
Baru saja menjejakkan kaki di hotel tempat meeting yang dijanjikan, tiba - tiba relasi Darren mengajak berpindah tempat ke resto di samping hotel. Sedikit menggerutu, Darren tetap menuruti. Untung saja tinggal maju dikit, kalau jauh sampai berputar arah pasti Darren lebih membatalkan kerjasama.
Sampai di resto yang dimaksud, Darren memilihkan meja yang posisinya mudah untuk di jangkau oleh penglihatannya.
Darren memasuki bagian resto bersekat kaca. Di mana yang di dalam ruangan bisa melihat ke luar sedangkan dari luar tidak bisa menembusnya ke dalam.
Senja terlihat sedang memesan makanan di sana. Resto tidak ramai, membuat Darren semakin tenang. Resto ini biasanya baru ramai saat malam hari.
"Silahkan pak Darren, maaf mendadak bergeser ke sini." ucap Tora meminta maaf. Tora adalah relasi bisnis Darren sejak lama. Usianya di atas Darren lima tahunan.
Darren hanya mengangguk. Tak lama Yanes masuk juga ke ruangan. Yanes memang membawa kendaraan sendiri. Yanes terlalu pintar, siapa mau satu mobil dengan pasangan yang terlampau tidak mengenal malu dengan orang terdekat.
Meeting pun dimulai. Wajah konyol yang dilihat Yanes di kantor tadi, sudah berganti dengan wajah serius nan tegas. Bicaranya tidak ada keraguan dan menyatakan kecerdasan, tatapannya tajam meyakinkan, gestur tubuh membuat lawan segan. Di balik kekesalannya, Yanes diam - diam sangat mengagumi bosnya itu. Di depan karyawan auranya begitu mengintimidasi, bersama relasi menampilkan sisi yang berwibawa dan luar biasa cerdas. Tapi di depan istrinya, macan jantan ini tak lebih dari kucing anggora. Selalu minta di elus dan bermanja - manja.
Setelah mencapai deal, obrolan mereka pun berlanjut dengan pembahasan yang lebih santai. Biasanya Darren tidak akan berlama - lama dengan pembicaraan basa basi seperti ini.
"Tadi saya juga sudah sampai di hotel. Tapi tiba - tiba istri saya meminta di sini saja, katanya kalau meeting di hotel nanti aneh - aneh. Biasalah lagi hamil. Selalu ingin nempel terus kemana - mana dan sedikit cemburuan. Ini karena sama pak Darren saja saya cerita." ucap Tora setengah Berbisik menjelaskan alasan yang sebenarnya.
Mendengar istri yang sedang hamil, Darren ingin mendengar pengalaman dari Tora saat menghadapi istri yang sedang berbadan dua.
"Kalau boleh memilih saya lebih senang diikuti dan ditempeli terus seperti ini. Daripada saya harus memakai daster saat tidur, memanjat mangga mengenakan sarung dan kaca mata, lihat badut saya suruh jadi badut. Ada pengamen saya suruh nyanyi di pinggir jalan. Belum lagi hal - hal kecil lain. Kadang dia tidak mau dengar suara tawa saya.Rumit." curhat Tora pada Darren.
Darren mengernyitkan keningnya. Merasa kehamilan istri Tora lebih ekstrim dari kehamilan istrinya.
"Rado ini jadi saksi sekaligus jadi jasa pesan antar 24 jam. Demi memenuhi keinginan ibu hamil satu itu." ucap Tora sembari menunjuk perempuan yang usianya masih sangat muda. Bisa jadi masih 19 sampai 20 tahun. Perutnya sudah bulat sempurna.
__ADS_1
Rado adalah asisten Tora yang duduk di samping Yanes persis. Keduanya tidak seberapa menyimak pembicaraan bos - bos.
"Anak keberapa pak?" tanya Darren ingin tahu.
"Masih anak pertama. Istri pertama saya meninggal sepuluh bulan yang lalu. Kami baru menikah dua bulan yang lalu" tambah Tora.
"Oooo...Kembar ya pak?" tanya Darren, semakin penasaran.
"Bukan! Ini rahasia di antara kita saja. Usia kehamilannya sudah enam bulan. Biasalah saya Dp duluan. Umurnya masih 19tahun. Sangat penurut sebelum hamil. Dia OB di kantor, Ngepelnya di lantai jatuhnya di pangkuan saya. "canda Tora.
