
Rasanya baru sebentar tertidur, Senja terpaksa bangun karena suara tangisan Beyze mengalahkan alarm manapun yang pernah di dengar. Bahkan Darren pun ikut membuka kedua mata, saking melengking dan kerasnya suara Beyze. Untung saja Deyre dan Dassen tidak terganggu dengan suara saudara perempuan satu - satunya itu. Keduanya hanya mengeliat sebentar lalu tertidur lagi.
Derya sepertinya memang memang sangat berbeda dengan Beyze. Bayi laki - laki itu sangat anteng, tenang dan pendiam. Tangisannya hanya sebentar, langsung diam juga sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Berbeda dengan Beyze, yang akan membuat drama dulu meski keinginan sudah di depan mata.
Ulfa pun juga terbangun, dia memberikan Beyze pada Senja yang sudah berdiri agak menjauh dari brankarnya. Karena Dasen masih tertidur pulas di sana.
Selang infus yang masih terpasang di tangan membuat Senja agak lambat bergerak. Buru - buru Senja membuka kancing baju depannya, lalu mengeluarkan sumber kehidupan beyze seperti biasa. Harus mencoba dua hingga tiga kali baru mulut mungil bayi cantik berkulit kemerahan itu mau menyesapnya.
Mendengar anaknya sudah terdiam, Darren pun tidur kembali. Mengabaikan Senja sendirian dalam kantuk bersandar di atas brankarnya. Lama kelamaan, Senja pun tertidur sambil mendekap Beyze yang terlelap tapi tidak melepaskan sedikitpun pucuk hitam mamanya.
Darren mengeliatkan badannya, lalu membuka matanya perlahan. Senyum Darren mengembang, melihat istrinya tertidur begitu pulasnya seraya memangku Beyze. Satu bagian kenyal istrinya menyembul begitu saja dan tidak tertutup kain. Air susunya bahkan menetes mengenai pipi Beyze.
Melangkahkan kaki perlahan agar semua tidak terbangun. Darren membantu memasukkan bagian tubuh Senja yang keluar tadi ke dalam tempatnya dengan benar. Dia mengecup pelan kening perempuan yang sudah melahirkan empat orang anaknya dengan lembut.
Darren memutuskan untuk sholat subuh di dalam ruangan saja, dia melihat Wardah, Ulfa dan Wati juga akan melakukan ibadah dua rakaat menjelang pagi. Darren menawarkan diri untuk menjadi Imam, tentu saja diterima dengan senang hati oleh Wati. Jarang sekali menemui moment langka seperti ini, di rumah pak satpam yang sering bergantian mengimani mereka.
Darren menengadahkan tangannya lebih lama kali ini. Ucapan syukur dan terimakasih tak henti dia ucapkan. Kepergian opa yang meninggalkan banyak kesan dan pesan pun menjadi salah satu hal yang disyukurinya.
Senja terbangun dengan rasa tubuh yang sedikit pegal, karena dia tidur sembari duduk. "War... Taruh Bey di box nya lagi.
__ADS_1
Kesibukan menjelang pagi pun dimulai, ditinggal Senja membersihkan diri di kamar mandi dan berganti baju. Ketiga balita kompak menangis.Seperti biasa Derya selalu tenang lebih dulu. Dasen terus memanggil mamanya, Beyza mulai tenang berada di pelukan daddynya. Akankah pagi mereka akan seheboh ini, ataukah malah semakin lebih lagi?
"Kalian, beres - beres saja, kita pulang pagi setelah dokter Nuke visit." perintah Senja, sembari kembali merebahkan diri di atas brankar di bantu Ulfa.
"Das, sini sama mama. Kenapa nangis? mama tidak boleh ke kamar mandi? Mama bisa marah kalau Dasen terus suka menangis begini." wajah Senja pura - pura kesal, tapi tangannya mengelus halus rambut Dasen yang sudah rebahan kembali di atas pangkuannya.
Lagi - lagi Dasen meminta Asi pada Senja. "Benar - benar titisan Darren. Sekecil ini tau memanfaatkan situasi." Senja bergumam pelan.
Senja memompa satu bagian dadanya sambil mengasihi Dasen. Sekali lagi, Senja bersyukur diberi Asi yang berlimpah, untuk sementara Asinya sangat cukup untuk baby twin dan seringkali untuk balita bergigi sebelas di pangkuannya kini.
"Morning, Ask ...." Darren mengecup kening istrinya sembari masih menggendong Beyze.
