
" Senja ya ? " tanya Rianti, sedikit tidak yakin.
" Rianti, astaga Ri, Nggak nyangka banget ketemu di sini. Setelah ketemu Vano sekarang ketemu kamu. Sungguh nasibku memang baik dan beruntung akhir - akhir ini " ucap Senja, langsung memeluk sahabat suka dukanya jaman dulu.
" Aduh Ngga, kalau aku tahu kamu istrinya laki - laki angkuh itu, bakalan aku kerjain habis - habisan dia " ucap Rianti.
" Mana obat opa, biar aku yang meminumkan, setelah itu kita ngobrol " ucap Senja. Rianti mengambilkan obat yang dari tadi sudah dia siapkan, lalu memberikannya pada Senja.
" Opa minum obat dulu ya, setelah ini opa istirahat. Rianti ini temen Senja jaman senja masih di panti asuhan. Masih kerja di warung makan " jelas Senja, sambil meminumkan pelan - pelan obat yang diterimanya dari Rianti tadi. Hutama mengangguk - anggukkan kepalanya.
Senja dan Rianti kini duduk di ruang tengah, mereka duduk santai saling berhadapan di atas sofa panjang berwarna hitam doff.
" Nja, kok bisa sih nikah sama laki - laki angkuh begitu. Kamu tahu nggak selama menunggui pak Hutama mukanya dan cara bicaranya angkuh sekali. Dia tuh lembut pas telepon sama istrinya, terus pernah nangis gara - gara mikir istrinya selingkuh, suka blingsatan sendiri kalau istrinya nggak cepet bales teleponnya. Tidak tahunya, istrinya itu kamu. Astaga bagaimana mungkin ? " tanya Rianti masih belum begitu percaya.
" Abang itu baik banget Ri. Sabar dan ngerti'in aku banget. Aku bersyukur banget bisa bersama dengan abang. Emang sih dia tuh agak kelihatan angkuh, sedikit arogan dan sombong sama orang. Tapi percayalah, dia itu baik " jelas Senja. " Eh... tapi kapan abang menuduhku selingkuh ya ? aku belum tahu yang ini " tambah Senja mencoba mengingat - ingat.
" Baru - baru ini kok. Denger ucapan pak Mahendra sih pas anakmu sakit " kata Rianti.
" Astaga ini pasti Vano yang jadi tersangka selingkuhanku " kikik Senja.
" Eh... Kamu sudah ketemu Vano juga ? Aku besok mau ketemu sama dia juga. Kita bareng yuk ! " ajak Rianti.
" Aku pengennya sih ikut, tapi nggak mungkin bisa. Dasen itu kan titisan Darren Mahendra, tidak bisa jauh - jauh dari aku terlalu lama. Sebentar lagi pasti juga sudah akan kemari " ucap Senja.
Belum mengatup kembali mulut Senja, Darren muncul dengan Dasen yang sudah merengek setengah menangis.
__ADS_1
" Dasen mau nen lagi mama Nja " ucao Darren manja.
" Sini - sini sayangnya mama Nja. Zain " ucap Senja, mengambil alih gendongan Dasen. " Zain tidur nggak ? abang mau ambil barang atau suruh Rudi nganter sini saja deh. Abang pasti capek " ucap Senja, satu tangannya menyentuh lengan suaminya.
Rianti tidak melewatkan setiap detail gerakan Senja dan Darren. Jelas keduanya sama - sama memiliki bahasa tubuh yang menunjukkan cinta dan keterikatan yang sangat besar.
" Aku ambil saja, kangen kamar di rumah Ask. Aku mau tidur sebentar di sana, ada daster yang belum di cuci kan ? " tanya Darren diikuti dengan mencium pelan pundak istrinya di ujung kalimat.
" Nggak tahu Ask, Irah sudah ambil atau belum baju kotor di keranjang. Ask, jafi dasterku kamu kasihkan Rianti ini ya ? " tanya Senja baru ingat akan dasternya.
" Iya, ini perawat aneh kok. Malah milih daster ketimbang uang dua kali lipat " sahut Darren, kesal.
" Sama seperti pak Darren, saya sudah mengorbankan waktu saya yang berharga. Jadi baoak pun harus mengorbankan daster yang berharga itu untuk saya. Tau kalau istri bapak ini temen saya, saya akan meminta pabrik saster sekalian " kikik Rianti.
" Teman ? " tanya Darren heran.
