
Darren terus mendiamkan istrinya. Sepanjang perjalanan pulang, hanya menjawab seperlunya dan semaunya setiap pertanyaan yang dilontarkan Senja.
Sampai rumah pun Darren langsung ke lantai dua. Setelah berganti baju dia tidak langsung turun seperti biasa, Darren malah menyusul Zain di kamarnya.
" Sudah pulang dadd ? " tanya Zain menyapa daddynya dengan hangat.
" Sudah, barusan. Zain kenapa ? " tanya Darren. Zain terlihat sedikit murung.
" Dadd, Zain dapat surat panggilan orangtua besok " ucap Zain pelan sambil mengambil amplop putih dari tasnya.
Darren menerima amplop itu, membukanya lalu membacanya perlahan. " Kok bisa ? " tanya Darren heran, wajahnya serius membuat nyali Zain ciut.
" Zain bantuin temen Zain yang dibully, buku nayhan dicoret - coret sama Alex. Waktu Zain tegur baik - baik, badan Zain malah didorong. Zain balas lah dadd. Dasar Alex lemah, Zain sikunya juga luka tapi Zain tidak mengadu. Dia luka sedikit saja mengadu " jelas Zain meskipun agak takut tapi tetap berkata jujur.
" Temen Zain yang di bully cewek ya ? " tanya Darren.
" Iya dadd, kasihan. Tidak hanya bukunya yang dicoret - coret, kacamata Alea juga diambil. Dadd. Daddy saja ya yang bilang sama mama. Zain takut " pinta Zain.
Darren sebenarnya sedang tidak ingin bicara dengan Senja. Melihat wajah Senja, rasanya ingin mendorongnya ke atas ranjang lalu membuatnya minta ampun karena kewalahan. Setiap kali cemburu, hasrat Darren semakin besar.
Karena kepentingan Zain, Darren terpaksa turun menemui Senja. Istrinya sedang ada di dalam kamar mandi, sementara ponsel Senja bunyi pesan masuk berentetan masuk. Darren mengambil ponsel istrinya, membuka aplikasi pesan berwarna hijau.
Darren membuka semua pesan masuk yang ternyata dari Vano, Foto - foto lawas Senja pun bermunculan. Andai itu bukan dari Vano, dia akan berucap syukur dan berterimakasih. Foto - foto muda sangat menggemaskan. Ternyata Senja memang sudah cantik dan mempesona sejak dari jaman dulu.
Senja keluar dari kamar mandi dengan memakai daster batik di atas lutut tanpa lengan, Darren tidak ingin fokus melihatnya. Senja harus tahu, menakhlukkan kemarahannya tidak semudah menggerakkan tangannya sekarang.
" Ask, ini Vano pasiennya sudah habis ya. Buat apa ngirim pesan terus ? " tanya Darren ketus.
" Tanya saja sendiri Ask " jawab Senja enteng.
" Ish, nggak penting banget. Ini dia kirim foto - foto culun jaman SMA mu " ucap Darren tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
__ADS_1
" Kayak kamu nggak culun saja waktu SMA " sahut Senja tidak mau kalah.
" Aku selalu keren Ask " jawab Darren, sambil menyisir rambut depannyabke belakang menggunakan jemarinya.
" Benar. Darren Mahendra sudah keren sejak jadi kecebong " sahut Senja, duduk disamping suaminya.
Darren agak bergeser, Jaga jarak karena tegangan terlalu tinggi. Situasi sedang menuntutnya ke dalam mode sedingin es teh manis. Tidak mau terpancing ke dalam godaan halalnya.
" Ask, cemburu ya ? memangnya sikap Senja ada yang berlebihan sama Vano ? biasa aja kan ? " tanya Senja, tangannya bergelayut manja di lengan Darren.
" Enggak. Nggak cemburu. Kesel saja. Sebentar jangan bahas itu. Kita serius sebentar. Kita dapat panggilan dari sekolah Zain " ucap Darren, serius karena sedikit khawatir akan reaksi istrinya nanti.
" Zain kenapa Ask ? Senja panggil Zain dulu " kata Senja, hendak berdiri, tapi tangannya ditahan oleh Darren.
" Zain sudah tidur, Zain melindungi temannya yang dibully. Saling dorong, sikunya sama - sama terluka. sudah aku obatin. intinya begitu, lengkap dan kebenarannya kita tunggu besok " ujar Darren.
