Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Kenzi


__ADS_3

Darren melihat ponselnya. Pantes Kenzi menyapanya dengan nama Senja. Ponselnya tertuker dengan ponsel istrinya. Darren buru - buru mengambil tanpa melihat lebih dulu. Ponsel keduanya memang tidak hanya mirip, tapi sama persis mulai dari wallpaper, soft case dan juga fitur di dalamnya.


"Ken, ini gue. kok lu kenal bini gue?" Darren menjawab sapaan Kenzi pada istrinya penuh selidik.


"Opss!!! Maaf saya kira bu Senja." Kenzi pura - pura tidak mengenali suara Darren.


"Ken ada perlu apa sama bini gue? Lu kenal bini gue di mana?" tegas Darren semakin tidak sabar.


"Ken siapa ya pak? Bapak ini siapa? atau mungkin saya salah sambung?" goda Kenzi.


Darren mengirim permintaan untuk mengalihkan panggilan biasa menjadi panggilan video call. Kenzi pun menerimanya, sekedar ingin menikmati wajah kesal Darren.


"Apa kabar lu? kusut banget tu wajah, minta dielus - elus anget kayaknya, biar kencengan dikit." Kenzi masih konsisten menggoda.


"Kalau pengen denger kabar gue baik, jawab dulu gimana lu kenal bini gue?" Darren konsisten juga dengan rasa penasarannya.


"Dompet bini lu ternyata jatuh di mobil gue," jawab Kenzi, semakin bertambah tanya di kepala Darren.


"Ngapain bini gue naik mobil lu? Lu di mana sih? gue kayak tau tempat lu berdiri sekarang?" Darren bertanya seraya mengingat - ingat.


"Sudah gue bosen ngobrol di telpon. Siapin karpet merah. Gue naik." Kenzi memutus sambungan ponselnya sepihak.


Tidak sampai lima menit, Kenzi sudah muncul di depan pintu Darren yang sudah terbuka. Keduanya berangkulan akrab saling menepuk pundak, kemudian duduk di sofa panjang dengan santai.


"Long time no see bro," sapa Kenzi.


"Yupss...Kapan datang?" tanya Darren.

__ADS_1


"Sudah hampir dua bulanan, tapi gue emang nggak kemana - mana juga. Lagi asik sama dunia gue." Kenzi menepuk pundak sahabat semasa kuliah di luar negeri dulu.


"Sama bro, gue malah nggak pernah. Lagi kejar tayang, sebelum gue empat puluh tahun, anak gue minim satu tim bola basket." Darren berkata jujur kali ini.


"Nih, dompet bini lu." Kenzi menyodorkan dompet kulit buaya warna hitam berbentuk persegi panjang pada Darren. "Istri lu cakep bro!" puji Kenzi blak - blakan.


Darren menerima dompet Senja. "Kenapa istri gue bisa naik mobil lu?" tanya Darren lagi dan lagi.


"Dia kan naik taxi online. Drivernya gue. Gila lu, bini hamil bawa anak kecil mondar mandir sampai nyusulin lu ke bandara. Kayak lu kecakepan aja, gue tikung lu aneh - aneh." Kenzi seperti biasa selalu menggoda Darren.


"Bini gue nggak bakalan selera sama lu. Eh! Sebentar ngapain lu jadi driver taxi online?"


"Gue lagi nyari model buat launching beberapa product perusahaan gue. Kita bikin deal yuk!" Kenzi langsung menawarkan sebuah kesepakatan.


"Product apaan? Deal apa?" Darren masih belum paham.


"Terus?"


"Gue pengen istri sama anak lu jadi brand ambasadornya. Gue emang dari awal nggak cari artis, itu makanya gue jadi driver taxi online yang premium. Gue nyari mama - mama muda, manis, manja, beranak dan menggoda atau minimal perempuan yang oke lah kalau didandanin pura - pura hamil." Kenzi menambahkan keterangannya.


"Emang ada perempuan tajir naik taxi online?"


"Lah... bini lu buktinya naik."


