
" Hai Na, sendirian saja ? mana Dava ? Sudah lama kamu nggak ke rumah, Pernikahanku pun kamu nggak dateng. Kamu harus ke rumahku sesekali. Ada titisan Darren di rumah " cerocos Darren pada perempuan yang menyapanya. Nama perempuan itu Naina, anak dari kakak kandungnya Sarita. Berarri Naina adalah sepupu perempuan Darren.
" Kok kamu bisa di sini Darr, temennya pengantin pria atau wanita ? " tanya Naina penasaran.
" Nggak hanya temen Na, ini pesta aku sama biniku yang keluar uang. Yanes asisten pribadiku. Mengabdi sudah delapan tahun. Banyak rahasia pribadiku yang tersimpan dalam kepala pengantin pria itu " jelas Darren bertele - tele.
" Owh Yanes asistenmu to, Yanes temennya Dava Darr pas kuliah dulu. Kapan - kapan aku mampir ke rumah bibi deh, Dava masih di luar negeri soalnya " ucap Naina ramah.
" Zain kenalin ini aunty Naina, sepupunya daddy Dar " ucap Darren pada Zain.
" Hallo aunty Naina. Kenalin aku Zain " ucap Zain ramah, mengulurkan tangannya pada Naina. Di sambut ramah oleh Naina.
" Paket combo ya Darr binimu ? buy one get one free ? " bisik Naina, yang tidak pernah mengikuti gosip di group whatsapp keluarga.
" Yupsss...Kamu harus ketemu sama biniku. Kalau bisa jangan ngajak Dava, aku takut Dava pandangan mata Dava sejenak teralihkan " ucap Darren konyol.
" Kamu sedang menjagaku, atau menjaga dirimu sendiri ? " selidik Naina.
" Kita berdua " ucap Darren singkat.
" Zain... Zain kan namanya ? Kamu ganteng sekali nak. Boleh aunty Na minta Zain elus perut aunty Na ? di perut aunty ini ada calon dedek bayi. Siapa tau di elus sama Zain cakepnya jadi sama " pinta Naina.
" Aku juga cakep Na. Tapi percuma juga mau di elus - elus berapa kali, orang bapaknya Dava. Polll gantengnya ya kayak Dava. Siap - siap Na, anakmu bulet menggemaskan kayak boboho " sahut Darren.
" Gantengnya lakik kan beda - beda Darr. Standartnya beda. Kalau Dava kan gantengnya lokal, aku pengen sedikit berbau interlokal kayak Zain gini " Naina mencubit pipi Zain gemes.
" Yang penting suplier sama cetakannya Na, bukan siapa yang elus - elus " Zain hanya menyimak perdebatan keduanya, sambil terus menghabiskan sup di mangkoknya. Darren lupa Zain tidak bisa makan kepiting, sekujur tubuhnya pasti akan bentol - bentol merah beberapa jam kemudian disusul dengan sesak nafas. Darren dan Zain sama - sama tidak menyadari kalau sup asparagus di depan mereka mengandung daging kepiting.
__ADS_1
" Ya sudah duluan ya Darr, temenku kelamaan nunggu ntar. Kapan - kapan akubmain ke rumahmu. Salam buat binimu ya. Bye Zain, papamu pasti lebih keren dari daddy Darr ya. Kamu cakep sekali " ucap Naina keukeh menolak kegantengan sepupunya.
" Sama kerennya aunty " sahut Zain cepat, demi menghindari konflik lebih lanjut.
Zain dan Darren kembali menikmati makanan mereka tanpa gangguan suara cempreng Naina. Sesekali keduanya tertawa lepas, keakraban yang terjalin begitu alami. Membuat orang lain yang melihat tidak akan menyangka kalau mereka adalah ayah dan anak sambung.
Darren menyayangi Zain secara alami. Darren bukan tipikal laki - laki yang menyukai anak - anak. Kedekatannya dengan seorang anak tidak mungkin bisa terjalin tanpa kasih sayang yang tulus dari hatinya. Darren memang tidak berubah, di luar dia tetaplah laki - laki berwibawa, angkuh dan cenderung seenaknya sendiri. Tapi di depan keluarga kecilnya dia adalah sosok yang sangat hangat dan penyayang.
