Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Kedatangan trio cungpret


__ADS_3

"Ask ... Bisa nggak kita menolak? Senja nyaman dengan rumah kita, Ask ... Rumah kita sangat ramah untuk anak - anak. Bukannya Senja menolak amanah, tapi sepertinya anak - anak lebih cocok di rumah kita sendiri. Kalau di rumah opa, banyak hal yang harus kita ubah," kata Senja, sedikit hati - hati karena takut menyinggung suaminya.


"Aku ngikut kamu sih, nanti biar aku yang ngomong sama papa."


"Begitu lebih baik."


"Ask ...." panggil Darren.


"Hemmmm ...."


"Terimakasih ya, sekali lagi melahirkan dua sekaligus keturunan Darren Mahendra. Aku harus memberi hadiah apa? Pengorbananmu dan semua yang kamu berikan padaku luar biasa." Darren hanya mengelus - elus halus telapak kaki Senja yang bengkak.


"Kamu sudah memberikan Senja keluarga yang utuh, Ask ... Mama, papa, dan opa. Terimakasih sudah menghadirkan dan menjadikan Senja bagian penting dari kalian. Kalau boleh aku hanya meminta satu hal lagi." Senja menatap suaminya penuh cinta.


"Apa, Ask? Asal aku bisa dan sanggup aku pasti akan berkomitmen. Kamu tahu pasti, aku sangat memegang janji. Pantang bagiku mengingkari janji, apalagi janji pada ibu dari anak - anakku." Darren begitu meyakinkan Senja.


"Jangan berhenti mencintai Senja, Ask ... Bahagiakan Senja, jangan khianati Senja. Perjalanan kita masih jauh dan panjang, kamu dengan segala yang kamu miliki adalah idaman bagi semua perempuan. Senja tidak selamanya bisa menjadi seperti yang kamu mau. Senja bisa jadi bukan satu - satunya yang terlihat cantik di matamu. Tapi berjanjilah untuk menghargai pernikahan kita, jika kamu bosan bilang dan pamit kalau mau pergi, jangan langsung meninggalkan." Senja terlihat sendu saat mengatakannya.


"Ngomong apaan sih? Cintaku kamulah pemiliknya, tidak ada yang lain. Secantik apapun perempuan di luar sana tidak akan mengalahkan keterikatanku pada seorang perempuan hebat yang merubah hidupku dan memberiku anak - anak yang luar biasa. Banyak perempuan yang bisa memberikan kesenangan, tapi hanya kamu yang bisa membuatku ketakutan. Salah langkah sedikit, aku tidak hanya kehilangan kamu, Ask ... Menyakitimu sama halnya menyakiti anak - anak dan juga mamaku. Apa artinya sebuah kesenangan jika kalian meninggalkanku. Itu tidak akan terjadi." janji Darren.


"Seseorang bisa berubah, Ask ... Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan kita. Godaan juga tidak tahu kapan datangnya. Pesanku cuma satu. Sekarang kita punya Beyze, Senja ingin. Saat dewasa nanti, Beyze akan mengatakan, 'Bey ingin menikah dengan laki - laki seperti daddy.' Sesuatu yang tidak bisa Senja katakan, karena sejak kecil gambaran akan sosok seorang ayah tidak pernah terlintas di kepala."


Darren menatap lekat wajah istrinya dengan penuh cinta. "Aku akan menjadi cinta pertama untuk Beyze. Dia hanya akan mengenal cinta dari caraku mencintaimu. Tidak ada satupun laki - laki yang pantas dicintai Beyze, jika cintanya tidak sama dengan cintaku padamu. Beyze, akan sangat kesulitan mencari laki - laki yang bisa menjadikan istrinya ratu di manapun dia berada."


"Ish, kalau sampai Beyze dapat suami seperti kamu. Dia akan sering melahirkan seperti Senja," bibir Senja mencebik saat mengatakannya.


