Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Maya dan Adiknya


__ADS_3

Darren mendekati istrinya. Membisikkan sesuatu agak lama di akhiri kecupan lembut di pipi sebelah kanan.


" Harus sekarang ya ? " tanya Senja, suaranya terdengar serak.


" Demi nama baik kak Ming " jawab Dareen sambil mengangguk.


" Dasen bagaimana ? " tanya Senja.


" Nanti sama aku aja. Setelah pemakaman selesai. Kamu siapkan saja Asinya Dasen, sementara biar sama mama. Kamu tidak usah ikut ke pemakaman " ucap Darren.


" Tapi Zain mau ikut " pinta Zain yang masih berada di gendongan Darren.


" Iya boleh, Zain sama daddy " jawab Darren.


" Zain turun ya, daddy capek dong kalau gendong terus " tegur Senja. Darren memberi isarat pada istrinya untuk diam.


" It's oke sayang, daddy tidak akan pernah capek menggendong Zain. Suatu saat nanti, Zain yang akan gendong daddy " ucap Darren, Zain semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Darren.


Senja membisikkan apa yang dibisikkan oleh Darren pada Sarita. Mama mertuanya itu pun mengangguk mengerti.


Pemakaman berlangsung tertutup, tidak ada satupun orang luar yang ada di sana. Tangisan Chun Cha tiada henti bersahutan dengan isak bae, mengiringi masuknya peti jenazah Ming ke tiang lahat. Wajah Arham terlihat begitu dingin, pandangan matanya tidak fokus. Tidak ada kesedihan yang lebih dalam dari kesedihan orangtua yang melihat kematian anaknya.


Dua jam berlalu, Darren dan Senja memutuskan untuk menemui perempuan yang mengemudikan mobil naas pengantar Ming pada kematiannya.

__ADS_1


Darren hanya menemani sampai luar pintu ruangan. Senja hanya akan memakai statusnya sebagai adik Ming. Jangan sampai nama besar Mahendra terseret langsung dalam masalah yang masih abu - abu ini.


Seorang perempuan muda, kira - kira berusia dua puluh dua tahun berbaring santai di atas brankar, tubuhnya utuh hanya ada sedikit lebam di wajah dan lengannya. Seorang anggota kepolisian perempuan ikut berjaga di sana.


" Perkenalkan nama saya Kemala, saya adalah adik dari Ming. Katakan apa hubungan kamu dengan Ming dan kenapa kamu menuduh kakakku yang memiliki barang bukti yang ditemukan di tasmu ? " tanya Senja tanpa perlu berbasa basi.


" Itu memang punya kakakmu " ucap perempuan itu dengan santainya.


" Owh ya ? setiap keteranganmu akan dibutuhkan oleh pihak kepolisian dan saya pastikan polisi akan bersikap fair. Lebih baik kamu koperatif dan jujur, itu akan meringankan hukumanmu. Tapi jika memang niatmu sudah tidak baik, kami tidak segan - segan menuntutmu. Mengemudi dalam keadaan tidak terlalu sadar penuh setelah mengkonsumsi narkoba, menyebabkan adanya korban jiwa. Kami bisa menuntutmu dengan pasal kelalaian " ucap Senja, tegas.


" Lakukan saja, aku sedang hamil anak Ming " ucapnya lagi.


" Benarkah ? kamu punya bukti itu anak kakakku ? kalau tidak ada pastikan itu memang anak kakakku, kami akan melakukan tes DNA begitu usia kandunganmu pat bulan. sekarang berapa usia kandunganmu ? " tanya Senja, lagi - lagi pertanyaan dan pernyataan Senja membuat perempuan itu sedikit menciut nyalinya.


" Sebentar lagi kakakku akan datang, tunggulah. Dia yang akan menjelaskan semuanya " ucap perempuan itu.


Darren menunggu di luar sambil memperhatikan detak jarum jam di pergelangan tangannya. Dua puluh menit berlalu, Senja belum ada tanda - tanda keluar dari ruangan. Darren tidak khawatir sedikitpun tentang pembicaraan di dalam, Darren tau pasti kemampuan istrinya.Darren hanya khawatir Dasen akan menangis dan tidak mau minum dari sendok atau dot.


Wajah Darren yang tampan dan terlihat sangat exclusive menghentikan langkah kaki perempuan yang hendak memasuki ruangan yang sama dengan Senja.


