
Keluar dari kamar Zain yang sudah tertidur pulas , Senja berpapasan dengan Rafli yang kelihatan terburu - buru .
"Mas kok pucet ? " tanya Senja ,melihat wajah Rafli yang pucat seperti menahan sakit .
"Nggak , cuman kecapekan kayaknya . Aku istirahat bareng Zain dulu . Kalian santai - santai saja . Anggap saja Honey moon yang tertunda "ucap Rafli mencoba santai .
Belum sempet Senja menjawab , Rafli sudah masuk ke kamar Zain .
"Ask kayaknya mas Rafli sakit deh " ucap Senja pada Darren yang sedang santai di teras cottage .
"Aduh perhatian sekali sama mas mantan " goda Darren ,merengkuh pinggang Senja mencium gemas perut yang masih sedikit nyembul .
"Serius Ask ... Gak ngebayangin sakitnya .Kenapa sih gak mau pengobatan yang bener saja " ucap Senja sedikit kesal .
"Sudah plihan Rafli Ask , kita bisa apa " kata Darren.
"Iya sih ... Ask , enak ya di sini . Biarpun gak kemana - kemana mata udah seger mandang lautnya tenang banget , airnya jernih " ucap Senja .
"Mau renang ? "tanya Darren .
"Enggak ah , Senja gak bawa baju renang .Askim saja yang renang . Senja pengen lihat badan Askim basah - basahan " ucap Senja kembali mengusap jambang Darren dengan gemas .
"Nih kayaknya mommy makin gemes saja sama Daddy , gimana Daddy bisa jauh dari mommy kalau begini "ucap Darren sambil menciumi perut Senja .
Darren berdiri membuka baju atasannya tepat di depan Senja . Sudah biasa melihat , tapi tetep saja membuat jiwa Senja bergetar . Roti sobek bukan isi coklat itu sungguh menggiurkan , di tambah dengan tumbuhnya bulu halus sepanjang dadanya . Celana sudah di buka menyisakan boxer sejengkal dari pinggul .
"Ask ... Yakin mau liat renang di sini ? bukan di ranjang saja ? " goda Darren , paham betul ekspresi wajah istrinya . Senja sedang traveling dari roti sobek menuju naga .
"Renang Ask ... Renang .Jangan macem - macem , nanti dilihat Zain " Sahut Senja cepat .
Senja menikmati manuver Darren saat berenang , timbul tenggelam dalam jernihnya air kolam alami . Sungguh pemandangan yang susah membuat mata berpaling .
Sepertinya memang Darren salah memilih tempat ,
pulau ini harusnya cocok untuk pasangan . Tapi yang penting Zain sangat suka . Bukan tanpa alasan Darren memilih tempat ini , menurutnya ini cocok untuk Zain yang hanya ingin suasana baru untuk membuat papanya tersenyum lepas . Karena tidak perlu banyak kegiatan dan mengunjungi berbagai tempat lain yang menguras tenaga Zain . Cukup di sekitaran cottage atau ke pantai saat malam hari menikmati live music .
__ADS_1
*******
Selesai makan malam, berempat mereka duduk lesehan di teras cottage. Beberapa kali pelayan cottage mengambil foto mereka dari kamera Canon EOS R5 milik Darren .
"Terimakasih mas " ucap Senja sambil menerima kamera dari mas pelayan cottage yang sangat ramah .Inilah salah satu kelebihan berwisata di daerah yang tidak terlalu komersil , pengelolaannya masih kental sentuhan kedaerahan , tidak terkontaminasi standart - standart modern yang justru mengurangi kealamiannya .
"Om Darren , minta tolong fotoin mama , papa sama Zain dong . Kita belum punya foto bertiga . Boleh ya om ? "tanya Zain begitu bersemangat .
"Boleh "jawab Darren singkat , mengambil kamera dari tangan Senja .
Zain berdiri di antara papa dan mamanya , Senja dan Rafli berdiri dengan lututnya sudah bersiap tersenyum ke arah kamera .
"Kurang deket " ucap Darren .Senja tidak bergerak , takut Darren hanya basa - basi dan berujung ngambek lagi .
Darren merasa sedih melihat lensa kameranya . Bukan karena Senja sekarang berada sangat dekat dengan Rafli , bukan itu .Tapi melihat Rafli hatinya terenyuh , mata Rafli tidak terlalu pintar menyimpan sakitnya . Darren memposisikan dirinya di sana , kebahagian yang diimpikan harus dilepas demi nyawa sang buah hati .Sisi melow Darren terkuras keluar malam ini , di depannya adalah tiga orang yang seharusnya bahagia , keegoisan orangtua lah yang membuat mereka seperti ini .Jelas Rafli yang paling tersiksa saat ini .