Darren hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Tora. Untung saja kelakuan papanya dulu tidak seperti Tora. Jadi mamanya tidak perlu menerima duluan dari papanya.
"Maaf lho pak Darren. Saya jadinya malah curhat ke bapak. Nanti kalau bapak sudah merasakan sendiri bagaimana menghadapi kehamilan istri." tutur Tora. Yanes berdehem mendengarnya. Sepertinya Tora memang tidak mengetahui kalau Darren sudah beristri dan beranak pinak.
Darren berpamitan terlebih dahulu, meninggalkan Yanes di sana yang sedang menunggu tanda tangan Tora beberapa lembar lagi. Darren sudah tidak sabar ingin menengok anaknya.
"Sudah. waktunya nengok baby di perutnya mama Nja." ucap Darren, mengamit pinggul Senja.
Dari balik ruangan kaca, Tora tertegun melihat Darren begitu mesra dengan seorang perempuan cantik yang juga sedang hamil.
"Istrinya pak Darren. Kehamilan ke empat, dengan anak terkecil masih belum genap enam bulan." jelas Yanes tanpa diminta.
Tora berdecak kagum. Pantas saja Darren mau berbasa basi dengannya sekalipun pembahasannya hanya tentang ibu hamil.
Sementara itu dalam perjalanan menuju suatu tempat yang belum sempat dikatakan oleh Darren, Rudi yangbmasih bingung melajukan kendaraannya perlahan. Karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Rudi mengambil keputusan untuk mengemudikan kendaraan menuju rumah saja.
__ADS_1
Darren dan Senja kembali menikmati tautan bibir mereka dengan santainya. Rudi seperti tidak diberi jeda untuk mengemudi dengan tenang. Awalnya Rudi berfikir, seiring berjalannya waktu kebiasaan itu pasti akan berangsur menghilang. Dengan bertambahnya usia pernikahan, bisa saja keduanya bosan. Tapi nyatanya semakin ke sini kebiasaan itu malah seperti candu bagi keduanya.
Senja melepas tautan bibirnya. Karena merasakan nafas suaminya tidak lagi biasa. Memburu, pertanda menginginkan lebih dari yang sudah mereka lakukan.
"Loh kok jalan pulang pak?" tanya Darren, heran. Suaranya masih sedikit parau. Karena hasratnyabbelum sepenuhnya reda.
"Kan bapak sama ibu tidak memberi tahu mau kemana, naik langsung begitu tadi." jawab Rudi, setengah kesal.
"Ke klinik biasanya Rud. Harusnya kamu tanya dong. Pasti dijawab." ucap Darren, lebih kesal daripada Rudi.
Rudi memutar balik mobilnya, kembali ke arah jalan utama menuju klinik.
"Ask,,,kok ke klinik sih. Masih jam segini. Belum buka pasti." ucap Senja.
"Tenang Ask, semua sudah diatur Yasen. Buat mama Nja pasti buka."
Senja menyandarkan kepalanya pada pundak Darren. Satu jari telunjuknya menggambar abstrak di dada suaminya.
"Ask...Maafkan aku ya, aku sering banget mengatakan kalau kehamilan membuatmu sangat konyol dan kerap sekali membuatku kesal. Aku sering menganggapmu berlebihan dan memanfaatkan keadaan. Ternyata, di luar sana banyak perempuan hamil yang ngidamnya lebih aneh - aneh daripada kamu. Maafkan aku ya. Aku akan berusaha lebih sabar dan ikhlas lagi." ucap Darren diakhiri dengan kecupan lembut sedetik di bibir dan kenong istrinya.
"Tidak masalah ask... Kamu sudah mengusahakan yang terbaik buat kami." kata Senja.
"Ask...Aku mohon saat kita berantem, jangan menyuruhku untuk pergi atau mengatakan ingin hidup masing - masing. Aku tidak suka. Jika salah, kamu boleh marah, tapi jangan mengucapkan pisah." pinta Darren.
"Ingatkan Senja jika lupa." ucap Senja.
__ADS_1
Darren kembali sedikit memutar tubuhnya, mencapai posisi nyaman agar bisa berhadapan dengan wajah Senja, lalu menundukkan kepalanya untuk menggapai bibir serba bisa di depannya.
"Pak sudah sampai." ucap Rudi. Suara itu menghentikan usaha Darren seketika.