
"Ask, kamu kenapa? Senja salah apa?" tanya Senja.
"Kamu tidak pernah salah," jawab Darren datar, lagi - lagi tanpa menoleh.
"Ask, apa kamu bosan menegurku? apa kamu sudah lelah hidup dengan kekuranganku?" tanya Senja, sedikit mengiba.
Darren membalikkan badannya, melihat wajah istrinya yang terlihat lelah dan cemas. Disela - sela kedua rasa itu, Senja masih menimang - nimang Dasen dengan sedikit menggerakkan badannya. Kembali merendahkan egonya, Darren menghampiri Senja.
"Apa dia rewel semalam?" tanya Darren.
"Tidak mau tidur di box sama sekali," jawab Senja.
"Coba titipkan Dasen ke mama sebentar, barangkali mau. Kamu tidurlah," kata Darren.
"Ask, Senja salah apa. Tolong katakan! Kali ini Senja tidak bisa menerka - nerka. Marah saja, jangan mendiamkan senja. Jangan bosan apalagi lelah menegur. Senja harus bagaimana?" tanya Senja lirih.
Darren yang tadinya berniat mendiamkan istrinya agak lama, menjadi tidak tega. Fisik Senja sudah habis - habisan dicurahkan untuk Dasen akhir - akhir ini.
"Kita ke kamar" ajak Darren akhirnya.
"Sambil makan ya Ask, nanti lambungmu sakit lagi," ucap Senja, disambut anggukan lembut Daren.
Sarita pura - pura tidak melihat Darren masuk ke dalam rumah lagi. Sarita asyik bermain uno dengan Zain di ruang tengah.
Senja memberikan Dasen pada suaminya,lalu dia mengambil sepiring makanan yang sudah disiapkan untuk Darren. Seperti biasa menu pagi tanpa karbo, hanya pakcoy yang ditumis dengan olive oil dan daging ayam filet roasted dan segelas jus buah wortel dan apel.
__ADS_1
"Mumpung Dasen anteng digendong daddynya, mama Nja suapin Daddy Darr ya?" Senja memberi penawaran yang menggiurkan. Sejak melahirkan, Darren susah mendapatkan kesempatan untuk dimanja. Darren tidak mengeluh, dia paham keadaan.
"Mama Nja, nggak makan sekalian?" tanya Darren mulai melupakan tujuannya hari ini. Darren tidak pernah sukses mendiamkan Senja. Selalu gagal.
"Sudah makan tadi selesai mandi," ucap Senja, sambil memasukkan tangannya ke mulut Darren. Sudah menjadi kebiasaan Darren, jika tidak berkuah menyuapi pantang memakai sendok.
Suap demi suap akhirnya sampailah pada suapan terakhir. Darren sengaja menahan tangan Senja dibibirnya, setelah kunyahan terakhir selesai, Darren mengecup manja jemari Senja.
"Terimakasih tangan, tapi tugasmu belum selesai. Sekarang cuci dulu, yang bersih. Jangan menyisakan cabe di sana, nanti kepedesan " ucap Darren kembali konyol. Senja meringis membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini sembari mencuci bersih tangannya di wastafel kamar mandi.
Baby Dasen sudah tertidur pulas di bouncer yang disetel Darren bergerak pelan, membuat Dasen seolah sedang ditimang mamanya. Dibawah jam sebelas siang inilah waktu anteng - antengnya Dasen. Setelah itu drama tidak mau lepas dari pelukan mamanya di mulai lagi.
"Ask, jadi Senja salah apa kali ini?" tanya Senja masih penasaran dengan siksp acuh suaminya tadi.
"Nanti dulu yang itu. Sekarang ini dulu" ucap Darren memberikan kode keras dengan mengarahkan tangan istrinya pada sesuatu.
"Sebentar aku deketin dulu tisunya " ucap Darren, tangannya meraih tisu yang masih terjangkau dengan tangannya tanpa menggeser badannya sekalipun.
Senja berdiri dengan lututnya, melakukan sesuatu yang menyesakkan mulutnya seperti biasa. Tidak ada racauan dan ******* meronta - ronta seperti dua puluh hari yang lalu, Darren harus belajar menahan suara agar tidak membangunkan bayi gembul titisannya.
Gerakan kepala Senja semakin cepat dan lebih dalam seiring tarikan rambutnya yang terkumpul dalam satu genggaman tangan Darren. Tidak lama kemudian tangan Senja sudah dilumuri sesuatu berwarna putih pekat. Darren memberikan tisu pada Senja.
