Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Bonus part 6


__ADS_3

Darren langsung menghampiri meja di mana istrinya berada. Naka, yang mengenal Darren berpikir kalau ceo Mahendra Corps itu pasti hanya akan menyapanya. Sementara Senja seketika menjadi salah tingkah. Bukan karena sedang berduaan dengan pria lain, tapi yang ada dipikiran perempuan itu adalah dikirimnya Dasen ke asrama.


"Selamat siang, pak Naka. Senang bertemu Anda di sini. Apa kabar?" Darren bersikap seolah tidak kenal dengan istrinya, membuat Senja semakin kelimpungan.


"Pak Darren ... kebetulan sekali kita bertemu di sini? sedang makan siang juga?" tanya Naka, sama sekali tidak mengerti kalau perempuan yang ada di depannya adalah istri dari seorang Darren Mahendra.


"Tentu saja, Saya terpaksa harus makan siang di luar. Karena hari ini, istri saya pergi tanpa kabar. " Darren menatap tajam ke arah Senja.


"Hal itu sangat biasa, Pak. Perempuan itu selalu ingin menang sendiri. Coba kita yang menghilang, daftar tuduhan yang diberikan pasti sepanjang jalan kenangan. Kalau mereka, apapun alasannya kita harus kita terima. Semoga bu Senja, bukan termasuk perempuan-perempuan yang saya sebutkan tadi." Naka sedikit tidak enak, menyadari raut wajah Senja yang terlihat tidak nyaman.


Darren terus menatap Senja dengan tatapan mengintimidasi. "Jika perempuan dihadapan pak Naka ini mampu membohongi suaminya, dunia tidak akan baik-baik saja."


Senja langsung berdiri, dan menyambar pesanan take away nya. "Saya permisi dulu, Pak Naka."


Perempuan itu begitu buru-buru berjalan keluar restaurant. Darren setelah sedikit membungkukkan badannya pada Naka, langsung berlari mengejar istrinya.


"On Fire," seru Amar.


"Rame," sahut Ali.


"Meleduk," timpal Yanes.


"Ini gara-gara kamu, Mi ... Harusnya, Mami tadi pura-pura tidak tahu." Kenzi sedikit menyalahkan Ulfa.


"Sudah tidak perlu khawatir ... Pak Darren, kelihatannya saja yang menyeramkan. Di luar kalau marah kelihatan angkuh dan tidak terbantahkan, nanti kena sentuhan bi Senja sedikit juga tinggal Ah Uh Ah Uh nya saja," ucap Ulfa, dengan gaya polosnya.


Sementara di luar restaurant, Senja masih menelpon Rudi yang memarkirkan mobilnya gedung sebelah. Hal ini membuat Darren bersusah payah agar bisa mengejar istrinya itu.


"Apa ponselnya rusak? mulai kapan pintar berbohong? Apa hubunganmu dengan Naka?" tanya Darren bertubi-tubi dengan pandangan yang mampu membuat Senja sangat tersiksa.


"Senja akan jelaskan semuanya nanti. Sekarang biarkan Senja ke rumah sakit mengantar makan siang Zain dulu." Senja berusaha menunda pembicaraan, agar bisa mencari celah agar kenakalan Dasen tidak diketahui oleh suaminya.


"Apapun yang kamu sembunyikan, aku tidak menyukai caramu, Ask. Selesaikan sekarang atau jangan harap aku tanya lagi masalah ini padamu." Darren terpaksa mengambil sikap tegas.


"Ini bukan tempat yang tepat, Ask." Senja masih saja mencari-cari alasan.

__ADS_1


Darren langsung menarik tangan sang istri, mengajak berjalan ke arah perusahaan Naka. Saat mobil yang sudah dikendarai oleh Rudi di depan mereka, Darren langsung menyahut kotak makanan yang ada di tangan istrinya.


"Rud, antar ke rumah sakit kanker. Telepon Zain di mana ruangannya. Katakan kalau bu Senja ada urusan mendadak." Darren begitu tegas dan tidak terbantahkan saat mengatakannya.


Tanpa keduanya sadari, Naka yang hendak pulang ke kantornya. Melihat perdebatan antara Senja dan Darren. Dalam hatinya mulai timbul pertanyaan, dan pada akhirnya laki-laki itu menepok jidatnya begitu menyadari untuk pertama kalinya, bahwa anak yang menggoda putrinya wajahnya sangat mirip dengan Darren Mahendra.


