Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Rencana Aleandro


__ADS_3

" Owh, ngomongnya mantan Janda ? " tanya Senja, memastikan dengan wajah yang sulit ditebak. Darren yang menyadari ucapannya terlalu lepas langsung kehilangan nyalinya. Duduknya perlahan melorot.


" Biarpun Janda tapi jelas. bekas pakai tapi yang makai berkualitas dan ketahuan cuman satu itu saja. Ketimbang perjaka cuman label doang, kenyataannya jejak tangan dan mulut orang lebih banyak. Perjaka kw saja bangga " tambah Senja tidak mau kalah.


Darren menelan ludah kasar, nah kan mentalnya juga balik - balik lagi ke dia sendiri. Pak Anwar ingin tertawa melihat ekspresi DarrJen saat ini, tapi tentu saja di tahan.


" Kalau menurut bapak saya bakalan setia nggak pak kalau nikahnya sama perjaka seperti ini ? Saya kalau keluar nggak bawa anak - anak kelihatan nggak pak kalau saya ini sudah nggak perawan ? " tanya Senja pada pak Anwar. Darren semakin melorot, lututnya sampai menyentuh jok bagian belakang pengemudi. Pengennya pura - pura tidur, tapi ternyata sudah sampai di depan lobby rumah sakit.


Darren buru - buru menegakkan badannya kembali, Senja menyerahkan Dasen pada Darren.


" Das jangan rewel ya. Das sama abang mantan perjaka yang ganteng, mempesona dan kaya raya. Mama mantan Janda ketemu kakak De dulu " sindir Senja. Tatapan Darren memelas seoalah ingin mengucapkan maaf.


Senja pun turun dengan santai. Terlihat lebih ramah, sampai pada satpam rumah sakit pun Senja tersenyum. Darren terus memperhatikan istrinya sampai hilang dari penglihatannya.


Dari luar pintu, Senja sudah mendengar suara tangisan baby De. Sepertinya dokter sedang melakukan pemeriksaan. Senja segera membuka pintu dan melangkahkan kakinya. Seperti mendapatkan hadiah yang sangat besar, tangis baby De langsung terhenti.


" mamama .." ucap baby De langsung meminta digendong Senja.


Senja pun mendekat, dokter anak laki - laki seumuran Senja pun ikut tercekat melihat mama dari pasiennya. Seperti terhipnotis. Sebagai sesama laki - laki Aleandro menyadari apa yang ada dipikiran sang dokter.


" De, om dokternya mau periksa De ya ? " tanya Senja menirukan suara anak - anak.


" I..Iya Bunda " jawab dokter, jadi gugup.


" De, om dokter pengen lihat di dalam mulut de ada apa. De mulutnya dibuka sebentar ya. kita buka sama - sama. Aaaa...." Senja memberikan kode pada dokter untuk mulai memeriksa dengan matanya.


" Bagus, tidak ada radang. Om dokter pegang perutnya sebentar ya... Bagus juga. De kalau seharian ini panasnya normal, besok boleh pulang " ucap dokter ramah sekali.

__ADS_1


" Terimakasih dok " ucap Senja sambil mengelus kepala De yang sudah ada di pangkuannya.


" Sama - sama. Ada yang ditanyakan bund ? " tanya dokter, seperti sedangbmencari cara agar lebih lama di sana.


" Dokter bisa terima imunisasi juga ? " tanya Senja di luar konteks.


" Bisa bu, kalau imunisasi bisa janjian dulu supaya tidak antri. Langsung hubungi nomer saya saja. Kalau pagi saya praktek di rumah sakit ini, kalau sore di klinik ananda. Silahkan bu, ini karta nama saya " ucap dokter, seraya menyerahkan card seukuran ktp yang diambilnya dari dompet.


" Dokter Vano. Terimakasih dok, saya Senja. Saya akan menyimpan nomer dokter. Sepuluh hari lagi waktunya baby saya imunisasi Bcg dan polio satu "ucap Senja tanpa ragu.


" Saya tunggu kedatangannya bunda Senja. Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi saya permisi " pamit dokter Vano.


" Chun jadi pengen cepet punya anak, kalau dokter anaknya ganteng begitu adem rasanya " ucap Chun, Aleandro otomatis menatap Chun tidak senang. Belakangan ini Aleandro begitu sering mendengar Chun, memuji laki - laki lain. Itulah salah satu yang membuat Aleandro kesal. Sudah ada rasa cemburu, tapi Aleandro enggan mengakui.


" Kamu benar Chun, mata kita sesekali juga harus melihat kegantengan dengan versi yang lain. Jangan cuma para lelaki saja yang lihat seger - seger " sahut Senja.


De sangat anteng, bahkan satu porsi makannya dilahap habis tanpa rengekan seperti sebelumnya. Setelah makan dan minum obat, baby De pun tertidur. Senja sudah hampir satu jam berada di sana, tumben sekali ponselnya anteng. Darren tidak menghubunginya unyuk mengeluhkan Dasen yang sudah mulai merengek karena waktunya Asi.


