
" Terserah kak Al mau ngomong apa. Yang bisa menilai seberapa besar sayangnya Senja sama baby De cuma baby De sendiri. Bukan kak Al, apapun yang kak Al fikirkan tolong jangan pernah bentak Zain atau siapapun anak di rumah ini " ucap Senja dengan nada lebih tinggi dua oktaf dari biasanya.
" Zain sudah besar Nja, dia harusnya ngalah sama De " ucap Aleandro masih tidak terima.
Sarita melipir minggir, tidak mau Dasen mendengar suara yang sama - sama sudah meninggi. Sarita yakin keduanya sudah cukup dewasa dan tidak perlu campur tangannya untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya tidak terjadi.
" Kakak dapat pemikiran dari mana seorang anak harus mengalah hanya karena anak yang lain lebih kecil ? tidak begitu caranya kak. Kita bisa ngajak ngobrol baik- baik keduanya. Jangan terus melihat baby De anak kecil, yang keinginannya harus selalu dituruti. Baby De sedang berkembang otaknya, dia mungkin belum memperlihatkan kalau dia mengerti. Tapi dia bisa merekam dan mengingat " ucap Senja, kesal.
"Aku daddynya, jadi aku yang berhak bagaimana aku memperlakukan baby De. Siapapun yang membuat baby De menangis akan berhadapan denganku. Aku tidak peduli siapapun dia " ucap Aleandro, begitu keras kepla.
" Owh... Begitu mau kak Al. Silahkan kak Al lakukan semau kakak. Tapi aku pun akan berada di depan anak - anakku kalau ada orang lain yang berbuat seenaknya di depan anakku. Pernah nggak kakak berfikir, akan jadi apa jika anak terbiasa apapun keinginannya selalu dituruti. Benar salah dibiarkan, apa jadinya menurut kakak ? Apa kak Al akan menunggu sampai baby De menganggap kesalahan adalah kebiasaan ? " Senja tidak mau kalah. Emosinya benar - benar terpancing kali ini.
" Mulai sekarang biar De tinggal bersamaku saja, aku tidak mau melihat De diperlakukan tidak adil lagi. Memang De, satu - satunya yang asing di sini. Kamu kan gampang saja kalau mau punya anak, makanya enteng banget lihat anak berantem " omongan Aleandro mulai lebih tidak enak dan melenceng kemana - mana.
" Hah ???? apa maksud kak Al ???? Kucing pun tetap menjaga anaknya baik - baik, meski tau dia bisa hamil dan melahirkan enam anak sekaligus. Apalagi manusia. Terserah kak Al saja mau ngomong apa, percuma aku ladenin. Ini masalah anak - anak kak. Aku cuman keberatan kakak membentak Zain. Selebihnya biarkan anak - anak berproses sendiri. Selama tidak berbahaya dan berdarah - darah biarkan mereka belajar merasakan berbagai emosi. Lagian Zain tadi tidak membentak. Suaranya saja lebih keras. Berbeda dengan kak Al yang memang membentak dengan mata juga ikut melotot " ucap Senja, menyerah dan lelah menghadapi Aleandro yang keras kepala.
Aleandro berteriak memanggil baby sister, lalu mengajak baby sister meninggalkan rumah Senja bersama baby De.
" Aku kecewa sama kak Al. Sependek itukah pikiran kak Al ? Tidak hanya kak Al yang punya anak. Zain, baby De dan Dasen berkembang di rahim yang sama, Sama - sama dilahirkan dengan perjuangan. Ingat kak Al, sekalipun baby De berasal dari benih kak Al dan kaka Andra, dia lahir tetap dengan cara yang sama dengan anakku yang lain. Baby De tidak lahir dengan cara di muntahkan. Jika kak Al membawa baby De keluar dari sini dengan cara seperti ini jangan cari aku kalau terjadi apa - apa dengan baby De " Senja berbalik badan meninggalkan Aleandro.
__ADS_1
Baby De menangis melihat Senja, seperti biasa selalu ingin digendong. Senja ingin menunduk untuk memeluk baby De, tapi Aleandro langsung mengangkat baby De dengan setengah memaksa .
