Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Malamnya para asisten rumah tangga (1)


__ADS_3

Malam yang di nanti - nanti para asisten rumah tangga keluarga Mahendra pun tiba. Taman belakang di rumah Darren yang seluas setengah lapangan bola disulap layaknya pusat jajanan dan hiburan oleh Ali. Hal sederhana, tapi sangat mengena dan membekas di hati semua orang.


Bukan Catering mahal dengan makanan mewah yang dipilih Ali, melainkan makanan dan jajanan kaki lima merakyat dan digemari oleh sejuta umat. Dari mulai bakso, mie ayam, karedok, soto betawi, sate, rangin, kue cubit, kue putu, martabak, terang bulan, angsle, ronde dan masih banyak lagi yang lainnya.


Tidak hanya makanan, arena permainan pun sengaja di sewa untuk memuaskan beberapa asisten rumah tangga yang berasal dari dalam kota untuk membawa anak - anaknya bermain sepuasnya di kolam mandi bola, seluncuran, play ground, odong - odong, kolam ikan pancing, melukis dan play sand.


Home band yang dipilih Ali sengaja yang bisa menguasai lagu dari berbagai daerah, mengingat asal asisten rumah tangga di keluarga Mahendra memang dari beberapa kota di Indonesia. Malang, Ponorogo, Tasikmalaya, Garut, Kupang hingga Maumere.


Senja dan Sarita kompak mendampingi Hutama. Chun Cha, Aleandro dan baby De juga sudah datang sejak tadi. Yanes, Rosa dan Nando. Ali dan Amar, ditambah tamu tak di undang yang datang dengan alasan tidak jelas, siapa lagi kalau bukan Kenzi. Mahendra dan Darren kompak duduk bergabung dengan beberapa satpam dan tukang kebun mereka. Nando dan Zain sudah entah kemana bersama Wardah, mereka juga sangat excited. Dasen masih bermain di mainan play groud portable di bawah pengawasan Ulfa dan Wati. Baby De yang tidak suka keramaian duduk tenang di pangkuan Aleandro.


Dalam diam, Kenzi memang sangat mengagumi Senja. Berada di sekitar istri teman lamanya itu saja sudah cukup. Tidak berniat untuk merebut, hanya ingin menyadarkan diri dari sebuah ketidakmungkinan. Melihat keharmonisan Darren dan Senja dari dekat, membuat Kenzi sadar untuk mengubur mimpinya.


"Selamat malam semua, boleh perhatiannya ke sini sebentar ya! Untuk mempersingkat waktu, sambil menikmati semua yang sudah disiapkan. Kita dengarkan dulu beberapa patah kata dari penguasa rumah keluarga Mahendra. Perempuan hebat yang menjadi penggerak di dalam keluarga Mahendra. Kita sambut Nyonya Sarita dan Nyonya Senja." Pemandu acara mengawali acara malam hari ini dengan semangatnya.


Senja dan Sarita kompak berjalan menuju panggung tempat home band berada. Keduanya memakai dress putih dari bahan brokat sederhana tanpa detail manik - manik atau apapun. Bedanya hanya pada model lengan, Sarita menggunakan lengan panjang sedangkan Senja tanpa lengan.

__ADS_1


Dress code malam ini memang warna putih. Acara dadakan, membuat semua memakai pakaian yang sudah ada di lemari. Beberapa Art tadi pagi bahkan ada salah dua yang ke mall untuk mencari baju warna putih terbaik.


"Berdiri di sini, melihat ternyata keluarga Mahendra sebanyak ini. Jujur membuat saya sangat terharu. Saya bingung jadinya mau bicara apa." sarita memberikan pengeras suara pada Senja. Air matanya memang benar - benar menetes. Sepanjang hidupnya, baru kali ini mengadakan acara khusus untuk asisten rumah tangga. Hal sederhana yang terpikirkan oleh menantu satu - satunya.


Senja menerima pengeras suara dari Sarita. "Terimakasih buat kalian semua, yang membantu kami mengurus segala sesuatu di rumah kami dengan baik. Maafkan kami yang jauh dari kata sempurna. Kadang kami marah - marah dan menuntut kalian untuk sesempurna. Bagi kami kalian adalah keluarga. Mata dan telinga bahkan hati kalian tahu apa yang kami lakukan. Sedih, senang, marah, kesal dan kecewa kami, tidak pernah bisa kami sembunyikan dari kalian. Terimakasih sekali lagi, tanpa kalian urusan rumah pasti akan melelahkan kami." Senja memberikan pengeras suara pada pemandu acara.