"Ya karena drivernya lagi gue suruh kabur sebentar. Kemarin lagi kesel aja sama bini gue," timpal Darren.


"Nah, selain lu sama istri lu, di luaran juga banyak yang kalau berantem pakai jasa taxi online kalau minggat. Kalau pakai drivernya pasti ketahuan bro, belum lagi yang slengki - slengki, ya kali ke hotel dianter drivernya. Yang ada pasti dilaporin ke suami." Kenzi memberi pandangan pada Darren tentang dunia perdriveran online khusus premium dan exclusive.

__ADS_1


"Gue nggak paham begituan Ken. Sejak gue nikah gue males kongkow. Gue larang bini gue keluar rumah tanpa gue, ya kali gue seenaknya sendiri keluar suka - suka," tegas Darren.


"Back to topic, gue pengen istri dan anak lu jadi Brand Ambasador di product susu ibu hamil dan kebutuhan balita. Please, gue nggak mungkin bayar dengan tarif biasa. Karena gue yakin lu gak butuh duitnya. Saham gue 25% buat lu, produk baby gratis sebanyak apapun anak lu." Kenzi memberikan penawarannya pada Darren.


"Gue pribadi gak seneng istri gue jadi tontonan orang lain, sekalipun itu cuman difoto. Tapi kali ini gue akan lebih fair, gue tanya bini gue dulu. Dia yang ngejalanin," timpal Darren.


Darren mengalihkan topik pembicaraan. Keduanya pun langsung larut kembali dalam obrolan seru.


Sementara di rumah Darren dan Senja, ketiga cungpret tertunduk dihadapan seorang perempuan penguasa Darren Mahendra. Siapa lagi kalau bukan istri atasannya. Amar dan Ali yang tidak tahu apa - apapun jadi ikut merasa terintimidasi ditatap Senja seperti itu.


"Nes, bilang jujut sa aku. Kenapa setiap kali ingin membuat aku cemburu, bosmu itu selalu memakai nama Naomi. Kalau misalkan Naomi tahu selalu disebut - sebut bagaimana?" Senja menanyakan dengan sedikit penekanan.


"Mrs. Naomi yang paling aman untuk dipinjam namanya bu, karena Mrs. Naomi itu acdc yang sesungguhnya," ucap Yanes setengah berbisik.


"Owhhh...Jadi Daddynya anak - anak masih normal ya Nes, ini cuman improvisasi kamu untuk membantu bosmu aja kan?" Senja masih mencecar Yanes.


"Iya bu, saya berani bersumpah demi apapun. Pak Darren masih normal. Ibu bisa membuktikan sendiri nanti." Yanes tetap saja terlihat tidak serius.


"Gimana kalau kamu saja yang membuktikan Nes, kamu itu lain kali kalau mau mengubah skenario seharusnya jangan terlalu ekstrim. Bisa bayangin nggak kalau papa mama sampai dengar? apa mereka nggak shock anaknya dikatakan begitu? Kali ini saya maafin kamu Nes, tapi nggak gratis." Senja ingin kembali mengerjai Yanes.


"Saya harus bagaimana bu? " tanya Yanes, terdengar sangat pasrah.


"Satu minggu ke depan, kamu harus memakai kemeja pink, celana hitam di bawah lutut sejengkal, ikat pinggang putih, Sepatu hitam, dan kaos kaki pink sebetis, lengkap dengan dasi kupu - kupu hitam. Mulai berangkat sampai pulang kerja. Saya akan menyuruh Rosa mengirimkan fotomu saat berangkat dan pulang. Tidak ada kata tapi," perintah Senja dengan lugas dan tegas, serius tidak ada senyum di wajahnya.


Amar dan Ali saling memberi kode lagi - lagi dengan ekor matanya. Keduanya kompak menahan tawa membayangkan Yanes yang berbadan bulat berisi dan berpipi cubby memakai kemeja pink lengkap dengan pernik - perniknya.


"Urusan kita selesai kan? saya mau masuk." Senja dengan santai meninggalkan Yanes yang sudah pucat duluan membayangkan penampilannya besok.

__ADS_1


__ADS_2