Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Mikirnya kependekan


__ADS_3

" Shitttt... " Darren mengumpat begitu tahu ponselnya mati disaat yang tidak tepat.


" Ada apa Darr ? " tanya Mahendra, melihat anak laki - laki satunya resah gelisah dengan wajah memerah.


" Telpon mama sekarang pa, minta tolong mama ke rumah sekarang " ucap Darren sangat tidak sabar.


Hutama yang sedang disuapi perawat hanya bisa menggerakkan bola matanya, ke kiri ke kanan mengikuti langkah Darren yang tidak lagi santai.


" Ada apa sih Darr ? ini mamamu pasti lagi ke rumah adiknya, karena ada acara tujuh bulanan "tanya Mahendra, semakin penasaran.


" Senja bikin masalah ini pa, sudah tahu nggak ada Darren. Malah bawa masuk temennya lakik, mana kata Chun di dalam kamar pula. Maksudnya apa coba. Papa telpon Chun coba pa, tanyain sekarang Senja nya di mana " Darren merengek seperti anak kecil yang mainannya di ambil paksa temannya.


Perawat itu menahan senyumnya, melihat polah Darren. Wajah yang kemarin - kemarin begitu angkuh mendadak sangat loyo. Seperti sayur terong digoreng kematengan.


" Chun ponselnya mati " ucap Mahendra setelah mencoba beberapa kali.


" Jelas saja. Mereka adik kakak. Pasti saling menutupi " umpat Darren, makin geram.


Hutama menggelengkan kepalanya pelan, andai dia bisa beraktivitas seperti biasa, dia akan mencuci otak cucunya itu dengan air zamzam agar pikirannya sedikit jernih.


" Telepon rumah pa, sebentar kode negara berapa ya kalau telpon rumah " Darren berfikir keras. Tidak ada yang menyahut, perawat yang sudah lama berada di negara ini pun tidak membantu. Bukan tidak niat, tapi memang tidak tahu. Jauh lebih murah menghubungi keluarganya sama - sama menggunakan telepon selular.


" Darr, lagian nggak mungkin Senja berduaan sama lakik lain di kamar. Kan ada Dasen yang ngintilin. Lagian mana ada orang selingkuh terang - terangan di rumah sendiri. Kalau selingkuh tuh diem - diem di luar. Ke hotel atau apartemen. Masak iya di rumah, mana ada anak - anak. Bisa apa memang ? " ucap Mahendra, sedikit kesal dengan anaknya.


" Ya bisa lah pa. Pokoknya bisa " Darren mengambil ponselnya yang akhirnya menyala kembali.


Dia akan menghubungi Rudi untuk mengecek situasi. Benar saja pada deringan pertama, panggilan itu langsung terhubung.

__ADS_1


" Iya pak Darren " sapa Rudi di seberang sana.


" Rud kamu di rumah kan ? lihat ke dalam bu Senja sedang apa ? bersama siapa ? sekarang " perintah Darren.


Mahendra, Hutama yang masih berbaring di atas brankar dan perawat yang belum selesai menyuapi Hutama karena tentu sangat pelan makannya, Hanya bisa mengelus dada.


Darren, tetap menempelkan ponsel di daun telinganya, padahal hanya ada bunyi langkah kaki Rudi di sana.


" Pak, kamarnya Ibu tertutup, saya nggak berani kalau tiba - tiba langsung membuka kamarnya " ucap Rudi hati - hati.


" Tempelkan kupingmu Rud, kamu dengar apa dari sana ? " perintah Darren semakin konyol.


Rudi pun menuruti saja perintah atasannya, Telinga Rudi berakomodasi maksimal untuk bisa mendengar suara - suara yang ada di dalam


" Rud, denger apa Rud ? " Darren terus tidak sabar. Sementara suara Darren yang keras penuh emosi malah membuyarkan fokus Rudi.


" Barusan ada suara bu Senja pak, tapi suaranya pelan dan lembut sekali " lapor Rudi.


" Istriku ngomong apa Rud ? " Darren masih berharap istrinya tidak melakukan hal rendahan di dalam kamar mereka sendiri.


" Sakit ya sayang ? " Rudi menirukan kata - kata Senja yang ditujukan untuk Zain dengan polosnya.