Chun cha dan Aleandro pun sibuk dengan baby De, mereka bergeser agak jauh mencari tempat yang lebih tenang sesaat setelah Naina menyapa Darren tadi. Baby De tidak terlalu menyukai keramaian.
lima belas menit berlalu, Zain mulai merasakan badannya tidak nyaman.
" Dad, badan Zain gatal " bisik Zain pelan.
" Yang sebelah mana Zain ? " tanya Darren.
Darren mengusap - usap punggung Zain dengan telapak tangannya.
" Kita pulang saja Dad, mungkin baju Zain terkena semut " ucap Zain lagi.
" Baiklah, Kita pamit dulu sama om Yanes " ajak Darren.
Setelah berpamitan Darren dan Zain pun kembali pulang ke rumah lebih cepat dari waktu yang diperkirakan Senja. Zain langsung naik ke atas karena ingin langsung berganti baju.
" Zain, minta mbak sust kasih bedak gatel di badanmu " ingat Darren, sebelum Zain menekan tombol dua di dalam lift rumah mereka.
Sebelum masuk ke kamarnya, Darren berganti baju dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Kok pulangnya cepet Ask ? " tanya Senja.
" Iya Ask, Zain ngajak pulang. Owh ya Ask tadi aku ketemu Naina, sepupuku. Kamu belum pernah ketemu karena dia tidak bisa datang saat pernikahan kita. Dia titip salam sama kamu. Kalau suaminya datang, dia akan main ke sini " ucap Darren.
" Iya Ask. Sepupumu banyak, tapi aku hanya mengenalnya beberapa. Keluarga mama Sarita sangat besar, kalau ada reuni harusnya kalian menyewa sebuah lapangan bola " ucap Senja.
Dasen mulai tidak nyaman di boxnya, lidah mungilnya terus menjulur keluar, mencari - cari sumber kehidupannya. Senja kembali mengangkat tubuh hembul Dasen. Belum genap dua puluh hari berat badannya sudah bertambah 1800gram. Senja meletakkan bantal di pangkuannya, memposisikan kepala Dasen dengan tepat, lalu mengeluarkan bagian tubuhnya yang bertambah size sejak Dasen menyusu aktif.
" Das, kapan giliran Daddy kalau kamu nempel mamamu terus ? Seneng ya Das lihat daddy nggak bisa manja - manja sama mama ? Sepertinya Das marah karena daddy gak nungguin mama pas lahiran ya ? Das kan tau daddy dan mama Nja accident waktu itu. Apa Das lupa, daddy rutin jenguk Das tiap malam waktu masih dalam perut mama Nja ? " cerocos Darren, konyol. Satu bantal melayang otomatis tepat mengenai wajah Darren.
" Ask, kita ambil baby sister saja ya. Aku kok nggak tega ya lihat kamu. Tidurmu nggak teratur banget Ask, kamu butuh rilex. Tapi rilex juga belum bisa, hanya aku yang bisa membuatmu rilex Ask. Tunggu ya, sabar masih sebulan lagi " Darren kembali berucap konyol, seharusnya kata - kata itu lebih tepat untuk dirinya sendiri. Karena dia yang sudah membutuhkan relaksasi dari istrinya.
Darren menambil potongan buah di atas nakas, lalu menyuapkan satu persatu ke mulut istrinya. Menurut Darren, setiap Dasen meminum Asinya, Senja juga harus mengisi perutnya. Darren tidak ingin keduanya kekurangan nutrisi.
Tergopoh - gopoh baby sister De, mengetuk pintu kamar Senja dan Darren.
" Bu Senja, pak Darren .. Zain tolong Zain " teriaknya dari luar pintu.
Darren melesat berlari lebih dulu meninggalkan Senja yang geraknya masih tidak bisa terlalu gesit. Senja berjalan cepat sambil menggendong Dasen menaiki anak tangga dengan terburu - buru. Menurutnya Lift malah akan membuatnya lama sampai ke kamar Zain.
Darren sampai lebih dulu di kamar Zain.
" Sust suruh driver siapkan mobil, cepat "
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Yang mau kasih vote, silahkan. mumpung hari senin. Yang gak ngasih gpp. like dan comment pun diterima.
__ADS_1
nb : episode di perpanjang karena otor lagi ngejar kata.