Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
gara - gara Yanes


__ADS_3

Melihat respon suaminya yang dingin, Senja semakin kepikiran tentang bisikan Yanes. Senja mendadak bergidik. "Ya Tuhan, jangan sampai benar - benar terjadi." doa Senja dalam hati.


"Zain jangan pergi ya, Zain tega ninggalin mama sama adek Dasen?" Senja membungkukkan badannya, wajahnya menatap Zain penuh harap.


"Zain terserah daddy. Kalau daddy tidak jadi pergi, Zain juga tidak pergi. Zain ikut ke daddy saja." jawab Zain, melirik Daddynya yang sedang memasang mode cuek.


Senja menegakkan badannya kembali. Dia menggenggam tangan Darren. Berusaha saling melempar tatap, tapi sayang bola mata kecoklatan Darren sedang ingin menghindari tatap menatap dengan istrinya.


"Ask, pulang yuk!!! Perginya nanti - nanti saja." bujuk Senja, tangannya kini berpindah mengusap lembut dada suaminya.


Perasaan Darren bergejolak, hatinya berdesir halus, sentuhan Senja membuatnya gundah tapi jangan sampai goyah. Misi belum selesai. Senja harus tahu bagaimana rasanya diabaikan dan merasa tidak dibutuhkan.


"Pulang? Kemana? " Darren memasang wajah sinisnya.


Kenzi belum beranjak, kurang lebih dia sudah tahu permasalahannya sekarang. Satu hal yang pasti, Senja sedang berusaha merayu Darren. Kenzi sedikit geli, jelas Darren sedang menahan dirinya. Kekesalan memang ada tapi tidak terlalu, masih kalah besar dengan rasa cinta yang tidak bisa disembunyikan oleh matanya.


"Pulang ke rumah kita ask, mau ke mana lagi." Senja melembutkan suaranya


"Rumah? Masih pantaskah disebut rumah jika tidak ada lagi kehangatan dan kenyamanan di sana? Rumah seharusnya menyembunyikan aku dari rasa khawatir, lelah dan takut. Tapi saat aku pulang, rasa itu justru semakin besar." Darren mengatakan dengan tegas tanpa menaatap Senja, jangan sampai ada kontak mata saat ini. Lagi - lagi misi harus tuntas dijalankan. Usaha Yanes sudah bagus, jangan sampai dia sia - siakan.


"Maafkan Senja Ask...Maaf kalau Senja berlebihan. Masih bisa kita perbaiki. Kalau kamu pergi di saat aku seperti ini, sama saja kamu membunuhku pelan - pelan Ask." Senja melepaskan semua sentuhannya dari tangan Darren. lalu mengambil posisi berdiri dengan lututnya bergeser pada Zain.


"Mama minta maaf....Akhir - akhir ini mama egois. Kalau Zain mau ikut daddy, mama ngerti. Jaga diri Zain baik - baik. Ingatkan Daddy kalau terlalu sibuk kerja. Di sana banyak seafood, Zain harus teliti memilih makanan ya. Hati - hati. Mama sayang Zain. Mama akan merindukan Zain." Senja mencium kening Zain, lalu kembali berdiri dengan susah payah. Darren tidak sedikitpun menolongnya.


"Kamu boleh menghukum Senja Ask...Senja pantas mendapatkannya. hati - hati. Jangan lupa makan, dan jangan tidur terlalu pagi." Senja tidak berani menyentuh Darren sedikitpun. suaminya itu begitu dingin, sepertinya ucapan Yanes hampir mendekati benar.

__ADS_1


Senja memutar badannya, kini hanya punggungnyalah yang nampak di mata Zain dan Darren. Air matanya menetes, tapi Senja berusaha tegar. Kali ini dia yang salah, kesalahannya pun fatal. Ada banyak hal yang dia abaikan, bahkan suaminya pun kini berbelok haluan.


Senja mempercepat langkah kakinya, semakin menjauhi Darren dan Zain yang menatap Senja dengan tatapan sedih tidak tega. Kadang sedikit terlihat kejam memang dibutuhkan untuk menghadapi sikap yang terlalu keras kepala. Mereka yang berfikir apa yang dilakukannya terbenar, mereka yang merasa paling bersedih dan paling terluka atas sebuah kondisi tidak cukup disadarkan hanya dengan kata. Membuang waktu dan sia - sia saja berbicara sampai berbusa sekalipun.


Kenzi segera mengejar Senja. Tidak bermaksud memanfaatkan keadaan, tapi dia tahu Senja tidak membawa uang sepeserpun.


"Bu Senja butuh taksi lagi?" tawar Kenzi dari arah belakang. Senjapun menoleh begitu mendengar namanya disebut.


"Owh...Mas Kenzi! Tolong antar saya kembali ke rumah tadi!!" Senja menjawab sambil menggerakkan bola matanya lincah mencari dua sosok laki - laki yang dicintainya. Namun, Darren dan Zain sudah tidak berada di sana. Mereka mengira Senja sudah menaiki taxi bandara.


