Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Duka Senja


__ADS_3

Senja menekan tombol nurse call. Jantungnya berdegup tak karuan. Pikirannya melayang pada sosok suaminya. Senja menghubungi ponsel Darren yang tidak aktif. Darren tidak sengaja mematikan, tapi batreinya memang habis.


Tepat tiga jam lima puluh menit kemudian, Darren sampai di rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari bandara. Darren melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan dokter Nuke yang juga langsung menemui teman sejawat dokter yang menangani Senja.


Pintu kamar Senja terbuka, seketika Senja menangis haru, membuat Darren malah salah paham.


"Ask ... Its oke. Yang penting kamu sehat. Tuhan pasti akan memberi kita kepercayaan lagi disaat yang tepat " ucap Darren, membuat Senja mengerti arah pembicaraan suaminya.


Darren memeluk Senja menangis sesenggukan di atas ranjang.Darren merasa benar - benar lelah. Ujian mereka terlalu berat dan bertubi - tubi untuk pasangan yang belum genap satu tahun menikah.


"Bukan Ask ... Bayi kita baik - baik saja. Bayi kita sehat Ask. Senja nangis karena Senja seneng ketemu kamu Ask. Senja kangen " Senja meluruskan pikiran suaminya yang salah.


"Kamu serius Ask ? anak kita sehat ? " Darren berkaca - kaca, wajahnya memerah karena tangisnya barusan.


"Serius Ask, dia sehat. Sangat sehat. Senja hanya dehidrasi "ucap Senja lirih, Darren pasti akan mengomelinya habis - habisan.


"Maafkan aku Ask. Aku tidak menjaga kalian dengan baik. Maaf ... Mulai sekarang aku akan selalu mengingatkanmu " ucap Darren. Senja menghela nafas lega. Darren banyak berubah, selalu menyalahkan orang lain tidak lagi dia lakukan.


"Ask ...perutmu bunyi. Apa kamu belum makan ? "tanya Senja setelah mendengar suara khas perut kosong dari perut suaminya.


Darren menggeleng manja.


"Dasar ... Selalu lupa makan kalau tidak diingatkan " omel Senja.


"Karena itu jangan pernah berhenti mengingatkan aku. Tanpamu aku kacau Ask " ucap Darren serius.


"Makanlah, apa mau makan roti dulu ? "tanya Senja, Lagi - lagi dijawab anggukan kepala oleh Darren.


Senja meminta Darren membantunya untuk duduk bersandar. Lalu menyuapi dengan roti yang tadi sempat dia beli bersama Zain.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mas Rafli ask ? " tanya Senja.


"Sebelum aku ke sini, dia sadar ask. Dia nitip peluk sayang ke kamu dan Zain. Aku tidak meragukan sama sekali cinta Rafli padamu Ask "ucap Darren .


"Aku juga tidak meragukan cintamu padaku Ask " sahut Senja cepat. Darren mencium gemas bibir istrinya.


Dokter nuke dan satu orang dokter lagi masuk menjeda kemesraan dua pasangan itu. Dokter mengatakan proses pemindahan pasien dapat dilakukan.Darren menelpon mamanya untuk langsung mengajak Zain ke bandara.


*******


Semua sudah bersiap di dalam pesawat,hanya tinggal menunggu waktu landas lima belas menit lagi.


Darren dengan setia menggenggam tangan Senja. Menciumi perut Senja berkali - kali. Bersyukur bayi itu sekuat kedua orangtuanya.


Ponsel Darren kembali berdering.


"Halo " sapa Darren, satu tangannya masih menggenggam tangan Senja.


Ponsel terlepas dari genggaman tangan Darren, jatuh ke lantai begitu saja. Tangannya yang menggenggam Senja semakin erat menggenggam bahkan semakin mencengkram.


"Kenapa Ask ? " tanya Senja bingung.


Senja yang duduk bersandar dengan kaki lurus dengan tangan masih mengenakan infus semakin bingung melihat Darren yang menatapnya nanar.


Mama Sarita dan Zain di sisi lain masih santai bercanda dan beradu permainan di gawai masing - masing.


"Rafli benar - benar meninggalkan kita semua Ask. Rafli sudah berpulang Ask " jawab Darren lirih.


"Enggak.... Ini tidak mungkin "Senja mengatupkan tangan menutup dua telinganya.

__ADS_1


"Ask... Tahan emosimu, ingat Zain " ucap Darren.