Waktu yang di tunggu pun tiba, Rudi membantu mengangkut semua barang ke mobil. Kali ini Darren akan mengendarai mobil sendiri, begitu juga dengan Rudi. Satu mobil saja tidak cukup menampung mereka beserta barang - barang bawaan. Terlalu banyak bingkisan yang dikirim ke rumah sakit oleh relasi.
Darren mendorong kursi roda yang diduduki istrinya sampai ke lobby. Sebenarnya sudah sangat bisa berjalan sendiri, tapi Darren yang tidak memperbolehkan. Sangat over protektiv seperti biasa.
Dasen, Wati dan Rudi melesat lebih dulu meninggalkan lobby. Di susul kemudian Darren dan yang lain. Minibus sepertinya lebih cocok untuk mereka jika ingin semua tertampung dalam satu mobil.
"Akhirnya kita pulang juga, semoga anak - anak tidak seheboh dua hari setengah ini. Aku tidak membayangkan kalau setiap hari seperti ini, Ask," tutur Darren sembari terus fokus pada jalanan yang sudah padat merayap.
__ADS_1
"Berharap boleh, tapi mempersiapkan diri untuk kondisi yang lebih crowded juga lebih baik. Perasaan Senja mengatakan Beyze dan Dasen tidak jauh beda, bisa dikatakan Beyze di atas Dasen sedikit. Semoga Beyze tidak mengenal kata - kata perempuan selalu benar sejak dia lahir kemarin. Baru tiga hari belum genap, Senja mau menyimpulkan kalau Beyze adalah kamu berpadu denan eomma." Senja sedikit terkekeh saat mengatakannya.
Darren sedikit bergidik, tidak bisa membayangkan kalau dugaan istrinya benar. Membayangkan sosok Bae yang suka mengatur dan tidak terbantahkan ada di sosok anak perempuannya.
"Kalau Derya berarti mirip bu Senja. Pembawaannya tenang." Satu kalimat lolos begitu saja dari mulut Wardah.
"Saya tidak tahu, War. Sejak kecil saya ada di panti asuhan. Ibu panti, namanya bu Halimah. Tidak pernah menceritakan kecilku dulu seperti apa. Tidak ada waktu santai bagi kami untuk sekedar bercerita apalagi mengenang masa lalu. Kami berkejaran dengan detak jarum jam demi mencari sesuap nasi. Bukan hanya untuk kami sendiri, banyak anak lain yang bergantung hidup pada kami." Senja jadi menerawang ingat akan masa lalunya.
"Banyak orang ingin di posisi Senja sekarang. Mereka tidak pernah tahu, untuk sampai di titik ini begitu banyak hal berat yang harus dialami. Mana kalian tahu kalau Senja pernah menjadi loper koran, pencuci puring di warung, pernah makan sehari hanya satu kali, pernah mengganjal makan dengan air hujan. Saya menikahi perempuan hebat. Yang tidak menggilai kekayaan meski dia pernah berandai - andai hidup dalam berkelimpahan itu pasti menyenangkan," ucap Darren. Seolah ingin menegaskan Senja memang luar biasa, apa yang dikeluhkan Ulfa dan Wardah selama ini belum ada apa - apanya dengan yang Senja lalui.
Air mata Senja seketika menetes, apalagi saat menatap keluar jendela mobil. Melihat seorang anak perempuan seusia Zain sedang memetik gitar sembarangan dan bernyanyi dengan suara sumbang. Anak itu pasti sedang bejuang untuk sesuap nasi. Senja juga pernah berjualan asongan di lampu merah seperti ini.
Saat beberapa orang sibuk bekerja untuk menggapai keinginan, bagi sebagian besar yang lain bekerja hanya sekedar untuk mencari makan.
Darren membuka kaca jendela mobilnya, ketika anak perempuan bergitar itu mendekati mobil, lalu memberikan selembar uang sepuluh ribuan. "Kalau kamu ingiyn uang lebih, datanglah ke kantor Mahendra corps hari senin depan. Tunggu di lobby, katakan pak Darren Mahendra yang menyuruh." Darren langsung menutup kaca mobilnya setelah melihat anak itu mengangguk.
"Bapak baik sekali." Ulfa begitu kagum pada majikannya itu.
"Apa yang kamu lihat sekarang adalah proses Ul, aku tidaak akan menjadi Darren yang kamu katakan baik kalau aku tidak menikahi perempuan ini." Darrepn kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil pun memasuki halaman rumah Darren dan Senja. Darren menghentikan mobilnya, membukakan pintu untuk Senja. Pintu utama rumah sudah terbuka lebar. Keluar sosok yang sangat dikenali Senja dari sana, Air mata Senja pun mengalir deras berhambur dalam pelukan orang itu.