Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Senja oh Senja


__ADS_3

Setelah seharian drama kekesalan Senja pada Darren memuncak. Senja akhirnya tertidur pulas di kamar baby De.


Sementara Darren sudah bersiap meninggalkan rumah bersama Zain.


"Kalian yakin ? "tanya Hutama.


"Yakin opa " jawab Darren.


"Opa tidak ikut - ikutan. Opa takut kalau Senja marah sama Opa, nanti tidak mau lagi ngasih buyut ke opa " kata Hutama.


"Tanggung jawab Zain ini opa " goda Darren.


"Enggak - enggak. Tanggung jawab om Darren saja. Mama kalau marah serem " timpal Zain.


"Ya sudah. Kita berangkat. Nanti mama Nja keburu bangun "ucap Darren.


Darren dan Zain di antar driver meninggalkan rumah Hutama.


Menjelang subuh, Senja terbangun. Mau tidak mau Senja harus masuk ke kamarnya sendiri untuk ganti baju sebelum menjalankan ibadah dua rakaat. Sampai di kamarnya, Senja dibuat terheran - heran karena ranjangnya rapi, tidak ada Darren di sana. Kopernya pun sudah tidak ada.


Senja masih sedikit tenang, meski hatinya dipenuhi umpatan - umpatan. Ternyata Darren benar - benar pergi. Selesai mandi seperti biasa, Senja ke kamar Zain untuk membangunkan anaknya itu. Kepanikan mulai terlihat di wajah Senja, Zain tidak ada.


"Zain...Zain....Zain "teriak Senja, membuat opa yang masih di dalam kamar mendadak keluar.


"Ada apa Nja ? "tanya Hutama.


"Zain kemana opa ? " tanya Senja panik.


"Bukannya Zain ikut Darren ? tadi jam satu dini hari mereka berangkat. Katanya sudah pamit sama kamu. Mereka berangkat ke jepang pesawat jam lima pagi " jelas Hutama, seketika membuat Senja panik luar biasa.


"Gimana sih abang, kalau mau pergi kenapa ajak Zain. Sudah tau Zain masih proses pemulihan. Mau ketemu cewek kok ngajak anaknya. Awas kamu Darren Mahendra, ketemu aku remes kamu "Senja terus mengumpat.

__ADS_1


"Coba hubungi Darren " saran Hutama.


Senja mengambil ponselnya dan menghubungi Darren, tapi tidak aktif.


"Darren Mahendra !!!! " Senja teriak kesal. Hutama segera menutup pintu kamar menghindari keterlibatan lebih dalam.


Senja terburu - buru turun ke lantai satu, mencari driver.


"Pak anter Senja ke bandara sekarang " pinta Senja pada Ardi, driver Hutama.


"Sebentar non, saya siapin mobilnya dulu " kata Ardi.


Tak lama, Senja dengan panik dan kekhawatiran maksimal pergi ke bandara. Senja turun di lobby keberangkatan internasional dengan cepat. Seolah lupa sedang hamil, langkah Senja begitu cepat. Senja tidak peduli menjadi pusat perhatian karena penampilannya. Daster di atas lutut dengan rambut masih setengah basah tergerai.


Pukul 04.40 artinya pesawat Darren belum berangkat. Senja meminta petugas bandara mengizinkannya masuk, tapi tanpa tiket pesawat tentu saja tidak boleh kecuali ada privilege seperti biasanya.


Suara panggilan terakhir untuk penumpang pesawat GA 102 dengan tujuan Tokyo terdengar jelas di telinga Senja, sementara Senja tidak bisa masuk ke dalam untuk menemui Darren dan Zain.


Sementara itu di apartement Darren, Zain dan Darren malah sedang santai berdua bermain play station terbaru.


"Zain kalau om di marahi mama, Zain harus bantu om ya "pinta Darren.


"Resiko ditanggung masing - masing om, Zain pasti juga dimarahi "ujar Zain dengan santainya.


"Kalau Zain pasti dimarahinnya sebentar, tapi kalau om pasti panjang. Semoga mama seneng sama surprisenya " harap Darren.


"Pasti senang " sahut Zain dengan yakin.


