
Senja dan Darren berada di ruang meeting kantor perusahaan RSZ. Mereka sedang menunggu pumpinan perusahaan itu untuk menawarkan kerjasama pengadaan barang untuk sebuah project reklamasi di negara S.
Dunia ternyata memang tak selebar daun kelor, lagi-lagi Senja melihat sosok Firly dan seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan meeting. Dapat Senja duga pasti keduanya dari pihak RSZ.
"Selamat siang ... maaf menunggu," sapa Firly sambil menatap Senja lebih lama dibanding saat menatap Darren.
"Ga ... kenalin ini pak Darren CEO Mahendra group dan ini Senja. Ega ini asisten pribadi saya," ucap Firly tetap dengan senyuman yang membuat Senja kembali teringat dengan Rafli.
Darren menyenggol lengan Senja begitu menyadari Senja menatap lembut ke arah Firly dengan begitu lama.
"Oke langsung kita mulai saja." Darren mencoba membuat Senja kembali fokus.
Perempuan itu segera membagikan file di dalam map kepada Darren, Firly dan Ega. Kemudian memulai melakukan presentasi nya dengan menjelaskan beberapa hal di layar proyektor dengan lugas dan jelas. Beberapa kali Firly memberikan pertanyaan, selalu di jawab dengan memuaskan oleh perempuan itu. Senja menutup presentasi dengan sebuah senyuman yang membuat Firly menggigit bibir bawahnya perlahan.
Darren terus mengawasi pandangan mata dan gestur tubuh Firly pada Senja. Dia merasakan sesuatu yang lain. Di saat bersamaan, Darren sangat puas dengan kinerja Senja .Ternyata benar kata Deandra, Senja memang bisa diandalkan disetiap urusan.
"Boleh saya mengajukan pertanyaan tambahan? " tanya Firly tiba-tiba.
"Silahkan ."jawab Darren singkat .
"Bolehkah kita makan siang bersama? Saya setuju tanpa revisi dan catatan apapun dengan penawaran kerjasama ini. Saya harap besok Senja membawa surat perjanjian ke sini. Saya akan langsung menandatanganinya." Firly melirik tajam ke arah Senja yang tampak menghindari tatapan matanya.
"Tentu saja boleh. Kita harus merayakan kerjasama pertama kita ini." Darren mengiyakan meski dia mulai mencium aroma -aroma modus di sini.
Darren, Senja dan Firly segera berangkat menuju restauran yang berada di sebelah gedung kantor Firly. Ega tidak ikut karena Firly memberikan kode padanya untuk tetap berada di kantor.
Mereka bertiga memutuskan untuk berjalan kaki dengan santai.
Seorang pelayan memberikan menu makanan pada mereka bertiga, sesaat setelah mereka duduk di kursi dekat taman samping restauran.
__ADS_1
Setelah memesan menu pilihan masing-masing ketiganya berbincang akrab di luar urusan bisnis.
"Nanti malam kita hangout bareng, yuk!" ajak Firly.
"Sorry bro ... aku sudah terlanjur ada acara nanti malam," tolak Darren dengan halus.
"Kalau Senja?" Firly menatap Senja sedkit lebih dalam.
"Aku melarangnya keluar malam bro. Dia sedang mengandung buah cinta kami." Darren dengan santainya memulai kebohongan yang tidak sepenuhnya bohong. Senja memang hamil, tapi bukan buah cinta.
Senja reflek menendang kaki Darren dan memelototkan matanya. Membuat Firly mengerutkan dahinya penuh tanda tanya.
"Sebenarnya ...." ucap Senja tapi langsung di potong oleh Darren.
"Sebenarnya Senja malu memberitahu orang kalau dia hamil. Kfarena kami belum menikah. Kami baru akan meresmikan hubungan kami nanti, setelah Senja melahirkan. Bukan begitu, sayang ?" tanya Darren sambil menendang pelan kaki Senja.
"Hemmmmm...." Senja menjawab dengan asal dan terpaksa.
Pembicaraan mereka terhenti begitu pelayan datang membawa pesanan mereka. Bersamaan dengan itu ponsel Senja berdering beberapa kali. Senja menerima panggilan telponnya dengan sedikit menjauh dari Darren dan juga Firly.
"Terimakasih sudah menerima kerjasama ini bro. Tapi please jaga mata kamu saat menatap Senja." ucap Darren, sangat tegas seraya melirik Senja yang masih terlihat berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Jika kalian benar-benar saling mencintai. Jangan takut jika pasanganmu di kagumi orang lain. Dia tidak akan pergi kemanapun, jika memang sudah ada kamu yang menetap di hatinya." Firly dengan santai menanggapi ceo Mahendra Corps.
"Aku rela membatalkan kerjasama kita, jika tujuanmu hanya untuk mendekati Senja," tegas Darren.
