Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Masih dicuekin


__ADS_3

Senja terus membolak balikkan badannya di atas ranjang. Terbiasa tidur di kamar Darren, membuatnya kesulitan tertidur di ranjangnya sendiri. Pukul 00.30 mata belum juga bisa terpejam.


Senja turun dari ranjangnya, menyambar gelas kosong di atas meja lalu membuka pintu kamarnya menuju dapur. Melewati ruang tengah Senja melihat ruang kerja Mahendra dan Darren yang jadi satu terbuka dan lampunya menyala terang. Senja melangkahkan kakinya berbelok ke sana. Dia melihat Darren dengan serius menggerakkan lincah jemarinya di atas keyboard laptop.


"Askim belum tidur ?" tanya Senja lembut.


"Menurutmu?" Darren balik bertanya tanpabmenatap wajah Senja.


"Tentu saja belum. Kenapa masih kerja malam - malam begini, bukankah besok libur?" Senja sedikit menekan nada suaranya agar tidak terdengar kalau dia sangat mengharap diperhatikan.


"Aku hanya sedang ingin bekerja. Pikiranku sedang butuh pengalihan perhatian. Aku tidak mungkin keluar bukan? Calon istriku tidak suka aku pergi ke club malam. Aku selalu mengingat apa yang tidak dia sukai, karena aku menjaga perasaannya dari rasa sakit dan kecewa." sindir Darren.


"Maafin Senja Ask ... Senja janji tidak akan mengulang lagi. Senja hanya belum terbiasa. Selama ini Senja hidup sendiri, tidak terikat harus memberikan kabar pada orang lain. Maafkan Senja ya Ask ... Sudah ya ngambeknya." Senja berusaha mendapatkan maaf Darren dengan memanjakan nada bicaranya.


"Kamu pikir aku juga gak biasa hidup sendiri, Ask? Aku malah tidak pernah menjalani hubungan serius dengan siapapun seperti saat ini. Aku juga tidak biasa menjaga perasaan orang lain. Tapi saat aku memutuskan untuk mencintaimu, aku terus mengingatkan diriku untuk seminim mungkin membuatmu kecewa." Darren enggan melihat lawan bicaranya.


"Senja minta maaf, Ask ... Senja harus bagaimana sekarang? Senja gak bisa di cuekin seperti ini sama kamu Ask," ucap Senja hampir menangis.


"Jangan terburu - buru minta maaf sekarang, Ask. Jangan sampai kamu akan meminta maaf lagi untuk hal yang sama suatu saat nanti. Jadi sekarang pikirkan saja dulu. Setelah mengucapkan maaf harus ada perubahan. Bodoh kalau sampai mengucap maaf berkali - kali untuk hal yang sama," ucapan Darren benar - benar tajam.


"Ask please ... Senja tidak bisa begini. Senja akan berusaha lebih baik untuk menghargai dan mencintaimu. Tolong beri Senja kesempatan," pinta Senja benar-benar memelas.


"Buktikan Ask! Aku tidak akan mundur, tapi juga tidak akan melangkah maju terlalu jauh. Langkahku tergantung langkahmu juga sekarang. Aku akan mengusahakan yang lebih baik asal kamu juga berusaha." Darren menyudahi pekerjaan dan menutup laptopnya


"Kita tidur,csudah pagi ini. Aku yakin kamu tidak bisa tidur di kamarmu. Tidurlah di kamar seperti biasanya," ucap Darren sembari mengajak Senja ke kamarnya tanpa menggandeng tangan atau memeluk seperti biasanya.


Senja menggigit bibir bawahnya pelan, dalam keadaan marah pun Darren masih memikirkannya. Mengikuti langkah Darren yang lebar membuat Senja sedikit kesulitan mensejajarkan posisi dengan calon imam hidupnya nanti.?

__ADS_1


Sampai di dalam kamar, Senja langsung membaringkan badannya di atas ranjang. Darren pun langsung merebahkan badannya di sofa, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut termasuk kepalanya.


Perlahan Senja pun memasuki alam mimpinya. Entah kenapa ranjang Darren sangat menenangkan baginya. Untunglah Darren selalu mau mengalah tidur di sofa. Meskipun akan segera menikah, mereka mencoba sama - sama mengendalikan diri dari dosa yang kadang di rindukan dan juga diharapkan.


Mendengar dengkuran halus Senja, Darren menurunkan selimut dan membalikkan badannya. Memandang wajah lembut Senja yang pulas dan tenang dari kejauhan.


'Maafkan aku Ask ... aku harus seperti ini, Kalau tidak perasaanmu akan semakin terluka karena orang lain. Jika kamu sakit karenaku, aku akan mudah menyembuhkannya,' batin Darren. lalu dia pun menyusul Senja ke alam mimpi .