Darren meringis, kondisi Senja dan Beyze sudah dipastikan berbeda. Senja tumbuh begitu kuat dan tahan banting karena latar belakang dan perjalanan hidupnya yang luar biasa. Sedangkan Beize, terlahir hidup di keluarga yang lengkap dan berada. Darren sudah membayangkan, Beize akan menjadi ratu kedua di rumahnya.


Pintu ruangan rawat Senja terdengar diketuk dari luar. Darren membukakan pintu dengan segera. Di depan pintu ternyata sudah ada trio cungpret. Siapa lagi kalau bukan Yanes, Amar dan Ali. Ketiganya masing - masing membawa paper bag sebuah brand ternama.


"Kalian membeli hadiah tidak dengan uang kantor kan?" selidik Darren.


"Tentu saja tidak, kami tidak akan memberikan bingkisan pada perempuan sehebat bu Senja dengan uang yang tidak halal," sahut Yanes dengan cepat.

__ADS_1


"Kado ini buat istriku atau anakku?" Darren meyakinkan pendengarannya, karena Yanes mengatakan untuk Senja.


"Tentu saja untuk bu Senja, kami tidak paham kalau keperluan bayi. Lagian pasti semua sudah disiapkan. Produk bayi juga melimpah dari brand yang dibintangi Dasen. Jadi ini hadiah khusus untuk sang Ibu." Amar ikut menambahi.


"Silahkan bu, mungkin tidak semahal hadiah dari pak Darren. Tapi kami memberikan dengan tulus dan cinta yang sama," ucap Ali dengan polosnya. Seketika membuat Darren melotot maksimal.


"Cinta bawahan pada istri atasan. Sekedar cinta sebagai keluarga besar Mahendra corps. Bukan cinta ingin memiliki, sekedar mengagumi dan tidak akan pernah terjadi. Kami cukup tahu diri. Jika saingan kami pak Rudi, kami pasti akan maju. Becanda bu." cerocos Ali, membuat Darren semakin mencebikkan bibirnya.


Hanya trio cungpret yang berani menggoda Darren, tentunya mereka sangat tau kondisi. Meskipun baru kehilangan opa Hutama, tapi kelahiran baby twins membuat kesedihan mereka larut. Apalagi pada dasarnya, Hutama juga berkali - kali sudah membicarakan kematiannya. Sehingga yang ditinggalkan pun memilih ikhlas, karena Hutama juga benar - benar sudah menunggu kepulangannya sejak lama.


"Ingat Al, kamu baru saja kembali ke posisimu. Salah langkah lagi tidak ada ampun," ancam Darren.


"Intinya tidak ada tempat untuk pengkhianat, di manapun dia berada," tegas Senja.


"Kalau pak Darren yang berkhianat?" tanya Yanes, sedikit memancing keributan.


"Aku akan menikahi Ali dan Amar." sahut Senja dengan asal.


"Kalau doa yang jelek diijabah dan tidak dosa, aku akan mendoakan kalian berdua kehilangan naga saat ini juga." Darren mendengus kesal.


Ketiganya tentu saja hanya berani melihat. Tidak berani menyentuh, apalagi mencium. Darren terus mengawasi dengan ekor matanya yang menyelidik tajam.


Senja merebahkan badannya dan menarik selimut hingga ke leher saat melihat suaminya terus berbicara seru dengan ketiga karyawan terdekatnya. Jelas mereka sulit dihentikan kalau sudah keasyikan bercanda.


Mata Ali seketika terbelalak begitu melihat Wardah dan Ulfa keluar kamar. Sudah saatnya mengganti popok baby twins. Ali tidak berfokus pada wajah keduanya, hanya pada bagian dada kedua baby sister yang sama - sama memiliki ukuran di atas normal.


"Bos, nggak kenyang setiap hari lihat begituan?" bisik Ali pada atasannya itu.


