
Senja kembali tertidur pulas setelah terbangun sebentar untuk melakukan sholat subuh tadi. Darren berkali - kali melakukan gerakan lumayan mengguncang ranjang, sengaja ingin membangunkan istrinya. Tapi tidak berhasil.
Sampai suara celotehan Dasen teedengar, Senja belum juga terbangun. Darren pun beringsut, memakai kembali kaos atasan kuning mustard yang tadi sengaja dilepasnya.
Darren mengambil Dasen dari kamar sebelah, membiarkan Wati melakukan urusan pribadinya. Bayi laki - laki yang belum genap berusia satu tahun itu dibiarkan berjalan sendiri perlahan. Darren hanya menunjukkan mainan warna warni dengan bunyi gemerincing. Liur Dasen terus menetes di tengah celoteh dan tawanya yang renyah.
"Das, ma Nja nyidam apa lah ini, kenapa kamu ileran terus." Darren mengelap liur dingin wangi khas bayi itu hanya dengan tangannya.
"Ama ... Mam ... Mam ... Ma ...." Dasen berceloteh, semakin membuat liur mengalir deras.
Darren mengangkat tubuh gembul Dasen ke dalam pelukannya. Menciumi pipi kemerahan itu bertubi - tubi. Seperti biasa, Darren tidak akan berhenti sebelum Dasen kesal dan merengek bahkan sering sampai menangis.
Senja terbangun mendengar lengkingan suara Dasen. Belum genap nyawa terkumpul, Senja buru - buru mengambil alih menggendong Dasen.
"Kebiasaan! Bisanya bikin masalah tapi nyelesaiinnya nanggung," sindir Senja sembari mengelus pipi Dasen lembut.
Darren hanya meringis, paham betul maksud Senja. Sepertinya maaf belum seratus persen didapatkan. Butuh usaha dan doa yang lebih keras.
Setelah Dasen kembali anteng, Senja menyerahkan titisan Darren Mahendra itu pada suaminya.
"Aku mau mandi, awas klau dibikin nangis lagi!" ancam Senja.
Darren kembali hanya meringis. Senja masih menyebut dirinya dengan aku, pertanda memang masih belum baik - baik saja.
Pintu kamar ada yang mengetuk dari luar. Darren membukanya. Langsung muncul Zain dan Bae yang sudah full make up di sana.
"Zain belum makan Darr, katanya nunggu Kemala. Semalam kamu kemana? Sudah bosen jadi menantu Eomma? sudah mulai berani macam - macam kamu?" Bae masuk mendorrong pelan pundak Zain, matanya menatap sinis menantu pertamanya itu.
"Ada kesalahpahaman yang harus diluruskan Eomma, Senja nyusul sama papa kemarin. Maaf ya Eomma," ucap Darren dengan gantle.
"Awas kamu ulang lagi Darr, eomma suruh Kemala pulang ke rumah eomma langsung. Lagian kok ya bisa minjemin perempuan. Memang kamu dijanjikan apa? tidur?" sindir Bae.
__ADS_1
"Astaga eomma, ada anak - anak, lagian tidak mungkin Darren begitu. Senengnya sesaat, ruginya seumur hidup," sahut Darren cepat.
"Pinter banget ngomongnya, prakteknya beribet. Kalau eomma jadi Kemala, bakalan eomma jambak - jambak itu perempuan. Kemala kok santai banget kayaknya." Bae terlihat kesal.
"Kemala tidak santai eomma, kalau sampai besok uang itu tidak kembali. Kita lihat Kemala bisa apa," sahut Senja keluar dari dalam kamar mandi. Sejak hamil Senja tidak pernah berlama - lama di sana. Bau wangi sabun kadang masih membuatnya mual. Senja bahkan memilih memakai sabun milik Zain untuk mandi.
"Ya sudah eomma, siap - siap dulu. Zain belum makan lho La." Bae berlalu keluar sembari mengingatkan lagi.
Senja menyisir rambutnya, mengambil sedikit bagian di sisi kiri kanan lalu menyatukannya di tengah dengan jedai kecil berhias mutiara.
"Zain mau makan di sini atau di bawah saja?" tanya Senja.
"Di bawah," jawab Zain dengan mantap.
"Zain sama Dasen turun duluan sama Daddy kalau begitu," ucap Senja, tidak terbantahkan.
Darren menurut saja, mode manis, baik dan penurut harus dia jalankan demi kesejahteraan si naga.
Kini mereka layaknya keluarga bahagia sejahtera menikmati makan pagi di resto hotel. Suasana hotel cukup ramai, rangkaian acara Bae dan Arham sebagai wujud syukur kehamilan anak - anaknya akan di mulai satu jam lagi. Darren dan Senja yang memang akan ada dipuncak saja. Senja todak mampu kalau harus seharian tersenyum dan menyapa tamu.
"Wat, setelah ini kamu kembali ke kamar saja. Biar seharian ini Dasen sama Daddynya." perintah Senja, seketika membuat Darren tersedak.