" Pantesan tadi pulang sekolah pakai jaket, jadi nutupin lukanya. Dasar anak Darren, pinter sekali akalnya " ucap Senja sewot.
Senja mendengus kesal, lalu naik ke ranjangnya dan tidur. menarik selimut hingga menutupi lehernya. Tidak sampai lima menit dengkuran lumayan keras terdengar, hanya Darren yang merindukan suara dengkuran Senja.
*******
Keesokan paginya, Zain dan Darren sudah bersiap ke sekolah. Ini adalah pengalaman pertamaDarren menghadap ke sekolah karena kenakalan kecil anaknya. Dulu Saritalah yang sering menghadap kepala sekolah dan guru kelas karena ulahnya. Bukannya deg - degan, Darren malah bangga.
Di ruangan kepala sekolah ternyata sudah ada orangtua dari Alea, gadis cilik yang dibelaa Zain.
" Bagus juga selera Zain, titisan Rafli Darren ini " batin Darren.
Orangtua Alea yang juga diwakili oleh papanya mengucapkan terimakasih pada Zain karena selalu melindungi anaknya.
" Maaf pak, karena anak saya, anak bapak jadi ikut terkena masalah " ucap papa Alea.
__ADS_1
" Tidak masalah pak " jawab Darren.
Derap langkah sepatu perempuan semakin terdengar nyata. Pintu ruangan dibuka. Semua mata tertuju ke sana karena kehadiran Alex dan orangtuanya lah yang sudah ditunggu - tunggu.
" Damn.. " umbat Darren begitu melihat seorang anak seumuran Zain yang pasti bernama Alex bersama kedua orangtuanya. Ternyata Alex adalah anak dari dokter Vano. Jiwa bersaing Darren pun meronta.
" Mana anak yang membuat siku anakku terluka ? " perempuan beralis celurit, bernama mega itu bertanya dengan sinis. Vano tidak kalah kaget melihat keberadaan Darren di sana.
Darren mengangkat alisnya memberi kode pada Zain untuk maju. Anak Darren Mahendra harus berani.
" Saya tante " ucap Zain berani.
" Silahkan duduk bu,pak, kita bicarakan baik - baik dan kita dengarkan dulu keterangan anak - anak " ucap kepala sekolah dengan bijak.
Satu per satu anak menceritakan berdasarkan versi masing - masing. Mega yang awalnya nyolot, sekarang agak tenang setelah mendengar keterangan dari anak yang lain. Secara garis besar, Mega malah mengakui kalau anaknyalah yang memicu pertengkaran.
Kepala sekolahpun memberi keputusan resminya, Alex diskorsing selama tiga hari dengan, Zain satu hari dan Alea tentu saja tidak karena hanya murni korban.
" Maaf pak, kalau hanya skorsing tentu nilai keadilannya kurang bagi Alea. Skorsing Alex tidak akan mengembalikan tulisan Alea. Bagaimana kalau Alex tidak perlu skorsing selama itu. Karena terlalu lama pun malah menyenangkan karena tidak mengikuti pelajaran formal di sekolah. Menurut saya, Alex seharusnya membantu Alea menulis kembali bagian buku yang dirusaknya " usul Darren.
" Iya betul, skorsing tidak akan membuatnya merasa sedang dihukum karena melakukan kesalahan " ucap Papa Alea.
" Untuk Zain saya pun meminta hukuman lain selain skorsing " pinta Darren.
" Karena Zain yang melukai anak saya, bagaimana kalau hukuman Zain saya yang mengusulkan ? " Vano ikut bersuara.
" Silahkan apa usul bapak " ucap kepala sekolah.
" Bagaimana kalau Zain ikut saya praktek pagi di rumah sakit. Pasien saya anak - anak. Zain bisa menjadi asisten saya, Zain hanya menanyai keluhan pasien yang mau periksa. Prakteknya tidak lama, hanya tiga jam " tawar Vano. Zain yang memang mempunyai cita - cita menjadi dokter langsung kegirangan.
" Mau " teriak Zain semangat.
__ADS_1
Darren memijat pelipisnya pelan. Setelah istrinya, kini Zain pun membuatnya cemburu pada sosok yang sama.