Darren tahu persis apa yang ada dipikiran Ali. "Tentu saja tidak, aku tidak tertarik dengan ukuran. Terlalu sering melihat. Membuatku menjadi biasa. Tidak heran sama sekali. Di rumah semua rata - rata begitu, di kantor banyak yang begitu juga. Apa anehnya?" seloroh Darren, sangat santai.


Baru saja Senja merasakan enaknya rebahan, Dasen terbangun dan kembali tidak bisa didiamkan oleh Wati. Tangisannya sampai terdengar dari luar. Takut baby twins ikut terbangun, Senja menyuruh Wardah membawa Dasen padanya.


Benar saja, begitu sudah berada di samping Senja, Dasen langsung terdiam dan kembali tertidur.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu mengatur jarak kelahiran anakmu, Nes. Aku ini bukan contoh yang baik. Lihatlah betapa repotnya istriku. Bahkan buat rebahan santai pun dia tidak sempat. Harus benar - benar mencari celah," tutur Darren.


"Sepertinya bukan hanya bu Senja yang kasihan, Bos pun pasti akan lebih merana. Kalau rebahan saja sulit, apalagi yang lain. Puasa mungkin diperpanjang." Yanes selalu berhasil membuat Darren keki.


Ali berdiri mendekati bermaksud mendekati Wardah dan Ulfa yang baru saja menyelesaikan tugas mereka menggantikan popok dan baju baby twins.


"Al, kalau mau kenalan jangan di sini. Telingaku takut tercemar mendengar rayuanmu," ucap Senja, seketika menghentikan langkah Ali.


"Kalian masuk saja, tandai wajah orang ini. Pastikan arah tatapan matanya. Jika menurut kalian tidak sopan, halal untuk ditabok," tambah Senja.


Amar, Yanes dan Darren tersenyum puas. Sedangkan Ali terus bergumam pelan. "Telinga terkontaminasi? Ish andai dia tahu, apa yang dilakukannya bahkan lebih mencemari pikiran."


"Ada apa, Al?" tanya Darren, meski tidak mendengar, tapi sedikit bisa menebak kalau Ali pasti sedang mengumpat.


Belum sempat Ali menjawab seorang perawat diikuti dokter Nuke masuk untuk memeriksa kondisi Senja.


Darren memberikan kode pada ketiga cungpret untuk keluar. Merekapun berpamitan dengan terpaksa. Padahal mereka sudah berandai - andai, bisa melihat kekhilafan istri bosnya saat mengasihi baby twins. Ternyata moment itu tidak ditemukan.


"Kalian ke rumah opa saja, di sana ada pengajian. Kalaupun sudah selesai kalian bisa kan baca sendiri. Kalian tadi kan sudah tidak datang di pemakaman." Darren membukakan pintu untuk ketiganya.


"Siap bos! Kami langsung meluncur ke sana. Semoga bu Senja cocok dengan selera kami." Amar mewakili kedua temannya yang lain.


Darren kembali masuk ke dalam. Mau memindahkan Dasen tapi takut malah rewel lagi. Sementara dokter Nuke tampak menekan dalam bekas jahitan yang tertutup perban. Senja tampak sedikit meringis.


"Sudah ya, Darr. Senja habis gini pakai alat kontrasepsi dulu. Lihat tuh, akibat kejailanmu. Jadinya malah kasihan." Dokter Nuke menunjuk Dasen yang tertidur pulas menyempil persis di samping Senja.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Dear Readers


Terimakasih sudah mengikuti perjalanan Ma nja dan Daddy Darr sejauh ini. Sebagai informasi 6 episode lagi kisah mereka bakalan End. Terus dukung otor di karya baru otor ya. Insya Allah nanti dibikinkan spin off " Menantu - Menantu Hot Daddy " tapi sebelum itu baca karya otor terbaru.


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Jodoh Di Tapal Batas, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1570035&\_language\=id&\_app\_id\=2

__ADS_1


__ADS_2