Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Kolam renang


__ADS_3

Yanes kembali ke kantor dengam wajah tiga kali lipat lebih murung dari saat berangkat tadi. Darren yang baru saja mengantar Kenzi ke lobby, menjadi ikut khawatir melihat ekspresi Yanes. Pikiran tentang kegagalan anak buahnya untuk meyakinkan Senja pun terlintas.


Malas bertanya langsung pada Yanes, Darren pun menanyakan pada Amar dan Ali.


"Bu Senja tadi bagaimana? apa dia mendiamkan kalian? apa yang terjadi kenapa muka Yanes seperti kertas diremas - remas begitu?" selidik Darren.


"Bu Senja menerima kami seperti biasa. Hangat dan memamerkan senyumnya sepanjang berbicara." Amar menggambarkan pertemuan dengan istri bosnya itu dengan sedikit hiperbola.


Darren mencebikkan bibirnya, merasa Amar berlebihan. Senja memang hangat, tapi senyumnya keluar di saat tertentu saja. Diakhir mengucap kalimat atau kadang diawalnya.


"Terus apa jawaban yang bisa kalian katakan tentang wajah Yanes sekarang?" Darren masih penasaran. Karena berhasil tidaknya sangat menentukan nasibnya sekarang. Jika berhasil, Darren akan langsung pulang saat ini juga.


"Urusan bapak aman, tapi pak Yanes yang tidak aman," jawab Ali, hanya secuil informasi yang diberikan.


"Kenapa bisa begitu?" rasa keingintahuan Darren semakim maksimal.


Amar akhirnya memberi tahu pada Darren hukuman yang diberikan oleh Senja untuk Yanes. Wajah Darren yang awalnya dipenuhi rasa penasaran dan sedikit tegang, perlahan mengendur dan tawa lepas pun lolos tak tertahankan. Jangankan melihat bagaimana Yanes besok, membayangkan saja membuatnya geli.


Setelah puas tertawa, Darren memutuskan untuk pulang ke rumah. Pekerjaan yang belum selesai dimandatkan pada ketiga pegawai kepercayaannya, Darren sudah tidak tahan ingin bermanja - manja dengan istrinya.


Sesampai di rumah, Senja tidak ada di kamar ataupun di dapur. Ternyata Senja berada di rooftop lantai lima rumahnya. Di sana memang ada kolam renang indoor dan tempat untuk olahraga. Senja sedang berenang untuk membantu memperlancar sirkulasi oksigen untuk janinnya, sedangkan Dasen di tempatkan di kasur pompa berisi mainan bersama Wati.


"Wat, ajak Dasen mainan di kamarnya saja," Darren memberikan perintah pelan - pelan.

__ADS_1


Senja tidak memperhatikan kehadiran suaminya,karena terlalu asik mondar mandir menyusuri kolam. Darren melepas kancing kemejanya satu demi satu, membukanya lalu melempar sembarangan. Dada dengan enam roti sobek itupun seketika terpampang nyata. Bulu halus yang ada di sepanjang dada hingga puser, semakin menegaskan kesan se*si maskulinnya.


Ikat pinggangnya pun dilepas,disusul lolosnya celana chinos hitam dari tubuh Darren. Menyisakan boxer hitam polos sejengkal dari pinggul sang empunya.


Byurrrr...


Suara seseorang menceburkan diri ke dalam air, menghentikan gerakan Senja. Reflek dia menoleh dan mencari siapa yang menyusulnya berenang.


"Kebiasaan!! kalau renang nggak pernah ajak - ajak." Darren membisikkan tepat di belakang daun telinga Senja. Tangannya sudah melingkar sempurna tepat di bagian bawah kedua bagian kenyal menonjol milik istrinya.


"Sudah pulang Ask???" suara tanya sedikit mendesah dari Senja, pasalnya bibir Darren sudah menjelah di tengkuk leher sampai punggung belakangnya dengan lembut.


"Kangen!" dengan suara yang sudah meresahkan, Darren menjawab singkat.


Senja membalikkan badannya, mereka saling berhadapan sekarang. Kedua tangan Darren melingkar di pinggul Senja, Ma Nja membalas dengan menahan tengkuk leher milik Daddy Darr dengan satu tangan. Sedangkan tangan satunya lagi naik turun mengusap lembut bulu dada yang lembut tersiram air.


"Tidak di sini Ask," bisik Senja, diakhiri dengan menelan ludahnya sendiri.


