perempuan bernama Senja ini harus menggantinya dengan nyawanya," ancam Zanetti dengan angkuhnya.
__ADS_1
Seketika Senja menundukkan kepala. Meremas bajunya kuat. Saat ini Senja hanya ingin keluar dari ruangan ini secepatnya.