
Opa mengusap lembut rambut Senja, seakan Senja masih seusia Zain. Mata Senja terpejam, tapi di sudut matanya mengalir air mata.
Kesempurnaan hidup yang diperoleh Senja begitu bertubi - tubi setelah masuk ke dalam keluarga Mahendra. Awal yang tidak terlalu manis untuk diri dan suaminya. Dari saling membenci, diam - diam mengagumi, benci lagi, berdamai dengan keadaan lalu malah begitu dalam mencintai.
Keluarga Mahendra adalah keluarga pertama yang menerimanya dengan begitu hangat, bahkan jauh sebelum dia menikah dengan Darren.
"Seharusnya kamu tidur di pangkuanku, Ask ... Paha Opa pasti kebas. Kamu tidak semungil dulu, tapi anehnya aku semakin menyukai bentuk tubuhmu sekarang. Bukti kekuasaan Darren Mahendra yang Nyata memang hanya ada di tubuhmu." Darren jongkok di samping sofa tempat Senja berbaring di pangkuan Hutama.
"Opa masih kuat Darr, semua yang dilakukan dengan kasih sayang tidak akan membuat kita mengeluh. Lihatlah Senja! Suruh dia mengangkat karung beras tiga puluh kilo, dia tidak akan kuat. Tapi kalau Senja disuruh menggendong Zain yang beratnya empat puluh kilo, dia pasti mampu. Karena cinta dan perjuangan seorang ibu," sahut Hutama, merasa tidak terima.
"Percaya kok kalau Opa memang kuat, Besok dua Hutama akan lahir. Semoga Hutama yang lakik, benar - benar mewarisi semua kebaikan Opa," harap Darren.
"Yang perempuan pasti akan mirip Senja. Biar kamu merasakan pusing karena banyak pemuda yang mendekatinya," timpal Hutama sembari terkekeh.
"Darr akan sangat pemilih. Menjadi menantu Darren Mahendra tidak akan mudah," tegasnya.
"Kasihan anakmu Darr. Belum - belum sudah kelihatan kalau kamu bakalan over protektiv." Hutama menyisir rambut Senja dengan jemarinya. Mengingatkan akan Deandra.
Senja bertahan di pangkuan Hutama selama lima belas menit. Dia mendengar semua pembicaraan suami dan opanya. Tapi Senja enggan beranjak. Entah perasaannya begitu berat meninggalkan Hutama.
"Ask ... Berangkat yuk!"Darren berbisik tepat di daun telinga milik istrinya.
Senja perlahan memiringkan badannya, lalu dibantu Darren kembali dalam posisi duduk.
"Opa ... Terimakasih karena Opa selalu baik sama Senja." Kembali Senja memeluk Hutama.
"Nja, jaga baik - baik keluargamu. Nitip cucu dan cicit Opa. Kamu pasti bisa menjadi istri sekaligus ibu terbaik. Opa tidak meragukanmu sedikitpun. Selalu ingat, apapun pendapat orang di luaran tentang suamimu. Tetap yang harus kamu percaya adalah penilaianmu sendiri. Jaga diri baik - baik dan berbahagialah. Saat kamu bahagia, maka kebahagiaan yang lain lebih mudah terwujud." Hutama membalas pelukan Senja lebih erat.
__ADS_1
"Aduh - aduh, Opa sama Ma Nja ini kayak gak bakalan ketemu lagi aja. Sudah ... Jangan peluk Opa lama - lama, nanti pas aku meluk kamu malah berasa wangi Opa. Kita berangkat yuk! Biar bisa istirahat, Ask ... Kamu harus fit." Darren menarik Senja dengan lembut. Seperti tidak rela istrinya semanja itu dengan opa Hutama.
Darren mencium punggung tangan opanya. "Darren pamit dulu ya, Opa. Doakan semua lancar."
"Tentu Opa akan doakan. Jaga keluargamu dengan baik. Cintai dan bahagiakan istrimu jika kamu menginginkan ketenangan dan juga keberkahan." Hutama memeluk Darren dan menepuk - nepuk pundak cucunya itu.
Senja dengan berat hati meninggalkan Opa. Beberapa kali dia menoleh ke belakang. Sekedar ingin melihat senyum Hutama.
Sepanjang perjalanan Senja terlalu banyak diam, dalam hati sibuk beristighfar dan bershalawat untuk ketenangan jiwanya. Pikiran Senja menjadi sedikit tegang, tapi tidak tahu pasti apa yang sedang dipikirkan.
Sesampainya di rumah sakit, perawat langsung memeriksa suhu tubuh, tekanan darah dan denyut nadi. Ternyata, tekanan darah Senja tergolong tinggi. 160/ 90, mungkin pengaruh dari pikirannya yang sedang tidak tenang dan terlihat tegang.
