
Senja membuka pintu hotel yang baru saja di ketuk tiga kali.
"Silahkan masuk pak," ucap Senja begitu melihat Firly yang datang dengan menenteng papar bag di tangan kanan dan kirinya.
Senja mempersilahkan Firly untuk duduk. Kamar hotel Senja tidak terlalu besar, hanya ada satu sofa yang panjangnya tidak lebih dari satu meter.
Firly mengeluarkan isi paper bagnya di atas meja, berbagai makanan indonesia mulai dari urap-urap, lodeh nangka muda, ayam goreng, rempeyek, sambal telur balado sampai sayur pepaya rebus lengkap dengan sambal bawangnya. Tentu saja di tambah jajanan pasar seperti klepon, onde-onde, lapis dan risoles.
Senja menelan ludahnya sendiri. Dia sangat merindukan makanan-makanan itu.
"Makanlah! Aku tahu kamu pasti belum makan," Firly menatap Senja dengan lembut.
"Bapak sudah makan? Kalau belum kita bisa makan bersama. lni tidak akan habis untuk kita berdua," ajak Senja sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul tujuh lewat 15 menit. Darren tidak mungkin datang. Karena yang Senja tahu, sebenarnya Darren sangat on time.
Firly menggeser bokongnya, memberikan ruang untuk Senja duduk. Tapi Senja tidak melakukannya, karena takut dia tidak bisa mengontrol perasaannya seperti tadi.
Senja mengelap piring yang juga dibawakan oleh Firly. Sikap dan perhatian yang dilakukan Firly kali ini benar-benar semirip dengan sikap Rafli.
Senja mengambilkan makanan untuk Firly tanpa bertanya, lalu menyodorkan piring itu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Firly menerima dengan tatapan lembut. Senja berdiri dan mengisi mangkok kecil yang juga di bawa Firly dengan air wastafel. Senja kembali mengisi piring kosong dengan makanan untuk dirinya sendiri.
Perempuan itu menaruh piring berisi makanan di pangkuannya, begitu juga dengan Firly. Keduanya menunduk dan membaca doa serta mengucap syukur sebentar. Gerakan yang mereka lakukan hampir bersamaan. Senja mulai berfikir ini tidak lagi kebetulan, di tambah lagi Firly pun makan dengan tangannya langsung, tanpa menggunakan sendok seperti dirinya.
Senja memandang tajam dan lekat ke arah Firly yang begitu menikmati makanannya. Untuk ukuran orang yang mengaku hanya sesekali pernah berkunjung ke Indonesia, apa yang dilakukan Firly sangat kontras dengan pernyataannya itu. Firly yang sadar Senja sedang menatapnya menghentikan makannya.
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanyanya santai.
"Tidak ada! Bukankah bapak tidak percaya adanya kebetulan?" tanya Senja. Dia baru teringat bahwa Firly pernah mengatakan tidak ada yang namanya kebetulan.
"Benar. Tidak ada kebetulan di dunia ini," jawab Firly seraya memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
__ADS_1
Senja pun segera menyelesaikan makannya, entah kenapa naluri Senja mengatakan Firly adalah Rafli. Senja mencuci tangannya di wastafel lalu membukakan botol air mineral dan memberikannya pada Firly. Kemudian mengambil botol yang lain untuk dirinya sendiri.
Setelah merapikan mejanya kembali, Senja duduk tepat di samping Firly. Kali ini Senja lebih berani menatap wajah Firly. Ada keraguan sekaligus keyakinan yang berkecamuk di pikiran Senja sekarang.
"Kamu mau ngomong apa? Jangan Panggil aku pak, panggil saja mas. Terdengar lebih manis," ucap Firly membuka pembicaraan.
"Ada dua hal penting yang harus saya bicarakan. Saya tidak mau basa-basi. Saya mau minta maaf sama mas Firly," ucap Senja to the point.
Firly mengerutkan keningnya. Merasa Senja tidak pernah berbuat salah padanya.
