
Darren melempar clutch nya ke atas ranjang. Melepas sepatu dan meninggalkannya begitu saja di lantai tempat dia berdiri. Tanda - tanda nyata mood calon daddy baby twins itu sedang tidak baik - baik saja.
"Kok tamunya cepet banget, Ask?" Senja mencoba mencari - cari topik lain.
"Lama ...." jawab Darren, ketus.
"Owh ... Biasanya kalau lama seneng, ini kok manyun," gumam Senja.
Darren mencuci kaki dan tangannya, mengganti kemeja dengan kaos oblong putih polos. Lalu merebahkan badannya di atas ranjang.
"Ganti baju yang buat yoga tadi!" ucap Darren, tegas tak terbantahkan.
"Sudah bau keringet, nggak enak! Jadi Senja taruh ranjang kotor."
"Nggak mungkin cuma punya satu kan?" Darren sudah terlihat kesal.
Senja terpaksa mengambil baju yoga nya yang lain. Masih dengan warna hitam -hitam dan model yang sama.
"Terus ini mau diapain?" tanya Senja, menyodorkan baju itu pada Darren.
Darren memandang istrinya dengan gemas bercampur kesal. Perasaan istrinya tidak sepolos itu.
"Pakai!" jawabnya.
Tanpa beban, Senja melepas dres yang dikenakannya. Tidak ada risih atau malu. Lalu mengenakan baju yang modelnya sama persis dengan yang dia kenakan saat senam tadi.
"Sudah! Terus sekarang mau apa?" tanya Senja, pasrah.
Tahu kan salahnya apa? lihat di kaca! Pantes nggak bertemu laki - laki lain mengenakan pakaian seperti itu? Pantas nggak?" Darren menunjuk cermin dengan tegas.
Senja menggeleng. Sudah bisa ditebak, pasti Darren melihat Senja yang membukakan pintu untuk Kenzi.
"Senja tidak tahu, Ask! Senja fikir itu tadi Angelica. Tapi setelah itu Senja langsung masuk dan ganti baju kok."
__ADS_1
"Tau kan harus bagaimana?" Darren melepas pengait celana dan menurunkan resletingnya.
"Masih siang, Ask! Zain saja belum pulang sekolah. Dasen juga belum makan siang ." Senja mencoba cari - cari alasan.
"Jangan pura - pura tidak tahu cara memanfaatkan waktu lima menit, Ma Nja." Perlahan Darren menanggalkan semua baju yang menempel di tubuhnya.
Senja mendengus kesal. Ternyata kehamilan tidak membuat suaminya iba. Hukuman yang dilakukan untuk setiap kesalahan selalu sama. Mau tidak mau, Senja harus menjalankan hukuman dengan suka rela.
Setelah memastikan pintu kamar terkunci, Senja menutup gorden kamarnya, siang hari yang masih terik, matahari pun merambat masuk melalui pantulan kaca jendela.
Darren terlihat sudah tidak sabar, matanya terpejam, menanti jemari Senja menjelajahi setiap inci tubuhnya. Sedikit kesalahan yang sebenarnya tidak perlu dibesar - besarkan, kadang malah menguntungkan baginya.
Senja mendekati ranjang perlahan. Tangannya menggelung rambut tinggi - tinggi. Memilih langsung ikut merebahkan badannya tepat di sisi sang suami. lalu memiringkan badannya. Jemarinya melakukan gerakan halus, lembut menggelitik mulai dari kening melingkari mata kemudian menyusuri bibir, lalu turun ke leher hingga terus ke dada, mengitari pucuk hitam mungil di dada keras suaminya. Kadang jemari sengaja menyerempet salah satu titik sensitif Darren Mahendra itu.
Darren mulai tidak bisa mempertahankan wajah datarnya. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan suara indah kenikmatan sebisanya. Jangan sampai suara itu lolos terlalu awal, Senja bisa semakin bersemangat dan menggila. Perlawanan hanya akan sebatas mimpi. Kalah sebelum berperang pun sangat mungkin terjadi. Tangan dan mulut Senja adalah sebuah kutukan untuknya.
Baru sebentar Senja bermain - main dengan Sesuatu milik Darren, mulutnya semakin merasakan penuh dan ketat. Darren dengan cekatan menarik pundak sang istri. Tidak ingin menumpahkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Satu hentakan awal dari Darren sukses membuat suara des**an Senja terdengar. Darren mulai melancarkan aksinya, menghentak maju mundur, kadang sebentar meliukkan pinggulnya, matanya tak lepas menatap wajah Senja yang sudah tidak bisa lagi mengontrol ekspresi kenikmatannya. Membuat Darren semakin semangat, jepitan Senja dan lenguhannya begitu mengacaukan keinginan Darren yang sebelumnya ingin menahan lebih lama permainan.