" Rupanya adikku pintar sekali memilih korban kali ini " batinnya dalam hati. " Peemisi apa anda keluarga dari laki - laki yang meninggal bersama adik saya, kenalkan saya maya, kakak dari dara. Asal anda tahu, urusan kita tidak akan selesai hanya karena laki - laki itu meninggal. Adik saya sedang hamil. Kalian harus menggantikan saudara kalian yang meninggal untuk bertanggung jawab. Adik saya tidak bisa sendiri membawa aibnya " ucap perempuan bernama Mata itu dengan rasa pede yang memuncak.


Dareen memperhatikan penampilan Maya dari atas ke bawah, Perempuan itu sedikit kegeeran karena merasa dia sangat menarik bagi lawan di depannya. Tapi mulut Darren mencebik, tidak menjawab apapun dan mendekati dua orang bapak polisi yang berjaga di depan pintu, menanyakan kepastian adanya sidik jari Ming pada barang bukti.

__ADS_1


Perempuan itu tidak patah semangat, dia kembali mendekati Darren. Dia tidak memperkirakan di dalam sana adiknya sedang merasa terintimidasi dengan pertanyaan - pertanyaan tak terduga dari Senja.


" Sudah berapa minggu usia kandunganmu ? " tanya Senja, tangannya sengaja meraba perut perempuan yang sama sekali tidak dipertanyakan namamya oleh Senja.


" Tiga bulan " jawab perempuan itu dengan asal.


" Baiklah, sebentar lagi bisa test DNA. Tapi sebelum test DNA dilakukan kita harus memastikan janinnya sehat dulu. Aku ingin kamu usg. Setelah mengalami kecelakaan yang begitu hebat kamu harus di cek keseluruhan. Aku akan mempersiapkan semuanya. Tentu saja kami yang akan membayarnya. Tentu kamu sudah tahu Ming salah satu ahli waris DNG coros bukan ? " tanya Senja dengan pandangan mata menyelidik, sungguh perempuan itu kini nyalinya sudah menciut hingga 70%.


Polisi perempuan itu menahan senyumnya menyaksikan Senja berbincang dengan tersangkanya. Seseorang yang tidak koperatif dan cenderung berbohong memang pantas langsung diberi penekanan. Bermain hati apalagi basa basi sangat tidak cocok untuk menghadapi perempuan di atas brankar ini.


" Kakakku akan mengurus semua, kalau sampai kalian tidak menerima kehamilanku. Aku akan menuntut keluarga kalian. Reputasi kalian pastinya akan dipertaruhkan " ancam perempuan itu dengan berani.


" Pastikan kamu memiliki bukti yang lengkap nona. Kami ada di pihak laki - laki di mana kami bisa memposisikan banyak perempuan yang mendamba menjadi istri kakak kami dengan menghalalkan berbagai cara. Kami bisa membuat narasi seolah kamulah salah satunya. Sebaliknya jika tuduhanmu semua palsu, berharaplah kamu memiliki banyak tabungan untuk hidup di luar sana. Ingatlah di dalam penjara kamu juga membutuhkan uang untuk mendapatkan fasilitas non standart "tukas Senja, wajahnya dingin. Senja belajar cara - cara seperti ini dari suaminya.


Sementara itu di luar Maya pantang menyerah mendekati dan menarik perhatian. Dari membuka dua kancing kemeja atasannya, hingga menunjukkan belahan dadanya dengan sempurna hingga berucap kata - kata provokasi, tapi Darren sama sekali tidak menanggapi. Sesekali Darren mencebik sambil mengangkat bahunya.


Pintu ruangan rawat tersangka dan juga korban sekaligus teman dari Ming itu terbuka dari dalam. Senja keluar dengan wajah yang begitu tenang. Darren menghampiri dan membisikkan sesuatu pada Senja tentang perempuan bernama Maya itu.


Maya tampak kaget melihat sosok Senja, sebenarnya Senja pun juga kaget. Tapi Senja bersikap setenang mungkin.


" Tidak mungkin mereka ini adalah keluargamu Nja, bukankah kamu hanya yatim piatu miskin ? " tanya Maya, wajah dan ucapannya sama - sama sangat merendahkan. Darren sudah terlihat geram, tapi Senja memberikan kode pada suaminya untuk tenang.


" Wah wah upik abu sudah berubah menjadi cinderlela rupanya " tambah Maya, tatapan mata iri jelas sangat kentara.

__ADS_1


__ADS_2