Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Makin keruh


__ADS_3

"Sorry Ngel, aku tidak pernah membicarakan bisnis di area pribadi. Apalagi di apartemen. Pantang buat aku. Bagaimana kalau aku ke rumah papamu saja? Kebetulan aku ingin mengunjungi beliau," tanya Darren.


Angelica terlihat gugup, sedikit salah tingkah. Kalau sampai papanya tau, bisa runyam semua. Dari dulu, sebelum Darren menikah, Malito selalu menyuruh Angelica untuk mendekati Darren, tapi penolakan - penolakan yang dilakukan Darren membuatnya enggan.


"Bo... Boleh... Jam berapa?" tanya Angelica sedikit gugup.


"Setelah maghrib, Siapkan saja berkasnya. Aku akan membantu kalian kembali seperti dulu lagi." Darren berdiri dari duduknya, tanpa pamit langsung meninggalkan Angelica.


Perempuan itu sedang berfikir keras sekarang, mencari cara agar Malito tidak memarahinya. Tak lama senyum licik menyungging di bibir.


Darren sampai di hotel tempat keluarga besarnya berada, Bae, Sarita, Mahendra dan Arham tampak berkeling memeriksa ballroom yang sudah didekorasi sedemikian rupa.


Darren menghampiri orangtua dan mertuanya itu dengan semangat.


"Baru datang Darr?" sapa Arham.


"Iya, Appa. Darren ke kamar Senja dulu," pamit Darren.


"Loh... Kemala belum dateng Darr. Masih mampir ke dokternya Dasen karena ada imunisasi tambahan apa tadi. Eomma lupa. Memangnya tidak ngomong sama kamu?" Bae heran.


Mahendra dan Sarita yang tahu persis kondisi rumah tangga anaknya saat ini hanya bisa mendoakan dalam hati agar semua kembali normal.


Darren melangkahkan kaki ke resepsionis mengambil lebih dulu kunci kamar yang akan ditempatinya bersama Senja, selalu kamar dengan conecting room.


Sesampainya di kamar, Darren menghubungi Senja. Seperti biasa, diabaikan begitu saja. Dekat, terlihat, dalam jangkauan tapi jarak semakin jauh. Itulah yang dirasakan Darren sekarang. Senja sangat keras kali ini, tidak pemaaf seperti biasanya.


Waktu maghrib sudah lewat, Senja tidak kunjung datang. Ponselnya pun malah dimatikan. Mencoba menghubungi Wati, ternyata Senja sedang melakukan body massage di sebelah klinik Andy. Tempat khusus massage balita dan ibu hamil milik istri Andy.


Darren merasa benar - benar diabaikan dan tidak dianggap sama sekali. Senja tidak hanya membatasi kontak dengan dirinya tapi seperti berusaha menghindarinya sebisa mungkin.

__ADS_1


Rencana Darren pun gagal, sebelumnya Darren ingin mengajak Senja sebentar ke rumah Malito untuk meluruskan masalah. Tapi ternyata sampai sekarang istrinya itu belum pulang juga.


Setengah terpaksa Darren akhirnya tetap memutuskan untuk pergi, hanya Mahendra yang tau ke mana Darren pergi. karena jam delapan nanti jamuan makan malam bersama keluarga besar akan dimulai. Darren tidak punya banyak waktu. Terlambat datang diperjamuan bisa - bisa juga jadi masalah.


Jarak hotel ke rumah Malito tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu tiga puluh menit. Tidak ada tampilan yang istimewa, bahkan cenderung biasa. Dia sedang ingin menagih hutang, bukan untuk bertemu pujaan hati apakagi calon mertua, jadi buat apa berdandan.


"Silahkan Darr, om merasa terhormat kamu berkunjung ke sini," sapa Malito, menyambut Darren tepat di depan pintu utamanya.


Malito merangkul Darren yang memiliki tinggi yang sama dengannya. Auranya berbeda, terlihat sangat bahagia. Entah apa yang diucapkan Angelica hingga Malito begitu bahagia menerima Darren.


"Tunggu ya Darr, kita ngobrol dulu. Angel masih menyiapkan dokumen yang kamu ingin lihat." Malito sengaja mengulur waktu.


Darren hanya mengangguk kecil. Beberapa kali melirik jam dipergelangan tangan. Malito dan Darren membicarakan banyak hal, terutama tentang bisnis sampai sedikit cerita kedekatan Malito dengan Mahendra.


Angelica datang membawa bebetapa file fiktif yang dibuatnya dadakan, di belakangnya seorang asisten rumah tangga membawakan segelas minuman segar untuk Darren. Tidak terlintas sedikitpun di pikirannya untuk meneguk minuman itu. Dia tidak sebodoh yang Angelica kira.


Acara jamuan makan malam sebentar lagi di mulai. Semua sudah berkumpul di sana, kecuali Darren. Hampir setiap orang yang ada di sana menanyakan keberadaan Darren. Senja hanya menunduk, berfikir Darren benar - benar tidak datang sesuai ancamannya tadi.


"Zain makan dulu ya, mama keluar sebentar." Senja langsung berdiri dan meninggalkan yang lain. Semua mata menatap wajah Sendu Senja. Semua sudah pasti bisa menebak kalau hubungan pasangan yang biasanya paling romantis itu sedang tidak baik - baik saja.


