
Setelah memberikan hadiah untuk Senja, keduannya pun langsung pulang.
" Zain emang om Vano ngomong apa saja tentang mama ? " selidik Darren.
" Om vano temen sekolah mama, juga temen mama kerja pas pulang sekolah. Katanya mama itu pas lihat sesuatu itu suka langsung diam. Tiap ulang tahun selalu berharap ada yang membelikan, tapi tentu saja tidak ada. Terus om Vano tanya sama Zain, mama punya itu gak ? ya Zain jawab nggak punya. Om Vano pengen ngasih, karena dulu kan om Vano nggak punya uang juga " jelas Zain panjang lebar.
" Jadi om Vano mau ngasih juga ? " tanya Darren, penasaran.
" Enggak, om Vano bilang nggak pantes ngasih hadiah ke istri orang. Laki - laki yang baik harus menghormati perempuan. Berteman boleh tapi tidak berlebihan " jawab Zain. Darren lega mendengar jawaban Zain, berarti Vano memang pure menganggap istrinya teman. Mungkin kenangan hidup mereka saja yang membuat Vano terlihat banyak tahu tentang masa lalu Senja.
Darren tersenyum membayangkan wajah menggemaskan istrinya menerima hadiah yang sebenarnya tidak cocok lagi diusianya. Tapi memang Senja tidak mempunyainya, bahkan baby De pun belum mempunyainya.
" Kami datang " sapa Darren dan Zain kompak, melihat mama nya sedang duduk santai di depan Tv sambil memangku Dasen yang sedang minum Asi seperti biasa.
" Mandi dan ganti pakaian dulu " ucap Senja tanpa menoleh, matanya masih asyik melihat layar televisi yang sedang memutar drama korea Vincenzo yang dimainkan oleh duda keren Song Joong ki. Senja sudah menontonnya berkali - kali tapi tidak pernah bosan, bukan karena ceritanya tapi karena pemerannya tentu saja.
Merasa diabaikan, Darren menghentakkan kakinya keras agar istrinya menoleh padanya. Tapi tidak, Senja malah fokus.
" Das, Appa song keren sekali. Uhhh.. Mama jatuh cinta lagi rasanya. Hati mama nggak sehat setiap lihatnya, kenapa dia cute dan manis sekali. Hufttt Appa song duda meresahkan " ucap Senja, tidak menyadari Darren masih mendengarnya.
" Astaga apa semua perempuan bisa setergila - gila itu pada aktor idolanya. Suaminya padahal jauh lebih keren. Lihat saja, aku akan membuat mulutnya menyesal mengucapkan itu " batin Darren, kesal.
__ADS_1
Tidak sampai hitungan menanak nasi, Darren dan Zain sudah kembali turun ke bawah, bergabung dengan Senja yang masih asyik meneruskan ceritanya. Bahkan kehadiran dua ganteng kesayangannya pun tidak mengusik pandangan Senja.
" Kalian sudah makan ? " tanya Senja, melihat sekilas pada Darren dan Zain lalu kembali fokus ke Tv.
Darren mengambil remot Tv lalu mematikannya dengan kesal.
" Ask...Senja belum selesai " rengek Senja.
" Sudah, cukup !! Jangan melihat di Tv, lihatlah ada aku dan Zain yang lebih keren di sini. Aku tidak suka mendengarmu memuji laki - laki lain, appa - appa, Dasen hanya punya satu daddy " sungut Darren.
" Ish, menyukai aktor pun tidak boleh " gumam Senja lirih, tapi masih tertangkap jelas di telinga Darren.
" Mama Nja, kita punya sesuatu buat mama Nja " ucap Darren mengalihkan pembicaraan.
" Kalian membelikan ini untuk mama Nja ? apa kalian sedang melakukan kejahatan bersama ? " selidik Senja, karena biasanya ada saja kegilaan yang mereka lakukan berdua, kegilaan melanggar sedikit peraturan Senja adalah kebiasaan mereka saat bersama.
" Tentu saja tidak, kali ini kami sangat manis. Tidak ada satupun larangan mama Nja yang kami langgar " ucap Zain, tegas dengan suaranya yang masih imut.