"Chun Cha tau kalau mas Firly tadi mengantar saya pulang. Kami berdebat, Nyonya Bae mengusir saya setelah saya berhasil membuat Chun Cha marah dengan kebohongan saya." Senja memulai ceritanya dengan hati-hati.
"Kebohongan apa?" Tanya Firly penasaran.
Senja melirik jam tangannya kembali. Pukul delapan kurang 20 menit. Darren benar-benar tidak datang. Pikiran Senja kembali negatif. Darren pasti tidak merasa bersalah sama sekali .
"Kebohongan apa Senja?" Tanya Firly sekali lagi, membuyarkan lamunan Senja.
Firly memegang dagu Senja lalu mengangkatnya perlahan hingga mata Senja dan matanya kembali beradu.
"Kalaupun kamu tidak memberitauku, aku akan mengiyakan kalau Chun Cha datang dan bertanya padaku. Aku sudah pernah mengatakan, kamu boleh menganggapku siapa saja yang kamu mau." Firly mengucapkan dengan tatapan yang begitu dalam.
"Baiklah! Saya lega sekarang. Tapi ada satu hal lagi yang mengganggu pikiran saya sekarang," lirih Senja, agak hati-hati.
"Apa lagi? Jangan sampai ada yang mengganggu pikiranmu. Cukup aku yang mengganggumu," goda Firly.
"Ini memang tentang mas Firly. Siapa mas Firly sebenarnya? Tidak ada kebetulan bukan di dunia ini? Kenapa mas Firly begitu mirip dengan mas Rafli. Tidak hanya wajah, tapi pelukan mas Firly sama hangatnya dengan pelukan mas Rafli. Makanan-makanan ini, hanya mas Rafli yang memahami saya sebaik ini, dan cara makan mas Firly, sama persis dengan mas Rafli. Tidak ada yang kebetulan. Saya tidak akan mudah percaya kali ini. Tolong jujur, siapa mas Firly sebenarnya?" Senja menatap pria di depannya itu penuh selidik.
Firly tersenyum, dia sudah mempersiapkan dari jauh hari. Saat seperti ini pasti akan terjadi begitu dia memutuskan dekat dengan Senja. Mungkin memang sekarang ini lah saatnya berbicara.
__ADS_1
"Maafkan Rafli sebelumnya. Mungkin dia tidak pernah bercerita apapun tentang aku sama kamu. Rafli dan aku adalah saudara kembar. Kami tidak terlalu sering bersama. Kami hidup terpisah dari kecil. Hanya keluarga inti yang tau kami kembar. Karena memang kami tidak pernah hidup bersama." Firly berhenti sejenak, memastikan Senja masih mendengar dan menatapnya dengan fokus, karena Senja beberapa kali terlihat melirik jam tangannya. Seperti sedang memunggu kehadiran seseorang.
"Aku dibesarkan oleh adik papaku yang memang tidak bisa punya anak. Saat mengetahui mama mengandung bayi kembar, papa sudah berjanji akan memberikan salah satu dari kami untuk mereka. Dan akulah yang diberikan. Tapi aku dan Rafli selalu berkomunikasi. Apalagi menjelang kematiannya, Rafli seperti sudah punya firasat kalau akan meninggalkan kamu. Rafli banyak bercerita tentang kamu, betapa dia sangat mencintai kamu. Bahkan dia rela jauh dan terbuang dari keluarga demi kamu.".Firly kembali menjeda penjelasannya, lalu meneguk habis sisa air mineral dibotolnya.
"Saat itu aku tidak terlalu peduli, Sampai akhirnya kamu mengejarku di bandara. Saat kamu di maki Khsca, Aku melihat dirimu yang memandangku dengan pandangan penuh cinta. Mulai dari situ, aku banyak mencari informasi tentang kamu. Aku membaca buku harian Rafli tentang kamu. Buku yang sebelumnya aku abaikan. Dari sana aku tahu semua tentang kamu. Tidak ada yang terlewat di sana," jlelas Firly panjang lebar membuat Senja tidak bisa membedakan kenyataan atau kebenaran yang sedang di dengarnya saat ini.
