
" Silahkan meminta kesepakatan yang aneh - aneh, aku akan membuat Ullom atau lelaki manapun tidak ada yang mau denganmu lagi. Ingat rahasiamu sudah ada semua di sini. Kalau sampai Ullom tau anak siapa yang kamu kandung. Dia pasti akan meninggalkanmu, siapa laki -laki bodoh yang mau denganmu selanjutnya ? Kalian salah memilih korban kali ini " sahut Aleandro, sinis.
" Aku hanya ingin kita semua berada di sini malam ini sampai besok pagi " jawab Maya, santai tanpa beban.
Darren melirik Aleandro, terlihat lemah di depan lawan sama sekali bukan pilihan.
" Kami sedang berbaik hati, Jadi berikan saja kesepakatan yang logis. Kami bisa saja langsung membuangmu ke jalanan atau menyeretmu ke penjara mendahului adikmu. Tapi kami laki - laki sejati, kami tidak ingin menang begitu saja tanpa memberi kesempatan pada lawan untuk melakukan pembelaan atau perlawanan " ucap Aleandro lagi.
" Jika kalian menganggapku akan berbuat curang, percayalah itu tidak akan. Tapi sebelum semuanya berakhir aku ingin sekali saja dalam hidupku merasakan bisa mengalahkan Senja. Ini hanya kebetulan. Sebenarnya aku masih belum siap untuk mengalahkan Senja. Kalau boleh jujur aku malah berharap tidak pernah lagi bertemu dengannya. Lihatlah apa yang terjadi saat aku berhadapan lagi dengannya, hanya kesialan beruntun yang aku dapatkan " ucap Maya, pandangannya menerawang jauh.
" Aku tidak akan pernah membiarkan istriku merasakan kekalahan apalagi sakit hati " ucap Darren.
" Itu sama sekali bukan urusanku. Aku hanya ingin Senja merasakan bagaimana sakitnya menunggu tanpa kepastian. Jika kalian tidak percaya padaku. Kalian boleh memilih tempat dimanapun, asal tidak ada satupun diantara kalian yang boleh pulang. Jangan memberi kabar apapun pada Senja. Aku tidak akan mendekat atau mengganggu kalian " ucap Maya tanpa beban.
" Apa yang membuatmu begitu menyimpan sakit hati pada istriku ? " tanya Darren, penasaran.
__ADS_1
" Kalian pasti tidak pernah merasakan hidup di bawah bayang - bayang kelebihan dan kesempurnaan orang lain. Sedangkan aku, harus merasakan itu bertahun - tahun bersama Senja. Meskipun tidak bermodalkan uang Senja bisa merasakan kuliah. Menjadi idola dikampusnya "
" Bukan hanya Senja yang bisa merasakan kuliah, Vano dan Rianti pun bisa. Seharusnya kamu pun bisa " tutur Darren.
" Vano bisa kuliah kedokteran karena mempunyai otak yang sangat luar biasa pintar, Rianti bisa sekolah karena dia bertemu dengan orang baik yang membantu biaya kuliahnya. Sedangkan Senja ? dia bisa karena dia mempunyai segalanya yang membuat orang lain iba dan memujinya habis - habisan. Sedangkan aku ? buru - buru kuliah. Aku masih harus memikirkan Dila. Setelah mereka berhasil tidak ada satupun yang mencariku. Aku sudah terlahir sebagai orang yang gagal. Membalas sakit hati ke Vano gagal, membalas Rianti hanya setengah berhasil karena akhirnya Rianti malah mendapatkan pengganti yang lebih segalanya dari suaminya dulu, dan Senja ? belum apa - apa aku sudah sesulit ini " ucap Maya, terdengar pasrah.
" Maka berhentilah. Rasa irimu malah membuat dirimu hancur. Mulailah hidup baru, jika kamu berhenti serakah, mendapatkan Ullom sudah lumayan bagimu. Aku tidak ingin membuat istriku menangis, Jika kamu memaksa aku lebih memilih menghadapi resiko yang lain. Aku menyesal harus mendengar permintaanmu yang konyol " tegas Darren.
" Baiklah mari kita persingkat waktu, Jelas kalian tidak mau tinggal di sini sampai pagi. Mana surat perjanjian yang harus aku tanda tangani. Syarat aku permudah. Aku hanya minta kamu mengantarku pulang ke rumahku " ucap Maya akhirnya.
