
"Seperti kamu yang tidak bisa mengendalikan rasa cemburumu. Akupun sama. Jika aku bisa mengendalikan semua kelakuanku yang menurutmu aneh dan konyol, akupun akan menahan diri. Jika kehamilanku dengan segala keinginanku merepotkanmu aku tidak keberatan kita hidup masing - masing dulu." perasaannya yang sedang sensitif membuat Senja berfikiran pendek.
"Ngomong apa kamu Ask?" Kamu pikir dengan hidup masing - masing masalah selesai? Aku tidak pernah selelah ini menghadapimu. Akhir - akhir ini kamu seperti sengaja menguji kesabaranku." ucap Darren meremas rambutnya kasar.
"Kamu boleh menjauh sejauh mungkin kalau memang kamu lelah. Tinggalkan aku dan anak - anak. Kalau aku bisa memilih. Aku juga ingin proses kehamilanku seperti saat aku hamil Zain, De atau Dasen. Lebih baik aku tidak hamil." suara Senja mulai bergetar.
"Jaga Bicaramu Ask !" bentak Darren dengan keras, suara itu sampai membangunkan Dasen dan membuatnya bayi mungil itu seketika menangis karena kaget.
Senja langsung berlari mengangkat Dasen, memeluknya di dada dan menenangkan dengan penuh kasih sayang. Meski air mata Senja juga sudah jatuh. Bentakan Darren sungguh membuat hatinya sakit.
Darren mendekati Senja begitu Dasen sudah terlihat tenang. "Maafkan daddy. Daddy hanya kecewa dengan mamamu. Sepertinya mengucap maaf sekarang begitu sulit. Daddy pergi sebentar, Daddy butuh waktu sendiri." bisik Darren pada Dasen. Terdengar jelas di telinga Senja.
Senja tersenyum sinis. "Laki - laki saat menghadapi masalah keluarga, saat dia jenuh begitu mudahnya meninggalkan rumah. Membawa badannya sendiri, perempuan? bahkan menyegarkan diri sebentar di kolam renang saja menjadi masalah. Padahal satu anak dibawa, apalagi kalau sendiri. Laki - laki menyembunyikan ketidakberdayaannya dengan marah lalu pergi. Perempuan? meski di otaknya penuh pikiran. Bibirnya masih harus tetap tersenyum untuk anaknya, pundaknya harus tetap kuat untuk menggendong anak yang lain. Tidak ada tempat dan celah bagi perempuan untuk meletakkan bebannya. Butuh waktu untuk sendiri kan? Ambil sebanyak yang kamu butuh!" ucap Senja, sinis.
"Aku akan membawa Zain. Aku hanya sebentar. Aku tidak mau emosiku bisa menyakitimu. Jangan ucapkan kata - kata yang berlebihan lagi. Kita masih sama - sama belum biasa drngan keadaan sekarang. Jangan lupa makan. Aku pergi. Aku susul Zain dan mengajaknya sekalian." pamit Darren, dia hanya mencium Dasen.
Pukul sepuluh kurang, Arham mengetuk pintu kamar Senja untuk berpamitan. Hari ini hanya Arham dan Bae yang kembali ke negara S. Hyeon dan Eunji memilih pulang keesokan harinya. Sepertinya dua kembar itu lebih betah berada di Indonesia sekarang.
"Appa.." sapa Senja, membuka daun pintunya lebih lebar.
"Appa mau pulang dulu ya, setelah rangkaian acara Chun selesai appa akan kembali mengunjungimu. Kemana Darren?" tanya Arham, matanya mencari ke sekeliling mencari sosok menantunya.
"Jalan - jalan sama Zain pa. Nanti Kemalaaa sampaikan." jawab Senja, tidak sepenuhnya berbohong.
__ADS_1
"Ya sudah. Jaga cucu - cucu appa dengan baik. Semoga sehat dan selamat sampai lahiran." ucap Arham seraya mengusap perut Senja.
"Aminnn..Terimakasih appa. Eomma kemana?" tanya Senja.
"Eomma tidak mau kamu mual, eomma sedih La.. Mengira kamu belum sepenuhnya menerima dan memaafkan eomma." jelas Arham.
