
Darren menggendong tubuh Zain keluar kamarnya. Bersamaan dengan Senja yang baru saja melangkahkan kakinya pada anak tangga terakhir.
" Zain kenapa ask ? Zain..." Senja kembali menuruni anak tangga cepat, menyusul Darren yang mengabaikannya begitu saja. Seolah lupa akan bekas luka operasinya yang masih membatasi geraknya, Senja bergerak lebih cepat dan gesit.
Mobil sudah siap di depan pintu utama, Darren segera masuk ke dalam mobil, melihat Senja berlari panik ke arahnya Darren menunda sebentar keberangkatannya. Menurunkan sedikit kaca mobil.
"Kamu tunggu di rumah, sepertinya ada yang memicu alergi Zain. Aku akan menghubingimu segera " ucap Darren pada Senja. Setelah itu, Darren menyuruh driver untuk membawanya ke rumah sakit terdekat secepat mungkin.
Dasen menangis kuat seoalah ikut merasakan kecemasan orangtuanya. Senja kembali ke kamarnya, berusaha menenangkan Dasen.
" Sayang, anak sholehnya mama Nja, Dasen bobo ya. Kalau nggak mau bobo, kita berdoa ya. Semoga kak Zain tidak kenapa - napa, semoga kak Zain cepat pulih, bisa kembali mainan sama dek Dasen, sama mama Nja , sama Daddy Darr juga " ucap Senja sebisa mungkin untuk tenang, karena anak bayi sangat peka dengan apa yang ibunya rasakan.
Darren menggendong Zain masuk ke ruang UGD. Dua orang perawat menyambutnya dan meminta Darren membaringkan Zain di atas brangkar. Seorang dokter jaga langsung menangani Zain dengan cekatan.
Dami luar, Darren masih menunggu dokter yang memeriksa Zain sambil berfikir apa yang memicu alergi Zain kambuh hingga sesak nafas. Selama ini Senja selalu berhati - hati pada makanan yang masuk ke tubuh Zain. Sesekali Senja membebaskan Zain untuk makan apa saja, tapi setelah itu Zain harus menghabiskan dua kaleng susu bergambar naga dan juga satu liter air degan hijau selama tiga hari berturut - turut. Menurut Senja keduanya mampu menetralisir racun makanan dengan alami.
Belum sampai menemukan jawaban, Dokter keluar dari balik kelambu putih tebal ruangan di mana Zain diperiksa.
" Syukurlah bapak membawa ke sini tepat waktu. Kami sudah memberikan pertolongan pertama. Sudah teratasi. Sekarang kami sedang melakukan langkah penyembuhan untuk menghilangkan ruam dikulit, mual, pusing dan sesak nafasnya akibat alerginya. Sepertinya ada makanan laut yang baru saja di konsumsi. Cumi, Udang, kepiting atau sejenisnya. Kami memberikan infus dan bantuan oksigen. Malam ini sebaiknya di rawat di sini dulu, besok pagi pasien diperbolehkan pulang saat infus sudah benar - benar habis. Ini masih infus pertama, ada dua kantong lagi yang harus dihabiskan beserta obatnya. Untuk obat langsung kita suntikkan di infusnya. masih ada tiga suntikan lagi " jelas dokter panjang lebar.
" Syukurlah. Terimakasih dok " ucap Darren.
__ADS_1
Perawat menanyakan Zain ingin dirawat di ruang perawatan apa, karena hanya semalam dan berdua, Darren memilih ruang perawatan VVIP saja. Darren akan menyuruh Rudi pulang kalau semua sudah beres nanti.
Setelah sampai di ruang perawatan, Darren berniat menghubungi istrinya yang pasti sudah sangat khawatir.
" Zain, kita video call mama Nja ya. Biar mama tidak khawatir " ajak Darren.
" Oke dad, apa daddy tidak takut dimarahi mommy ? kita pasti dimarahi dad. Zain kan tidak boleh memakan kepiting dan udang, pasti salah satu makanan tadi ada kepiting atau udangnya. Zain tapi kok nggak merasa ya tadibpas makan " ucap Zain dengan polosnya.
