
"Ya...Ya... Ya...Boleh!" jawab Darren, Setelah semua mata tertuju padanya.
"Sini Darr, opa mau bicara sama kamu," panggil opa.
Darren dengan wajah kurang ikhlas berjalan mendekati opanya. Lalu duduk di atas karpet tepat di dekat kaki Hutama.
"Sudah...Masih satu atap, Al saja biasa denger istrinya minta tidur sama Senja." Hutama menepuk pundak Darren.
"Opa kayak nggak pernah muda saja," tukas Darren.
"Pernah tapi nggak kelebihan kayak kamu gini,"
"Darren ini bukan kelebihan pa, kalau kata anak jaman sekarang bucinnya level di atas normal. Pengantin baru itu ya kalau belum punya anak, kalau sudah punya apalagi sudah mau nambah lagi ya kudunya nahan - nahan dikit," timpal Mahendra.
"Terserah papa sama opa saja." Darren menyandarkan penggungnya di sofa.
"Biarkan adik kakak tidur bersama Darr, kita jug bisa kalau kamu mau," goda Al.
"Nggak akan!!"
"Darr, opa mau nitip sesuatu sama kamu. Tapi ini buat anak - anak kamu ya. Makanya opa bilangnya nitip." Hutama mengambil amplop coklat A4 dari balik punggungnya lalu memberikannya pada Darren.
"Apa ini opa?" tanya Darren, penasaran karena saat di raba seperti benda berbentuk kunci.
"Jangan di buka sekarang, bukanya setelah si kembar keluar dari rumah sakit setelah kelahirannya." tegas Hutama.
"Terimakasih opa," ucap Darren.
"Sudah, opa mau istirahat dulu. Malam seperti ini, selalu opa rindukan. Tapi badan opa sudah tidak mampu kalau harus tidur malam," pamit Hutama sembari berdiri.
__ADS_1
Mahendra dan Darren sigap membantu. Tapi Hutama lebih memilih Mahendra yang mengantarnya berjalan ke kamar. Meskipun sudah bisa 90% pulih, tapi aktivitas Hutama tetap harus di bawah pengawasan. Akhir pekan perawat yang biasa mengurusnya mendapatkan libur. Jadi anak cucu bergantian menjaga Hutama di hari libur dari segala kesibukan.
"Ask...Senja tidur dulu ya. Nanti sebelum subuh aku pindah kalau nggak ketiduran," pamit Senja. Chun sudah mengamit lebgannya dengan posesif.
Darren melihat Sarita juga sudah tidak ada di sana. Tinggal mereka berempat saja. "Aman.. " batinnya.
"Sebentar Chun, biar mama Nja memberi salam selamat malam dulu pada daddy Darr." Darren berdiri tepat berhadapan dengan Senja, Chun mengendurkan tangannya dari lengan Senja. Sekalipun sudah sama - sama dewasa, Chun tidak sudi melihat kakak - kakaknya berciuman.
Darren mengecup bibir Senja, awalnya lembut dan sekilas, lama - lama bibirnya memagut dan menuntut perlawanan.
Aleandro menarik Chun Cha ke belakang, Ekspresi Chun Cha mendadak sedih lalu tangis kekanak - kanakannya kembali meledak ketika melihat dua bibir yang baru saja memulai tautan berbalasnya.
"Kakak ayo masuk kamar, cukup ciumannya!" Chun Cha menarik tangan Senja, memaksa Darren melepas bibir istrinya.
"Chun, itu ada Al. Apa Aleandro kurang membuatmu puas? sampai kamu harus membawa istriku." Darren tidak menutupi lagi kekesalannya.
"Hustttttt!!!! Diam dan selamat malam!!!" Chun menggandeng tangan Senja segera ke kamarnya yang ada di rumah opa.
" Al, memang kamu nggak bisa apa nolak kemauan Chun Cha. Menyusahkan aku saja," gerutu Darren.
"Kamu sendiri kenapa? kalau Senja mau sesuatu, kamu juga nurut begitu saja. " Aleandro membalikkan pertanyaan pada Darren.
Aleandro tidak mau berlama - lama berada di dekat Darren yang sedang kesal, bisa - bisa dia menjadi korban pelampiasan. Al pun memilih untuk kabur kembali ke rumahnya lewat conecting door yang ada di halaman samping rumah Hutama.