Merasa ada kesalahpahaman Naka pun berniat untuk membantu meluruskan. "Maaf pak Darren, kalau saya tidak salah menebak, mamanya Dasen ini istri Anda, bukan?" tanya Naka dengan hati-hati.


"Benar." sahut Darren dengan cepat.


"Maaf, kami hanya menyelesaikan masalah anak-anak. Jadi Dasen merusak sepeda Brompton milik putri saya. Setelah dari sekolah, kami sepakat berdamai. Bu Senja dan saya hanya membicarakan ganti rugi sepeda yang di rusak Dasen. Hanya seperti itu. Tidak lebih." ucapan Naka, sungguh tidak menolong Senja sama sekali. Bahkan dia lebih memilih dituduh selingkuh, daripada harus memberi tahu kenakalan Dasen yang terakhir kalinya.


"Saya sebagai Daddynya Dasen, meminta maaf pada Anda dan putri Anda, Pak Nuka. Saya akan memastikan Dasen tidak akan mengulanginya lagi. Kami permisi." Darren kembali mengajak Senja berjalan ke gedung sebelah kantor Naka. Ternyata di situ berdiri sebuah hotel bintang lima.


"Ask ... buat apa kita ke hotel?" Senja bergidik membayangkan hukuman yang akan diterimanya.


"Jangan membayangkan aku akan semudah itu. Kali ini aku tidak ingin bermain-main lagi," tegas Darren.


Setelah melakukan Check in mendadak, Keduanya langsung memasuki sebuah kamar. Sungguh hal yang aneh, kalau hanya untuk bertengkar seharusnya pulang dengan waktu tempuh hanya 25 menit, ketimbang harus mebayar lima juta rupiah tidak untuk satu malam pula.


"Dasen tidak nakal, Ask. Dia hanya melakukan hal konyol dan di luar nalar. Dia tidak pernahe melakukan sesuatu yangelanggar norma agama atau sosial," bela Senja.


"Berhenti menganggap kekonyolannya masih bisa dimaklumi, Ask ... kita akan keluar uang puluhan juta untuk mempertanggungjawabkan kenakalannnya, itu kamu anggap biasa? kekonyolannya bisa jadi biasa, tapi itu mampu membuatmu berbohong dan bersama laki-laki lain tanpa seijin suamimu." Darren terlihat sangat marah.


"Senja tidak akan berbohong jika kamu bersikap lebih terbuka. Andai kamu tidak selalu mengancam akan memasukkan Dasen ke asrama, Senja juga tidak akan sembunyi-sembunyi seperti ini. Senja tidak akan membiarkan siapapun memisahkan Dasen dengan Senja. Jika kamu mengirim Dasen ke asrama, Senja pun akan ke luar dari rumah kita. Jangan pernah lupa, kamu juga butuh proses untuk bisa menjadi sebaik sekarang. Apapun kenakalanmu mama dan papa tidak pernah mengirimmu ke asrama," tegas Senja, lalu membalikkan badannya membelakangi sang suami.


"Setiap orangtua mengingingkan anak-anaknya lebih baik, Ask ... begitu pun aku. Kamu tidak bisa menghalangiku untuk bersikap tegas pada anak itu."


"Tegas? dengan mengirimnya ke asrama? kamu terlihat seperti orangtua yang lemah, karena tidak mampu mendidik anak maka melemparkan tanggung jawab itu pada orang lain yang kamu nilai di sana lebih baik. Begitu? Jika aku melakukan hal yang sama pada semua anak kita, apa kamu akan terima? bagaimana kamu mengistimewakan Beyza, seolah dia tidak boleh terluka. Itu juga salah." Senja kembali menyerang suaminya.


"Karena Bey anak gadis, Ask .... Tahukah kamu, kalau Bey dan Der juga merasa kamu terlalu membela Das?" tanya Darren, sifat keras kepala istrinya semakin menjadi sekarang.


"Aku tahu ... tapi Bey dan Der tahu persis aku juga tidak pernah mengabaikan mereka." Senja menjawab dengan enteng.