"Kami akan memberikan suntikan di infus, biar tekanan darah ibu kembali normal, Ibu jangan tegang. Santai saja. Sementara lepaskan beban yang ada," tutur si perawat.
Darren menggenggam tangan Senja. Membawanya mendekati bibirnya dan mengecup punggung tangan itu lembut.
Senja sedikit memaksakan Senyumannya. Dia sendiri tidak tahu kenapa harus cemas. Menghadapi proses persalinan jelas bukan yang pertama baginya. Persiapan persalinan kali ini bahkan bisa dikatakan yang paling sempurna. Karena sejauh ini semua terencana dan berjalan sesuai yang diinginkan.
"Ask ... Kita sudah mempersiapkan semuanya. Tapi sepertinya tetap ada yang kurang." Darren membuat Senja berfikir.
"Apa, Ask? Masih ada yang kurang? Perasaan sudah lengkap semua deh." Senja terlihat bingung.
"Kamu mempersiapkan semuanya dengan baik dan hampir sempurna jika saja kamu tidak melupakan satu hal. Padahal ini penting."
"Hmmm ... Baju bayi sudah, baju Senja sudah, baju Daddy Darr sudah, dokumen pengurusan akte kelahiran sudah, uang sudah pasti urusanmu, Ulfa sama Wardah sudah Senja kirimi pesan biar besok saja datangnya. Zain sudah aman sama Chun, Dasen pastilah lebih aman lagi karena ada mama." Senja menyebut semua detail yang menjadi pikirannya sebelum melahirkan.
"Yakin itu saja?"
__ADS_1
"Yakin, Ask ... Semua sudah clear."
Darren membisikkan sesuatu di telinga Senja. Cukup lama, mungkin kalimat yang diucapkan terlalu panjang. Wajah Ma Nja seketika terlihat sedikit kesal bercampur keheranan.
"Lahiran cesar tidak perlu bantuan membuka jalan lahir. Bilang saja mau aneh - aneh. Terlambat! Di sini pasti ada cctv nya. Salah sendiri kemarin nggak minta." Senja mencebikkan bibirnya.
"Ish ... Menyalahkan pula. Seharusnya sebagai pemegang kendali perlu menawarkan diri. Empat puluh hari itu lama, belum lagi kalau ada kesalahan teknis atau kondisi darurat lainnya. Jangka waktu bisa diperpanjang." Darren memijat pelipis kepala yang sama sekali tidak pusing.
"Ish, kayak nggak pernah saja. Kan sudah melewati dua kali. Masih ada ini dan ini." Senja menunjuk mulut dan tangannya bergantian.
"Sama sekali tidak meragukan. Tapi dua arah tetap lebih baik.Biar nggak cuman aku yang seneng." Darren kembali memberi alasan.
"Sudah ah ... Sudah nggak sempet, percuma dibahas. Sebentar, Ask ... Mama telpon ini." Senja menunjukkan layar ponselnya pada suaminya.
"Iya, Ma," sapa Senja.
"Nja, Dasen ini nangis nggak mau diam sama sekali. Mama sudah coba berbagai cara. Bagaimana kalau kamu ajak ke rumah sakit saja, kasihan ini Nja nangis terus." suara tangisan Dasen tertangkap jelas dari speaker ponselnya.
"Iya ma, Wati biar dianter driver ke sini. Minta tolong susu dan perlengkapan Dasen ya Ma. Maaf merepotkan."
Sambungan ponsel pun berakhir. Darren yang sudah mendengar suara mamanya menjadi ikut khawatir. Dasen sudah lama tidak rewel, apalagi sampai menangis tidak berhenti. Sejak sudah terbiasa meminum susu formula, tingkat ketergantungan Dasen pada mamanya sudah berkurang jauh.
Tidak sampai satu jam, Dasen dan Wati pun datang. Balita yang seharusnya belum mempunyai adik lagi itupun langsung terdiam begitu berada dalam pangkuan mamanya.
Tapi tidak lama, tangisan Dasen kembali pecah. Entah kenapa, padahal tidak ada satupun hal yang dapat memicu tangisan bocah cilik berumur kurang dari setahun itu. Ponsel Darren berdering beberapa kali. Awalnya ingin mengabaikan, tapi ponsel itu tidak juga berhenti berdering. Darren mengambil ponsel dari kantong celana sampingnya, dahinya berkerut melihat siapa yang menghubungi.
"Halo ...." sapa Darren, sesaat setelah menerima sambungan teleponnya.
__ADS_1