Malam sudah lewat, sekarang hari sudah berganti, tapi mata Darren sulit terpejam. Kesal masih melanda, bagaimana dia bisa tidur, hari yang sudah dia tunggu malah berakhir zonk. Bukannya saling melepas rindu, malah kini rindunya hanya sebatas menjadi nafas memburu.
Karena tidak bisa tidur, Darren memutuskan untuk ke dapur di lantai satu. Sekedar ingin memakan buah. Perut yang kenyang biasanya memudahkan matanya untuk cepat terpejam.
Darren meneguk segelas air putih di depan lemari pendingin. Satu tangannya memegang buah apel yang baru saja dicuci bersih olehnya.
__ADS_1
Seseorang mengambil apel dari tangannya, lalu menggigit buah apel itu dengan gaya pelan yang menggoda.
Daddy dari Zain dan Dasen itu mengucek - ucek mata, mengira yang ada di depannya saat ini hanya khayalan akibat fantasi yang berlebihan. Dia masih berencana akan menggunakan fantasi itu di kamar mandi setelah ini, tapi kenapa sosok ini muncul terlalu cepat.
Senja mencubit pipi suaminya, menyadarkan dari kebingungan yang jelas terlihat. Darren menepuk pipi sendiri kiri kanan, takut hayalannya benar - benar berlebihan. Setelah merasakan sakit, Darren baru yakin kalau ini memang kenyataan.
"Aku haus, air putih di kamar Chun habis," jelas Senja tanpa di minta.
"Nggak tanya Ask...Yang penting kamu di depanku sekarang." Darren memeluk Senja dari belakang, menghujani tengkuk leher istrinya dengan ciuman. "ke kamar yuk!" ajaknya.
"Chun belum tidur ask...Dia juga terbangun. Ini sekalian Senja ambilkan air minum,"
"Sebentar saja! Aku kangen,,,kangen sekali. Wangimu ini benar - benar membuatku tidak bisa lupa. Janji! ini tidak akan lama." Darren terus merayu Senja. Badannya semakin rapat memeluk Senja, membuat sesuatu yang mengeras dapat dirasakan bokong Senja dengan sempurna.
"Kamu kembali ke kamar dulu, sebentar lagi Senja susul. Senja anter minumnya Chun dulu." Senja sedikit mendesah karena bibir Darren terus memagut leherny lembut.
"Jangan lama - lama." Darren melepas pelukan dan menelan salivanya kasar. Senja memang magnet bagi tubuhnya, Senja bukan perempuan pertama yang menempel di tubuhnya, tapi cuman Senja yang bisa membuatnya merasa tersentuh tanpa harus menyentuh.
Setelah melihat punggung Senja menghilang dari padangannya, Darren kembali ke kamar. Mempersiakan dirinya di balik selimut, agar saat Senja masuk nanti tidak ada pekerjaan tambahan yang dilakukan. Saat pintu terbuka, Darren akan pura - pura tidur.
"Chun kakak mau lihat kakak iparmu dulu sebentar ya, nggaak lama. Nggak sampai sepuluh menit," pamit Senja.
"Ikut!!!" rengek Chun, pura - pura manja. Siapa yang tidak paham Darren dan Senja. Jangankan sepuluh menit, satu menit pun bisa berharga bagi mereka.
Senja masih mencari cara untuk bisa keluar lagi dari kamar Chun walau hanya lima menit.
Darren sengaja merapatkan selimut sampai ke leher begitu mendengar suara pintu kamar di buka. Senyum licik mengembang di bibirnya. Bayangan perlakuan Senja terlintas di pikirannya. Hanya dengan membayangkan saja, membuat naganya kini semakin ON.
"Dadd, Zain tidur di sini ya? Zain tidak bisa tidur lagi setelah mimpi bertemu papa. Papa tidak bicara apapun, hanya memeluk Zain lalu pergi begitu saja. Zain kangen papa Dadd." ucap Zain, sedikit sendu, lalu langsung naik ke atas ranjang dan memakai selimut yang dia bawa dari kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Zain???" Darren menyembulkan kepala dari balik selimut.