"Benarkah? Kenapa mas Rafli tidak jujur saja waktu itu padaku? Tanya Senja dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Firly. Entah Senja ragu atau percaya pada apa yang dia ucapkan.
"Kalau kamu tau, papa mamaku akan semakin menekanmu, Nja. Mengetahui kehidupan keluarga kami lebih dalam, malah akan membuat hidupmu tidak tenang. Mereka tidak suka privasi kami banyak tau." Firly mencoba berkilah.
"Tentu saja. Mereka tidak pernah menganggap saya ada. Bagaimana mungkin mereka berbagi cerita sebesar ini pada saya," lirih Senja. Segala tentang Rafli selalu mampu membuatnya lemah seketika .
"Walaupun mereka menerimamu, mereka tetap tidak akan menceritakan hal ini padamu. Tidak akan! Maafkan Rafli Senja. Sekarang, yang penting kamu sudah tau siapa aku," ucap Firly, memberanikan diri meraih tangan Senja dan menyatukan dengan tangannya.
"Saya akan selalu sanggup memaafkan mas Rafli. Dia laki-laki terbaik yang saya kenal. Laki - laki yang jarang mengucapkan maaf karena memang tidak pernah sekalipun mengecewakan saya dalam hidupnya." Senja tersenyum sendu tapi di akhiri dengan menggigit bibir bawahnya. Menahan sesak kerinduan yang selalu menyeruak tanpa kendali ketika intens membicarakan tentang Rafli.
"Aku berharap aku bisa seberuntung Rafli.Bisa di cintai perempuan sebaik kamu. Aku selalu berharap kamu bisa jatuh cinta padaku. Aku berharap kamu memandangku dengan penuh cinta sebagai Firly, bukan sebagai Rafli. Aku serius! Aku jatuh cinta padamu, Senja," ucap Firly, semakin membuat Senja tatapan menerawang.
Logika Senja menerima penjelasan Firly, tapi nalurinya mengatakan yang di depannya saat ini adalah Rafli. Senja memejamkan matanya.
"Cium Senja mas Firly! Yakinkan Senja, sedang bersama siapa Senja saat ini," pinta Senja, tegas tetap dengan memejamkan matanya.
Meski sudah 4 tahun lebih Senja tidak berciuman dengan Rafli. Tapi Senja masih ingat jelas bagaimana rasanya.
Firly menarik nafasnya dalam. Menatap wajah Senja yang terus memejamkan matanya, seolah sedang memasrahkan bibirnya pada Firly.
Senja membuka matanya, melihat wajah sendu Firly yang sepertinya enggan menciumnya. Tanpa berfikir panjang, Senja mengecup lembut bibir Firly yang mengatup rapat. Senja semakin merapatkan tubuhnya mencoba menggoyahkan pertahanan Firly. Dia menggigit pelan bibir bawah pria itu, tapi Firly tidak bereaksi. Senja mengalihkan tangannya ke dada Firly, mengusap lembut naik turun sambil terus merekatkan bibirnya dengan bibir Firly yang tidak banyak bereaksi.
Firly dengan apa yang dipikirkannya, mendorong tubuh Senja hingga ke sandaran sofa. Lalu *****4* kasar bibir Senja. Ciuman mereka semakin dalam, dengan lidah yang semakin membelit. Desah lembut suara Senja lolos begitu saja tiap kali mereka melepaskan ciuman untuk mengambil nafas sejenak. Tangan Firly mulai ingin menyentuh bagian sensitif Senja, tapi Senja mendorong tubuh Firly.
__ADS_1
"Auwwwww ... ," teriak Senja.
Firly berdiri, memunggungi Senja yang sedang memegang bibirnya yang sedikit berdarah. Seketika air mata lolos jatuh dari mata Firly.