
Senja menyesal dan masih sedikit tidak percaya. Hanya butuh waktu seminggu untuk membuat suaminya berbelok arah. Padahal di luar sana, masih banyak perempuan yang pastinya mau dengan suka rela menjadi simpanannya. Senja sedikit menggeser posisi tubuhnya, memunggungi Darren yang juga sedang berfikir keras.
Darren akhirnya membalik posisi tidurnya. Kini dia telentang, tapi Senja sudah enggan. Dalam hati ingin meyakinkan diri dengan membuktikan sendiri kebenarannya sekali lagi. Keduanya sedang sibuk dengan pikiran masing - masing.
"Ask...."
"Iya..." Senja menjawab dengan nada manja.
"Kok doanya tadi gitu?" Darren sudah tidak menahan diri. Jangan sampai kesedihan Senja bertambah karena mengira dirinya penyuka sesama solanum melongena.
"Owh...Kamu denger?" Senja membalikkan badannya, menghadap ke arah Darren.
Darren ikut memiringkan badannya, menggunakan satu tangan membentuk sudut untuk munumpu kepalanya.
"Ask...Aku masih normal." bisik Darren, tangannya menuntun tangan Senja untuk menyentuh naganya. Senja menyentuhnya enggan, belum maksimal tapi naga itu bergerak menyambut tangannya.
"Terus kenapa Yanes ngomong kamu suka sama Amar, Kamu sering di dalam ruangan berdua saja sama Amar akhir - akhir ini. Intinya kalian begituan," ucap Senja antara kesal, sesal dan sedih.
Dalam hati Darren mengumpat dan menyumpahi Yanes habis - habisan. Meskipun berhasil membuat Senja kembali peduli padanya, tapi kelelakiannnya sedang dipertanyakan oleh satu - satunya orang yang menjadi saksi kejantanannya. Cukup menjatuhkan harga dirinya.
"Jangan bahas itu Ask, aku mual membayangkan. Kamu harus percaya kalau aku normal. Kamu mau buktinya?" Darren memajukan badannya semakin menempel lah si Naga dengan lutut Senja.
"Nggak, Senja capek hari ini. Lagian Zain tidur di sini. Lain kali saja." Senja menolak dengan halus, sekarang gantian Darren yang mengajak otaknya berfikir keras. Darren takut kalau sampai Senja masih meragukan dirinya. Ingin membuktikan, Senja sudah mendengkur seperti biasa. Darren hanya pasrah, tidak sabar menunggu pagi untuk membuat Yanes mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pagi yang sudah senormal biasanya, asisten rumah tangga pun sudah kembali ke rumah. Meskipun belum kembali ceria sepenuhnya, kondisi Senja bisa dikatakan jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Mbak, tolong carikan dompet saya ya!! Dari kemarin saya nggak nemu - nemu. Saya kemarin bayar taxi online sampai minta papa." keluh Senja pada Ima yang sedang membereskan pakaiannya.
Ima membongkar tas yang kemarin digunakan untuk membawa barang keperluan Dasen, tapi tidak ditemukan.
__ADS_1
"Terakhir kamu taruh mana Ask?" Darren ikut - ikut menanyakan.
"Seinget aku sudah di atas tas Dasen. Tapi pas mau bayar kemarin nggak ada. Mana kemarin salah pula, mobilnya premium. Bayarnya jadi mahal." keluh Senja.
"Kartu atm, id, kartu asuransi di sana semua?" tanya Darren lagi.
Senja mengangguk lemas. Darren mencium kening istrinya. "Dicari dulu, nanti kalau nggak ketemu. Aku urus kartu - kartunya, uangnya aku ganti. Sudah nggak usah dipikirin, mama Nja banyak berfikir akhir - akhir ini. Tapi lupa nyelipin daddy Darr dipikirannya." bisik Darren, mesra dan menggoda. Tapi Senja seperti agak canggung dengan sikap suaminya.
Dari ciuman demi ciuman pagi ini, Senja kaku seperti robot. Menerima tapi tidak pasrah, ototnya selalu menegang, bayangan suaminya bersama Amar membuatnya bergidik. Darren menyadari istrinya pasti terganggu dengan bisikan Yanes.
"Ask... Aku berangkat kantor dulu!" pamit Darren, mencoba bersikap wajar.
Senja berdiri,masih dengan menggendong Dasen menghadap ke depan. Karena baru selesai makan, Senja tidak membaringkan Dasen.