" Chun, kakak pulang dulu ya. Dasen nunggu di mobil sama abang. Kamu tau kan keduanya sama rewelnya kalau terlalu lama ditinggal. Kalau De nyari, kita video call saja seperti biasa. Kalau kamu pengen ketemu dokter Vano lagi, ntar kalau kakak imunisasi Dasen kakak ajak " ucap Senja semakin memanas - manasi Aleandro.


" Kakak memang yang terbaik, ngerti saja pikiran Chun " ucap Chun, mencium pipi Senja gemas.


" Chun !!!! " ucap Senja kesal, dia tidak suka dicium seperti itu. Chun selalu meninggalkan nyeri di pipinya.


Akhirnya Senja pun berpamitan, Aleandro menemani Senja berjalan sampai ke lobby sekalian ingin mencuri waktu untuk mencurahkan isi hatinya sebentar.


" Nja, menurutmu Chun bagaimana ? apa Chun masih tertarik sama aku ? " tanya Aleandro tiba - tiba.

__ADS_1


Senja menghentikan langkahnya sebentar, menatap Aleandro sekilas lalu kembali berjalan. " Mungkin masih, tapi ketidakpastian mampu mendorong orang untuk berfikir lebih realistis. Dengan umur Chun sekarang, dia butuh hubungan yang serius. Menunggu kak Al yang hanya jalan di tempat pasti melelahkan. Chun sedang di fase realistis, dia membuka hatinya untuk melihat kelebihan laki - laki lain. Itu awal yang bagus untuk bisa melupakan seseorang " ucap Senja dengan senyuman penuh arti.


" Kalau aku lamar Chun saja bagaimana ? aku belum yakin perasaanku bagaimana, tapi aku tidak suka dia akhir - akhir ini sangat terbuka dengan laki - laki lain " ucap Aleandro ragu - ragu.


"Kalau kak Al ragu, Chun pun sama. Kalau kak Al yakin pasti Chun pun yakin. Buat apa pakai lamaran kalau ujung - ujungnya juga belum pasti. Kakak bisa meniru Senja, yang penting terbuka dan lakukan kewajiban kita dengan benar setelah pernikahan. Berikan kesempatan pasangan melakukan tugasnya. Hargai usaha mereka. lama - lama kita akan terbiasa. Selanjutnya cinta akan datang dengan sendirinya. Senja awalnya nggak terlalu cinta sama abang, sekarang cinta banget " ucap Senja, tanpa beban penuh keyakinan.


"Baiklah, setelah De keluar dari rumah sakit, weekend ini aku akan mengajak Chun ke negara S. Aku akan melamarnya resmi dan menikahinya segera. Tapi tidak terlalu cepat juga. Aku tidak mau kamu tidak bisa menghadiri pernikahanku " ucap Aleandro akhirnya.


Mobil sudah menunggu tepat di depan lobby, Senja membalik badannya menghadap Aleandro.


" Jadwalkan pernikahan kakak dua bulan lagi pasti Senja datang. Dasen usia tiga bulan, mungkin sudah bisa ditinggal. Tapi kak Al harus bantu Senja meyakinkan mak Bae, agar bisa memakai jasa baby sister sebentar. Mak Bae, tidak mau Dasen diasuh baby sister "ucap Senja menirukan suaminya yang memanggil eomma nya dengan mak. Tentu saja kalau tidak ada orangnya. Kalau ada tidak ada yang beranilah mereka.


" Aman...bisa di atur " ucap Aleandro lega.


Senja memasuki mobil dengan sumringah, lalu memberi telapak tangannya dengan cairan untuk mensterilkan kuman. Dan memakai kain penutup di bajunya, agar Dasen tidak menempel di bajunya langsung. Pak Anwar perlahan menjalankan mobilnya.


" Anteng ya Ask Dasen nya ? " tanya Senja.


"Anteng Ask, kalau kenyang sepertinya bisa dua jam sama aku tampa kamu " jawab Darren.


"Syukurlah kalau begitu. Lain kali berarti kalau aku pengen pergi, Dasen bisa sama kamu ya ? " tanya Senja.


" Memang kamu mau kemana ? " selidik Darren.


" Mau membuktikan kesetiaan mantan Janda " sahut Senja cepat. " Kesetiaan tanpa godaan belum teruji, aku akan jalan - jalan ke mall sendirian. Lihat yang seger - seger. Kira - kira ada yang bisa menggetarkan hati dan mengobrak abrik kesetiaan mantan Janda nggak ya ? " Senja mengucapkannya dengan wajah yang sulit digambarkan. senyumnya licik tapi sedikit menggoda.


" Enggak !!!! Gak perlu dibuktikan " ucap Darren.

__ADS_1


__ADS_2