Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Kemanakah Senja?


__ADS_3

Pagi hari yang sangat sibuk, lebih sibuk dari jalanan ibu kota. Tangisan saling bersahutan, menanti giliran di sentuh oleh orang yang di inginkan. Dasen yang tumbuh tinggi dan besar melampaui usia balita sebayanya, meskipun menangis sampai gulung - gulung di lantai, tidak mungkin sanggup Senja menggendong titisan Darren itu. bekas jahitannya belum kering total yang dalam. Masih tujuh bulan pasca operasi, membuatnya tidak berani mengangkat beban terlalu berat. Di usianya yang belum genap satu setengah tahun, berat badan Dasen sudah mencapai lima belas kilo dengan tinggi sembilan puluh lima senti. Sungguh di atas rata - rata. Persis Daddynya sewaktu kecil.


Bagi Darren pemandangan pagi seperti inilah yang menyempurnakan hidupnya. Melihat anak - anak berekspresi dengan kepribadian masing - masing. Zain yang begitu dewasa kadang turut turun tangan membantu meredam tangisan maupun rengekan Dasen. Derya yang kalem, membuat Senja atau dirinya sedikit bisa memberikan waktu lebih untuk membujuk Beyza agar berhenti menangis.


"Sungguh, biarpun menurut orang lain ini kacau. Aku betah sekali di rumah. Andai mereka memberi ruang dan waktu pada kita untuk berduaan sebentar, tentu aku tidak akan pergi ke kantor." Darren berdiri bersiap untuk berangkat kerja, kerlingan matanya jelas mempunyai maksud menggoda.


"Ish, kantor cuman buat alasan. Dasar!" Senja memukul dada suaminya dengan manja.


"Berangkat dulu ya, jangan lupa antar makan siang ke kantor," bisik Darren sembari meremas pelan bokong istrinya.


Senja segera memukul tangan suaminya itu. "Ada Zain dan Dasen. Kebiasaan!"


Darren hanya terkekeh, hidupnya terlalu bahagia akhir - akhir ini. Terlalu sayang membuang waktu untuk sebuah kemarahan yang tidak perlu. Cukup sudah dia menyimpan tenaga untuk begadang di malam hari dan bekerja keras sebagai suami di siang hari.


"Sudah siap, Zain?" tanya Darren, menoleh pada anak sulungnya yang masih sibuk membuat Dasen agar tidak ikut berangkat ke sekolah.


Senja paham kalau Zain sedang berusaha mengalihkan perhatian adiknya. "Dass, tolongin mama sini. Mama tidak bisa mengambil mainan kakak Zain. Sepertinya mainan kakak ada yang sudah lama tidak diterbangkan."


"Ma ... Jangan. Dasen perusak. Awas saja kalau sampai ada yang hilang apalagi rusak." Zain berjalan menyusul Daddynya dengan bibir manyun.


Senja hanya meringis melihat wajah Zain, Dasen ini memang lain dari yang lain. Bisa di katakan destroyer, mainan apapun yang dipegangnya selalu tidak awet. Selalu saja ada bagian yang hilang. Zain yang rapi sering diuji kesabarannya oleh Dasen.


Setelah Dasen tenang, Senja beralih pada Beyza dan Derya. Senja menimang Derya lebih dulu, karena menidurkan bayi laki - lakinya itu cukup mudah dan tanpa drama. Sedangkan Beyza, jangan ditanya lagi dramanya. Mulai batu menangis hingga dongeng cinderella sepertinya pernah dilakoni oleh bayi perempuan itu.

__ADS_1


Ketika anak - anaknya tenang seperti sekarang ini, Senja menyempatkan diri untuk tidur. Dia harus menjada jam tidurnya agar kondisi fisiknya tetap fit. Memejamkan mata, meskipun sebentar, asal tidak ada yang mengganggu. Pasti sudah cukup mengganti jam tidur malamnya yang tidak menentu.


*****


Sampai pukul dua siang, Senja belum juga datang ke kantor suaminya. Padahal Darren sudah menunggu makan siang sekaligus berharap bisa melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan di rumah bersama istrinya.


Sejak baby twins lahir, Darren dan Senja sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri di kamarnya. Semua karena Beyza dan Dasen seperti kompak mengerjai orangtuanya. Tidak seperti Derya yang santai biarpun selalu tidur bersama Wardah.


Dasen dan Beyza seperti memiliki indera ke enam. Setiap salah satu dari daddy atau mamanya beringsut dari ranjang, seketika keduanya merengek kompak. Bahkan tangisan melengking bisa langsung dikeluarkan Beyza.