Tangan Darren memainkan sumber kehidupan baby twins, Senja semakin mend35ah dan melenguh. Tarikan yang dilakukan milik Senja pun semakin kuat, Seolah menghisap kepemilikan suami semakin dalam. Darren pun mulai meracau. Hukuman macam apa ini, yang dihukum dan yang menghukum malah menikmati dan menginginkan lagi dan lagi.
Hentakan itu semakin kuat, Mata Darren tak lepas memandang istrinya yang sedang mengeliat penuh kenikmatan. Sebentar lagi wajah itu akan menampilkan ekspresi terbaiknya. Darren sedang mebghitung mundur dalam hati.
"Ask ... Pelanin sedikit Ask ... Senja mau sampai," lirih Senja.
Darren tersenyum, memperlambat tempo lalu memutar pinggul ke kanan, merasakan cairan hangat membasahi kepemilikannya. Bersamaan dengan cengkraman di pundaknya semakin kuat.
Giliran Darren sekarang. Tidak butuh waktu lama dari puncak kenikmatan istrinya, Darren pun mendapatkannya kemudian.
Senja mengatur nafasnya yang tersengal - sengal, Darren pun demikian. Keringat membasahi sekujur tubuh keduanya. Terlalu lelah, keduanya sama - sama terpejam, tidur di siang bolong yang panas.
Suara Zain di luar pintu membangunkan keduanya, Senja segera beringsut mengambil baju ganti sembarangan lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Darren hanya memakai celana, langsung membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Sudah pulang Zain, semangat sekali?" Darren mengacak rambut anak pertamanya itu.
Zain langsung masuk dan duduk di tepian ranjang, sedikit heran, karena masih siang tapi semua gorden sudah ditutup rapat.
Darren meneguk segelas penuh air putih, matanya lekatvmengamati wajah Zain yang nampak berseri - seri.
"Dadd, minggu depan sekolah mengadakan camp, setiap anak harus di dampingi ayahnya. Karena acara ini untuk memperingati father's day. Acara diadakan jumat sampai minggu. Ini undangannya." Zain menyodorkan selembar kertas A4 pada daddynya.
Darren memijat pelipisnya, tanggal yang tertera di dalam undangan itu, bukan minggu depan seperti yang dibicarakan Zain. Tapi tepat ditanggal di mana Senja dijadwalkan untuk menjalani operasi caesar. Melihat wajah Zain penuh harapan, membuat Darren tidak berani memutuskan apapun.
Senja membuka dan keluar dari pintu kamar mandi. Melihat suami dan anaknya saling terdiam dengan dua ekspresi berbeda. Darren yang nampak sangat berfikir dan Zain yang tampak sangat bahagia.
Tanoa kata Darren menyodorkan surat undangan dari sekolah Zain. Kini Senja mengerti kenapa ekspresi keduanya berbeda. Pilihan yang memang sangat berat, tapi Senja tidak ingin mengecewakan Zain. Baru kali ini Zain mendapatkan moment camp seperti ini. Tahun kemarin, sekolah tidak mengadakan.
"Zain bisa pergi sama daddy," ucap Senja, akhirnya.
Zain bersorak kegirangan. Memeluk daddynya seraya mengucapkan terimakasih berkali - kali. Bahkan menghadiahi ciuman bertubi - tubi di pipi. Darren tidak menolak perlakuan Zain, tapi matanya menatap Senja penuh tanya.
"Terimakasih Dadd ... Terimakasih Ma ...." Zain mengambil kertas di tangan mamanya seraya berlari kecil keluar kamar.
Senja mengerti arti tatapan mata sang suami.
"Kita ke dokter Nuke lagi nanti, Kalau mundur satu hari apakah masih bisa? Jangan khawatir, baby twins belum waktunya lahir. Menunda kelahiran lebih lama, malah semakin membuat waktu lahirnya alami. Tidak mungkin juga kita membuat Zain kecewa bukan?" tanya Senja.
"Tentu saja tidak mungkin. Semoga bisa ya, Ask!" harap Darren sambil mengusap dan mengecup perut istrinya.
Wardah berdiri di depan pintu yang tidak ditutup kembali oleh Zain. Masih belum terlalu lama berada di sekitaran Darren dan Senja, membuatnya sudah rikuh hanya karena melihat Darren mencium perut Senja. Wardah belum pernah melihat dan mendengar hal - hal lebih seperti yang diceritakan Wati selama ini.
Senja menoleh ke arah pintu dan menyadari kecanggungan Wardah yang berdiri memaku di tengah pintu. "Ada apa War?"
"E ... Itu Bu, ada tamu. Namanya bu Angelica," jawab Wardah.
Darren dan Senja bertukar pandang, besok hasil putusan sidang dan Angelica berada di rumah mereka saat ini. Apa tujuannya?
__ADS_1