Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Song Joong Ki


__ADS_3

Usia kehamilan Senja kini memasuki usia tujuh bulan, perutnya sudah mendekati bulat sempurna. Berat badan Senja pun naik dratis 15kg. Membuat Darren senang, sekaligus mati gaya. Dengan kondisi Senja sekarang, tidak banyak eksperimen gaya yang bisa dilakukan.


Baby De sudah sepuluh bulan, mulai belajar berjalan. Zain selalu berhasil membuat baby De melangkah maju. Zain yang sekarang tidak kurus lagi tapi tingkahnya malah semakin dengan Darren. Sosok yang sangat dekat dengan Zain tapi tetap dipanggil dengan sebutan OM.


Mereka sudah menempati rumah mereka sendiri yang ternyata sangat dekat dengan rumah Hutama, hanya beda blok saja.


" Zain makanannya di habiskan, mbak sus itu baby De disuapin saja kalau pagi, nanti makan sendirinya kalau siang saja deh. Ask ... nanti makan siangnya Senja anter saja. Senja belum sempet bikin pagi ini " cicit Senja.


Darren tersenyum bahagia, baru dua anak sudah seramai ini paginya. Apalagi kalau ditambah lima lagi, pasti bakalan seru. Darren ingin melihat istrinya selalu berdaster dikelilingi anak - anak, tidak perlu tampil cantik paripurna untuk membuatnya jatuh cinta berkali - kali pada Senja.


" Ask, nggak usah dimasakin. Kita makan siang di luar saja, sekalian belanja keperluan baby " ucap Darren, kali ini dia yang terlihat bersemangat.


" Zain nggak ikut ya ma ? Zain mau diajari opa naik sepedah " ucap Zain sangat bersemangat, di uaianya yang sudah tujuh tahun lebih, Zain sedikit terlambat menikmati masa kanak - kanaknya. Tapi Senja bersyukur Darren dan keluarganya menerima Zain tanpa tapi.


" Iya sayang, sekarang selesaikan makannya cepat. Sebentar lagi guru Zain akan datang. Kalau Zain nilainya bagus, mama dan om Darren akan memasukkan Zain ke sekolah reguler " kata Senja.


"Pasti bagus, Zain yakin. Om Darren membantu Zain dengan baik " ucap Zain.


Senja menghela nafas dalam, Zain masih memanggil Darren dengan sebutan om. Senja tidak berani menanyakan apalagi meminta Zain mengubah panggilannya. Meski Senja tahu, Darren menginginkan lebih. Apalah arti sebuah panggilan, tapi pada nyatanya panggilan itu juga mempunyai kesan mendalam.


" Aku berangkat dulu ya Ask, sampai ketemu nanti makan siang " pamit Darren mencium kening Senja, lalu mencium perut Senja lembut.


" Hati - hati Ask. I love you " bisik Senja lirih.


" I love you more as always " balas Darren.

__ADS_1


Semakin lama, cinta keduanya bukannya berkurang karena bosan ataupun yang lain, cinta itu semakin bertambah berlipat - lipat. Meski kadang masih dibumbui dengan saling curiga dan cemburu kecil. Kehadiran sekretaris baru Darren sempat membuat drama baru di perjalanan pernikahan keduanya. Pekerjaan Darren yang senakin overload, mau tidak mau akhirnya membuat Darren membutuhkan seorang Darren mengatur schedulenya.


Perempuan muda, masih fresh graduate dengan gestur menggoda. Tapi tidak mampu membuat Darren terlena apalagi terpesona. Sekuat apapun usaha sang sekretaris sia - sia, Alih - alih menghindar yang membuat perempuan kadang menjadi penasaran. Darren justru memperlakukan sekretarisnya dengan sopan, dia memandang seperlunya, berbicara baik dan ramah seperti biasa. Darren paham betul perempuan seperti sekretarisnya akan semakin penasaran kalau dihindari.


Langkah kaki Senja membuat Dena mendongakkan kepalanya. Dena selalu memperhatikan setiap penampilan istri bosnya itu dengan detail. Ingin sekali menemukan cacatnya, tapi selalu saja sempurna. Bahkan kehamilan justru membuat pesona Senja semakin bersinar terang.


" Siang Den..." sapa Senja ramah pada perempuan yang pernah mencoba menjadi rivalnya itu.


