
Setelah terbangun dengan posisi yang tidak diinginkan, Senja masih menjunjung tinggi kekecewaan dan kekesalannya. Di bawah kesadaran, dia masih bersikap acuh pada Darren.
Senja hanya menyiapkan makanan untuk suaminya, setelah itu dia langsung pergi dengan meninggalkan secarik kertas di atas clutch milik Darren. Singkat, padat dan cukup jelas.
...'Ke rumah opa'...
Membaca tulisan istrinya itu, membuat Darren menggelengkan kepala dengan kuat. Belum cukup ternyata siksaan semalam. Jika benar menunggu sampai Angelica menyelesaikan hutangnya, bisa - bisa sampai si kembar lahir situasi akan tetap seperti ini. Harus memikirkan cara lain. Istrinya bukan orang yang mudah ditakhlukkan, apalagi jika sudah meyakini sesuatu. Sulit untuk digoyahkan.
Darren memakai kemeja dan celana yang sudah disiapkan oleh Senja. Dalam keseharian dia tidak pernah memakai dasi, kecuali akan menemui klien penting atau ada acara formal lainnya.
Sepulang kerja nanti, penderitaannya akan sedikit berkurang. Seluruh keluarga besar akan makan malam sekaligus menginap di hotel tempat acara tujuh syukuran kehamilan yang diadakan Bae dan Arham.
Sepanjang perjalanan menuju kantornya, pikiran Darren terus bekerja. Bukan masalah pekerjaan yang membuatnya berfikir keras kali ini. Tapi masalah uang yang dipinjamkan pada Angelica. Jika uang itu tidak bisa kembali dalam waktu dekat, setidaknya ada alur yang logis untuk disampaikan pada Senja.
Sesampainya di kantor, Darren dikejutkan dengan keberadaan Ali di lobby. Bukan hanya penampilan tapi juga pekerjaan yang sedang dilakukannya. Ali terlihat sedang mengeringkan lantai yang basah dengan mesin pengering.
"Al, kok???" tanya Darren benar - benar heran, Darren masih berfikir ucapan Yanes kemarin hanya becandaan atau maksimal hanya memakai pakaian OB saja.
"Surat keputusan dari HRD kilat sudah turun pak, per hari ini saya jadi OB di lantai satu," jelas Ali, tertunduk malu dan juga takut. Sepertinya Darren belum tahu cerita dibalik pemindahan posisi pekerjaannya.
"Serius? kok bisa? Nanti saja kamu jelaskan, kamu ke ruangan saya sekarang!" Darren tidak bisa menerima dengan logikanya. Karena istri Yanes yang ngidam, kenapa bisa mengubah nasib seorang karyawan.
__ADS_1
Raut wajah Darren jelas menunjukkan ketidakramahan saat ini.
"Panggil Yanes ke ruangan," perintah Darren, tegas pada Amar.
Darren melempar cluthnya begitu saja di atas meja, membiarkan kotak bolpoinnya terguling, duduk di tepian meja kerjanya seraya memainkan kursi dengan kakinya. Terlihat sangat angkuh.
Yanes masuk ke dalam ruangan dengan wajah sangat tegang. Kurang lebih, dia sudah tau arah pembicaraan ke mana.
"Nes, kenapa lelucon nyidam istrimu bisa sampai menghasilkan SK untyk Ali? Ini hal tergila yang kamu lakukan sepanjang kamu bekerja di sini. Sangat tidak profesional. Kamu tau kan, meskipun kita bersahabat semena - mena di sini jelas tidak ada pembenaran," tegas Darren.
Yanes tidak langsung menjawab. Dari pagi dia memang sudah berniat menceritakan yang sebenarnya. Tapi pemilihan kata - kata yang keluar dari mulutnya juga sangat penting. Mengingat atasannya juga tidak berada dalam suasana hati yang menyenangkan.
"Sebenarnya kepindahan Ali adalah permintaan bu Senja pak," jawab Yanes hati - hati. Darren seketika menegakkan tubuhnya. Dia semakin tidak bisa memahami alur permasalahannya.