Capek bagi Senja, karena setiap hari harus mengantar makan siang untuk sang suami. Belum lagi selanjutnya melayani yang lain. Jangan ditanya Darren capek atau tidak, selama Senja masih beraksi di atasnya. Energi akan selalu terisi lagi dan lagi.


Darren masih bertahan dengan rasa kesalnya. Ponsel Senja juga sedang berada di luar jangkauan. Asisten rumah tangga yang mengangkat telepon rumah pun mengatakan kalau majikan perempuan sudah keluar dari rumah satu jam yang lalu.


Dari gps lokasi ponsel, diketahui ponsel itu berada di alamat rumahnya. Usut punya usut, ternyata ponsel itu ada di dalam laci nakas di kamar Senja.


Tidak biasanya, Senja keluar rumah tanpa kejelasan seperti ini. Apalagi Senja tahu persis harusnya dia mengantar makan siang untuk sang suami. Hal yang paling dibenci Darren dan masih sering Senja lakukan sampai sekarang adalah lupa memberikan kabar jika sudah fokus pada sesuatu.


Lalu fokus apa yang membuat Senja sampai lupa rutinitasnya. Bahkan Ibu yang melahirkan lima anak dari rahimnya itu tidak membawa serta anaknya satu pun. Bahkan Zain juga belum pulang dari sekolahnya.


Darren meminta satpam di rumahnya mengirimkan rekaman cctv dua jam terakhir di area jalan depan rumahnya. Dia ingin tahu siapa yang menjemput istrinya ke rumah.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Darren kini melihat dengan jelas dari laptopnya. Sebuah mobil Range Rover hitam nampak menunggu sekitar lima belasan menit di depan rumahnya. Tak lama laki - laki seusia dengannya tampak turun dari mobil itu. kulitnya putih bersih.

__ADS_1


Darren menegakkan duduknya begitu melihat Senja keluar dari gerbang utama, Senja dan laki - laki tadi terlihat saling menempelkan pipi kiri kanannya. Lalu laki - laki itu membukakan pintu untuk Senja. Tak lama kemudian, mobil itu menghilang dari jangkauan cctv.


Seketika rahang Darren mengeras, dadanya terasa panas. Ingin rasanya Darren berteriak. Akhirnya figura foto dan tempat bolpoinnya lah yang jadi sasaran. Sudah lama sekali ruangan Darren tidak berantakan. Sejak menikah dengan Senja baru dua kali ini, Darren ingin menghancurkan ruangannya sendiri. Pertama saat Senja meninggalkannya karena kasus Angelica dan kedua sekarang.


Mendengar suara amukan bosnya, Amar dan Ali memanggil Yanes. Dengan tergesa - gesa, asisten Darren itu membuka pintu ruangan bosnya.


"Cari tau siapa pemilik mobil yang menjemput istriku." perintah Darren seraya menunjuk layar laptopnya.


Yanes segera mencari informasi, meminta tolong pada kerabatnya yang merupakan seorang anggota kepolisian. Hanya sekejap mata informasi itu pun didapatkan dengan mudah tanpa negosiasi apapun.


"Siapa laki - laki brengsek yang berani mengambil milik Darren Mahendra?" selidik Darren, jelas sangat tidak sabar.


Yanes menarik nafas panjang. Dia sendiri tidak tahu masalahnya. Tapi dari gambar yang dia tangkap, dia sendiri tidak pernah melihat sosok yang menjemput istri bosnya itu.


"Siapa, Nes?!" ulang Darren, sedikit membentak.


"Mobil itu atas nama Bu Senja sendiri," jawab Yanes sangat hati - hati.


Darren mengepalkan tangan lalu memukulkannya pada meja kaca yang seketika langsung hancur. Darah segar mengalir melalui sela - sela jemarinya. Sakit dan perih di tangan itu tidak seberapa dibanding luka hatinya sekarang.


"Kamu akan membayar mahal sakit ini, Senja. Kamu akan menyesal melakukan ini padaku dan anak - anak."


"Pak ... Bos ... Kita belum tahu kebenaran apapun, jangan terburu - buru menyimpulkan. Bu Senja tidak mungkin berbuat seperti itu." Yanes sampai bingung bagaimana harus memanggil bosnya.

__ADS_1


"Cari keberadaan mereka sekarang juga. Jangan lakukan apapun pada mereka, biar aku sendiri yang membunuh laki - laki itu." kilatan emosi Darren sungguh membuat nyali Yanes agak menciut.


__ADS_2