" Daddy lebih suka diomeli mama Nja daripada harus membuat mama Nja khawatir. Kita video call mama sekarang. Katakan saja yang sebenarnya. Laki - laki tidak boleh berbohong pada perempuan yang dicintainya " ucap Darren.
Darren meraba kantong celana pendeknya, tidak ada ponselnya di sana. Karena terburu - buru, Darren tidak sempat membawa ponselnya. untung Rudi belum pulang, jadi Darren meminjam ponsel Rudi untuk menelpon istrinya.
Mengetuk layar ponsel dua kali membuat mata Darren harus berakomodasi maksimal lalu terharu. Rudi ternyata juga sosok family man seperti dirinya, walpaper di layarnya adalah foto istri dan kedua anaknya. Seharusnya jika kondisi keluarganya normal, ponsel Rudi tidak akan seperti ini. Darren akan menanyakan pada Rudi tentang kehidupan keluarganya besok. Darren tidak ingin orang yang bekerja dengannya mengalami kesulitan, apalagi kesulitan finansial. Karyawannya harus sejahtera dan bahagia.
Darren mencari aplikasi whatsapp di ponsel Rudi, layar ponsel yang hanya 6 inci membuatnya nampak semakin kecil di tangan Darren. Lalu mengetikkan nomer Senja di tambahan kontak, tapi ternyata nomer itu sudah tersimpan juga di ponsel Rudi dengan nama kontak penyimpanan yang membuat Darren mengusap - usap matanya berkali - kali karena tidak yakin.
" Rud, ini benar namanya bu Senja jadi My hot bu boss ? " selidik Darren.
Rudi merutuki keteledorannya, ketahuan kan jadinya ngesave nomor bos nya dengan nama nyleneh.
" Iya pak, nama bu Senja di situ My hot bu boss kalau pak Darren di situ My hot pak boss. Habisnya kalau nganter bapak sama ibu, ac mobil kayak nggak berfungsi pak, panas minta ampun. Keringetan saya. Pengen cepat pulang tapi masih kerja, nggak dilihat itu kelihatan, dilihat itu bikin gemetaran. Begitu kira - kira asal muasal kisah nama itu pak " jelas Rudi panjang lebar, Darren senyum - senyum sambil menekan tombol video.
__ADS_1
Hanya dengan satu nada dering, Senja langsung menerima panggilan video dari nomer Rudi driver. Senja tau suaminya tidak membawa ponsel.
" Ask, bagaimana Zain Ask ? " tampak wajah samar - samar Senja yang panik, sungguh ponsel Rudi butuh upgrade. Senja yang cantik mempesona, mendadak satu lubang hidungnya tidak terlihat jelas di layar ponsel.
" Zain baik - baik saja Ask. Ini dia anaknya " ucap Darren sambil mengarahkan layar pada Zain yang reflek melambaikan tangannya sambil tertawa lebar.
" Syukurlah, kamu membuat mama khawatir Zain " ucap Senja.
" Zain baik - baik saja ma, mama ngobrol sama papa ya, Zain mau bobo dulu. Sampai ketemu besok ma " suara Zain terdengar ceria seperti biasa, membuat Senja benar - benar lega.
" Ask, apa kata dokter ? " tanya Senja.
" Alergi Ask, aku tidak tahu kalau Zain ada alergi makanan itu. Selama ini kamu yang mengurus semua makanan Zain. Ahhh... Aku baru ingat, tadi Zain makan sop asparagus, pasti ada daging kepitingnya di sana " ucap Darren.
" Astaga benar, pasti karena kepiting Ask " kata Senja.
" Maaf ya Ask, aku benar - benar tidak tahu. Kalau aku tahu, pasti aku melarang Zain memakannya " sesal Darren.
" Tidak mengapa Ask. Zain sudah baik - baik saja. Kamu bukan papanya, wajar jika tidak mengetahui segalanya tentang Zain "
Jlebbbbbbb..... kata - kata Senja terakhir terasa menusuk hati Darren, perih tapi tidak berdarah.
__ADS_1