"Maaf, banyak banget ya? maklumin sudah lama banget tertahan," ucap Darren, meringis gemas melihat ekspresi Senja saat membersihkan tangannya.
Darren sudah kembali rapi begitu Senja selesai membilas tangannya di toilet. Celana chinos itu sudah terpakai dengan benar.
__ADS_1
"Sekarang katakan Ask, apa yang membuatmu tiba - tiba acuh?" Senja kembali bertanya.
"Terimakasih mengingatkanku kalau aku ini hanya pengganti Rafli" ucap Darren, ekspresinya kembali tidak enak.
"Apa maksudmu Ask? Senja tidak pernah menganggapmu begitu. Tidak ada yang namanya pengganti," sahut Senja cepat.
"Sebagai suami memang tidak, tapi kamu menganggapku begitu sebagai daddynya Zain. Untuk urusan Zain, di matamu aku tidak pernah lebih baik dari Rafli bukan?" tanya Darren, matanya terpejam, wajah Zain melintasi pikirannya. Jika memungkinkan, Darren ingin menghapus semua ingatan orang yang tahu Zain hanya anak sambungnya. Pernyataan itu mengusiknya. Terlalu berlebihan memang, tapi nyatanya Darren ingin kata sambung tidak ada lagi di belakang kata anak.
Senja masih mencoba mengingat - ingat kebelakang, apa yang membuat suaminya berfikiran seperti itu. Senja ingat sekarang.
"Ask jika yang kamu maksud adalah omongan Senja saat kemarin Zain di rumah sakit, kamu salah paham Ask. Maksudnya bukan seperti itu. Memang wajar kan kamu nggak paham Zain seluruhnya karena kamu bukan papanya Zain. Harusnya kalimat itu tidak berhenti di situ. Maksud Senja biar kamu nggak merasa bersalah. Senja nggak bermaksud membandingkan, merendahkan atau apapun. Bagi Zain papa Rafli dan Daddy Darr sama hebatnya, sama terbaiknya. Maaf aku salah ngomong Ask. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Senja tulus.
"Sebagai seorang ayah mungkin memang aku banyak kurangnya Ask. Tapi kamu tau aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Aku tidak mau ada orang lain terutama kamu yang mengingatkan aku bukan papanya Zain. Zain anakku. Titik!" ucap Darren tegas dan lugas.
"Maafkan aku Ask, sungguh maksudku aku hanya ingin kamu tidak merasa bersalah karena Zain keracunan. Maksudku papanya Zain kan hidup bersama Zain lebih lama, dia pastilah tau. Sedangkan kita masih sebentar. Maaf Ask kalau itu membuatmu tersinggung aku minta maaf," ucap Senja lagi - lagi sangat tulus di mata Darren.
"Dimaafkan, tapi mulutmu harus di hukum karena sudah membuat ketenangan hatiku terusik," Darren mengeluarkan seringai liciknya.
"Barusan kan sudah Ask," ucap Senja, menelan ludahnya kasar. Astaga suaminya memang tidak pernah mengabaikan setiap peluang begitu saja.
"Sini!" panggil Darren sambil menarik tangan Senja untuk berdiri tepat berhadapan dengannya. Tangan Darren merengkuh pinggul Senja, hingga membuat jarak di antara mereka hanya nol senti. Kening keduanya sudah saling bersentuhan karena Darren menundukkan kepalanya, sedangkan Senja sedikit berjinjit. Anggota tubuh mereka merespon otomatis tanpa tuntunan kata.
"Perjalanan kita masih panjang. Tapi aku pastikan akan selalu memaafkan setiap kesalahanmu. Tapi jangan sering - sering meminta maaf. Aku lebih senang mendengar bibirmu mengucapkan kalimat lain. Aku mencintaimu Ask. Selamanya, tetap cintai aku. Jangan pernah berubah " ucap Darren lirih.
"Selamanya itu lama Ask. Tapi bersamamu pasti akan terasa sebentar. Senja tidak akan bosan, apalagi menyesal menghabiskannya bersamamu," kata Senja.
__ADS_1
Bibir merekapun menyatu, saling memagut lembut bergantian . Semakin dalam tapi menuntut. Keduanya melibatkan perasaan cinta yang sama besar.
"Kamu selalu membuatku malas beranjak Ask " bisik Darren dengan nafas memburu.