"Tidak seperti itu appa. Kemala sayang eomma, tapi entah kenapa setiap kali melihat wajah eomma Kemala merasa mual. Bukan kemauan Kemala. Saat melihat abang senyum pun, Kemala begitu." ucap Senja, merasa tidak enak.
"Orang hamil memang suka aneh - aneh. Jangan - jangan anakmu kembar. Satu mirip Darren dan satu akan seperti eommamu. Pasti merepotkan." Arham mengatakan sambil terkekeh.
"Jangan Appa, Kemala akan mati berdiri bisa - bisa." Senja ikut terkekeh.
" Appa pulang ya, appa mau gendong Dasen sebentar." pinta Arham.
Arham menggendong Dasen menuju kamarnya bersama Senja. Bae tidak mengira kalau Senja akan menemuinya.
"Eomma maaf, Kemala balik badan dulu. Kemala tidak tahan melihat wajah eomma.Kalau eomma ingin memeluk Kemala, peluk dari belakang saja." Senja buru - buru membalikkan badannya begitu melihat Bae. Sekilas saja, membuat rasa mualnya sudah sampai di tenggorokan.
Bae mencubit lengan Senja dengan gemas. "Tidak bisakah ngidammu itu yang lebih elegan, kalau sampai anakmu itu mirip eomma tau rasa kamu." ucapnya seraya meminta appa memindahkan Dasen ke tangannya.
"Tidak akan!" sahut Senja cepat.
"Jadi ini beneran ngidam kan? bukan karena Kemala benci eomma?" Bae meyakinkan diri.
__ADS_1
"Tentu saja tidak eomma." jawab Senja dengan tenang.
"Jangan - jangan ini hanya sandiwara kalian supaya eomma tidak marah dan tidak membawa Dasen?" selidik Bae.
"Tentu saja tidak eomma," ucap Senja masih dengan memunggungi Bae.
"Ya sudah eomma pulang dulu ya. Kehamilanmu kali ini, akan membuat eomma ke sini. Eomma akan lebih cerewet kali ini." ucap Bae, kembali pada mode cerewet meskipun seperti berbicara dengan punggung Senja.
Bae kembali memberikan Dasen pada Arham, lalu kembali pada Senja. Bayi montok itu hanya tersenyum dengan jemari satu tangan memenuhi bibir mungilnya. Meskipun sebenarnya ada rasa mengganjal karena belum memberikan omelannya pada Senja, Bae merasa lega. Senja mau menemuinya walau dengan cara yang tidak biasa.
Sampai waktu makan malam Darren dan Zain belum kembali ke hotel. Senja mondar mandir di belakang pintu kamarnya. Ponsel Darren tidak dibawa. Tergeletak di atas nakas begitu saja.
Senja tertidur dengan posisi masih memberikan Asi pada Dasen. Dasternya tersingkap sembarangan seperti biasa. Darren masuk menggendong Zain yang juga tertidur. Pelan - pelan Darren menidurkan Zain di samping Dasen.
Sampai Darren keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya, Senja masih tidak bergerak dari posisi sebelumnya. Tidak ada ruang bagi Darren untuk berbaring di sana. Darren pun akhirnya memilih rebahan di sofa panjang. Melihat wajah istrinya dari jauh, membuatnya sangat menyesal karena tadi sempat membentak dengan sangat keras.
Darren pura - pura memejamkan matanya, saat melihat Senja terbangun dari tidurnya. Senja mencium kening Zain, lalu beralih mendekati Darren.
"Kamu tampan sekali Ask, kamu memiliki segalanya yang perempuan inginkan. Seharusnya itu cukup membuatmu angkuh seperti dulu. Cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Kalau orang sesempurna kamu saja masih bisa insecure, bagaimana dengan orang lain. Sebenarnya aku malas berdebat denganmu ketika kamu cemburu. Ujung - ujungnya pertengakaran kita tidak malah mereda, tapi semakin membara. Aku benci mengatakan ini, melihatmu begini kenapa jadi aku yang ingin sesuatu." gumam Senja. Bergidik sendiri, merasakan hasrat bir**hinya meninggi di saat yang tidak tepat.
Darren menahan senyumnya. Apa yang diucapkan Senja, jelas terdengar. Situasi mendukung untuk tidak terjadi apa - apa malam ini. Karena anak - anak tertidur di ranjang yang sama.
"Sampai besok mama Nja." batin Darren, licik.
__ADS_1