"Hati - hati Ask." Senja mencium punggung tangan Darren. Hanya pasrah saat Darren mencium kening dan bibirnya sekilas. "Jaga jarak sama Amar ya Ask..." pesan Senja.
Darren seketika mengusap wajahnya kasar. Sangat konyol diragugan orientasi *eksualnya oleh istri sendiri.
Amar dan Ali saling memberi kode dengan ekor matanya, atasannya sedang tidak baik - baik saja. Lebih gawat dari kondisi seminggu terakhir.
Darren langsung membuka ruangan Yanes dengan kasar.
"Ngomong apa kamu sama Senja?" Darren tidak bisa menutupi kekesalan sekaligus kemarahannya.
"Improvisasi sedikit bos, karena reaksi bu Senja biasa saja saat menyebut Naomi. Bu Senja seperti ikhlas," jelas Yanes masih merasa santai. "Berhasil kan bos?" tanyanya dengan yakin.
"Tentu saja berhasil, berhasil membuat Senja menyebut nama Tuhan mendoakan aku agar kembali ke jalan yang benar. Orientasiku sekarang diragukan, Senja takut aku acdc. Terus gimana Nes?" hardik Darren, sangat serius dan tajam.
"Tinggal jelasin pakai tindakan. Beres." Yanes masih meremehkan.
__ADS_1
"Buru - buru tindakan, dicium saja kaku kayak kanebo. Kalau sampai pulang nanti Senja masih berfikir yang tidak - tidak, mulai besok jangan injakkan kaki lagi di kantor ini." ancam Darren sambil berlalu meninggalkan Yanes dengan kesal. Pintu ruangan dibanting begitu saja saat menutup.
Amar dan Ali reflek pura - pura menyibukkan diri. mereka tidak ingin menjadi pelampiasan kemarahan atasannya itu.
Yanes mondar mandir diruangannya, bingung harus melakukan apa. Yang pasti mau tidak mau dia harus menemui istri bosnya. Kehilangan pekerjaaan karena alasan membuat fitnah pada istri bos akan sangat memalukan.
Tapi bertemu apalagi mengunjuni Senja tanpa memberitahu Darren juga salah. Walaupun untuk meluruskan masalahnya, tetap saja sebelum bertamu harus ijin terlebih dahulu.
Dengan langkah kaki yang berat, wajah dipasang sedikit memelas. Yanes memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Darren. Amar dan Ali memasang indera pendengarannya lebih tajam untuk menyimak apa yang akan dan sebenarnya terjadi.
"Ada apa lagi?" tanya Darren sinis dengan matanya tidak beralih fokus dari laptop di depannya.
"Saya mau minta ijin ketemu bu Senja." jawab Yanes hati - hati.
Darren tidak menjawab, matanya fokus ke layar dan tangannya pun masih lincah mengetik.
"Pak....Bagaimana? kalau saya bicara di telepon rasanya sangat tidak sopan. Takutnya malah salah penerimaan. Kesannya saya di bawah tekanan," jawab Yanes, jujur.
"Kamu boleh ke rumah, tapi ajak Amar dan Ali sekalian. Kalau perlu bawa cctv kantor seminggu terakhir. Pastikan aku pulang ke rumah, Senja sudah semanis dan sehangat biasa. Kalau sampai tetap kaku. Bereskan barang - barangmu dari meja kerjamu." Lagi - lagi Darren mengancam Yanes.
Yanes sebenarnya masih berfikir keras, cara apa yang bisa digunakan untuk menjelaskan pada Senja. Salah bicara sedikit, cecaran pertanyaan pasti akan menghujaninya. Yanes menarik nafas dalam, menghembuskan perlahan. Dia harus tenang, agar oksigen yang masuk ke otak lancar dan bisa berfikir dengan benar.
Amar dan Ali mengekor saja pada Yanes yang mengajak mereka. Berharap nantinya mereka tidak ikut terseret ke dalam permasalahan lebih jauh.
Darren mengeluarkan ponselnya dari clutch hitam miliknya, beberapa kali ponsel itu berdering.
"Kenzi!!!" batin Darren begitu melihat foto Kenzi terlihat di layar ponselnya. Darren segera mengulir ke atas tombol hijau di layar ponsel.
"Dengan bu Senja?" sapa Kenzi.
__ADS_1
Tanda tanya menari - nari dan bernyanyi di kepala Darren.