"Kamu berubah Ask. Kamu tahu salah, bahkan kamu tidak mengucaokan maaf padaku." Darren ingin marah, kecewa tapi tidak sanggup.

__ADS_1


"Seorang Ibu bisa melakukan apapun demi anaknya, dia sanggup kehilangan segalanya agar bisa mempertahankan seorang anak." Senja menatap tajam suaminya. Lalu mengambil dan menyalakan ponsel yang sedari tadi dimatikannya. Hendak menelpon Zain, karena tidak ingin menambah beban pikiran sang anak.


Darren hanya menatap wajah istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya merasakan nyeri yang luar biasa saat mendengar istrinya mengatakan sanggup kehilangan apapun demi seorang anak. Bahkan istrinya lupa kalau dia juga ayah dari anak yang sedang dilindungi mati-matian.


Senja berbicara agak lama melalui sambungan teleponnya. Terlihat serius dan raut wajahnya pun sedih. Dulu Darren mengira, ketika anak-anak sudah besar, kehidupannya dan Senja akan lebih romantis karena akan lebih banyak meluangkan banyak waktu berdua, nyatanya. Lebih sering Darren merasa diabaikan.


"Zain memutuskan untuk memajukan pertunangannya beberapa hari ke depan." ucap Senja.


Darren menatap istrinya dengan tajam. "Dia tidak butuh pendapatku bukan? Aku juga tidak mau ikut campur dengan pilihannya."


Senja pun tidak mau membahas lagi, dia tahu persis Darren sangat tidak menyetujui hubungan Zain dengan Airin. Membahas tentang mereka dengan Darren hanya akan sia-sia.


"Senja minta maaf karena membohongimu, tapi Senja tidak menyesal melakukannya. Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa mengirim Dasen ke asrama." Senja duduk di samping Darren, dia sudah kembali menyebut dirinya sendiri dengan nama.


Darren tersenyum kecut. Cinta pada istri di dirinya semakin bertambah, tapi kenapa dia malah merasa Senja lebih memprioritaskan anak-anak dengan porsi yang sangat tidak seimbang. Bagian dirinya terlalu kecil.


"Ask ... Aku ingin kita liburan. Berdua saja," ajak Darren.


"Setelah Zain bertunangan." Senja menjawab tanpa berpikir.


"Terserah kamu. Soal Dasen, please jangan lakukan lagi. Kita ambil jalan tengah, jangan pernah berbohong padaku dan aku tidak akan mengirimnya ke asrama. Kalau sampai kamu membohongiku lagi, aku akan benar-benar memisahkan kalian sementara. Aku tidak peduli kamu akan melakukan apa, tapi aku tidak mau istriku menjadi pembohong." Darren pun sedikit melunak. tapi ucapannya begitu tegas.


"Kali ini, aku sepakat," sahut Senja.


"Kalau sepakat, sini .... Jangan membuang uang percuma, sewa room ini mahal. Sepreinya harus ternodai dan diacak-acak, biar mereka tidak memakan gaji buta." Darren menepuk pahanya.


Senja terlalu hafal dengan kelakuan suaminya, menjelang enam puluh tahun itu hanya angka, tapi urusan naga dia masih sangat kuat di usianya. Dia pun menuruti saja kemauan suaminya. Duduk mengalungkan tangannya dileher sang suami, menautkan dua bibir mereka, saling bertukar ludah dan melilitkan lidah.


Tangan Darren mulai membuka resleting belakang dress yang kenakan Senja, menurunkan hingga ke siku, lalu membuka penutup dua benda yang menonjol masih sangat kencang berkat perawatan dan juga uang tentunya. Senja tidak menambah ukuran, hanya melakukan perawatan dan sentuhan teknologi kecantikan untuk membuat dua benda favorit suaminya itu tidak mengendur termakan usia.


Seorang Darren tetap tidak akan mau merugi. Di situasi dan kondisi apapun, endingnya dia harus merasakan kenikmatan. Pikiran dan hati Senja boleh terbagi untuk anak-anaknya, tapi untuk urusan yang satu ini. Darren akan memastikan Senja tidak akan sanggup untuk berpaling dari dirinya.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Yang masih kangen dengan keluarga ini, boleh lanjut ke karya author yang berjudul "Hot Family"

__ADS_1


__ADS_2