" Baiklah, aku dan Aleandro akan mengantarmu. Al, ayo kita lakukan. Senja sedang tidak enak badan, aku tidak ingin berlama - lama "
Setelah itu Aleandro dan Darren mengantar Maya pulang ke rumahnya. Bukan rumah, lebih tepatnya ke apartemen. Darren ingin sekali memberikan kabar pada istrinya, tapi dia tidak mau melanggar kesepakatan. Syarat Maya cukup simple dan ringan sebenarnya, tapi sekecil apapun yang namanya kebohongan, tetap saja membuat tidak tenang. Sekalipun ini demi kebaikan, tetap saja rasanya tidak enak dan mengganjal di hati Darren. Aleandro tentunya santai saja, karena dia belum terikat resmi dengan Chun Cha.
" Hidup dalam rasa iri dan dendam itu capek. Berusahalah menghargai dirimu sendiri dan menerima keadaan. Senja yang kamu lihat selalu beruntung belum tentu selalu begitu. Untuk mencapai posisi saat ini, dia tidak mengandalkan keberuntungan. Senja bekerja keras dan mengalami kesedihan juga kehilangan yang sakit. Senja tidak seberuntung yang kamu kira. Dia sedang menikmati buah kesabaran dan keikhlasannya pada pahit, lelah dan kesusahan yang dulu dia alami " ucap Aleandro, bijaksana.
__ADS_1
Sedangkan Dareen malas untuk berbicara kali ini.
Maya hanya terdiam, menyesali kecerobohannya tidak mencari tahu siapa mangsa Dila. Jika dia tahu masih ada hubungannya dengan Senja, pasti dia akan memilih untuk mundur. Bukannya kebetulan yang mujur, Senja bagi hidupnya selalu membawa sial. Di mana ada Senja, di sana kekalahan menimpanya. Bahkan saat ini, Maya sudah dibuat kalah telak sebelin melakukan apapun.
Senja menelpon Rianti menanyakan apakah Darren ada di sana. Tetapi Rianti mengatakan Darren sama sekali tidak ke sana. Senja mulai kesal karena Darren berani berbohong. Padahal Darren tau Senja sedang tidak enak badan.
Senja melihat jam di dinding kamarnya. Sudah tengah malam lewat, tapi Darren belum juga pulang. Padahal Dasen sudah dibawa eommanya sejak tadi, tapi Senja justru tidak bisa tidur dan istirahat santai karena Darren pergi tanpa pamit. Hanya meninggalkan pesan bahwa dia pergi ke rumah opa. Itupun ternyata bohong.
Satu jam kemudian Senja merasakan ranjangnya sedikit goyang. Rupanya Darren menyusulnya tidur dengan hati - hati tapi tetap saja ada guncangan kecil karena badan Darren yang besar. Senja pura - pura tidur. Darren mencium keningnya, lalu seperti biasa suaminya itu memeluknya dari belakang dan tertidur. Merasakan tubuh Senja kaku dan sama sekali tidak rileks. Darren jadi yakin kalau istrinya belum tertidur.
Darren yang tidak tahu, istrinya sedang mengumpulkan emosinya malah mendekatkan tangannya ke area sensitif Senja. Dengan cekatan Senja memegang pergelangan tangan Darren sebelum sampai ke titik tujuan. Pegangan Senja kali ini bukan dengan kelembutan, tapi kekuatan penuh tersalurkan di sana.
" Ask...." ucap Darren setengah merasa nyeri di tangannya.
" Hai pembohong, habis ketemu siapa ? silahkan tidur di luar atau mengambil guling sebagai jarak pemisah. Jangan sentuh aku sampai aku mengijinkan " sapa Senja ramah, tapi terdengar menakutkan bagi Darren.
__ADS_1
" Ask... aku bisa jelaskan. Aku hanya tidak mau kamu kepikiran. Aku menyelesaikan kasus kak Ming bersama Aleandro. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh tanya Al, besok tidak ada lagi kasus kak Ming " jelas Darren, hanya garis besarnya saja.
" Hemmmm....aku ngantuk. Sana tidur di sofa saja. Apapun tujuannya, bohong tetap bohong. Jadi nikmati saja hukumannya " Senja menarik selimutnya rapat hingga menutup kepalanya. Darren mengelus bagian vitalnya seolah ingin memberikan pesan agar bisa kembali bersabar.