Baru saja beberapa jam tidur, Senja terbangun karena mendengar lantunan adzan dari musholla di lantai 1. Dengan menahan kantuk, Senja tetap berdiri untuk menyegarkan diri ke kamar mandi .


"Ask ... Askim ... Bangun ... Sholat subuh," ucap Senja sambil mengguncankan lengan kekar calon suaminya.


"Hemmm ... kamu duluan saja! Aku sholat di sini," sahut Darren dengan malas.


"Ya sudah Ask ... Senja turun dulu Ask " pamit Senja.


Senja yang sudah menyelesaikan dua rakaat di pagi hari, berada di dapur untuk membuatkan jus daun seledri untuk Darren. Setelah itu Senja membawakannya ke kamar.


"Ask ini jus sama air putihnya ya. Senja mau tidur lagi. Senja masih ngantuk." Senja menaruh nampan di meja lalu kembali naik ke ranjang.


"Hemmmm ...." jawab Darren sekenanya.


Darren mengusap wajahnya kasar, betapa menahan hasrat ingin memeluk ini sangat sulit. Untunglah Senja memutuskan untuk tidur, seandainya Senja mengajaknya berdebat seperti biasa sudah pasti pendirian Darren akan goyah. Itu tidak boleh terjadi! Kali ini Senja harus berusaha lebih keras, jika benar - benar ingin mendapatkan maafnya.


Darren meneguk jus bewarna hijau itu dengan cepat. Seketika jus tersebut sudah berpindah ke dalam perutnya yang diam-diam selalu dikagumi oleh Senja.


Darren mendekati ranjang di mana calon istrinya sedang memejamkan matanya. Lalu dia duduk tepat di hadapan Senja, menggunakan bangku kotak tanpa sandaran yang biasanya dipakai Senja untuk duduk berlama - lama di depan cermin.

__ADS_1


Darren terus menatap wajah Senja yang terlihat damai tanpa beban. Ingin sekali tangannya membelai pipi Senja. Tapi Darren takut membuatnya terbangun. Sampai setengah jam berlalu Darren masih betah memandangi calon istrinya. Jujur di dalam hati, Darren kangen sekali dengan Senja yang selalu lantang saat bicara dengannya.


"Aku mencintaimu Ask. Jangan buat aku cemburu lagi. Berjanjilah ini yang terakhir atau aku akan mengikatmu dengan tanganku. Hingga kemanapun kamu pergi, hanya aku yang berada di dekatmu," bisik Darren sangat lirih.


"Senja janji Ask," jawab Senja tetap dengan memejamkan matanya, membuat Darren kaget sekaligus bingung mencari alasan. Ternyata Senja hanya pura - pura tidur. Sedikit licik juga memang.


"Ask ... Pulang cepet pasti kangen kan sama Senja. Terus kenapa sejak pulang gak peluk Senja dan gak cium Senja?" Senja dengan santai menyandarkan dirinya di sandaran ranjang.


"Tidak! aku tidak kangen, urusanku di sana memang sudah selesai," sahut Darren, gengsi.


"Owh ... Sayang sekali, padahal Senja sedang ngidam pengen sekali di cium dan di peluk sama Askim," keluh Senja.


"Lain kali saja, aku ngantuk. Tadi ada semut besar merayap dibajumu, jadi aku bersihkan supaya tidak sampai menggigit dan menbuatmu gatal." Darren memberikan alasan yang sangat konyol.


"Askim masih marah sama Senja?" tanya Senja lembut, menatap Darren dengan tatapan yang sungguh menggoda.


Pikiran Darren mulai beradu. Sisi putihnya mengatakan untuk memberi maafnya sekarang, tapi sisi hitamnya mengatakan nanti saja. Senja harus berusaha lebih lama dan keras sedikit.


"Jangan mengajakku bicara sekarang, aku mengantuk. Nanti saja!" ucap Darren akhirnya sisi hitamnya yang sedang bertahta menguasai hatinya saat ini.


"Ah ... baiklah nanti saja. Sayang yang sabar ya, kakak Darren masih ngambek sama Bunda. Jangan minta dicium dan dipeluk dulu ya. Nanti saja tunggu kakak pulih." Senja mengelus perutnya, bibirnya manyun satu senti.


"Kakak?" tanya Darren heran.


"Bukankah kalian memang saudara sepupu?" Senja mengingatkan Darren pada statusnya untuk bayi yang dikandung Senja.


"Sudahlah ... aku mau tidur lagi. Kita bicara nanti setelah aku terbangun. Jangan harap aku memeluk dan mencium saat ini" Darren ketus, takut ketegasannya berkurang kalau lama-lama berdebat.

__ADS_1


Senja mendengus kesal .Sepertinya Darren memang sengaja mengerjainya kali ini.


__ADS_2