
Rafli terbangun sebelum subuh, dilihatnya Senja masih tertidur dengan posisi memunggunginya. Tidak benar - benar tidur karena memang Senja tidak bisa tidur semalaman. Melihat Rafli terbangun Senja semakin pura - pura terlelap. Selimut menutup tubuhnya hingga ke leher. Membiarkan rambut panjangnya menutup sebagian wajahnya .
KLEKK .....
Pintu kamar kembali di buka, Senja semakin melelapkan tidur pura - puranya. Sikap Darren sungguh membuatnya kecewa.
"Selamat ulang tahun pa, Zain sayang papa " ucap Zain dengan semangat.
"Terimakasih sayang " jawab Rafli.
Rafli segera beringsut begitu menyadari ada Darren di belakang Zain.
"Selamat ulang tahun Raf " ucap Darren. Matanya melirik ke arah Senja, ingin rasanya Darren mengangkat tubuh di balik selimut itu ke kamarnya.
"Mama belum bangun ? "tanya Zain , mendekati mamanya sambil sedikit menyibak rambut yang menutupi wajah mamanya.
"Bangunkan mama pelan - pelan Zain. Mungkin mama baru bisa tidur " ucap Rafli seraya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ma...Mama, sudah subuh. Mama sholat subuk yuk ! Ma ... Mama Nja " ucap Zain bertubi - tubi.
"Sayang.... Zain sudah bangun ternyata. Mama ambil mukena sama baju mama di kamar sebelah dulu ya ? " pamit Senja, buru - buru mencuri kesempatan keluar dari kamar Rafli.
Zain naik ke atas ranjang papanya, sedikit menguap ngantuk karena dia datang terlalu pagi.
__ADS_1
"Om Darren kembali ke kamar dulu. Zain sama papa sebentar "ucap Darren tanpa menunggu jawaban Zain langsung keluar dan kembali menutup rapat pintu kamar Rafli.
Keluar dari kamar mandi, Senja dikejutkan kehadiran Darren yang menatapnya dengan tatapan kesedihan. Tapi Senja tidak mempedulikannya. Senja menggelar sajadahnya dan melakukan sholat tanpa bertanya Darren sudah melakukannya atau belum. Senja merasa dirinya harus tetap waras, ditengah kegila'an yang diinginkan suaminya.
"Ask ..." panggil Darren begitu melihat Senja selesai melakukan kewajiban dua rakaat.
Senja tidak menjawab. Senja memilih duduk di tepi ranjang.
"Ask...Apakah kamu marah ? " tanya Darren pelan.
Senja tetap tidak menjawab. Kecewa merasa Darren ikut mempermainkannya.
"Ask, kamu harus baca ini " Darren memberikan lipatan kertas yang disimpannya dalam kantong celananya.
"Enggak ... Ini pasti salah "ucap Senja cepat sambil melipat dan menyerahkan kembali kepada suaminya.
"Darimana kamu mendapatkannya ? "tanya Senja, wajahnya datar tatapan matanya kosong.
"Zain yang memberikannya padaku ask " jawab Darren.
Senja menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Bodoh, mas Rafli memang bodoh, kenapa dia tidak bisa berhenti egois ? "tatapan Senja sendu, membayangkan reaksi Zain saat membacanya.
__ADS_1
"Tidak hanya itu yang Zain sembunyikan dari kita Ask, Zain tau kalau kamu dan Rafli sudah pisah. Zain juga tau kita menikah. Berapa banyak lagi beban yang harus Zain simpan sendiri Ask. Sakit yang dia rasakan dan proses penyembuhan membuatnya tumbuh dewasa lebih cepat dari yang lain. Zain tidak secengeng kelihatannya. Dia mungkin suka merajuk, tapi itu hanya bila di dekatmu. Karena dia merindukan kamu lebih dari siapapun " ucap Darren, sama sekali tidak berani menatap wajah istrinya.
"Semalam Zain benar - benar bicara seperti layaknya pria dewasa padaku Ask. Aku berharap suatu saat Zain mencintaiku sebesar cintanya pada Rafli. Kamu tau apa yang Zain katakan Ask ? "suara Darren terdengar tidak stabil.