Senja menghubungi suaminya. Apapun yang terjadi dengan mereka. Tidak seharusnya Darren mengabaikan acara keluarga, apalagi acara ini diadakan oleh Bae dan Arham. Seharusnya Darren menghormati mertuanya.


"Halo.." suara perempuan manja mengangkat ponsel milik suaminya, Senja hampir dua kali melihat layar ponselnya. Memastikan apakah salah menekan nomer yang dituju. Tapi benar, tidak salah sama sekali.


Senja langsung mematikan ponselnya.Jantungnya berdegup kencang, untuk pertama kalinya dalam pernikahannya dengan Darren dia mengalami hal semacam ini.


Mahendra menghampiri Senja. Menepuk pundak menantunya itu dengan lembut. "Darren sedang di rumah Angelica. Dia sedang berusaha mendapatkan maaf darimu. Darren ingin memberitahu Ayah Angelica mengenai hutang - hutangnya," jelas Mahendra.


"Tolong antar Senja ke sana pa," pinta Senja sembari menekan nomer Rudi di layar ponselnya.

__ADS_1


"Buat apa Nja?"


Pertanyaan Mahendra diabaikan begitu saja, Senja menarik tangan mertuanya itu berjalan menyusuri lobby menuju mobil yang dikendarai Rudi.


Dengan arahan Mahendra, mobil pun melesat dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Naluri Senja mengatakan suaminya lagi - lagi sedang menggali lobangnya sendiri.


Sementara itu, wajah Darren tampak merah menahan amarah. karena saat dia membersihkan bajunya di toilet karena tumpahan air minum yang memang sengaja dia tumpahkan sendiri. Angelica dengan lancangnya menerima panggilan ponsel dari Senja.


"Apa hakmu menyentuh ponselku Ngel? bahkan istriku sekali pun tidak mau melakukan itu," bentak Darren, tidak peduli lagi ada Malito di sana.


"Darr, jangan kasar pada Angelia," tegur Malito.


"Maaf pak! Sudah cukup saya bersabar dan mengikuti permainan Angelica malam ini. kamu fikir saya tidak tau file perusahaan yang kamu berikan itu hanya perusahaan abal - abal?" hardik Darren, semakin tajam pada Angelica.


"Darr! Oke itu memang abal - abal. Aku memakai uang yang kamu pinjamkan untuk yang lain. Bukankah kamu meminjamkan karena kamu menyukaiku. Kamu hanya sedang bermain peran menjadi suami yang sok setia. Jangan munafik Darr, tidak ada laki - laki yang memberikan pinjaman sebanyak itu tanpa jaminan dan bunga kalau dia tidak menginginkan tubuh perempuan yang dipinjaminya," ucap Angelica, terlampau pede.


"Jaga ucapanmu Ngel, kamu pikir aku meminjamkan uang karena memangdangmu? Tidak sama sekali! aku hanya melihat pak Malito. Saat papa awal merintis usaha dulu, pak Malito banyak menolong papa. Hanya itu alasanku menolongmu tanpa menyelidiki terlebih dahulu bagaimana kamu," tegas Darren.


"Sudahlah Darr. Yang dikatakan Angelica benar, jangan munafik. Om tidak keberatan Angelica jadi istri keduamu. Sama sekali tidak masalah. Angelica juga bisa menerimamu. Jangan takut Darr, istri pertamu tidak perlu tahu. Lagian bukankah kalian sudah sering menghabiskan waktu bersama di atas ranjang?" suara Malito langsung terdengar jelas oleh Senja dan Mahendra yang baru saja menginjakkan kakinya di bibir pintu utama.


"Papa!... Ask!..." Darren tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat papa dan istrinya.


"Wah... Pak Mahendra. Silahkan... Silahkan ... Sepertinya kalian memang sudah merencanakan semuanya. Bagaimana pak Mahendra ini? kemarin - kemarin diajak besanan tidak mau. Sekarang Darren sudah punya anak istri, malah diam - diam dekat sama Angelica. Tapi tidak masalah, kami tidak keberatan jadi yang kedua." cerocos Malito, terlalu percaya kata - kata Angelica.


Senja menatap Darren dengan tajam, begitupun dengan Mahendra. Sekuat apapun seorang Senja, mendengar suaminya ingin menikah lagi membuat sekujur tubuh pun menjadi gemetar. Darren menggeleng kuat, seolah mengatakan semua tidak benar. Mahendra menampar Darren dengan begitu kuat.


"Kami percaya padamu Darr, begini caramu menghargai perempuan yang melahirkan dan mengandung anakmu?" Mahendra terlihat sangat emosi.


Darren memegangi pipinya yang terasa panas. Lalu berjalan perlahan dengan kilat mata penuh kebencian pada Angelica. Darren tidak lagi peduli dihadapannya saat ini adalah seorang perempuan. Dengan kasar tangan Darren mencengkram lengan Angelica.

__ADS_1


"Katakan cerita yang sebenarnya pada pak Malito atau bibirmu akan aku buat tidak berguna lagi seumur hidupmu," ancam Darren, dingin, bengis dan kejam.


__ADS_2