Tangan Darren meremas rambutnya kasar dan keras, Baru beberapa hari ditinggal, Senja sudah mengkhianatinya. Air mata menggenang di matanya, menahan kesal, marah dan kecewa yang salah. Darren menghempaskan badannya ke atas karpet yang menindih sofa dan meja di ruang rawat Hutama. Menenggelamkan kepalanya di atas tangannya yang bertumpu di atas meja. Menangis terisak, seperti sedang benar - benar dikhianati. Mahendra bingung menanggapi bagaimana, Karena dia sendiripun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Perawat membersihkan sisa makanan yang ada di tepian mulut Hutama dengan tisu sambil melirik ke arah Darren. Benar - benar kepribadian yang membingungkan, batinnya. Sekarang dia bahkan menunjukkan bisa secengeng itu. Apapun yang menyebabkan laki - laki angkuh itu menangis, pasti sangat berharga dihidupnya. Perawat itu pun meninggalkan ruangan dengan senyuman heran.


Setelah perjuangan satu jam, akhirnya ketiga anak yang sedari tadi merintih manja pun tertidur lelap. Yang paling melegakan adalah ketiganya sudah tidur tidak di pangkuan mamanya.

__ADS_1


Dokter Vano baru saja pulang, Chun cha ikut ketiduran di samping baby De. Mendapat kesempatan, Senja pun segera mandi dengan kilat lalu mengisi perutnya agar tetap kuat menghadapi kenyataan. Tenaga dan pikirannya sedang di adu.


Senja kembali ke kamar dan baru bisa membuka ponselnya. Ratusan pesan dan puluhan panggilan masuk dari Darren langsung terlihat dan memenuhi layar ponselnya. Senja pun segera menghubungi suaminya, Senja dapat pastikan suaminya pasti sedang uring - uringan sekarang, Senja tidak berfikir bahkan Darren sedang merasakan lebih dari itu.


Panggilan pertama, direject. Panggilan kedua di decline. Panggilan ketiga, ditolak. Panggilan keempat, ponsel dimatikan. Senja menjadi heran, berfikir sesuatu yang buruk terjadi pada opanya. Senja pun tidak kehilangan akal, dia mencoba menghubungi papa mertuanya.


" Halo Nja " sapa Mahendra, sambil melirik anaknya yang masih menangis sendu dengan kepala tergolek di meja.


" Pa, abang kemana ? Senja hubungi di matikan terus. Opa baik - baik saja kan pa ? " tanya Senja, terdengar khawatir.


" Opa baik Nja. Kamu kemana saja ? Darren uring - uringan terus seharian. Kata Chun ada temanmu laki - laki datang ke kamar ? apa itu benar Nja ? " tanya Mahendra, langsung saja ingin menanyakan kebenaran yang sesungguhnya.


" Senja di rumah pa, tidak kemana - mana. Zain, De dan Dasen panas, kena flu bersamaan. Rewel semua, tadi dokter Vano datang memeriksa anak - anak. Ini anak sudah agak tenang, makanya Senja bisa pegang ponsel. Semalaman ketiganya rewel, nggak ada yang mau sama yang lain. Tolong sampaikan ke abang ya pa, Senja minta maaf kalau tidak sempat memberi kabar. Ponsel benar - benar nggak kepegang " jelas Senja, membuat Mahendra lega.


" Ya sudah kamu jaga kesehatan Nja, jangan sampai ikutan tumbang. Nanti papa sampaikan ke Darren. Papa tutup dulu ya Nja " Mahendra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya, lalu berjalan mendekati Darren masih meratapi nasibnya.


" Kalau kamu tidak menghubungi Senja lima menit lagi, Senja akan membawa pergi anak - anak dari rumah " goda Mahendra.


Darren mendongakkan kepalanya, menatap papanya sendu.


" Senja jahat pa, Senja tega sama Darren " ucap Darren lirih.


" Kamu yang tega, mikirnya kependekan. Anak - anakmu sakit semua. Senja kerepotan sendiri, semua nggak mau lepas dari mamanya dari semalam. Itu yang di kamarmu tadi dokter Vano sedang memeriksa anakmu " ucap Mahendra.


" Lah kata Rudi __ "


🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Hai readers. Yang belum gabung GC Ma Nja silahkan gabung ya. Kita bakalan sering seru - seruan di sana. Yuk... Yuk...


__ADS_2