
Angelica merasakan kesakitan dan ketakutan secara bersamaan. Cengkraman tangan Darren meskipun hanya tangan kiri, tapi begitu kuat. Menimbulkan sensasi panas yang menjalar sampai otak. Kilatan mata tajam begitu mengintimidasi. Membuatnya enggan untuk mendongakkan kepala.
Lidah Angelica terasa kelu, tubuhnya semakin bergetar. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, Darren akan bereaksi seperti ini. Dia hanya menunggu pembelaan dari Malito.
"Lepaskan Angel, Darr!" perintah Malito.
"Jika pak Malito ingin saya tetap menghargai bapak. Tolong jangan ikut campur! Saya bisa membawa masalah ini ke ranah hukum. Biarkan dia mengatakan yang sebenarnya." satu tangan Darren yang lain menarik kerah kemeja yang dikenakan Angelica. Tarikan itu sungguh mencekik.
Mahendra dan Malito sama - sama maju untuk tujuan berbeda. Mahendra tidak ingin anaknya menyakiti fisik perempuan, sedangkan Malito tidak ingin anaknya disakiti.
"Berhenti kalian, selangkah saja kalian maju. Aku akan benar - benar mencekik perempuan licik ini. Katakan! atau kamu memang sudah bosan hidup." Darren menatap tajam Mahendra dan Malito bergantian.
Senja masih melihat sekaligus berharap suaminya hanya sedang mengancam perempuan yang memang tidak tahu diri itu.
"Pa... Aku minta maaf. Aku bohong sama papa. Darren tidak pernah mengajakku menikah, tidak pernah tertarik padaku apalagi sampai tidur. Aku bohong pa. Uang itu, aku pinjam. Bukan Darren memberikan sukarela atau tiba - tiba menawarkan bantuan." suara Angelica bergetar, wajahnya terus menunduk.
Ucapan Angelica seketika membuat Malito merasa kecewa, marah dan juga malu.
"Ngel! Salah apa papa sama kamu? Papa tidak mendidikmu untuk menjadi penipu." ucap Malito, pelan namun tegas.
Perlahan Darren melepas tangannya dari tubuh Angelica. Seperti biasa, Darren langsung menoleh pada Senja yang sedang menatapnya lekat.
"Kembalikan uangku sekarang juga Ngel! Aku meminjamkan untuk modal usaha, bukan untuk bersenang - senang." Darren tidak menonel sedikitpun pada Angelica.
Angelica kelabakan.Uang yang dia pinjam hanya tersisa seperempatnya. Nominal sebanyak itu, dari mana bisa dia dapatkan sesingkat ini. Dulu saat perusahaannya masih sama jayanya dengan Mahendra corps, tentu uang segitu tidak seberapa.
__ADS_1
Darren menyodorkan kertas yang diambil di sakunya pada Malito. Rahang Malito semakin mengeras menahan marah. Rasa malu, harga diri yang jatuh karena kelakuan anak sendiri juga turut menghiasai wajah pria yang sebaya dengan Mahendra itu.
"Pak Mahen, saya tidak peduli pandangan bapak terhadap saya bagaimana. Dengan kerendahan hati, saya ingin meminta maaf pada bapak dan juga Darren, atas nama Angelica yang sudah mengacaukan keadaan. Saya akan berusaha melunasi hutan Angelica. Tolong beri waktu kami beberapa hari lagi." Malito memohon Mahendra dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Biarlah itu menjadi urusan anak - anak pak. Kita tidak perlu ikur campur," jawab Mahendra dengan tenang. Mahendra mengajak Malito untuk sedikit menjauh, mengajak mantan relasi bisnisnya itu sedikit berbincang.
Senja masih setia berdiri dalam diam. Dia pun tidak tahu harus bagaimana. Darren masih menatapnya dengan tajam tapi menyiratkan cinta dan kerinduan.
"Aku memberimu waktu sampai besok lusa. Jika sampai waktu yang aku tetapkan kamu tidak tergerak, aku akan menyita apapun yang kamu beli dengan uangku," ucap Darren, sangat tegas pada Angelica.
Angelica berlari ke Arah Senja, meraih tangan Senja dan mengiba di sana. "Tolong aku! Pasti kamu yang meminta suamimu untuk menagih uangnya kan? Uang itu tidak seberapa bagi kalian? Jika kamu meminta uangnya karena ucapanku di resort kapan lalu aku minta maaf."
Senja tersenyum kecut. "Memang aku yang menyuruh suamiku untuk menagih uangnya. Nilainya bagiku sangat besar, sayang kalau sampai terbuang sia - sia."
"Aku dari kalangan bawah, tapi setidaknya aku tidak pernah meminjam uang untuk memenuhi gengsiku. Dari manapun aku berasal, nyatanya sekarang aku yang berdiri di samping suamiku. Pikikan saja cara mengembalikan uang kami. Jangan berharap kami akan mengikhlaskan begitu saja," ancam Senja, pelan tapi sangat sinis. Seketika membuat Angelica terdiam.