Dasen adalah bayi terheboh sejauh ini, Saat matanya terbuka seisi dunia harus ikut bergerak bersamanya. Jangankan seharian, dua jam full tanpa jeda bersama Dasen, pernah membuat Darren tidak bisa bangun sepanjang malam. Makanya dia suka heran, bagaimana istrinya sanggup mengikuti polah Dasen dengan perut yang membesar.
***
Senja bersiap memakai dress terusan berbahan brokat warna hijau, Darren pun memakai jas dengan warna hijau yang dua tingkat lebih soft dari milik istrinya. Dasen sudah aman bersama Wati, berbaur dengan yang lain. Zain bersama Mahendra dan Sarita menyapa para tamu. Andai cita - cita Zain bukan menjadi dokter, sudah pasti Mahendra crops pun akan jatuh ditangannya setelah Darren pensiun.
Melihat tangan Senja kesulitan menjangkau resleting belakang gaunnya, Darren membantu istrinya. Bukan dengan gerakan cepat, melainkan melambatkan tangannya. Membiarkan jemarinya bersentuhan dengan kulit punggung istrinya.
Senja memejamkan matanya, merasakan sentuhan jemari nakal.
__ADS_1
"Aku kangen, Ask!" bisik Darren.
Senja mencebikkan bibirnya. Menutupi rasa kangen yang sama tapi masih sanggup menutupinya dengan rasa gengsi.
"Boleh cium nggak? dikit saja?" rayu Darren.
"Enggak! Dikit atau banyak nggak ada bedanya. Lagian susah dipercaya. Dikasih dikit ambilnya banyak, dikasih pegang aja akhirnya tangan tetep gerayangan. Laki - laki itu yang dipegang omongannya bukan cuman naganya," seloroh Senja membuat Darren semakin gemas.
"Ask... Dosa nggak maksa istri ngelayani suami?" Darren menurunkan tangannya ke pinggul Senja.
"Dosa! Sudah jangan nambah dosa lagi. Dosa karena Angelica saja masih utuh. Kangennya ditahan dulu. Masih kesel aku. Lihat wajahmu, kayak lihat wajah Angel," ucap Senja tegas, sembari mendorong badan suaminya menggunakan pinggul.
lagi - lagi masalah Angelica. Menolong orang bukannya dapat pahala, sekarang malah mendapatkan sengsara. Jangan dibelai, ciuman sekilas pun tidak.
"Kita turun sekarang!, setengah jam lagi acara puncak. Jangan biarkan mereka menunggu kita!" Senja langsung mengamit lengan Darren. Lumayan ada sentuhan. Seperti biasa, karena tidak memakai high heels, tinggi Senja tidak lebih dari pundak suaminya.
Keluar dari lift, alangkah terkejutnya Darren dan Senja. Kilatan dan sorotan kamera berebut mengarah pada keduanya. Senja semakin mengeratkan tubuhnya pada sang suami. Darren nampak tenang - tenang saja.
'Lihat, bisa sekejam apa Darren Mahendra,' batin Darren, wajahnya terlihat sangat licik.
"Terimakasih semua sudah hadir malam ini, tepatnya di acara tujuh bulanan Kehamilan istri saya. Saya mengundang kalian kemari karena melalui teman - teman media saya ingin meminta maaf pada istri saya. Karena keteledoran saya, istri saya beberapa hari ini mengalami ketidaktenangan lahir dan batin. Tolong ucapan permintaan maaf ini dijadikan headline news. Sambung doa, semoga istri saya membukakan pintu maaf selebar - lebarnya dan seikhlas - ikhlassnya," ucap Darren sangat konyol.
Cubitan dan pukulan manja bertubi - tubi mendarat di lengan dan perutnya. Senja merasa malu dengan ulah konyol suaminya.
Padahal itu adalah wartawan bisnis yang ingin meliput dibalik kesuksesan Darren mengantar Mahendra Corps menjadi perusahaan trading nomer satu. Darren sudah memberikan briefing pada wartawan untuk membuat Senja semakin yakin dengan usahanya. Tentu saja tidak akan menjadi headline news, Darren tidak senekat itu. Tidak bisa membayangkan, besok istrinya pasti panik mencari berita online dan offline tentang mereka. Pastinya tidak akan pernah ada.
"Dimaafkan bu ... Dimaafkan!!!" salah seorang pencari berita mengompori Senja.
"Maafin ... Maafin ... Maafin ..." sorak sorai yang lain saling bersahutan.
Darren mengamit pinggul istrinya,menekannya ke dalam tubuhnya. "Mereka tidak akan pulang, sebelum kamu memaafkan aku, Ask," bisik Darren sedikit licik.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu. Su... Sudah." Senja sedikit gugup. Sorotan kamera membuatnya tidak nyaman, tidak lebih dari delapan orang wartawan di sana, cukup membuat Senja rikuh dan salah tingkah.
"Jika hanya kata - kata aku tidak percaya. Kiss me please!" Lagi - lagi Darren menggunakan cara liciknya.