"Mas Rafli tidak mungkin meninggalkan Senja untuk kedua kalinya Ask, tidak mungkin. Zain baru saja sembuh ask. Bagaimana kita menyampaikannya pada Zain " suara Senja semakin lirih.


"Ask tadi Rafli bilang, dia minta kamu yang mengurus jenazahnya. Rafli mau disemayamkan di mana dan di makamkan di mana. Rafli menyampaikan ini juga di depan mamanya "ucap Darren. Kepalanya serasa berdenyut. Semua terjadi begitu cepat. Tidak bisakah Tuhan membiarkannya tenang sesaat.


Darren menatap istrinya lekat, tidak ada air mata di sana. Tapi jelas matanya menyimpan sedih dan luka. Senja tidak boleh setegar ini. Menyimpan kesedihan justru akan melukai dirinya, tapi ruang untuk meluapkan perasaan pun terbatas. Ada hati seorang anak dan hati suami yang harus Senja jaga. Pura - pura tegar adalah pilihan terbaik.


"Telpon mamanya mas Rafli dimandikan dan disemayamkan di rumah sakit saja. Makamnya di makam pura - pura mas Rafli dulu. Tapi tolong jangan dikafani dulu sebelum Senja dan Zain datang. Zain berhak melihat wajah papanya untuk terakhir kali "pinta Senja datar.


Darren menelpon mama Rafli menyampaikan persis apa yang disampaikan Senja. Sonya menyetujui tanpa syarat.


"Bagaimana Zain Ask ? "tanya Darren.


"Sampai di jakarta nanti berikan waktu pada kami untuk berdua " pinta Senja, tatapan matanya tidak fokus. Darren merengkuh pundak istrinya. Tanpa kata berharap Senja dapat melepaskan tangisnya, tapi ternyata tidak. Senja menerima pelukannya kaku, tubuh Senja menegang seperti sedang menahan guncangan. Darren tau istrinya sedang tidak baik - baik saja.


"Senja mencintaimu Ask. Jika Senja sedih atas kepergian mas Rafli apakah ini namanya selingkuh ? "tanya Senja, tatapannya masih nanar .


"Tidak ask...Tidak, aku mengijinkanmu mengambil waktu sedihmu. Menangislah di pundakku. Tapi berjanjilah hanya Rafli laki - laki lain yang bisa membuatmu berpaling dariku sejenak " ucap Darren mengelus rambut istrinya lembut.


"Mas Rafli jahat. Kalau dia datang kembali untuk meninggalkan Senja seperti ini buat apa ? Apa dia pikir, mempermainkan perasaan Senja itu sebuah hiburan. Lihat saja Senja akan menghabisi mas Rafli nanti " ucap Senja penuh emosi.


Darren menciumi pucuk kepala istrinya .Pesawat mulai menggelincirkan rodanya, mengepakkan sayap besi mendekati duka yang sesungguhnya. Entah apa yang akan terjadi nanti kenyataan harus dihadapi.


Senja sedang menanyakan kemungkinan apakah dia di ijinkan melepas infusnya pada dokter Nuke, dengan berbagai pertimbangan dokter tidak mengijinkan. Paling maksimal Senja boleh datang itupun harus di atas kursi roda. Senja tidak boleh berdiri terlalu lama apalagi berjalan untuk tiga hari ke depan.


Perjalanan tiga jam di dalam pesawat sungguh terasa sangat lama, hati Senja teriris membayangkan betapa Zain akan merasa sangat kehilangan. Ingatan Senja melayang jauh ke belakang, saat - saat Rafli masih menjadi suaminya. Kehidupan pernikahan yang hampir sempurna kecuali masalah restu, lalu hancur terusik drama kematian palsu.


Darren menahan diri untuk tidak ikut larut dalam kehilangan, rasanya masih hangat terasa saat tangan Rafli menggenggamnya sambil berucap terimakasih.

__ADS_1


Beberapa minggu terakhir, Rafli dan Darren benar - benar dekat. Berbagi suka duka, bahkan Darren merelakan berbagi istrinya di ulang tahun Rafli. Darren membiarkan Senja menangis sendiri. Bukan tidak peduli, tapi ada kalanya membiarkan orang lain mengambil waktu kesedihannya sendiri adalah bentuk kepedulian yang sesungguhnya.


"Papa ......." suara teriakan Zain mengagetkan semua yang sedang larut dengan pikiran masing - masing.


__ADS_2