" Mamama....mama ...mama " Aleandro terus menggendong baby De yang terus memanggil Senja di sela isak tangisnya keluar meninggalkan rumah Senja.
"Kamu akan menyesal kak Al. Kalau sampai terjadi apa - apa dengan De, aku akan mengambilnya dan jangan harap kak Al bisa bertemu dengannya lagi " ancam Senja penuh kekesalan dan setengah berteriak.
" Ma, maafkan Zain " ucap Zain, wajahnya menyiratkan ketakutan sekaligus bersalah.
" Kenapa jadi Zain yang minta maaf sama mama ? " tanya Senja.
" Gara - gara Zain, adek De di bawa om Al " jawab Zain seraya menunduk sedih.
" Bukan salah Zain, Zain sudah benar. Tapi mungkin lain kali Zain kalau menegur adeknya suaranya jangan terlalu keras dan kalau mau ngambil kembali kepunyaan Zain ngomong dulu baik - baik dan di ambil pelan - pelan. Mama tau dan mengerti, Zain pasti kesel karena sudah bangun pelan - pelan dan susah kan ?, Nanti pasti adek De kembali lagi. Biarkan om Al menyelesaikan kemarahannya dulu " ucap Senja, membuat Zain semakin mengeratkan pelukannya.
" Iya ma, lain kali Zain yang harus bersabar. Mama jangan sedih. Om Al jahat, adek De nangis malah dibiarkan. Zain akan minta Daddy mengambil adek De " ucap Zain, ada kemarahan di suaranya.
" Sudah, biar mama dan daddy yang akan selesaikan. Zain istirahat sana di kamar mama, nanti mama susul " kata Senja, lembut dan Zain langsung menuruti tanpa bantahan.
Sarita mendekati Senja tergopoh - gopoh, karena Dasen mulai resah berada di gendongannya, sebelum jeritan titisan Darren meluncur ada baiknya diberikan pada pawangnya.
__ADS_1
" Ma, baby De dibawa kak Al ke rumahnya. Kak Al masih tidak terima karena Zain memarahi De " ucap Senja.
" Astaga, anak itu kekanak - kanakan sekali. Masalah seperti itu saja dibuat besar. Namanya anak - anak kan wajar " sahut Sarita gemes.
"Kayaknya lagi ada masalah deh kak Al. Makanya emosinya meledak - ledak gitu. Merembetnya lebar kemana - mana. Sudahlah ma biarin dulu, ntar juga pusing sendiri. Di pikir selama ada baby sister semua beres urusan De. Biar dirasain " ucap Senja.
" Ya sudah, mama pulang dulu ya. Mama ada undangan nanti malam. Mau sekalian mampir salon dulu. Zain istirahat. Jangan buat oma khawatir lagi. kalau tau ada alergi tanya dulu sebelum makan. Oma pulang ya " pamit Sarita.
Senja sambil menggendong Dasen mengantar Sarita sampai di depan pintu utama.
Sementara itu Darren di kantor sedang sibuk - sibuknya, Ketidak hadiran Yanes sangat berpengaruh dalam pekerjaan. Darren jadi memeriksa semua file masuk sendiri.
Seorang pegawai senior perempuan berpangkat kepala bagian human resources development ( HRD ) yang mengurus masalah kepegawaian, termasuk sebagai pintu masuk awal bagi calon karyawan yang melamar pekerjaan di Mahendra group.
" Ada apa Tin ? " tanya Darren pada pegawainya itu.
" Ini hasil final yang dipilih bu Senja untuk sekretaris bapak. Menyisakan dua kandidat saja. Saya sudah membuat jadwal interview langsung besok pukul 9 pagi. Bu Senja sudah mengkonfirmasi kehadirannya " jelas Tina sambil memberikan dua map transparan pada atasannya.
Darren menerima map tersebut, lalu membuka file sekilas. Lembaran file itu tidak lagi dibalik begitu matanya melihat foto dua orang kandidat calon sekretarisnya. Darren menarik nafas dalam sambil memijat pelipisnya.
__ADS_1