Senja ke rumah Sarita dan Mahendra, mengadu pada mertuanya atas kelakuan Darren. Bukannya mendapat pencerahan, Senja malah dibuat semakin kesal.


"Kalau abang mau ketemu sama mantan gebetannya, kenapa harus ngajak Zain. Mama telpon abang sekarang ma, suruh balikin Zain. Kalau gak sama Zain, Senja nggak peduli. Mau ke jepang kek, mau ke kutup utara sekalipun Senja gak bakalan nyari "ucap Senja kesal.

__ADS_1


"Ponselnya nggak aktif Nja, pasti masih di dalam pesawat " ucap Sarita.


"Kan abang naik bisnis ma, biasanya abang juga tetep nyalain ponsel pakai wifi pesawat " sahut Senja tidak sabar.


"Mungkin Darren sedang ngobrol sama pramugari. Cakep - cakep lho ma pramugari GA airlines itu. Ramah dan wangi " timpal Mahendra semakin menambah kekesalan Senja.


"Kalau abang berani goda cewek di depan Zain, Senja bakalan bikin abang susah jalan dua hari dua malam "ancam Senja, Mahendra yang sedang minum mendadak tersedak. Senja yang biasanya kalem dan menjaga sikap ternyata bisa btingas juga.


"Ma, yang di foto sama Darren itu bukannya Naomi ya ? itu dulu kan yang bikin Darren di hajar Rajata ya ? " tanya Mahendra sengaja memantik api cemburu Senja.


"Iya pa betul. Darren sebenarnya kan suka sama Naomi. Berhubung Naominya dijodohkan sama Rafli, dianya jadi males. Masak sih cinta lama belum kelar bisa menggoyahkan cinta Darren pada Senja ? Gak mungkin deh pa, Darren tidak seperti itu Nja. Kamu harus percaya sama anak mama. Paling mereka ketemuan biasa. Lagi pula ada Zain, mereka bisa apa " ucap Sarita antara mendinginkan dan memanasi suasana beda tipis.


"Mama ada nomer telpon Naomi ? kalau ada Senja minta ma "ucap Senja tegas.


"Buat apa Nja ? mau ngelabrak Naomi ? malu Nja, Kalau Darren yang mau malah harga diri kita sebagai perempuan semakin direndahkan "ucap Sarita asal.


"Bukan ma, Senja cuman mau bilang kalau mau sama abang ya sabar dulu. Senja ini lagi hamil ma, masak Senja nglahirin tanpa ayahnya. Abang yang Senja pikir setia, cintanya setinggi angkasanya, ketulusannya seluas samudera. Ternyata abang sama saja. Nyakitin. Senja kesel sama abang. Kenapa juga bawa - bawa Zain. Kalau Zain kecapekan apa abang tau apa akibatnya " sesal dan kesal Senja beradu.


"Sabar Nja, sebentar coba papa hubungi maskapai. Papa mau tanya siapa pilot pesawat yang ditumpangi Darren. Kalau sudah tau, kita suruh saja mereka nurunin Darren saat itu juga " ucap Mahendra konyol.


"Nggak begitu juga pa, Ah....Sudahlah papa dan mama nggak solutif. Senja makin bingung di sini " ucap Senja kesal.


"Eh.. Nja tunggu - tunggu. Jangan marah - marah. Minum susu sama makan dulu. Cucu mama papa butuh asupan gizi. Percuma lagian kamu marah - marah. Bisa jadi Zain dan Darren malah lagi ketawa ketiwi " ucap Sarita kembali memprovokasi.


Senja menurut minum segelas susu, sepiring potong buah dan dua lembar roti. Kesal dan marah membuat Senja menghabiskan semua dengan cepat.


"Laper ya Nja ? " tanya Sarita.


"Senja harus kuat. Satu kali dua puluh empat jam abang nggak ada kabar, Senja akan susul abang dan Zain ke Jepang. Kalau sampai itu terjadi jangan ada yang berani membela Darren Mahendra termasuk papa dan mama. Senja tidak akan mengampuni abang " ancam Senja.


Sarita dan Mahendra tidak berani membayangkan nasib putranya nanti, Senja sungguh berbeda ketika cemburu, kesal, kecewa dan khawatir bercampur jadi satu.

__ADS_1


__ADS_2