
Pernikahan Chun Cha dan Aleandro mendekati hari H juga. Tinggal menghitung hari tidak sampai lima jari, pernikahan mereka akan berlangsung. Pernikahan yang sedianya dilakukan pada awal bulan, akhirnya mundur sampai awal bulan berikutnya lagi, dikarenakan ketersediaan gedung yang selaku penuh dengan jadwal yang di inginkan.
Usia Dasen sudah tiga bulanan lebih sedikit, pola tidurnya sudah lumayan teratur. Dasen masih sepenuhnya di bawah pengasuhan Senja, karena baby sister masih belum ada yang sesuai dengan keinginan Darren yang seabrek.
Hutama sudah bisa berjalan dan berbicara meskipun belum senormal dulu.
" Ask, bangun.... Sudah subuh " bisik Darren. Sudah beberapa subuh, Senja sulit dibangunkan. Minggu ini Senja sedikit menjadi pemalas.
Bukannya bangun, Senja malah menarik tanganb Darren untuk memeluknya dari belakang. Dia meletakkan tangan suaminya itu tepat di salah satu bagian kenyal di dadanya.
" Ask...Tolong jangan menggodaku " bisik Darren. Tapi ucapan dan tindakan selalu tidak sinkron. Mulutnya menolak, tapi tangannya tidak. Minggu ini Senja lebih banyak meminta dan menuntut, bukannya kewalahan justru ini sangat menyenangkan bagi Darren. Jam tidur berkurang pun jadi tidak masalah.
" Ask..Sepertinya berat badanmu bertambah lagi ya ? " bisik Darren di sela - sela kesibukan tangannya membuka daster milik Senja.
" Maksudmu aku gendut ? " tanya Senja sedikit kesal.
" Bukan Ask, kamu tahu semakin kamu gendut aku semakin senang. Tidak mengurangi kecantikanmu sedikitpun, kamu gendut aku pun tenang. Setidaknya orang tau, kamu sudah mempunyai anak dan suami. Tidak mengira masih perawan terus " jawab Darren, sekarang tangannya sudah menurunkan celana boxernya sendiri. Karena tubuh istrinya kini sudah dalam posisi ready.
Darren memiringkan tubuhnya, sedangkan tubuh Senja tetap miring membelakanginya. Darren mengarahkan kepemilikannya lalu menghentakkan pinggulnya perlahan. Senja sedikit mengangkat kaki kanannya, membuat penyatuan itu semakin sempurna.
" Jangan ramai - ramai. Dasen sebentar lagi waktunya bangun " bisik Senja. Darren terus menghentakkan pinggilnya, dengan tangan yang terus lincah mere*** bagian tubuh Senja yang rasanya semakin bulat penuh. Senja mengeliat, Darren pun menghentak lebih cepat. Penyatuan pun berakhir dengan ******* sepuluh menit kemudian. Mereka melanjutkan dengan mandi bersama. Benar - benar mandi bersama, karena takut mereka akan kehabisan waktu subuh.
Darren sudah ke atas untuk membangunkan Zain, Senja memangku Dasen yang memang sudah waktunya bangun.
Senja menitipkan Dasen pada Wati. Lalu menyusul Darren dan Zain untuk sholat subuh di atas. Dasen lumayan anteng kalau sama Wati. Darren masih mempertimbangkan untuk mengangkat Wati jadi baby sister Dasen. Lebih mudah mencari asisten rumah tangga baru ketimbang mencari pengasuh yang bisa dipercaya untuk anaknya.
." Dadd... Ma...Minggu depan Zain ada study tour pengenalan cara pengolahan produk susu di Malang. Siapa yang akan menemani Zain ? " tanya Zain.
__ADS_1
" Kenapa jauh sekali ? " tanya balik Senja.
" Karena kita mau melihat langsung cara sapinya di ternak, sampai bagaimana caranya bisa menghasilkan produk " jawab Zain.
" Sama Daddy bisa kan ? " Senja melirik suaminya.
" Bisa diatur. berapa hari Zain ? " tanya Darren.
" Tiga hari saja Dadd, jumat sampai minggu saja " jawab Zain sangat bersemangat.
" Astaga, tiga hari masih diimbuhi kata saja. Itu cukup lama Zain, Daddy butuh daster yang dipakai mamamu seharian penuh agar bisa tidur pulas " jawab Darren. Senja langsung mencebikkan bibirnya.
" Ask, Wati biar jadi baby sisternya Dasen ya ? daripada nyari baru. Aku susah percaya kalau sama orang baru megang anak kita " ucap Darren.