Darren melangkahkan kaki, mengajak Senja dan Mahendra untuk pulang. Sudah cukup semuanya. Darren pasrah jika nanti Senja semakin mengacuhkannya. Ketiganya meninggalkan rumah itu tanpa pamit. Angelica sudah pasrah dan bersiap dengan kemarahan Malito.
Mahendra kembali ke hotel bersama Rudi, sedangkan Senja dan Darren di dalam mobil yang dikendarai Darren sendiri. Keduanya hanya diam. Larut dalam kecanggungan yang datang medadak. Mereka selah lupa bagainana membangun keharmonisan selama ini.
Suasana canggung saling diam itu berlangsung hingga sampai di hotel. Darren berjalan mengikuti langkah Darren yang dipaksa agak cepat. Jelas acara jamuanbsudah selasai dan besok mereka pasti bakal menerima serbuan pertanyaan dari orang - orang terutama Bae.
Senja pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya, setelah itu melihat Zain dan Dasen melalui conecting doornya. Dasen tenang bersama Wati, Zain bersama Bae.
Darren mengganti baju dan membasahi mukanya. Senja masih bertahan dalam diam. Ekspresinya datar, membuat Darren ragu untuk memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Ask..." panggil Darren.
"Hemmm.." jawab Senja.
"Maafkan aku untuk yang kesekian kalinya. Aku merasa sejak kita menikah, akulah yang paling sering mengucapkan kata maaf. Itu artinya aku sering menyakitimu, Ask! Maukah kamu menghabiskan hidupmu bersama laki - laki yang selalu membuatmu kesal ini? Hari ini, aku yakin bukan kata maaf terakhir yang aku ucapkan. Akan ada kata maaf lagi dan lagi, tapi aku janji! Aku tidak akan meminta maaf untuk kesalahan yang sama," ucap Darren, memandang Senja yang duduk berjarak satu meter darinya di atas tepian ranjang.
Senja tersenyum tipis sekali, hampir tidak terlihat. Hanya ekor mata yang melirik suaminya. "Aku tidak tahu sampai kapan bisa terus menerima maafmu. Aku khawatir, aku ini masih manusia biasa. Aku bisa saja marah dan kecewa tanpa batas. Tapi sepertinya hidup dengan siapapun akan sama. Kehidupan mana ada yang mulus, bukan tugas kita juga berpura - pura hidup sempurna."
"Ask... aku tidak suka kamu menyebut dirimu aku seperti itu. Aku merasa kamu sedang melebarkan jarak antara kita. Cukup masalah Angelica menjadi pelajaran berharga buat aku. Maksud kita baik, belum tentu orang lain menerimanya baik. Apalagi pada lawan jenis, kita malah dicurigai tertarik padanya," keluh Darren.
Lagi - lagi Senja hanya tersenyum tipis. Tanpa menjawab, Senja naik ke atas ranjang. Menarik selimut dan berbaring memunggungi suaminya.
"Sampai kapan kamu memberi jarak pada hubungan kita Ask? Aku kangen kehangatan mama Nja. Aku rindu mama Nja yang lembut dan menggoda. Tahukah kamu hal yang paling menyiksa dalam hidupku adalah diacuhkan olemu. Perih di pipiku karena ditampar papa tidak seberapa dibanding harus menahan perih tanganku karena tidak bisa menyentuhmu."
Senja menoleh ke arah Darren yang menatapnya sendu. "Aku ngantuk, kalau mau tangannya nggak perih sini naik. Tapi pastikan tanganmu hanya memegang satu titik. Jangan bergerak meraba kesana kemari. Aku sedang tidak ingin bekerja keras malam ini. Simpan energi buat besok" Senja mengatakan seraya menutup kedua matanya.
Tanpa basa basi, dengan semangat Darren segera menyusup ke dalam selimut istrinya. Melingkarkan tangannya di perut istrinya dan langsung di sambut gelombang halus gerakan baby twins.
Darren merapatkan tubuhnya, dada bidang itu semakin menekan punggung Senja. Tangannya mulai khilaf, terpeleset ke celah sempit di antara dua paha. Darren melirik reaksi dari wajah istrinya. Tidak ada gejala - gejala menolak. Dia pun melanjutkan aksinya.
"Dasar tidak bisa dipercaya!" gumam Senja, seketika menghentikan laju jari telunjuk yang mulai keluar masuk.
"Nanggung, ngomongnya jangan ambigu. Aku tidak pintar memahami kata - katamu. Seringnya gagal paham. Kamu tidak mau kerja keras, berarti aku yang harus kerja keras bukan?"
Tidak ada jawaban, dengkuran tidak halus menegaskan sapuan jari telunjuknya tadi hanya sebagai usapan yang menina bobokan, mengantar Senja ke alam mimpi semakin dalam.
__ADS_1