Darren mulai mengerti ceritanya sekarang. Tapi tindakan Senja menjadikan Ali sebagai OB juga tidak benar, Senja bukan pemimpin perusahaan. Harusnya Senja tidak masuk ke management secara langsung, meskipun sebagai pemilik saham, untuk kepegawaian dan urusan perusahaan harus di bicarakan dengannya.
Bertepatan dengan itu Ali pun masuk.
"Al, kenapa kamu memberikan scheduleku pada Angelica?" Darren tidak mau berbasa - basi lagi.
"Saya sungguh tidak tahu kalau niat Angelica seburuk itu pak, dia hanya mengatakan ada urusan. Karena mengajak bapak bertemu selalu sulit. Jujur saya merasa dimanfaatkan pak, saya tiga hari berturut - turut diajak ke club. Teman - teman Angel sangat luar biasa, bapak tau sendiri kelemahan saya di mana. Kalau saya tahu niat Angelica seburuk itu saya juga tidak mau." Ali menatap mata tajam Darren.
__ADS_1
"Terus, apa kamu tahu apa yang di dengar istri saya, selain tahu kamu membagi schedule saya pada angel?"
"Angelica akan membayar hutangnya pada bapak dengan tubuhnya, uang itu tidak digunakan untuk usaha, tapi mengejar gengsi Angelica yang diputuskan pacarnya. Sebagian besar uang dibelikan barang - barang branded. Menurut Bianca, bu Senja pasti mendengar semua."
"Shittt!!!" Darren menendang kursi empuk di depannya. Merasa ditipu mentah - mentah. Pantas saja istrinya minta semua uang kembali.
"Kesalahanmu dan kesalahanku tidak ada hubungannya Al, kita selesaikan masing - masing. Senja tidak sekejam ini, tapi jelas kesalahanmu juga fatal. Sekarang baru schedule yang kamu bocorkan, jika mereka memberi lebih bisa jadi kamu memberi data perusahaan. Aku tidak bisa melakukan apa - apa, jika kamu keberatan dengan posisimu sekarang, kamu boleh mengundurkan diri," tegas Darren.
"Tidak pak, saya akan buktikan kalau saya menyesal. Saya mau menjadi apa saja asalkan masih di Mahendra Corps." Ali dengan yakin mengucapkannya.
Darren merasakan kepalanya semakin berat, jika benar uang yang dipinjamkannya untuk senang - senang jelas kemungkinan untuk kembali semakin sulit. Bisa apa? Tidak ada perjanjian apalagi jaminan. Sekarang keharmonisan keluarganya yang dipertaruhkan. Semua karena kebodohannya.
"Tinggalkan saya sendiri! Jangan ada yang masuk. Saya tidak mau menerima telepon atau tamu siapapun." Darren menghempaskan bokong di kursi kebesarannya.
Masalah ini tidak sesederhana yang dia duga, sebelumnya Darren masih berfikir bisa mencari celah dengan mengajak Senja melihat usaha yang dijalani Angelica, lalu membujuknya pelan bahwa tidak ada modal usaha yang kembali dengan cepat.
Yanes dan Ali keluar. Amar mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan Yanes. Satu anggota trio cungpret sedang berduka. Ali yang biasanya paling wangi dan rapi, kini harus berseragam abu - abu khas OB Mahendra Corps dengan wangi karbol yang melekat di tubuhnya. Kontras dengan teman di sebelahnya yang masih wangi dan rapi seperti biasa.
"Al, kamu serius tetap bertahan biarpun jadi OB? gajinya jauh banget sama gaji kamu sebelumnya?" tanya Yanes.
"Yakin, Jadi OB di sini cuman nggak beda sama staf di perusahaan lain," jawab Amar, yakin.
__ADS_1
"Lagian itu mulut, lemes banget sih. Kena rayu cewek saja langsung klepek - klepek. Ingat Al, kita tuh lakik. Boleh kena rayuan, tapi jangan sampai rugi sendiri. Heran aku sama kamu, gayanya saja sok. Tapi mempertahankan harga diri lemah. Sumpah seorang laki - laki harus dijaga dan tidak boleh dilanggar," cerocos Amar, terlampau kesal. Suasana kantor sedang tidak kondusif, posisinya sebagai sekretaris tunggal sungguh menyulitkan. Tidak ada teman jika sampai bosnya butuh pelampiasan omelan. Amar sendiri sekarang.