" Terserah, kalau Watinya mau ya gpp. Senja laper Ask, mau turun dulu. Zain mau sarapan roti atau nasi ? atau sama seperti daddy ? " tanya Senja pada anak pertamanya.
" jus tomat wortel sama oatmeal dicampur susu saja. Mama sedang tidak ingin memasak " jawab Senja, santai.
Darren hanya pasrah mendengarnya, sudah lima hari dia diberi menu sarapan yang sama dengan alasan kepraktisan karena kemalasan yanh melanda. Senja yang biasanya rajin semakin malas sekarang. Bahkan tidak ada usaha sedikitpun untuk melawan kemalasannya. Darren tidak ingin protes, meskipun sedikit terganggu karena menu makanannya menjadi sangat membosankan. Siang hari berturut - turut dia mendapatkan spaghetti saus daging cincang plus mushrom. Malam hari steak daging tanpa lemak dan kentang tumbuk. Sungguh tidak seindonesia biasanya, padahal Darren dan Senja sama - sama penggila masakan Indonesia.
" Wat, kamu betah tidak kerja di sini ? " tanya Senja sesampainya di bawah. Wati dengan telaten menggendong Dasen yang lehernya sudah kuat dan tegak.
" Betah sekali bu " jawab Wati.
" Wat maaf ya pak Darren tidak mau kamu jadi asisten rumah tangga di sini lagi " ucap Senja seraya mengelus - elus punggung Dasen.
" Saya salah apa bu ? tolong jangan pecat saya bu. Saya masih butuh biaya untuk ibu bapak saya. Kalau saya ada kekurangan, tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki " Wati pun mengiba.
__ADS_1
" Kesempatanmu sebagai asisten rumah tangga sudah habis Wat, tapi kalau kamu memang betah di sini. Masih ada posisi lain " ucap Senja, sengaja membuat Wati sedikit bermain emosi.
" Posisi apa bu ? Saya mau " jawab Wati semangat.
" Mau tidak kemana - mana saya pergi kamu ikut ? " tanya Senja pelan, tapi sedikit agak horor di telinga Wati. Sudah menjadi rahasia umum para driver, dan beberapa asisten bagian bersih - bersih kamar kalau atasannya sering melakukan ciuman - ciuman di waktu dan tempat yang mereka sanggup mengabaikan keberadaan orang lain. Wati masih perawan, jangankan menikah pacaran saja belum pernah haruskah Wati merelakan telinga dan matanya ternodai secara langsung. Padahal mendengar kasak kusuk para driver saja dia sudah merinding.
" Memangnya kenapa saya harus ikut kemanapun ibu pergi ? " tanya Wati dengan polosnya.
" Karena kamu akan menjadi baby sisternya Dasen. Kamu mau tidak ? "
Mata Wati seketika berbinar - binar, Wati sering berandai - andai berada di posisi baby sister baby De, yang sering di ajak mondar mandir ke negara S dulu. " Mau banget bu " jawabnya.
" Syukurlah kalau begitu. Kamu bisa memulainya hari ini langsung. Jangan khawatir, Dasen tidak sepenuhnya sama kamu. Kayaknya akan lebih dominan malam hari " jelas Senja.
" Saya pakai seragam kan bu. Kalau ada seragamnya yang warna merah marun ya bu. Biar kulit saya nggak kelihatan kusem. Kata orang saya bagus kalau pakai warna marun. warna kulit saya jadi kelihatan terang " cerocos Wati.
" Iya nanti pesan khusus ke penjahit Wat kalau kamu request warna. Sekarang tolong kamu mandikan Dasen dulu ya, saya mau nyiapin baju kerjanya bapake " ujar Senja seraya berjalan kembali ke kamarnya.
Saat wati membuka laci tumpukan pampers, Wati agak heran melihat tumpukan pembalut majikannya masih utuh. Biasanya, menjelang awal bulan pembalut itu sudah tinggal separonya.
" Maaf bu Senja, berarti bulan ini Wati tidak perlu menambah list pembalut di belanjaan bulanan Ibu ya " ucap Wati hati - hati.
" Kenapa Wat ? " tanyanya heran. Wati memang asisten rumah tangga yang selalu mencatat kebutuhan rumahnya dengan detail untuk belanja bulanan.
" Itu masih utuh bu, sepertinya tidak dipakai sama sekali " jawab Wati.
Senja langsung mengecek kebenaran ucapan Wati, lalu melihat kalender meja di atas nakasnya. Mengingat - ingat sesuatu.
__ADS_1
" Tidak mungkin...."