"Hal terberat dalam hidupnya adalah mengetahui Rafli hanya akan hidup dalam waktu hitungan minggu. Anak sekecil itu sudah memiliki rasa bersalah Ask. Zain berandai - andai jika dia mati saja, tentu papanya tidak akan berpisah denganmu. Andai dia tidak butuh ginjal, andai Rafli membiarkannya diambil seseorang, andai Rafli tetap bersama kamu, hidup Rafli pasti akan lebih teratur dan mempunyai semangat untuk sembuh " tambah Darren.
"Siapa yang mau mengambil Zain? " tanya Senja terkejut dengan satu kenyataan lagi.
"Ibumu Ask. Bu Wulandari. Entah apa tujuannya. Zain tidak mungkin tau sedetail itu. Aku bisa apa Ask ? Aku juga sayang sama Zain, Aku hanya tidak ingin membuat hidup Zain penuh penyesalan dan merasa tidak berguna. Apa yang sanggup kamu katakan pada anak kita yang mengatakan bahkan Zain tidak bisa mengembalikan mama ke papa, bagaimana kalau sampai papa meninggal mama tidak bisa baikan dengan papa, bisakah om membuat mama memeluk papa Zain ? meskipun hanya sebentar , Zain ingin senyum papa setulus om Darren " jelas Darren air matanya jatuh.
Senja terisak, menengadahkan dagunya untuk menahan derasnya air mata. ketika dia merasa sedang melakukan semuanya untuk mewujudkan keinginan Zain, ternyata malah Zain yang sedang menjaga hati ketiga orang dewasa yang kini liburan bersamanya.
"Ask...Siapa yang mau berbagi istrinya dengan orang lain ? siapa Ask ? Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk Zain. Aku ingin Zain menganggapku ayahnya. Sebelum itu aku harus memantaskan diri. Rafli mungkin tidak berhasil menjadi suami yang baik, tapi Rafli sangat berhasil menjadi ayah yang baik. Pengorbanannya tidak mudah Ask, dia mengabaikan sakitnya sendiri demi tetap hadir untuk Zain "Darren berlutut di depan Senja.
Senja menarik nafasnya dalam, menghembuskan perlahan. Mengatur nafasnya, berusaha menghentikan air matanya.
"Salah apa hidup Senja. Kenapa cobaan ini benar - benar berat untuk Senja. Kenapa takdir masih saja mempermainkan Senja. Tidak bisakah hidup Senja sedikit bahagia, apa Senja memang tidak pantas bahagia ? Terlahir dari orangtua berada tapi hidup kekurangan di panti asuhan, jangankan kemewahan untuk bisa makan tiga kali seharipun, Senja harus banting tulang. Saat Senja tidak lagi memikirkan nanti, besok, atau lusa harus makan apa, kenapa hati ini yang diuji ? " ucap Senja sendu.
"Karena Tuhan yakin hatimu kuat dan ikhlas Ask. Kita sama - sama sakit dalam porsi yang berbeda. Tapi bayangkan jika kita di posisi Rafli Ask. Dia tidak mungkin setegar itu sendirian menghadapi hari - hari terakhirnya, kita boleh mengharap keajaiban kalau Rafli mengikuti proses pengobatan seperti Zain. Nyatanya Rafli hanya pasrah Ask. Itu yang membuat Zain juga merasa bersalah. Jika ada kamu pasti papanya lebih semangat. Meski saat ini terlambat, setidaknya kita buat hidupnya berarti "pinta Darren, entah kenapa sosoknya menjadi begitu melow sejak semalam.
"Batasan apa yang kamu berikan untuk membuat mas Rafli bahagia Ask ? " tanya Senja, matanya menatap sendu suaminya. Beradu tatap dalam sendu, Darren membelai pipi perempuan yang banyak merubah hidupnya itu.
"Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan dengan hatimu Ask. Aku percaya kamu, jangan pikirkan perasaanku. Aku pasti cemburu, tapi itu resikoku. Ini perjuanganku, aku ingin Zain memanggilku papa karena aku memang pantas disebut papa. Zain harus menyayangi aku karena memang dia sayang sama aku, bukan hanya sekedar karena aku menikah denganmu "ucap Darren tulus.
__ADS_1
Senja memeluk suaminya erat. " Maaf membawamu ke dalam kerumitan kehidupanku Ask "