Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Opa kemana?


__ADS_3

Sarita mempererat pelukannya. "Mau tidak mau, suka tidak suka dan apapun reaksi Senja nantinya. Kita harus memberitahunya. Kalau kita memberitahu besok atau lusa. Senja pasti akan menyalahkan kita."


Darren menghapus air matanya, membantu mamanya kembali berdiri. "Opa dibawa ke rumah dulu kan ma? Atau langsung ke pemakaman?" tanya Darren dengan suara yang sudah parau.


"Dari sini langsung ke pemakaman saja kata papa. Biar prosesinya cepat. Pesan terakhir opa juga begitu. Tidak mau menunggu siapapun untuk dimakamkan. Al juga sudah menghubungi pihak makam, mereka sudah siap menerima jenazah sejam lagi. Kita tinggal memandikan, mengkafani dan mensholati Opa," jelas Sarita.


"Kamu lebih baik menemani Senja dulu, nanti kalau mau berangkat ke pemakaman, papa akan hubungi kamu. Senja pasti bisa mengatasi kesedihannya. Jangankan Opa yang sudah berumur, yang sudah puas menjalani hidupnya. Rafli saja sudah berpulang duluan." Hutama menepuk pundak Darren.


"Papa benar, Opa berkali - kali mengatakan kalau sudah cukup menjalani hidup. Bahkan kemarin mengatakan kalau sudah ingin bertemu dengan Oma," timpal Darren.


"Kematian ini sudah Opa nanti dan rindukan sejak melihatmu menikahi Senja Darr. Opa sering mengatakan pada mama, kamu sudah bertemu dengan perempuan yang tepat. Bisa mengimbangi semua hal tentang kamu yang tidak biasa. Opa sangat bahagia melihat keluarga kecilmu, Darr." Sarita mengelus pundak anaknya.


Darren menundukkan badannya, mendekati opanya yang dingin dan kaku. Tapi wajahnya begitu tenang ada sedikit senyuman di wajahnya. "Darr ke rumah sakit dulu. Opa yang tenang. Insya Allah, Darr ikhlas. Terimakasih atas nasihat Opa selama ini. Darren akan menjaga keluarga Darren hingga akhir nafas. Pesan Opa tidak hanya mengisi ingatan, tapi akan Darren lakukan dan terapkan dalam kehidupan. Selamat jalan Opa, terimakasih sekali lagi atas semua kenangan manis yang Opa berikan pada kami."


Darren menegarkan dirinya. Cukup sudah air mata yang dia keluarkan. Ia harus kuat demi Senja. Mengingat kebersamaannya dengan Hutama kemarin dan beberapa bulan ke belakang sebelum dan sesudah opanya itu umroh, jelas memang kalau sudah ada firasat. Bicara kematian dan perpisahan di dalam setiap pertemuan, menjadi hal yang kerap diucapkan oleh Hutama.


Mahendra dan Sarita mengantar Darren sampai luar. "Kuatkan Senja, sebelum melakukannya pastikan kamu juga sudah kuat." Mahendra kembali menepuk pundak Darren. Kali ini lebih mantap dan kuat.


"Al ... Chun ... Tolong bantu papa dan mama ya. Aku harus nemenin Senja dulu. Dia belum tahu kalau opa meninggal," pinta Darren.


"Tenang saja Darr, kita akan bantu urus semuanya. Kamu fokus saja sama Senja," ucap Aleandro.


"Apa Chun perlu menemani kakak?" tanya Chun Cha.


"Tidak usah, Chun. Apa appa dan eomma sudah berangkat?" Darren balik bertanya.


"Masih mau berangkat kak, Hyeon dan Eunji juga ikut. Mereka mau langsung ke sini dulu, kalau opa sudah dimakamkan baru ke rumah sakit," jawab Chun Cha.

__ADS_1


"Biarkan Chun, ikut denganmu saja Darr. Dia bisa menemani Senja saat kamu tinggal ke pemakaman. Lagian Chun sedang hamil, lebih baik tidak ikut ke pemakaman," timpal Aleandro.


Darren hanya mengangguk setuju. Tidak ada kata - kata yang keluar dari mulutnya. Laki - laki yang dulunya sangat angkuh itu berjalan keluar kembali menuju lobby, Chun mengikuti langkah lebar Darren dengan setengah berlari kecil, tapi Chun akhirnya tidak ikut sampai rumah sakit, Chun di antar ke rumahnya karena menemani Zain dan baby De.


Sementara itu, Senja terbangun dari tidurnya. Kakinya sudah tidak kebas dan bisa digerakkan. Dia sudah berada di ruang rawat inapnya. Melihat jam dinding bulat menempel di dinding kamarnya, hampir satu jam lebih dia tertidur. Menoleh ke sisi kanan, di mana ada satubset sofa berwarna beige, Senja mendapati Wardah, Ulfa, Wati dan Dasen.


"Wat, bapak mana?" tanya Senja.


"Bapak masih keluar sebentar, bu." jawab Wati.


"Sudah dari tadi?" tanya Senja, lagi.