Senja mengeluarkan isinya dari dalam tas, lalu membuka bungkus kadonya perlahan. Saat mengetahui isinya, mata Senja langsung berkaca - kaca. Akhirnya ada yang memberikannya bonrka barbie, dari orang yabg dicintainya pula. Senja membuka kotak pembungkusnya, lalu melepas tali yang menahan kaki barbie berambut blonde,bermata biru lengkap dengan gaun putih dan mahkotanya, seperti karakter Alexa di barbie series diamond castle.
" Kalian manis sekali, mama Nja suka sekali " ucap Senja, menyeka air matanya yang masih turun.
__ADS_1
" Kok mama malah nangis sih ? katanya suka " tanya Zain, heran.
" Mama terlalu suka makanya mama nangis. Dari mama lebih kecil dari Zain, mama selalu berharap ada yang memberikan kado boneka barbie setiap mama ulang tahun. Tapi tidak pernah ada. Buru - buru kado, yang ngucapin saja hanya beberapa. Itupun setelah mama minta diucapkan. Tapi mama tidak sendiri, banyak teman mama juga merasakan hal yang sama. Ada temen mama yang hanya pengen makan ayam *f* , ada yang pengen kue tart, ada yang pengen makan donat. Sesederhana itu, tapi tidak ada yang kesampaian saat itu. Kami bekerja keras mencari uang, tapi uang tidak sanggup memberikan keinginan, uang hanya sebatas mencukupi kebutuhan, itupun kurang " ucap Senja, sendu.
" Hei...Perempuan hebat, mulai sekarang aku akan mewujudkan semua keinginanmu. Tapi kamu harus mengatakannya padaku, jangan pada orang lain. Aku benci mengetahui hal sederhana ini dari Vano " ucap Darren.
" Owh jadi kalian tahu dari Vano. Ask.... Terimakasih Za, Zain... Terimakasih juga. Setelah bekerja dulu mama sebenarnya ingin membelinya, tapi mama membatalkan niat itu. Beli sendiri dan diberikan tentu beda rasanya. Mama Nja beruntung, akhirnya kesayangan - kesayangan mama Nja yang memberikannya " ucap Senja tulus.
" Ada keinginan lain lagi ? jangan sampai Vano lebih tahu dari aku " tanya Darren sedikit memanyunkan bibirnya.
" Zain, istirahat sana. Pasti capek. Di kamar adek saja " ucap Senja, mengabaikan sebentar pertanyaan suaminya.
Darren megantar Zain sambil menidurkan Dasen yang sudah tertidur pulas ke dalam box ayunnya. Lalu kembali menyusul Senja yang masih setia menyisir rambut barbie dengan jemari tangannya.
" Jadi apa keinginan mama Nja yang lain, apa daddy Darr harus bertanya pada Vano dulu. Sepertinya Vano tau banyak tentang mama Nja " goda Darren.
" Vano teman seperjuangan Ask, Bapaknya Vano tukang becak, jadi sangat hebat dia sampai di posisi ini. Aku ingin mencari teman seperjuangan kami lagi. ada dua orang, kamu bisa cari kan ? namanya Rianti sama Maya. Semoga nasib mereka juga lebih baik sekarang " harap Senja.
" Aku akan membantumu " ucap Darren.
Ponsel Darren bergetar, Darren mengambilnya dari kantong celana pendek yang ia kenakan. Lalu memberi kode pada Senja untuk menahan pembicaraan terlebih dahulu.
__ADS_1
Darren menempelkan benda pipih berwarna hitam itu di daun telinganya, terlihat lebih sering mendengarkan ketimbang berbicara. Raut wajahnya terlihat kaget di awal lalu menjadi murung dan sedih. Matanya melirik Senja sesekali, lalu kembali mendengarkan suara di ujung telepon sana. Tapi entah siapa. Bibirnya rapat seperti terkunci. Senja mendekati suaminya lalu menggenggam tangan Darren yang dingin. Menatap wajah suaminya, seolah ingin bertanya " ada apa ? "