Kenzi mengajak Senja berjalan sedikit ke area parkir di mana mobilnya berada. Beberapa kali Senja menoleh ke belakang, berharap mendengar suara Darren dan Zain memanggilnya.


Langit yang tadinya biru kini sudah berubah sedikit Jingga. Pertanda malam akan segera menggantikan siang. Tidak ada bedanyaa bagi Senja, siang malamnya masih saja dijalani dengan rasa bersalah pada diri sendiri.


Dalam perjalanan menuju rumah Mahendra, Senja hanya menatap layar ponselnya. Senja tidak tahu harus meminta tolong siapa untuk membuat keberangkatan suami dan anaknya tertunda atau batal sekalian.


"Bisa bu." Kenzi menjawab seraya melirik Senja dari spion tengah.


"Terimakasih mas," ucap Senja, tulus.


Senja kembali terdiam, hanya menyandarkan kepalanya di kaca pintu samping mobil. Pandangannya jelas kosong, tertuju pada satu titik, tapi entah titik itu di mana.


Sampai di rumah Mahendra, Senja benar - benar hanya mengambil Dasen. Senja tidak berhenti untuk sekedar berbasa basi dengan mertuanya. Hanya ucapan terimakasih yang sempat dia ucapkan.


Mahendra dan Sarita memaklumi sikap Senja. Meskipun tidak tahu pasti, keduanya yakin semua masih di bawah rencana Darren.

__ADS_1


Dasen mengeluarkan celotehan - celotehan lucu tanpa arti. Suara itu cukup membuat perjalanan pulang Senja tidak terlalu senyap. Berkali - kali Senja menciumi kening Dasen.


Kenzi lagi - lagi tersenyum. Sedikit iri dengan kebahagiaan Darren. Memiliki dua anak lelaki yang tampan dan istri cantik yang sedang hamil, apalagi yang di cari. Pertengkaran dan perselisihan yang tadi sempat dilihatnya, bisa jadi hanya pemanis. Di mata keduanya, Kenzi dapat menemukan perasaan cinta yang mendalam.


"Mas Kenzi, sebentar saya ambilkan ongkosnya dulu ya. Tunggu mas!!" ucap Senja ketika Kenzi sudah menghentikan mobilnya di depan pintu utamanya. Senja turun sembari membawa tas Dasen. Terlihat sangat repot.


Kenzi langsung meninggalkan rumah Senja begitu saja. Pertemuan yang tidak terduga namun membuat pencarian panjangnya berakhir sampai di sini. Kenzi tersenyum senang. Tinggal berharap, Darren akan bersikap profesional dan tidak keberatan dengan keputusannya.


Sampai di kamar, Senja tidak menemukan dompetnya. Senja sudah mencari di mana - mana, tapi tetap tidak ada.


Berjalan sambil menggendong Dasen dan dengan perut besar sukses membuat nafas Senja terengah - engah. Sampai di depan pintu rumahnya Senja tidak menemukan Kenzi. 'Ah, sudahlah! Nanti bisa aku kirim pesan untuk membayarnya," batin Senja seraya ingin menutup kembali pintu rumah, tapi kedatangan mobil Darren menghentikan niatnya.


Darren dan Zain turun dari mobil dengan wajah keduanya yang masih sok cool. Senja menghampiri mereka dengan hati yang bahagia tiada terkira.


"Penerbangan ditunda besok," jeas Darren tanpa diminta Senja.


Zain setia menggenggam tangan Darren saat berjalan menuju lift rumah mereka.


Di pertengahan malam, Dasen dan Zain sudah terlelap. Senja memberanikan diri mendekati suaminya. Ingin membuktikan kebenaran lebih lanjut.


Senja merangkak ke atas spring bed tanpa ranjang di mana Darren berada. Menyusupkan badannya ke dalam selimut yang menutup tubuh Darren hingga ke leher.


Darren yang sebenarnya masih terjaga menjadi ketar ketir. Tidak ada dalam sejarah perkawinannya, Darren menang melawan godaan Senja. Pendiriannya harus teguh kali ini, Naga harus tertutup dan jauh dari jangkaun tangan Senja jika ingin selamat. Darren mengubah posisi tidurnya menjdi tengkurap.


Senja beberapa kali merasakan tubuh Darren menolak sentuhannya. Bahkan di melihat tubuh Darren bergeser sedikit menjauh tiap kali Senja mendekatinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan...Hukum saja aku...Aku yang salah..Pulihkan suamiku...aku lebih rela kalau suamiku bersama perempuan lain ketimbang menyukai sesama lelaki," doa Senja, lirih tali di dengar sempurna oleh Darren.


Darren mengepalkan tangan dengan geram. Doa Senja sungguh membuatnya ingin mendamprat habis mulut Yanes sekarang juga.


__ADS_2