"Terimakasih pada Nyonya Sarita dan Nyonya Senja. Sekarang giliran dari kalian memberikan kata - kata untuk keluarga Mahendra. Ada yang mewakili?" pembawa acara itu mengedarkan pandang mencari sosok yang kira - kira mendekatinya untuk memberikan sepatah dua patah kata untuk pembantunya.


Rudi berjalan dengan mantap mendekati pembawa acara itu, lalu dengan pede Rudi pun berdiri di belakang stand mix milik vokalis home band.


"Terimakasih. Akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk mewakili teman - teman semua. Terimakasih yang tidak terhingga pada keluarga Mahendra, yang luar biasa menerima kami dengan baik. Mensejahterakan kami dan memanusiakan kami sama seperti layaknya manusia lain. Tidak memandang kami sebagai driver, tukang kebun, sekedar tukang masak atau tukang cuci. Bersama di sini, seolah memiliki keluarga baru." Rudi berhenti dan merasa cukup.


Tapi malam ini memang hari bagi mereka, keluarga Mahendra siap untuk dikritik apa saja. Rudi menghela nafas panjang, semoga apa yang dia lontarkan tidak membuatnya terlontar keluar dari pekerjaan nyamannya.


"Eee ... Ada, sebenarnya bukan kesal yang sampai ke hati. Ini kesan yang meresahkan sekaligus kami tunggu - tunggu. Kami justru mulai terbiasa dan menunggu kalau sudah lama tidak melihatnya. Kalau tidak ada kegiatan itu, berarti keadaan rumah sedang tidak baik - baik saja." Rudi tidak menjelaskan secara gamblang.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Rudi, menanti jawaban yang lebih pasti. Yanes, Ali dan Amar saling melempar pandang. Sudah pasti mereka tahu pikiran Rudi. Sebagai driver, tentu posisi Rudi lebih strategis mengalami siksaan telinga dan mata di banding yang lain.


Senja dan Darren saling bertukar pandang lalu sama - sama meringis, membayangkan Rudi menyebut kebiasaan mereka berciuman di manapun dan kapanpun.


Kenzi mendekati Ali, lalu berbisik "Pertemuan dua bibir?"


Ali pun mengangguk. "Semoga ada satu perempuan lagi di dunia ini seperti bu Senja, Saya bersedia menunggu satu tahun lagi kalau ada," tambahnya.


"Aku juga mau. Harus ada dua yang seperti bu Senja lagi agar kita tidak berebut." Kenzi kembali menanggapi.


"Harus ada tiga! Aku juga mau. Lihatlah! mereka sekarang sudah saling pandang, ada kesempatan dikit pasti nempel, tangannya bu Senja meresahkan. Bagaimana bos mau jauh - jauh. Diluaran yang menggoda banyak, tapi godaan mereka tidak ada apa - apanya dengan godaan di rumah." Amar ikut menimpali sembari memberikan kode pada yang lain untuk melihat tangan Senja yang dari tadi mengusap paha suaminya naik turun.


"Owh ... Jadi diam - diam kalian ngarep banget punya istri seperti bu Senja." Yanes mengangguk - anggukkan kepalanya.


Rudi yang merasa menjadi pusat perhatian, merasa nyalinya sedikit ciut. Dia pun mencari sosok yang ditersangkakan. Rudi menelan ludahnya kasar, melihat tatapan pak bos hot dan bu bos hot yang sangat tajam. Nyalinya seketika lenyap. Rudi tidak menyelesaikan sesuatu yang sudah dia mulai dan penonton pun kecewa.

__ADS_1


Kenzi berjalan ke toilet, dia melihat seorang perempuan meringkuk dengan kening menempel di atas lututnya. Menangis dengan suara isak yang tertahan. Bahunya bergetar, pertanda tangisannya sangat dalam dan pilu.


"Mbak ... " Kenzi dengan hati - hati menyentuh pundak perempuan


__ADS_2