" Owh iya... baru inget aku. Jadi tinggal satu temen lagi nih yang loss kontak " kata Darren.
" Maya ? " tanya Rianti. Senja mengangguk.
" Jangan deh kalau Maya, daripada kejadian Vano dan istrinya terulang. Suamimu ini juga pesonanya lumayan Nja. Lebih baik hindari masalah. Meskipun suamimu setia seperti Vano, ujung - ujungnya tetep masalah. Istri Vano bahkan sudah mendaftarkan perceraian mereka. Maya pandai membalikkan fakta. Hindari. Maya sekarang jauh banget sama Maya yang dulu.Mantan suami pertamaku pun pernah tergoda, tapi suamiku kan nggak setajir Vano apalagi sekaya raya suamimu ini, jadi Maya dengan mudah melepaskan. Selain gila harta, Maya seperti budak **X, dia terlalu gampang berganti pasangan demi uang dan demi kenikmatan sesaat. Saranku berhenti mencarinya. Jika kamu sempat ketemu, jangan memberi celah " jelas Rianti, teringat bagaimana rumah tangganya hancur karena Maya setahun yang lalu.
" Tuh denger temanmu, kamu tau kan aku bisa sangat kejam dengan siapapun yang mengusik ketenangan kita. Jangan cari temanmu itu lagi. Mendengar ceritanya saja sudah serem, kalau sampai muncul di depanku dan mengganggu kita pasti bisa kucincang hidup - hidup. Secantik dan sehebat apapun dia, tidak mungkin ada laki - laki yang mau serius sama dia. Sebenarnya kasihan sih. Dia hanya dinikmati, tanpa dimiliki. Sudahlah itu bukan urusan kita. Yang penting jauh - jauh dari teman seperti itu. Godaan perempuan di luar sana banyak, jangan sampai bertambah satu dari temanmu sendiri. Yang terlalu nekat, akhirnya pasti akan sekarat " ucap Darren tegas, meninggalkan istrinya dan Rianti.
" Wushhhh....Sadis banget " Rianti mengatakannya sambil bergidik.
__ADS_1
" Iya, abang ganti sekretaris beberapa kali karena sekretarisnya berani nekat menggodanya. Banyak sekali perempuan yang melirik suamiku Ri, sejauh ini suamiku setia " ucap Senja.
" Pasti setia selamanya Nja, kelihatan banget cinta matinya. Tidak dengan semua orang dia bersikap manis. Sekali saja dia naksir perempuan di luar pasti kamu bakalan merasa, karena sikapnya kepada kamu, jelas berbeda dengan sikapnya pada yang lain. Pasti banyak hal besar yang kalian lewati untuk mencapai titik ini " tebak Rianti.
" Kamu benar Ri, abang bukan suami pertamaku. Papanya Zain suami pertamaku. Seseorangbyang tidak kalah baik dengan abang. Aku akan menceritakan padamu kapan - kapan. Sekarang kamu yang cerita. Kamu Janda ? " tanya Senja.
" Sebentar lagi bukan, aku akan menikah dengan temanku sesama perawat di Madinah sana. Makanya aku tidak bisa lama - lama di sini. Mungkin aku akan menemani oak Hutama selama satu minggu saja, sambil mendampingi perawat yang baru " kata Rianti.
" Wah selamat ya Ri. Kalau nikahnya di Indonesia pasti aku datang, kalau di luar aku belum bisa datang Ri " ujar Senja.
" Nikahnya di sini kok. Aku pasti akan mengundangmu. Aku yakin amplop darimu akan sangat tebal, rugi kalau aku tidak mengundangmu " canda Rianti.
Seorang pembantu bernama Lastri, mendekati Senja membawa ponsel Senja.
" Bu maaf ini ponsel Ibu dari tadi bunyi terus, saya baru saja memberekan kamar bu Senja disuruh pak Darren. Maaf bu " ucap Lastri hati - hati.
Senja melihat layar ponselnya. Bukan dari nomor yang dikenal. Senja pun memutuskan untuk menerima teleponnya.
" Halo " sapa Senja.
" Benarkah ini dengan Ibu Senja Khairunisa Kemala ? " tanya suara diseberang, terdengar sangat formal.
" Iya benar " jawab Senja .
" Kami dari ------------------------------- " Ponsel Senja terjatuh, tubuhnya bergetar.
__ADS_1
" Innalillahi wa innalillahi rajiun " ucap Senja lirih.