" Siang bu " sahut Dena cepat dan canggung. Aura Senja selalu berhasil membuatnya merasa terintimidasi.


Senja membuka pintu ruangan suaminya, membuarkannya terbuka. Bukan sengaja ingin memanas - manasi Dena, tapi untuk menghindari serangan Darren yang semakin menggila. Pintu ruangan menjadi semacam kode. Jika Senja menutupnya berarti akan terjadi hal lebih lanjut di dalam sana.


" Selalu datang tepat waktu " Darren beranjak dari kursi kebesarannya langsung melingkarkan tangannya di pinggul Senja.


" Tentu saja, aku sedang berhadapan dengan Darren Mahendra. Tidak ada pilihan lain selain menghindari kesalahan. Sedikit kesalahan hanya akan membuat remuk badan " sahut Senja.


" Selalu enak. Pinter banget ini bibir " puji Darren gemas, tangannya meremas bokong kenyal istrinya.


" Ayo ask kita berangkat ! " ajak Senja tidak sabar.


" Sebentar, aku ada video conference lima belas menit lagi, hanya sebentar. Setelah itu kita berangkat dan aku tidak akan kembali ke kantor lagi. Kita langsung pulang. Menghabiskan malam jumat yang selalu panjang " ucap Darren dengan santainya.


" Dasar doyan " cibir Senja.


Darren kembali ke kursi kebesarannya, fokus pada layar laptop, lalu menyelipkan earphone di telinganya. Senja menunggu dengan sabar sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Sesekali Darren melirik ke arah Senja yang terlihat senyum - senyum sendiri. Tiga puluh menit berlalu, Darren mengakhiri video conference sebelum yang lain selesai.


" Sudah selesai Ask ? " tanya Senja dengan manja duduk dipangkuan suaminya.


" Kenapa senyum - senyum sendiri lihat ponselmu Ask . Ada yang lucu ? " tanya Darren ingin tahu.


" Tidak ada yang lucu. Senja hanya sedang bahagia. Mama mengirimkan video Zain mengayuh sepedah di dorong papa. Terimakasih memberiku keluarga yang luar biasa Ask " ucao Senja, tulus.


" Terimakasih saja tidak cukup Ask " Darren mengalungkan tangan Senja ke lehernya. Menahan tengkuk leher Senja lalu ******* bibir Senja lembut berulang - ulang. Senja beberapa kali membalas. Hingga Darren terperanjat dengan suara yang terdengar dari earphonenya.


Dengan terburu - buru Darren menutup laptop dan melepas earphonenya.


" Ask...Aku lupa mematikan saluran video conferenceku " ucap Darren datar, tidak senang juga tidak merasa malu.


" Ask ... Ihhh...Kamu membuatku malu Ask...Bagaimana kalau aku bertemu mereka. Ahhh...Kamu ngeselin " Senja menghentak - hentakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk.


" Biarkan saja, mereka pasti sedang iri padaku. Istriku cantik dan menggoda. Sempurna " pikiran Darren semakin menerawang kemana - mana.


"Kita berangkat saja, Senja tidak mau lagi ikut acara bisnismu. Memalukan " ancaman yang hanya dimulut saja, tentu saja Senja tidak mungkin membiarkan Darren pergi sendirian menghadiri setiap undangan.


Jalan - jalan di mall masih menjadi hal yang mewah bagi Senja, dia jarang mendapatkan kesempatan seperti ini. Sejak menikah kebebasannya untuk sekedar nongkrong di mall bersama teman terampas.


" Soong Joong - ki " pekik Senja, membuat beberapa orang melihat ke arahnya. Senja melihat seorang pengunjung yang mirip dengan aktor drakor yang baru dua bulan ini dia gemari.


Darren mengernyitkan alisnya, sepertinya ada yang terlewatkan selama ini. Darren mengikuti arah pandangan mata takjub dan begitu mengagumi .Mata Dareen membulat sempurna begitu pandangannya jatuh pada seseorang laki - laki berwajah Asia oriental yang cukup familiar dengannya.

__ADS_1


" Soong Joong - Ki " gumam Senja lirih, tanpa sadar melangkahkan kakinya meninggalkan Darren menuju sumber yang membuatnya terpesona.


__ADS_2