"Masih barusan bu." Wati berbohong.


"Owh ya sudah." Senja sedikit memiringkan badannya. Ternyata memang rasa sakit yang dirasakan jauh berkurang, hampir tidak dirasakan malah. Sakitnya hanya samar.


Tiga puluh menit miring ke kiri dan ke kanan dengan lancar, Senja pun meneruskan untuk belajar duduk. Mnggunakan metode Eracs sangat membantu, rasanya Senja ingin hamil lagi kalau begini.


"Si twins belum di bawa ke sini ya, Wat?" Senja bertanya kembali pada Wati.


"Belum bu, katanya nanti setelah Ibu bisa berdiri saja sekalian."


"Wat, tolong bilang perawat saya sudah bangun. Saya mau panduan untuk laktasinya sekarang. Ini sudah keluar Asinya, tapi belum banyak. Mereka berdua Wat, saya harus mempunyai stock yang berlimpah daripada Dasen dulu," pinta Senja.


"War, tolong ambilkan pompa Asi dan tempat penyimpanannya di tas biru situ ya." Senja menunjuk sebuah tas di meja ujung dekat televisi.


Konselor laktasi datang bersamaan dengan Darren. Senja menatap heran suaminya yang sudah berganti baju. Tidak hanya karena berganti baju, tapi baju yang dikenakannya sungguh bukan suaminya sama sekali. Celana chinos hitam memang sudah biasa, tapi kemeja slim fit yang dipakainya kenapa harus hitam juga. Warna baju yang dihindari dan sangat tidak disukai oleh seorang Darren Mahendra.

__ADS_1


Tahu sedang diperhatikan istrinya dari atas ke bawah, Darren tersenyum. "Kenapa? Ganteng ya? Sudah dari dulu,Ask."


Bibit Senja seketika mencebik, jelas suaminya memang ganteng. Tapi tidak perlu sesombong itu.


"Bisa kita mulai sekarang, Bu?" tanya konselor Laktasi.


Sesaat setelah Senja mengangguk, konselor itu pun menjelaskan beberapa hal dan memberikan berbagai contoh pemijatan mandiri dengan menggunakan alat peraga. Menjelaskan secara detail cara mengAsihi untuk baby twins yang pastinya akan membutuhkan volume Asi yang lebih banyak dibandingkan bayi tunggal. Tapi konselor itu terus meyakinkan kalau Senja pasti bisa.


Darren masih menunda untuk memberi tahu istrinya, membiarkan proses panduan laktasinya selesai. Kali ini Darren akan mewujudkan keinginan istrinya untuk menjeda mempunyai momongan. Rencana vasektomi yang ditolak keras oleh istrinya, membuat Darren sering kali melakukan broser tentang penggunaan sarung pengaman. Kelebihan dan kekurangannya. Darren akan memesannya nanti setelah baby twins berusia satu bulan, karena brand itu khusus hanya beredar di luar negeri.


Dua orang perawat memberikan baby twins masing - masing pada Ulfa dan Wardah. Senja membuka kancing baju depannya. Ingin memberikan Asi untuk pertama kalinya pada keduanya.


Konselor laktasi membantu meletakkan baby boy terlebih dahulu. lalu menyusul baby girl. Kepala keduanya menghadap Senja dengan kaki lurus ke depan tepat dibawah ketiak Senja. Baby boy hanya butuh beberapa saat untuk menghisap pucuk hitam Senja dengan rakus. Sedikit berbeda dengan baby girl yang sedikit lebih pelan.


Dalam hati yang berduka, dengan kebimbangan yang nyata karena harus segera menyampaikan kabar duka. Darren tersenyum haru, istrinya begitu telaten merawat anaknya. Terlihat jelas Senja berusaha memberikan yang terbaik. Sungguh moment - moment seperti inilah yang menjadi pengingat dan penguat hati pada godaan di luar sana.


Pengorbanan istrinya sudah begitu besar. Pengabdiannya nyata untuk keluarga kecilnya. Sedangkan dirinya hanya bekerja dan bekerja.


Perawat dan konselor laktasi meninggalkan ruangan. Baby twins sudah anteng di dalam box nya. Dasen juga sudah kembali terlelap untuk memenuhi waktu tidur siangnya bersama Wati. Tinggallah Ulfa, Wardah, Darren dan Senja.


Inilah saat yang tepat bagi Darren untuk memberitahu Senja. Satu tangan Darren menggenggam tangan istrinya, satunya lagi merogoh saku celana untuk mengambil kalung berlian pemberian Hutama pada Senja.


"Ask, Opa menitipkan ini padamu." Darren mengulurkan kalung itu pada istrinya.


"Kapan kamu ketemu Opa, Ask? Apa Opa ke sini? Kenapa Opa tidak langsung menemui Senja?" tanya Senja bertubi - tubi seraya menerima kalung dengan liontin batu giok hijau yang sangat cantik.


Darren menghela nafas panjang. Menata hatinya sendiri agar bisa setenang mungkin saat menyampaikan.

__ADS_1


__ADS_2