Kembalinya Senja ke meja mereka menghentikan pembicaraan yang sedikit panas. Lebih tepatnya Darren yang memanas. Laki-laki yang mulai sedikit perhatian dengan Senja itu merasa aura Firly sangat mengganggunya. Sikap Firly barusan benar-benar mengingatkan Darren pada sosok Rafli.
"Siapa sayang?" tanya Darren sok mesra.
__ADS_1
"kak Andra," jawab Senja singkat dan datar.
Setelah itu tidak banyak lagi pembicaraan yang keluar dari ketiganya. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Senja sudah tidak sabar ingin membalas mulut lemes Darren. Yang membuatnya seperti perempuan gampangan, yang mau hamil anaknya di luar nikah.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka. Ketiganya kembali berjalan menuju kantor RSZ. Kali ini suasana menjadi canggung. Darren mulai menunjukkan ketidak sukaannya pada Firly.
Laki-laki yang sangat mirip dengan Rafli itu, merasa sikap Darren sedang menabuh genderang persaingan dengannya. Senja sendiri masih tidak habis fikir kenapa Darren harus terus berpura-pura menjadi kekasihnya.
Setelah basa basi sebentar dan saling berpamitan. Dareen dan Senja segera masuk ke dalam mobil yang sudah bersiap di lobby untuk membawa mereka kembali ke kantor.
"Apa maksud Tuan mengatakan kalau saya sedang hamil anak tuan?" tanya Senja dengan ketus begitu mobil mulai melaju meninggalkan lobby kantor Firly.
"Percayalah dengan instingku kali ini Senja. Aku hanya ingin menjagamu. Aku merasa Firly menyimpan perasaan padamu," jawab Darren dengan nada sedikit khawatir.
"Tuan tidak perlu menjaga saya. Di antara kita hanya ada hubungan atasan dan bawahan. Mau siapapun menyimpan perasaan pada saya, Tuan tidak berhak ikut campur. Apalagi dengan cara yang tidak benar seperti ini." Senja mendengus kesal.
"Kamu sedang mengandung anak aunty Andra. Kalau ada apa-apa denganmu, aunty Andra akan menyalahkan aku. Kamu boleh marah padaku. Kamu boleh kesal dan juga membenciku sekarang. Suatu saat nanti kamu akan berterimakasih padaku karena melindungimu dari Firly. Jangan sampai kamu tidak objektif menilainya, karena kamu selalu memandangnya sebagai Rafli," tegas Darren panjang lebar.
Senja hanya diam. Mencerna kata demi kata yang diucapkan Darren. Benarkah dia menatap Firly seperti dia menatap Rafli? Tidak! Sejauh ini hanya fisik mereka yang sama di mata Senja. Cara makan, bicara dan pembawaan Firly berbeda dengan Rafli. Firly dan Rafli adalah orang yang berbeda.
"Jaga hatimu Senja. Kita memang bukan siapa- siapa. Aku tidak ada kepentingan atau keuntungan sama sekali dengan melakukan ini. Malah yang ada, aku yang rugi. Karena mengakuimu sebagai kekasihku, membuatku terlihat sedang menurunkan standart akan perempuan ideal untuk pasangan hidupku." Darren terdengar sedang meninggikan Senja lalu menjatuhkannya ke jurang terdalam.
"Saya tidak pernah meminta Tuan untuk melakukannya. Serendah-rendahnya saya di mata Tuan, saya juga punya standart laki-laki ideal untuk menjadi pasangan saya. Setidaknya saya dapat membuktikan kalau saya sudah mendapatkan standart saya. Sedangkan Anda? masih sedang proses mencari bukan? Jangan sombong, Tuan. Terlalu tinggi ekspektasi, bisa membuat anda malu sendiri. Apalagi kalau akhirnya mendapatkan yang tidak sesuai. Saya orang pertama yang akan tertawa keras di depan Anda." Senja dengan nada tajam penuh penekanan mengatakan isi pikirannya pada Darren.
"Terserah padamu ... Kita akan ke dokter kandungan besok. Aaku akan meminta surat rekomendasi dokter agar bisa mendapatkan ijin melakukan perjalanan udara. Aku ingin segera memulangkanmu ke Indonesia. Jika sudah di sana, aku tidak akan peduli apapun lagi tentangmu." Darren tak kalah kesal dengan Senja, perempuan di depannya ternyata juga sangat keras kepala.
"Dengan senang hati," sahut Senja.
__ADS_1
Darren meremas tangannya sendiri. Menahan emosi dan kekesalan. Senja tidak pernah bersikap layaknya perempuan-perempuan yang selalu mengaguminya. Sebaliknya, Senja selalu bersikap menyebalkan dan memancing emosinya.