"Tentu saja! Kita hanya memulainya di sini." Darren menjawab sembari mendekatkan bibirnya pada bibir Senja.


Gayung bersambut, bibir Senja pun menyambut bibirnya dengan ramah. Senja memulai lumatannya. Darren membalasnya. Awalnya lembut dan perlahan, lama - lama semakin menggebu seiring suhu tubuh yang semakin memanas meski berada di dalam air. Lidah saling melilit, dengan jemari Darren yang sudah bermain - main di area favoritnya.


"Diterne tah gak iki, apes tenan mripatku. Ceplak cepluke mulai. Gusti...maju tah mundur iki penake. (dianter apa nggak ini, sial bener mataku. Cium - ciuman sudah dimulai. Ya Allah... Maju atau mundur ini enaknya)." Ani bergumam sambil membawa tiga gelas jus di atas nampan. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Ani memilih membawa minuman kembali ke dapur.

__ADS_1


Senja melepas tautan bibirnya. Perlahan menggandeng tangan Darren untuk naik. Dengan badan yang masih sangat basah, keduanya menyelinap ke ruang gym. Pergumbulan panas di siang menjelang sore pun dimulai di atas matras senam lantai. Tidak lama, tidak sampai sepuluh menit hasratpun usai untuk yang pertama. Keduanya melanjutkan sesi dua di kamar mandi. Sesi yang diawali dengan bergantian menggosok punggung dan berakhir seri di bawah kepemimpinan Senja.


Kini Darren dan Senja sudah berada di ruang keluarga sekaligus tempat bermain anak - anak, hanya ada Dasen yang sedang berlatih merangkak. Bukannya maju, Dasen malah lebih pintar jika merangkak mundur. Zain bersama Sarita dan Mahendra liburan ke puncak. Baby De hanya sesekali berkunjung sekarang. Kuasa baby De lebih banyak di tangan Aleandro dan Chun cha.


"Ask..Dompetmu ada di clutchku." Darren memulai percakapan mereka. Wajahnya terlihat segar dan berseri - seri dengan rambut yang masih basah.


"Kok bisa ask?" tanya Senja, sedikit heran.


"Jatuh di taxi online yang kamu tumpangi kemarin. Tadi drivernya telepon aku dan mengantar ke kantor," jawab Darren, tidak sepenuhnya jujur.


"Kok bisa teleponnya di kamu ask?" ternyata Senja tidak sadar kalau ponselnya tertukar dengan ponsel suaminya. Hari ini, Senja tidak memegang ponsel sama sekali.


"Ponsel kita ketuker, aku salah bawa. Ponselku mati seharian. Coba kalau nyala, kamu pasti mengantarnya ke kantor," jawab Darren.


"Syukurlah kalau nggak hilang, males ngurus kartu - kartunya lagi kalau hilang. Drivernya baik juga mau ngembalikan, sudah ganteng baik pula ternyata." Senja mengatakan seraya memberikan botol susu pada Dasen. Bayi enam bulan itu sudah pandai memeganginya sendiri.


Darren mendengus kesal. Tentu saja ganteng karena memang driver gadungan. Owner perushaan ternama pula.


"Tidak usah manyun gitu bibirnya, nyatanya yang ganteng memang bukan cuman daddy Darr. Apalagi yang cantik, di luar sana banyak banget. Mama Nja bukan satu - satunya, yang penting kita tahu hati kita milik siapa Ask. Mata bisa sekilas teralihkan, tapi hati ini sudah enggan berpaling. Terlalu betah." Senja mencubit mesra pipi suaminya. Senja tau betul suaminya selalu kesal kalau mendengarnya memuji laki - laki lain ganteng.


Darren kini sedang bimbang, untuk menyampaikan penawaran Kenzi atau tidak. Dalam hati dia ingin Senja yang memutuskan sendiri, tapi egonya mengatakan tidak perlu. Darren masih belum mempunyai bayangan bagaimana menjadi seorang Brand Ambasador. Dunianya tidak pernah berhubungan dengan dunia advertising.


"Ask, aku sudah baca - baca di internet. Kayaknya aku saja yang pasang pengaman biar kamu tidak hamil lagi setelah si kembar lahir." Darren malah mengucapkan hal lain dari apa yang dia pikirkan sekarang.

__ADS_1


"Vasektomi?" tanya Senja, mengerutkan keningnya. Darren mengangguk mantap.


"Enggak - enggak. Jangan," sahut Senja buru - buru.


__ADS_2