Mata Senja terus menatap suaminya yang terdiam terpaku menatap lensa kamera .Entah apa yang dipikirkan , Senja tidak bisa menebak . Berada di posisi ini sekarang , bukan hal yang mudah bagi Senja .Menjaga dua hati yang sama penting dalam hidupnya . Senja menjaga sikapnya dan bertindak sehati - hati mungkin untuk menjaga hati suaminya dan berusaha tidak mengecewakan anaknya disaat bersamaan . Masalah Rafli ? yang Senja tahu saat ini Zain sangat berharap bisa membahagiakan Rafli di malam menjelang ulang tahun papanya .
Rafli melirik ke arah Senja yang sedang menatap lekat suaminya , lalu mejatuhkan pandangannya pada Darren yang terlihat melamun . Memang tidak mudah bagi mereka saat ini maupun kemarin - kemarin . Menjaga perasaan sendiri saja sudah begitu sulit apalagi menjaga perasaan orang lain .
"Rangkul saja mas, gpp " ucap Senja pelan.
Rafli agak canggung merangkul Senja, hanya dengan menempelkan tangan di pundak Senja saja, Rafli merasa bahagia .Senyuman mengembang diwajahnya .Darren menarik nafas dalam .
"Om lagi ya, dua kali lagi. Sekarang papa mama cium Zain " ucap Zain masih dengan semangat 45 .
"Boleh - boleh , Ayo Ask ngadep Zain, kamu juga Raff "ucap Darren terdengar biasa. Malam ini Darren ingin total menyenangkan hati Zain.
"Ask , Raf do it .Its ok " ucap Darren diakhiri senyuman tulus.
"Ask ? siapa ask ? "tanya Zain yang memang baru kali ini mendengar Darrepn memanggil Senja.
"Om Darren manggil mama. Dulu mama panggilannya memang Ask " ucap Rafli menengahi. Zain pun langsung manggut - manggut mengerti.
Rafli dan Senja sama - sama menempelkan bibirnya di pipi kanan kiri Zain.
__ADS_1
"Kasih hitungan ya om " pinta Zain.
"Oke bosss ... Satu ...Dua ...Ti..." hitungan itu terhenti. Bibir Senja dan bibir Rafli saling menempel diiringi gelak tawa bahagia dari Zain .
"Zain, tidak boleh begini dong .Ini tidak sopan " ucap Senja dengan kesal, Zain yang tadinya tertawa lepas langsung diam menunduk. Dengan kondisinya selama ini, Zain tidak pernah mendengar suara dengan nada keras. Kekesalan Senja barusan, bagi Zain adalah kemarahan.
"Zain bukan begitu maksud mama " bisik Rafli pelan.
"Mama jahat, mama marah - marah sama Zain "ucap Zain mulai menangis.
"Mama tadi hanya kaget Zain, mama Zain mungkin malu sama om Darren. Orang dewasa tidak boleh ciuman di depan orang lain " Darren mencoba ikut menjelaskan.
"Mama papa Bevan sering ciuman di depan papa sama Zain. Mama Bevan gak marah "ucap Zain dengan polosnya.
"Kok mas biarin sih Zain lihat orang ciuman ? gak bisa gitu dong mas " kekesalan Senja kini beralih ke Rafli.
"Zain mama berbeda dengan mamanya Bevan. Kalau mama mau ciuman sama papa mama akan ciuman di kamar .Tidak seperti tadi caranya. Mengerti ? " tanya Senja lembut tapi tegas.
Darren menyilangkan kedua tangannya, memberi kode pada Senja untuk berhenti memaksa Zain mengerti.
"Zain, itulah mengapa om Darren mengajak man's night, karena wanita susah mengerti maksud kita "ucap Darren terpaksa ikut memecah ketegangan ibu dan anak.
"Malam ini kita berdua saja om, biar papa dan mama tidur berdua. Bukankah mama bilang kalau mau berciuman di kamar saja. Kita tidak akan melihat "ucap Zain langsung menarik tangan papa mamanya dan menuntun mereka ke kamar, Zain yang pintar mengambil kuncinya dan segera mengunci pintu kamar dari luar.
"Beres om, mama papa aman di dalam. Kita man's night berdua"ucap Zain dengan santainya. Zain tidak merasa ada tiga orang dewasa sedang bergelut dengan kepanikan masing - masing.
******
otor kasih pic pulau cinta ya .plus Askimnya Senja sebelum copot celana #pasmaurenang
__ADS_1